"Ann ada yang mencarimu.” kata Yayu.
Fianer yang sedang menganamnesis pasien menoleh. “Siapa?”
Yayu hanya mengangkat bahu. Dan satu nama terlintas di kepala Fianer, dia mengulum senyum.
Fianer menyelesaikan anamnesisnya dan langsung bergegas keluar. Dia berharap, Egar yang menunggunya. Tapi saat Fianer keluar, hanya ada mobilnya yang sudah ada di sana.
Senyum Fianer mengembang, mendekat untuk menyentuh mobilnya yang sudah beberapa hari ini diperbaiki oleh bengkel langganan Egar. Penyok yang dulu sangat parah sudah tak ada lagi. Hanya ada sedikit bekas, namun tak begitu terlihat jelas.
“Mba, mobilnya sudah selesai.” kata seseorang yang berdiri di belakangnya. Saat Fianer menoleh, ada dua orang berseragam montir.
“Oh, iya. Terima kasih ya.” kata Fianer ramah.
“Sama-sama mbak. Ini kuncinya.” Salah satu montir menyerahkan kunci mobil.
Fianer menerimanya. Rasanya kunci itu terasa sangat berat. Dia menunduk, menatap kunci itu lama. Entah kenapa sekarang dia sangat merindukan Egar ...
“Egar ... tidak bilang apa-apa?”
“Siapa mbak?”
“Yang memasukkan mobilku ke bengkel.”
“Oh, Pak Rama.” Fianer mengangguk walaupun masih asing dengan nama itu. “Pak Rama tidak bilang apa-apa mbak. Hanya menyuruh kami memperbaiki mobil jadi baru lagi.”
Fianer tersenyum samar. “Oh ...”
Setelah basa-basi singkat, kedua orang bengkel itu pamit pergi.
Dan saat itu juga Fianer kembali merasakan hampa. Menerima kebaikan ini membuatnya merasa nyeri. Laki-laki itu sudah berusaha. Tapi kini dia yang tak bisa mengimbanginya.
Egar sudah terlalu baik selama ini. Fianer tersenyum pahit karena dia bahkan tak pernah melakukan apapun untuk laki-laki itu.
Sedangkan Egar berusaha memahaminya, menerima keputusannya. Egar berusaha menekan egonya. Egar berusaha menekan kemarahannya.
Egar berusaha memenuhi semua permintaannya. Mengerti dirinya. Tapi dia ... dia tak pernah berusaha mengerti.
Dan kini Fianer sangat ketakutan kesempatan kedua mereka hilang.
Tanpa banyak berpikir lagi, dia masuk ke mobilnya dan pergi dari sana. Dia menelpon seseorang di tengah perjalanan.
“Cer ... aku ada urusan sebentar. Kalo nanti ada panggilan tolong bilang aku ada urusan mendadak ya.”
“Kenapa tidak ijin langsung ke Dokter Hartono?” tanyanya.
“Tak sempat.” kata Fianer. “Bisa ya?”
Ceryl terdiam lama, hingga akhirnya Fianer mendengarnya mendesah. “Oke.” Fianer langsung bernafas lega. “Tapi cepat ya, Dokter Hartono bisa marah kalau kamu pergi terlalu lama.”
“Oke. Thanks.”
Tanpa menunggu jawaban, Fianer menutup telpon lalu fokus ke jalanan. Dia harus bicara pada Egar bagaimanapun caranya.
---
“Mbak, ruangan Pak Rama sebelah mana?” tanya Fianer pada resepsionis di hadapannya.
“Maaf, ini dari siapa?” tanyanya. Fianer memejamkan mata menahan sabar. Posisi setinggi CEO akan sulit ditemui terlebih dia belum membuat appoitment. Dia harus cari cara agar bisa masuk dengan cepat.
“Saya di minta Pak Rudolf untuk menemuinya.” katanya.
Mendengar nama Rudolf disebut, wanita di hadapannya gemetar ketakutan. “Oh, di lantai 5 mbak. Pintu paling besar yang ada di ujung.” katanya.
Fianer mengangguk berterima kasih lalu bergegas ke lift. Dia tersenyum saat menekan angka 5. Air matanya ingin menetes lagi tapi dia tahan. Lantai yang sama dengan apartemennya.
Pintu lift terbuka lalu Fianer keluar, mencari pintu besar yang paling ujung. Dan dia langsung menemukannya karena pintu itu yang paling mencolok. Di meja sekretaris, kosong, tak ada siapapun yang duduk di sana. Jadi dia memutuskan untuk mengetuk pintu. Pun tak ada yang menjawab. Saat pintu terdorong, Fianer sempat ragu untuk membukanya, tapi dia memutuskan untuk tetap masuk ke dalam.
Matanya menyapu seluruh ruangan. Ruangan ini luas. Jendela besar di belakang meja dan sofa di sudut mengingatkannya pada ruangan Erfan. Tapi ini sedikit lebih luas. Mata Fianer terhenti pada meja.
Kakinya melangkah perlahan dan dia bisa melihat makin jelas apa yang ada di sana.
Pot bunga anggrek cattleya putih.
Air matanya menetes tanpa sadar. Sejauh ini dia berusaha untuk menahan diri untuk tak menangis lagi. Sejak pertengkaran terakhir, ada rasa hampa yang tak juga hilang bahkan sampai setengah detik lalu. Tapi sekarang, hampa itu hilang. Digantikan oleh rasa yang lebih menyakitkan. Sesak.
Dia ambil pot bunga itu dan duduk di depan meja Egar sambil memangkunya. Mengusap kelopaknya yang putih. Sesekali air matanya jatuh di sana.
Dia benar-benar merindukanku ....
Pintu tiba-tiba terbuka. Tapi Fianer tak menoleh sama sekali karena tahu siapa yang datang. Dia meletakkan pot anggrek itu dengan sangat hati-hati ke tempat semula.
Saat dia mendengar langkah mendekat, air matanya jatuh lagi. Tapi Fianer langsung menghapus jejaknya. Dan saat suara langkah itu berhenti, Fianer berdiri dan berbalik menghadapnya.
Fianer langsung menemukan mata hitam pekat itu. Menatapnya tak sehangat kemarin-kemarin. Tatapan ini tenang tapi terkesan dingin. Seketika hatinya kelu. Meskipun begitu, Fianer menatap Egar sama tenangnya.
“Kita menikah sekarang saja.” kata Fianer tiba-tiba.
Kali ini tanpa syarat. Seharusnya Egar menatapnya berbinar bahagia, tapi ternyata tatapan Egar masih sedingin tadi. Bahkan, memberikan apa yang Egar mau pun tak mengembalikan hangat mata itu.
“Kenapa? Sudah kehabisan alasan untuk mengelak?” tanyanya sinis. Fianer menelan ludah merasakan perih yang diam-diam terbit. Saat Egar melangkah melewatinya, Fianer cepat-cepat menahan lengan laki-laki itu.
“Aku benci setiap kamu pergi dari apartemenku.” kata Fianer pelan. Fianer menunduk. Dia tahu Egar menatapnya terkejut. Fianer tahu karena setelah itu Egar melepaskan diri dari cengkeraman di lengannya.
“Apa?”
Fianer mendongak, pipinya basah. “Setiap kali kamu pergi dari apartemenku, aku membencinya. Aku ingin kamu tinggal setiap malam, setiap hari. Jadi, kita menikah saja.” racaunya. Air mata Fianer tersedak keluar.
Egar menatapnya tertegun. Entah apa yang ada di kepala laki-laki itu. Tapi Fianer takut sekali Egar tak akan memaafkannya. Egar akan meninggalkannya.
Kemudian bibir Egar tertarik. Tipis, tapi air mata Fianer makin jatuh. Lega melihat Egar tersenyum lagi dengan binar hangat di matanya.
“Alasan macam apa itu?” tanyanya.
Fianer mengeluh pelan. Fianer tahu alasannya bodoh. Tapi itu alasan paling jujur yang dia punya. Dia tak ingin sendirian lagi setiap malam. Fianer tak mau menghabiskan waktu sedetikpun tanpa laki-laki ini.
“Kita menikah saja.” kata Fianer lagi.
Mata itu memang sudah menghangat. Tapi terlihat berpikir dan dingin itu kembali terasa. Membuatnya curiga.
“Gar?”
Mata itu bergerak, lalu dia menghela nafas. “Aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang sudah kita mulai.”
Dahi Fianer mengernyit. Dia tak mengerti.
“Kita akan menikah setelah Om Erfan benar-benar menyukaiku.” Mulut Fianer terbuka. “Dan kita tidak akan menikah sampai aku berhasil.” Mulut Fianer makin ternganga.
“Maksudnya tidak menikah?” tanyanya panik.
Egar menatapnya serius. “Selama apapun, aku akan membuat Ayahmu menyukaiku. Kalau aku baru berhasil 50 tahun lagi, berarti kita akan menikah 50 tahun lagi.”
Dan Fianer tak tahu sekarang mulutnya terbuka selebar apa. Karena dia menganga maksimal. Tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Fianer sudah dalam keadaan shock. Egar sendiri sudah bertekad menulikan telinga tak mau mendengar protes wanita ini. Dia berjalan ke kursi kebesarannya dan duduk di sana dengan tenang. Fianer baru sadar saat Egar membuka file di atas meja kerjanya.
“Jangan bercanda, Gar. Ini tidak lucu!” kata Fianer getas.
“Siapa yang bercanda?” tanya Egar. Seketika, Fianer lemas.
Fianer menghampiri kursi Egar. “Aku mohon Gar, jangan mempersulit semuanya. Kamu ingin menikah denganku. Aku pun ingin menikah denganmu. Ayo kita menikah saja.” katanya putus asa.
Egar berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Kamu yang minta agar Ayahmu menyukaiku.”
“Tapi bisa sambil jalan kan? Kamu masih bisa berusaha setelah kita menikah.” katanya. Fianer tahu berdebat dengan Egar yang sudah bertekad untuk sesuatu tak akan bisa menang. Maka dari itu dia nekat untuk duduk di pangkuannya. Fianer tahu Egar kaget, tapi dia sedang tak peduli. Tangannya bermain di dasi Egar. Ditatapnya laki-laki itu dengan pandangan memelas. “Ya?”
Egar menatapnya sejenak. Fianer terus memohon pada Egar, tapi Egar hanya menghela nafas. Mengalungkan tangannya ke pinggang Fianer, lalu menatapnya lekat.
“Kita bisa menikah walaupun Ayahmu tak menyukaiku.” katanya. Fianer langsung mengangguk kuat-kuat. Setuju 100% dengan statement Egar yang bagus itu. “Tapi aku juga memikirkan keinginanmu. Kita akan lebih bahagia kalau restu itu benar-benar diberikan.”
“Kamu terlalu banyak berpikir.” Air mata Fianer menetes.
Egar tersenyum tipis. “Kamu tidak menginginkannya?” tanya Egar.
Sangat ingin. “Tapi aku tidak ingin menikah saat monopouse.”
Tawa Egar meledak. Tapi Fianer tak tertawa sama sekali, dia terdiam dengan mata merembang. Tak ada yang lucu dengan itu. Karena kemungkinan yang dia katakan tadi adalah kemungkinan terbesar kalau Egar tak berubah pikiran.
Saat melihatnya menangis, Egar diam. Dia menatap Fianer hangat, menangkup wajahnya. Menenangkannya. Tapi Fianer terus menangis.
“Kamu tidak percaya padaku?” tanya Egar. Fianer menggeleng kuat-kuat. “Kau yakin aku akan gagal?” Fianer mengangguk kuat-kuat. Egar menghela nafas.
“Ann ...” pelannya.
“Aku tidak mau tidur sendirian lagi.” katanya dengan air mata yang menetes. “Aku ingin dipeluk setiap malam.”
Egar menatap Fianer nanar. Menatap tangis yang keluar deras, akhirnya Egar merebahkan Fianer di dadanya. Berharap bisa meredam tangisnya.
“Percaya padaku, tidak akan lama.”
Kata-kata penghiburan itu membuat hati Fianer perih. Karena dia tak bisa dibohongi. Fianer sangat mengenal Ayahnya seperti apa. Dia yang paling tahu.
“Kita akan semakin membuang waktu.” Fianer tersedak dalam tangis. Menangis lagi. Membasahi kemeja Egar tapi Fianer tak peduli.
Laki-laki itu tersenyum sedih. “Aku berjanji akan setimpal dengan bahagianya.” janjinya. Dan setelah itu, Fianer memejamkan mata karena sesaknya hati.
“Kalau sampai 3 tahun kamu tidak berhasil, aku akan membunuhmu!” ancam Fianer. Egar mendengus, lalu mengangguk setuju.
Jika Fianer bisa mengulang waktu ... dia akan menyetujui saat Egar memintanya menikah secepatnya. Kalau saja bisa.