Part 10 - Usaha

1928 Words
Erfan menggeram marah saat mendapat kabar bahwa tiga pemegang saham mayoritasnya mundur dan menjual sahamnya kepada Egar. Dia tidak bisa membiarkan ini terjadi karena ini berarti Egar memiliki suara yang patut diperhitungkan untuk menentukan arah jalannya perusahaan. Govin tersenyum melihat sepak terjang Egar dan mengejek Erfan. “Dia berniat membuatmu bertekuk lutut.” Cemoohan itu ditanggapi Erfan dengan dingin. Dia melihat jam tangannya. Jam sudah menunjukkan waktu siang. Sebentar lagi rapat akan segera di mulai. Dia harus memastikan pemegang saham tetap merasa aman mempertahankan sahamnya. Sehingga Egar tak bisa membeli saham itu seenaknya untuk memperkuat posisinya di perusahaan ini. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi! --- Dilihat dari manapun, sikap dan tindakan Egar yang frontal bisa disebut perlawanan. Dia seakan sedang mengangkat s*****a dan menyerang daerah musuh secara terbuka. Gerakannya terbaca. Arahnya jelas. Tapi karena terlalu cepat, musuh kehilangan kesempatan pertama untuk menangkis serangan. Itu yang dari luar terlihat. Tapi sebenarnya, itu jauh diluar niat Egar. Sejujurnya yang terjadi adalah, Egar tak ada niat menyerang sama sekali dalam kepalanya. Dia hanya berniat untuk masuk. Menjadi bagian dari perusahaan ini. Ingin menjadi bagian dari mereka. Itu saja. Tapi kesan buruk sudah terlanjur melekat hingga niat tulus itu menjadi tak terlihat. Hasilnya, Egar bukan membuat Erfan menyukainya. Tapi justru sebaliknya. Erfan makin membencinya! Siang itu, tanpa undangan sama sekali, dia tetap datang ke perusahaan Erfan. Dalam ruang rapat, dia hanya melihat Fier yang sudah siap di meja dengan laptopnya dan beberapa orang di dalam sana. Erfan belum datang. “Hai,” sapa Egar. Fier menoleh. Dia tak tampak kaget dengan kedatangan Egar. Dirinya sudah tahu tentang apa yang dilakukan Egar. Saham Egar yang meningkat, dia akui cara yang Egar pakai fair. Itu haknya. Dan siapapun tak bisa melarangnya. “Hai.” balasnya kaku. Egar duduk di kursi samping Fier. Mereka tak saling bicara dalam beberapa menit karena sibuk sendiri-sendiri. Fier sibuk dengan laptopnya dan Egar sibuk dengan tabletnya. Memeriksa beberapa email pekerjaan yang dia tinggalkan untuk bisa datang ke sini. Ada banyak yang perlu diutarakan namun mereka memilih untuk diam. Tapi keterdiaman itu mulai mengganggu. Fier memutuskan untuk bicara terlebih dahulu. “Maaf, kejadian waktu itu.” Tanpa dijelaskan, Egar tahu kejadian apa. Tentang dia dikeroyok di ruang kerja Erfan. Seketika Egar tersenyum. “Tak masalah. Wajar kalian khawatir.” “Tapi aku serius saat bilang untuk tahu batas.” Fier mencoba memperingatkan sekali lagi. Mendengar itu, Egar mendesah. Peringatan itu seharusnya tak perlu jika saja Fianer tak mempersulit semuanya. Membuat semuanya menjadi rumit begini. “Andai bisa langsung menikahinya saja.” gumamnya. Egar tak tahu Fier tersenyum tipis mendengarnya. Egar masih sibuk menatap tabletnya dengan serius. “Ngomong-ngomong ... terima kasih sudah datang.” gumam Fier. Pelan tapi cukup untuk Egar dengar. Dari ekor mata, Egar melihat Fier juga sibuk dengan laptopnya. Kali ini, Egar yang tersenyum diam-diam. --- Erfan dan Govin datang tak lama kemudian. Kursi sudah terisi penuh. Sehingga saat mereka duduk di kursinya masing-masing, rapat bisa langsung dimulai. Di mata Egar, ketenangan Erfan masih sempurna. Saat mereka berdua sempat bertatapan sekilas, Erfan tak menghindar sama sekali. Menatapnya dengan ketenangan yang menguji keberanian. Karena tatapan Erfan cenderung berisi peringatan. Egar hanya tersenyum pahit. Tak ada yang paling mengguncang kepercayaan dirinya saat orang yang dia kagumi justru membencinya. “Kita mulai rapatnya.” kata Erfan tenang. Sejak saat itu, Erfan tak pernah sekalipun menatap Egar lagi. Kali ini, Egar menghela nafas pelan. Menunduk dalam dan merenung. Membuat Erfan menyukainya ... Egar menginginkan Fianer dengan sangat. Namun setelah semalam, setelah dirinya tahu bahwa Fianer tak menginginkannya sebanyak dia, keinginan untuk cepat-cepat menikahinya menjadi surut. Fokusnya bergeser. Bukan untuk menikahi Fianer, tapi membuat Erfan menyukainya. Itu yang Fianer inginkan dan dirinya akan memenuhi syarat itu terlebih dahulu sebelum berangan-angan terlalu jauh untuk menikah. Syaratnya memang memberatkan. Tapi jujur itu juga hal yang Egar mau. Dia memang harus melakukannya. Dia hanya butuh dorongan. Dan Fianer memberikan Egar alasan untuk melakukannya. Perlahan, Egar menghela nafas kembali dan fokus ke rapat. Fokus dengan apa yang Erfan katakan. Erfan menjelaskan secara rinci tentang persaingan tidak sehat yang terjadi. Ada dua perusahaan yang mem-back up perusaha pesaing untuk mendapatkan pasar lebih luas. Mereka bahkan kehilangan beberapa tempat potensial. Dan disinyalir karena ulah mereka. Egar diam saat Erfan meminta para pemegang saham diharap tenang jika ada penurunan nilai saham yang terjadi. Karena mereka akan segera mengatasinya sampai nilai saham stabil kembali. Ada sesuatu yang membuat Egar terganggu sedari tadi tapi dia tetap diam. Hingga sampai di akhir kesimpulan, Egar tetap diam. Entah kenapa Egar tahu bahwa Erfan berusaha memperhalus masalah yang ada. Perebutan pasar hanyalah masalah umum yang terjadi di industri makanan. Tapi yang Egar takutkan adalah, penggulingan perusahaan. Ada yang ingin bermain-main dengan perusahaan Erfan. Dan dia percaya, laki-laki itu pasti menyadarinya sejak awal. --- Mona, sekretaris Erfan berdiri dan mengangguk hormat saat Egar datang ke ruangan Erfan seusai rapat. “Saya ingin bertemu dengan Pak Erfan.” katanya langsung. “Sebentar Pak.” kata Mona. Dia mengangkat telpon dan langsung berbicara. “Siang Pak, ada Pak Egar yang ingin bertemu ... Baik Pak.” Telpon di tutup ke tempatnya lalu Mona kembali menoleh pada Egar dan tersenyum. Dia yang membukakan pintu ruangan itu dan mempersilakan Egar masuk. Egar mengangguk sekali sebagai ucapan terima kasih dan untuk kedua kalinya dia masuk ke dalam. Dia tak tahu bagaimana perasaannya saat ini, karena dia tidak memikirkannya. Menghadapi laki-laki di depannya, dengan segala kemampuannya ... Egar harus tetap mempertahankan logika tetap di tempatnya. Perasaan tak boleh mengacaukannya. Karena jika dia kacau sedikit saja, dia tak akan bisa berjalan ke arah Erfan dan berdiri tegak di depannya dengan setenang ini sekarang. Egar bisa melihat Erfan sendirian di dalam kali ini. Duduk di kursi kebesarannya. Erfan menatapnya dari awal kemunculan hingga detik ini. Dengan pandangan yang sama dinginnya. “Ada apa?” tanya Erfan sedingin tatapannya. Egar tak langsung menjawab. Tatapan dingin Erfan itu begitu jelas sekarang. Saat mereka hanya berdua, saat mereka sedekat ini ... tak ada yang bisa ditutupi lagi. Atau mungkin sudah tak perlu ditutupi lagi. Kemarahan itu terlihat jelas. Jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan lebih kuat dari enam tahun lalu. Jujur dia datang ingin membahas tentang masalah perusahaan. Tapi sekarang masalah itu seakan tak penting. Masalah itu bisa menunggu lain waktu. Untuk saat ini, yang dia inginkan hanyalah tahu seberapa banyak kebencian itu untuk dirinya. Apa yang menyulut kebencian itu hingga bara kemarahan itu terbakar dan apinya membesar. Dia harus tahu titik api sebelum kemarahan itu merembet kemana-mana dan tak bisa dia padamkan lagi. Egar akhirnya bertanya. “Apa anda sudah menyesal memberikan ijin pada saya untuk melamar Ann?” Pertanyaan itu begitu gamblang. Egar tak memberikan waktu berbasa-basi seperti yang lazim dilakukan. Dia terus menerobos pertahanan Erfan hingga laki-laki itu kembali terganggu dengan keterusterangan yang begitu kurang ajar. Pertanyaan itu sangat sederhana. Sama sederhananya seperti saat Erfan mengajukan pertanyaan apakah Egar tidur di apartemen Fianer saat itu. Tapi juga pertanyaan yang sama-sama penuh jebakan. Karena pertanyaan langsung seperti itu penuh ranjau di mana-mana. Menjawab ya, itu hanya berarti konsistensi Erfan dipertanyakan. Sedangkan menjawab tidak, sikap dan dinding tebal yang Erfan ciptakan adalah teriakan paling lantang yang membuktikan bahwa itu adalah sebuah kebohongan. Sekarang Egar menempatkan Erfan di tempat yang sama. Dulu, Egar memilih menjawab jujur. Dia ingin tahu apa jawaban Erfan. Erfan sadar itu. Tapi dia tetap menatap Egar dengan tenang. “Ya aku menyesal.” jawab Erfan jujur. Egar sebenarnya sudah tak kaget sama sekali. Dia bahkan sudah tahu bahwa itulah jawabannya. Namun dia tetap saja kecewa. “Kenapa?” tanyanya. “Enam tahun saya berusaha untuk menjadi laki-laki yang pantas untuk Ann. Katakan pada saya, kenapa anda masih tidak menyukai saya? Apa saya masih kurang pantas?” tanya Egar geram. Egar benar-benar sudah tak tahu apa lagi yang harus dia lakukan. Dia sudah mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Usaha terbaiknya. Dia kerahkan semua waktu dan tenaganya untuk menjadi Egar yang sekarang. Dan ternyata itu tak membawa pengaruh apa-apa. Jadi, dia ingin tahu, apa yang diinginkan oleh Erfan hingga laki-laki itu mau menerima dirinya. Dia sudah lelah berputar-putar! Egar menatap Erfan lurus-lurus. Dia sadar, bahwa kata-katanya terlalu frontal kali ini. Tapi dia sudah tak bisa lagi menahan diri. Dia harus tahu secepatnya, apa yang salah. Erfan membalas tatapan lurus Egar dengan teramat tenang. Erfan bisa saja mengabaikan Egar dan tak menjawab pertanyaan itu. Tapi Erfan memutuskan untuk memberitahu apa yang salah di matanya sejak awal. Sebab awal terpercik api yang membesar hingga kebencian itu menjadi permanen. “Tidak ada parameternya.” jawab Erfan sama tenangnya. Egar masih menatap dalam diam karena dia tahu jawaban itu masih jauh dari kata selesai. Erfan masih menatap Egar dengan tenang. “Kamu mengejar hingga jauh, padahal jawabannya sangat dekat.” Egar mengerjap kaget. Dia sama sekali tak tahu apa maksud kata-kata Erfan namun entah kenapa detak jantungnya sudah berantakan tak karuan. “Anda tidak menjawab pertanyaan saya.” katanya. Kali ini Erfan menurunkan pandangannya pada kertas di atas mejanya sambil mengetuk pena ke meja.  “Dulu ... saat aku mengijinkan Ann bertemu denganmu, itu hanya berarti aku tidak ingin dia menangis lagi.” Erfan menatap Egar kembali. Ditatapnya mata itu yang kini sudah kehilangan ketenangannya. Bergetar dalam kekagetan, tapi Erfan tetap melanjutkan. “Pernahkah kamu berpikir, jika saja dulu kamu tidak menunggu sampai merasa sudah jadi orang hebat ... cukup ada di samping putriku dan berusaha bagaimana caranya dia bahagia saat itu ... mungkin aku akan lebih mudah menyukaimu.” Kata-kata Erfan mungkin datar dan tenang. Namun sanggup menghantam Egar hingga laki-laki itu tertegun. Jantungnya mencelos lemas. “Aku sudah kehilangan putriku sejak lama. Bahkan saat sekarang kamu datang. Walaupun dia sudah bisa tertawa lagi ... dia tetap tidak sama seperti dulu lagi.” Erfan tersenyum tipis, sinis. Dia memang kesulitan menerima kenyataan bahwa dinding tak kasat mata itu merentangkan jarak yang begitu lebar. Putri yang sangat dia sayangi sudah tidak bisa dia dekati lagi. Entah sejak kapan dia merindukan putrinya yang dulu. Entah sejak kapan dia membenci Egar karena itu. Terlalu banyak perubahan ... terlalu banyak kehilangan ... terlalu banyak sakit hati ... terlalu banyak kesakitan dan kemarahan. Kalkulasi semua itu hanyalah kebencian. Erfan tidak minta Egar menjadi orang hebat sekaliber ahlinya. Cukup berusaha untuk menyentuh hatinya. Egar mencari terlalu jauh. Sedangkan jawabannya ada di dekatnya. Dan Egar tak pernah menyentuh perspektif itu selama ini. Untuk kesekian kalinya Egar merasa memakai kacamata kuda. Hanya tertuju pada satu hal dan melupakan hal lain yang juga penting. Untuk beberapa lama, Egar masih terguncang hingga tak bisa berpikir apa-apa. Hanya merasa bodoh ... Hanya merasa gagal ... Ada emosi yang meledak di dalam. Tapi emosi itu tak tertampung. Dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Hingga emosi itu mati rasa. Terlalu banyak hal yang dia inginkan untuk bisa pantas bersama Fianer selama ini. Terlalu banyak hingga dirinya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa percaya diri pantas di sisinya. Membiarkan cinta itu tertahan lama. Membuat kerinduan sampai mengkristal karena terlalu pekat hingga padat. Enam tahun dia mengejar kesempurnaan agar Erfan melihatnya. Dia baru sadar, bahwa hanya ada ego di sana. Ego untuk menunjukkan pada Erfan bahwa dirinya tidak seperti yang laki-laki itu pikirkan. Untuk membuktikan diri bahwa dia hebat dan pantas untuk putrinya. Erfan tak membutuhkan itu semua ... dia hanya ingin Egar menjaga putrinya agar tak menangis lagi. Tapi yang dia lakukan adalah ... mengambil jalan memutar, mengambil jalan tersakit. Mengambil jalan terberat untuk mereka berdua. Meninggalkan Fianer dan membiarkan wanita itu kehilangan seluruh tawanya. Hanya untuk hal yang sia-sia. Egar mengusap wajahnya kasar. Dia sudah membuang banyak waktu mereka ... sangat banyak ... “Apa itu berarti saya sudah tidak punya kesempatan lagi?” Karena kalau ada, dia ingin mengambilnya.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD