“Konsentrasi Ann, konsentrasi!” Ceryl membisikinya dengan semangat. Dokter Hartono sedang memperhatikan mereka. Fianer masih bisa fokus untuk mencari pembuluh Vena yang tepat.
Fianer menghembuskan nafas setelah menemukannya. Dia lalu melakukan tindakan antiseptic. Dia menegangkan kulit pasien dengan tangan kiri. Jantungnya sudah tak berdebar lagi seperti saat pertama kali dia melakukannya.
Sebelum menyuntikkan jarum, Fianer memastikan tidak ada udara dalam syringe. Baru setelah itu dia menusukkan jarum dengan arah jarum sejajar vena, lubang jarum mengarah ke atas dan garis ukur syringe terlihat.
“Aw,” pasien itu mengaduh. Tapi dengan kuat Fianer menahan tangannya agar tak bergerak.
“Sebentar ya Bu,” katanya menenangkan.
Dia mengisap sedikit dan tersenyum senang saat darah dari vena akan masuk ke dalam syringe. Perlahan, Fianer masukkan obatnya.
Dada Fianer yang sedikit sesak tadi sekarang bisa lega kembali. Dia menindihkan kapas alkohol pada tempat penyuntikan lalu mencabut jarum.
Sukses. Dokter Hartono yang melihatnya hanya menatap cara kerjanya dalam diam. Tak berkomentar apapun. Tapi Fianer tak peduli sekarang ini. Karena dokter Hartono tak akan punya alasan untuk marah lagi.
Fianer menempelkan plester pada kapas alkohol itu. Selesai. Setelah itu dokter Hartono meninggalkan mereka berdua begitu saja.
Tak lama Fianer pamit pada pasien itu dan keluar bersama Ceryl. Ceryl ikut tersenyum di sampingnya. “Makanya jangan terlambat lagi. Dokter Hartono pasti akan makin marah.”
“Aku tahu.” Fianer menghela nafas. Malam ini dia dihukum menggantikan temannya untuk jaga malam. Itu berarti hari ini dia harus di rumah sakit 24 jam sehari.
Saat mereka berjalan keluar bangsal, Ceryl menyenggol lengan Fianer.
“Gimana kemarin? Apa kalian bertengkar?” tanya Ceryl. Dia merasa bersalah dan semalaman tak bisa tenang setiap mengingat wajah Egar yang kaku menakutkan saat terakhir dia melihatnya.
Fianer tahu, Ceryl pasti akan membahasnya. Mengingatkannya pada pertengkaran semalam yang bahkan dia sangsi apa semalam disebut sebagai pertengkaran.
Karena hanya dirinya yang berteriak-teriak. Sedangkan Egar bisa berbicara setenang itu. Kemarahan Egar tersembunyi rapat tak diperlihatkan.
Mata itu tetap dingin, nada suara itu tetap datar, kemarahan itu terasa, namun hanya tetap kemarahan yang samar.
Egarnya yang sekarang sungguh berbeda. Dan Fianer kesulitan untuk mengimbanginya.
“Dia ... diam saja.” jawab Fianer.
“Tak marah?” tanya Ceryl. Fianer menggeleng. Namun karena itulah rasa bersalah itu makin menganga lebar di hatinya. Dia berjalan sambil menatap ubin rumah sakit. menunduk dan diam. “Lalu dia bilang apa?” Ceryl bertanya lagi.
Fianer menoleh dan menjawab, “Katanya kami sudah kehilangan banyak waktu. Dan dia meragukanku. Dia bertanya apa aku benar-benar ingin menikah dengannya. Lalu dia pergi begitu saja.”
Mata Ceryl mengerjap. Mulutnya agak terbuka. Sedikit banyak dia mengerti posisi keduanya walaupun Fianer tak menceritakan keseluruhan cerita tentang masa lalu mereka. Dia memang tahu setengah-setengah.
Hanya Egar adalah mantan kekasih Fianer dulu dan mereka berpisah karena sesuatu. Dan kini mereka kembali lagi. Itu saja.
Dia yakin Egar terlalu marah hingga memutuskan untuk diam. Keterdiaman laki-laki itu adalah kemarahan paling konkret. Jauh lebih terasa dari sekedar bentakan atau kemarahan yang bisa diluapkan.
“Dia pasti marah sekali.” kata Ceryl. Polos.
Dan setelah mendengar itu, mata Fianer bergetar. Ada sesak di dadanya yang menelusup naik. Ceryl bahkan bisa melihat betapa marahnya Egar.
“Ya,” bisik Fianer sangat lirih. Air mata sudah mengenang di pelupuk. “Dia marah sekali.” ulangnya.
Ceryl ikut bersedih. Dia merangkul lengan Fianer dan mengusapnya lembut. “Maaf, aku yang salah. Kalau saja ... “
Fianer tersenyum, memotong kata-kata Ceryl. “Tidak perlu minta maaf. Aku yang bersalah telah membohonginya.”
Ceryl mengenal Fianer sejak lima tahun lalu. Dia juga bingung dengan sikap Fianer yang mengulur waktu.
Seharusnya Fianer tak perlu berbohong tentang rentang waktu kapan mereka menikah. 2 tahun atau 3 tahun, bukankah segalanya harus dibicarakan?
“Kenapa harus berbohong Ann? bukankah kamu mencintainya? Bukankah seharusnya kamu senang dia ingin menikahimu?” tanya Ceryl bertubi.
Pertanyaan-pertanyaan itu tak terjawab. Karena Fianer selalu mempunyai banyak alasan untuk pertanyaan itu. Jawaban yang serasa benar saat dulu dia memutuskan untuk mengulur waktu. Tapi terasa salah saat menatap betapa marahnya Egar.
Tidak siap ... ingin menikmati berpacaran lebih lama ...
Alasan-alasan itu terasa tak berguna. Karena itu justru membuat Egar makin marah.
Saat sampai di tempat jaga, mereka duduk berdua karena tak ada siapapun di sana. Fianer masih tak tahu harus menjawab apa hingga akhirnya dia memainkan pulpen di tangannya.
“Ann ... “
“Kamu tahu ... “ Akhirnya Fianer menemukan suaranya. “... masa lalu kami buruk sekali. Aku tidak bisa mengingat satupun kenangan yang membuatku bahagia. Yang bisa aku ingat adalah kenangan-kenangan buruk semua.” lirih Fianer.
Matanya sudah berkaca. Kenangan bahagia itu tertimbun di dasar. Dan dia sama sekali tak bisa membongkarnya karena kenangan buruk itu lebih dominan.
“Aku hanya berpikir kalau aku ingin membuat banyak kenangan lagi. Sebelum kami benar-benar menikah.”
Ceryl menggigit bibir saat melihat air mata Fianer menetes. Karena dia baru kali ini melihat Fianer menangis.
“Ann ...”
“Aku bodoh sekali kan ... Disaat dia terus berulang-ulang bilang ingin menikahiku, aku justru berusaha mengulur waktu. aku tidak pernah mendengarkannya. Aku mengabaikannya ...”
Air mata Fianer menetes. Dadanya makin sesak setiap kali dia bercerita. Ceryl menyentuh bahunya, menenangkannya. Tapi sesak itu makin pekat. Hingga rasanya Fianer sudah tak sanggup bicara apa-apa lagi.
---
Perasaan Fianer memburuk saat sampai malam ... Egar tak juga menghubunginya.
Ponsel ditangannya tetap tergenggam. Namun sampai beberapa menit ponsel itu tetap di sana. Fianer ingin sekali menghubungi Egar. Sekedar mendengar suaranya.
Tapi selalu urung.
Dia tak tahu harus bicara apa. Selain minta maaf, Fianer tak punya kata-kata yang lebih bagus lagi. Itupun sudah dia katakan semalam. Dan Egar tak mau dengar ....
Apakah suasana hatinya bisa lebih buruk lagi dari ini?
Malam sudah semakin larut. Teman-temannya sudah pulang. Hanya dia yang mendapatkan tugas jaga malam ini. Dia mendengar kalau beberapa hari lalu ada satu pasien kanker otak stadium akhir meninggal dan masih ada di kamar mayat karena belum diambil oleh keluarganya.
Sedangkan siapapun yang mengenalnya tahu, dia paling penakut setiap kali ada orang di sekelilingnya yang meninggal.
“Hai,” Fianer terkaget mendengar suara itu. Saat mendongak, dia melihat kepala menyembul dari pintu. Dia baru akan menjerit saat dia menyadari kepala siapa itu.
“Kahfi?!” serunya tertahan.
Laki-laki itu terkekeh menyadari Fianer ketakutan setengah mati. “Mana ada dokter penakut begitu?” ejeknya.
Fianer mendengus. Dagunya dia sangga dengan telapak tangan. Sedangkan tangan yang satunya masih sibuk mencoret-coret kertas kosong di depannya.
Dia tak mengatakan apa-apa saat Kahfi masuk ke ruang jaga. Namun wajah suntuk Fianer berubah cerah saat tahu Kahfi tak datang dengan tangan kosong. Satu dus martabak ternama lengkap dengan minumannya dia taruh di atas meja tepat di hadapan Fianer.
“Tahu aja aku lagi laper.” Fianer sibuk membuka bungkusnya dan mengeluarkan box martabak itu di atas meja. Saat di buka, martabak itu mengepul hangat dan terlihat menggugah selera.
“Tahu lah.” Dia mengacak rambut Fianer yang kali ini tergerai kusut masai. Baru setelah itu dia duduk. Menemani Fianer makan.
Fianer memang sudah terbiasa terlambat makan atau kurang tidur akhir-akhir ini. Bukan hanya Fianer. Kahfi juga terbiasa. Dia memang sudah sering menemani Fianer jaga malam jika wanita itu berjaga seorang diri. Berbeda dengan Rafan dan Fier yang selalu sibuk sendiri-sendiri, Kahfi selalu tak pernah tega.
Dia selalu menemani wanita itu berjaga hingga subuh karena Kahfi tahu betapa penakutnya Fianer sebenarnya.
Fianer mengambilnya martabak satu lalu memakannya sambil bergumam. “Mm, enak.”
“Pelan-pelan.” Kahfi mengusap ujung bibir Fianer yang tersisa remah kacang. Fianer tetap makan tak peduli dengan remah yang diambil Kahfi.
Seorang perawat lewat melewati mereka. Fianer sadar. Saat perawat itu menatapnya sinis, Fianer hanya menatapnya datar. Para perawat di sana memang sering sinis padanya, tapi entah kenapa mereka tak benar-benar mengganggunya.
“Aku harap 4 bulan lagi aku benar-benar selesai koas.” keluh Fianer.
Kahfi diam. Dia mengambil martabak satu dan memakanya. Betis kanannya dia tumpangkan ke paha kiri. “Kamu benar-benar akan menikah setelah internship?”
Pertanyaan itu membuat Fianer berhenti menggigit martabaknya dan menoleh. Wajah Kahfi terlihat tenang, tak memaksa mendapat jawaban. Namun Kahfi adalah orang yang selalu membuatnya nyaman untuk melihat lelahnya, walaupun dia tak selalu bisa menceritakannya.
“Mungkin tidak sampai internship.” renung Fianer.
Mata Kahfi menajam. “Kenapa?”
Setelah itu Fianer menghela nafas dan batal menyuapkan martabak ke mulut. Tangannya jatuh ke pangkuan.
“Egar ... ingin kami menikah lebih cepat.” kata Fianer jujur.
Kahfi tak kaget. Justru reaksi Fianer yang membuatnya kaget. Dia pikir Fianer akan kegirangan setengah mati karena orang yang dia inginkan ingin menikahinya.
Tapi reaksi Fianer jauh dari itu. Cenderung oposit bahkan.
“Jangan memutuskan apa-apa kalau masih ragu.”
Senyum Fianer mengembang tipis. Dia memang lebih suka bersandar pada Kahfi daripada Fier atau Rafan. Kahfi selalu memberikan saran yang logis tapi tidak memihak.
Dan itu yang membuatnya nyaman.
“Aku bukannya ragu. Aku mau sekali menikah dengannya. Sangat mau.” kata Fianer cepat.
“Hanya saja?”
Fianer mendengus. Kahfi terlalu jeli membaca pikirannya. tapi Fianer tak menjawab apa-apa. Dia diam.
Kahfi berdecih. “Apa gunanya enam tahun menangisi dia, menunjukkan pada semua orang kalau kamu depresi dia pergi kalau setelah dia kembali, menjawab lamarannya saja kamu kesulitan.”
“Aku ... hanya berpikir kalau dia terlalu terburu-buru.”
Mendengar itu, Kahfi menoleh. Dalam situasi seperti ini, dia kaget Fianer bisa bersikap sangat hati-hati. Biasanya wanita yang sedang jatuh cinta akan mengedepankan perasaan dan mengabaikan logika.
Entah kenapa Kahfi menjadi curiga. Apa benar Fianer mencintai Egar? Ataukah karena dia sudah ditempa rasa sakit enam tahun ini, jadi dia lebih hati-hati?
“Itu artinya kamu masih ragu.” ucap Kahfi.
Fianer menoleh. Dia ingin membantah. Tapi senyum Kahfi seakan mengatakan bahwa apapun yang akan dia katakan tak berguna.
“Aku sudah bilang, aku tidak meragukan dia.” Bantah Fianer keras kepala.
“Oke.” Kahfi tak ingin berdebat. Dan itu justru membuat Fianer tak bisa mengatakan apapun lagi.
Lagi pula bel dari kamar pasien berbunyi. Fianer segera melihat nomor bangsal dan langsung berlari ke sana.
Kahfi hanya menatap kepergian Fianer. Tapi matanya menangkap gerakan lain dan menoleh ke arah jendela.
Ada seseorang di sana.
---
Egar sampai di rumah sakit tepat setelah melihat Kahfi masuk ke dalam.
Egar keluar dari mobilnya. Mengikuti Kahfi dengan tenang tanpa terlihat sama sekali, tanpa diketahui. Sesaat Egar terdiam mengingat pembicaraannya dengan Erfan tadi. Juga tentang Kahfi.
Aku mengusap wajah dengan kasar. Kutatap wajah yang ada di hadapanku dengan putus asa.
“Apa itu berarti saya sudah tidak punya kesempatan lagi?” tanyaku.
Om Erfan diam sejenak, memutar pena tanpa melihatku sama sekali. “Aku sudah punya rencana untuk Fianer sebenarnya.” katanya. Aku masih diam saat dia akhirnya melanjutkan. “Aku ingin menjodohkannya dengan Kahfi.”
Dan saat itulah aku hampir jatuh. Lemas. Rentetan alasan yang membuatnya membenciku telah berhasil membuatku kalah. Membuatku merasa bersalah dan merasa tak pantas ada di sisi Fianer saat ini.
Om Erfan selalu tahu bagaimana membuatku seperti bukan apa-apa. Om Erfan selalu tahu bagaimana menyentakku hingga aku merasa kecil, kerdil.
Om Erfan adalah laki-laki yang penting dalam hidupku. Membuatku bermimpi suatu saat bisa seperti dia. Om Erfan laki-laki yang sangat aku hormati. Sekaligus laki-laki yang sangat aku percayai.
Aku selalu percaya pada penilaian Erfan. Jika Erfan menganggapku bukan apa-apa, artinya, aku memang bukan apa-apa.
Sesederhana itu.
Sekarang ... aku harus mendengarkan ini. Mendengarkan bahwa Om Erfan menetapkan siapa yang lebih pantas bersanding di sisi wanita milikku.
Aku sudah kehilangan kepercayadirian saat ini.
Dalam tundukku, aku bisa mengingat percakapanku dengan Fianer semalam. Saat aku tahu kalau dia belum siap menerimaku. Saat aku tahu dia tak benar-benar serius dengan hubungan kami.
Mempertahankan hubungan ini rasanya untuk apa lagi?
Seharusnya begitu. Tapi aku tak sanggup mengatakannya. Aku tak sanggup memproklamirkan penyerahan diriku saat ini. Sulit saat mengingat apa yang sangat aku inginkan. Sulit saat aku mengingat hidupku enam tahun belakangan. Sulit saat mengingat keyakinanku dengan rasa yang aku punya.
Aku tak bisa.
“Ann hanya milikku.” kataku dingin. Om Erfan mendongak dan melihatku dengan pandangan kaget. Emosi yang aku tunggu keluar dari telaga tenang di mata itu. Akhirnya aku melihatnya dengan jelas.
Aku memang tak punya apapun untuk mempertahankan Fianer, sesuatu yang bisa aku katakan di depan Om Erfan. Tapi aku tak ingin memikirkan itu. Aku ingin egois kali ini.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun memilikinya. Hanya aku yang bisa.” kataku lagi. Aku merasakan dinginnya suaraku. Mataku aku tancapkan lurus ke mata laki-laki itu.
Selesai. Hanya itu yang ingin aku katakan. Karena itu, aku langsung berbalik pergi. Keluar dari ruangan laki-laki itu.
Om Erfan akan makin membenciku kali ini tapi aku tak peduli. Karena aku tak ingin menyerah saat ini.
Tekadnya masih bulat, dia bawa tekad itu malam ini. Pun saat pandangannya menyipit tahu Kahfi mengunjungi Fianer selarut ini di rumah sakit.
Seringkah?
“Hai,” Egar melihatnya melongok ke sebuah ruangan.
“Kahfi?!” Itu suara Fianer.
Kahfi terkekeh. “Mana ada dokter penakut begitu.”
Egar memejamkan mata, merasakan perih yang mulai menusuk sedikit demi sedikit.
Karena setelah itu Kahfi masuk dan Egar berdiri bersandar di samping pintu dan kusen kaca. Tangannya terlipat di depan d**a dengan punggung yang bersender di dinding.
Egar bisa mendengarkan lebih leluasa.
“Tahu aja aku lagi kelaperan.”
“Tahu lah.”
“Mm, enak.”
“Pelan-pelan.”
Egar mengatupkan rahangnya. Rasanya aneh ... saat mengetahui ada laki-laki lain yang lebih mengerti Fianer. Lebih memperhatikan Fianer. Lebih tahu apa yang dibutuhkan Fianer.
Laki-laki yang datang menemani Fianer saat jaga. Mungkin selama enam tahun ini menemani Fianer. Saat dia tak ada. Dan saat dia sudah ada pun, Kahfi masih dibutuhkan wanita itu.
Mata Egar terbuka. Dia melihat seorang perawat lewat. Sesaat perawat itu bingung menatapnya. Tapi dia tak berkata apa-apa. Sekilas perawat itu menatap kedalam ruangan dengan sinis. Lalu lewat begitu saja.
“Aku harap 4 bulan lagi aku benar-benar selesai koas.” “Kamu benar-benar akan menikah setelah internship?”
“Mungkin tidak sampai internship.”
“Kenapa?”
Setelah itu Fianer menghela nafas. Helaan yang begitu menyakitkan bagi Egar. Seakan hal itu begitu berat untuk wanita itu.
“Egar ... ingin kami menikah lebih cepat.”
“Jangan memutuskan apa-apa kalau masih ragu.”
“Aku bukannya ragu. Aku mau menikah dengannya. Sangat mau.”
“Hanya saja?”
Fianer mendengus. Kahfi berdecih. “Apa gunanya enam tahun menangisi dia, menunjukkan pada semua orang kalau kamu depresi dia pergi kalau setelah dia kembali, menjawab lamarannya saja kamu kesulitan.”
“Aku ... hanya berpikir kalau dia terlalu terburu-buru.” Egar menunduk dalam diamnya.
“Itu artinya kamu masih ragu.” ucap Kahfi.
Tepat seperti apa yang Egar pikirkan. Dan itu jauh lebih menyakitkan saat Kahfi yang menyimpulkan.
“Aku sudah bilang, aku tidak meragukan dia.”
“Oke.”
Tak perlu diperdebatkan lagi, karena semua sudah sangat jelas.
Bel dari kamar pasien berbunyi. Tak lama Fianer bergeges keluar tanpa melihat ke arah kanan. Egar bisa melihat punggung itu menjauh pergi di belokan.
Setelah kepergian Fianer, Egar baru bergerak. Dia melangkah ke jendela dan menoleh ke dalam ruangan.
Dan Kahfi melihatnya.
---
Egar dan Kahfi duduk di kursi tunggu di lorong rumah sakit jauh dari ruang jaga Fianer.
Dari beberapa menit lalu mereka masih diam dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Keterdiaman itu terpecah saat ponsel Kahfi berdering.
Kahfi mengangkatnya. “Apa?” tanyanya.
“Kamu di mana?” tanya seseorang di seberang. Egar langsung tahu kalau itu Fianer.
“Aku ada urusan sebentar.” jawab Kahfi.
“Kembali lagi ke sini tidak?” tanya Fianer cemas.
Kahfi melirik Egar. Dia tak tahu harus jawab apa. Hingga akhirnya dia menjawab. “Lihat nanti.”
“Oke, aku tunggu.”
Egar memalingkan muka. Saat Kahfi menutup telpon, Egar sudah dalam tahap menerima situasi ini.
“Lebih baik kamu menemuinya. Dia pasti sedang ketakutan sekarang.“ saran Kahfi. Dia paham, Fianer jauh lebih senang jika Egar yang datang.
Tapi Egar diam. Tak menanggapi. Karena dia ingin bicara dengan Kahfi terlebih dahulu.
“Kamu mencintainya?” tanya Egar dingin.
Kahfi tersenyum tipis. “Cemburu?”
“Jawab saja pertanyaanku.”
Mendengar nada Egar yang terlampau dingin, Kahfi menghela nafas. “Aku menyayanginya.”
“Sebagai apa?” Pertanyaan telah meningkat ke tahap interogasi. Kali ini, Kahfi tak langsung menjawabnya.
Dia mengingat permintaan Erfan dan menatap Egar dengan tenang. “Sebagai seorang wanita.” jawabnya.
Egar tak terkejut. Dia menatap Kahfi yang tersenyum padanya. “Sejujurnya, kamu tak perlu datang lagi. Dia bersamaku. Dia akan baik-baik saja karena aku akan menjaganya.”
Saat ini Egar menampakkan ketenangan walaupun di dasar dia geram setengah mati.
“Dia tidak mencintaimu.” Egar mengingatkan.
Dan saat itulah Kahfi tersenyum, lalu terkekeh pelan. “Cinta?” tanyanya geli. “Kamu pikir cinta itu segalanya? Kamu pikir itu yang terpenting?” tanya Kahfi tenang.
Egar diam saja.
“Wanita lebih butuh dicintai dari pada mencintai. Dan asal kamu tahu. Di sampingku, dia selalu terlindungi. Aku tempatnya berlari.” Kahfi mencoba memberi gambaran pada Egar posisinya kini. “Dan kamu pikir semuanya masih sama seperti dulu? Kamu pikir Fianer masih mencintaimu sebesar dulu? Pikirkan lagi. Setelah semua keraguan itu aku menjadi tak yakin dia juga mencintaimu.”
Emosi Egar meluap. Dia mencengkeram kerah kemeja Kahfi dengan bengis. Tapi di dalam cengkeramannya, Kahfi justru tersenyum. Menunggu. Menunggu di hajar.
Menunggu Egar memberikannya alasan untuk menang.
“Ann milikku. Hanya milikku!” kata Egar posesif. Dia mengulang kata itu untuk Kahfi, menatapnya setajam-tajamnya.
Lalu menghempaskan kerah itu begitu saja.
Dan pergi ...