Sepulangnya dari apartemen Fianer, semalaman Egar tak bisa tidur.
Berjam-jam dia memikirkan cara dan rencana agar Erfan terkesan padanya. Tapi semakin dia berpikir, dia semakin tak punya apa-apa. Segala kemungkinan yang ada selalu tercoret karena terlalu banyak cacat.
Semakin dia mencari satu saja rencana yang sempurna, semakin banyak pula waktu yang dia buang percuma.
Jadi, kesimpulan yang Egar dapatkan setelah tidak tidur semalaman adalah ... membiarkan semuanya mengalir apa adanya.
Tapi bukan berarti dia tak berusaha. Besoknya dia masuk ke kantor dan orang kepercayaannya melaporkan keadaan perusahaan Erfan padanya.
Bukan hanya Erfan yang menaruh orang-orangnya dimana-mana untuk memata-matainya. Diapun sama.
Sedikit saja informasi bisa dijadikan s*****a yang berguna suatu hari nanti. Aryanto memberikannya informasi yang sangat berguna kali ini.
“Sepertinya ada yang ingin menyerang mereka Pak.”
Egar tak menjawab. Dia hanya membaca hasil laporan dan tersenyum saat melihat nilai saham yang turun. Dia tahu sebentar lagi pasti akan ada rapat umum pemegang saham melihat drastisnya penurunan nilai sahamnya.
“Kapan akan diadakan rapatnya?” tanya Egar.
“Saya mendapat kabar bahwa pemegang saham mayoritas diminta datang besok siang.”
Egar mengangguk tenang. Walaupun tak diundang, dia memutuskan tetap datang karena dia adalah salah satu pemegang saham mayoritas. Bukan yang terbesar, tapi tetap punya andil di sana.
Dia langsung menghubungi sekretarisnya. “Kosongkan jadwal untuk besok siang.” katanya langsung.
Mandat itu disanggupi oleh Paula dan tanpa banyak bicara Egar menutup sambungan begitu saja.
Dengan santai, dia menyenderkan punggung ke sandaran. Terlihat santai namun serius. Laki-laki itu tetap membaca apa yang tertera dalam dokumen di tangannya.
Penurunan nilai saham terkadang hanya akan berdampak biasa. Tapi tak jarang mengalami pergolakan karena banyak pemegang saham yang menarik diri jika merasa merugi.
Dan ini seperti kesempatan emas yang tak datang dua kali.
Dia hanya punya sedikit waktu. Karena Egar yakin, apapun masalah yang menjadikan nilai saham turun akan diselesaikan Erfan secepat mungkin. Dan sebelum masalah itu selesai, dia harus memanfaatkan keadaan itu sebaik mungkin.
Egar tersenyum tipis lalu mendongak menatap Aryanto dengan tatapan yang masih tenang.
“Aku ingin membeli saham perusahaan ini sebanyak mungkin.” katanya tanpa emosi.
Aryanto terbelalak. Mulutnya sudah membuka dan menutup hingga akhirnya dia berani bertanya. “Tapi nilai saham perusahaan ini sedang turun Pak. Saham kita yang masih di sana saja belum tentu bisa kembali.”
Egar tersenyum miring. “Lakukan saja.”
Tak ada yang bisa membantah saat Egar sedang bersungguh-sungguh dengan niatnya. Terlebih seseorang seperti Aryanto yang sudah ikut Egar sejak lama. Dia sangat mengenal bosnya.
Tanpa membantah lagi, dia mengangguk juga.
Egar kembali tersenyum. Pertarungan ini baru saja di mulai. Dan dia akan pastikan harus dia yang keluar sebagai pemenangnya.
---
Fianer mencuci tangannya agar steril.
Tugasnya selesai malam ini. Dia menoleh pada jam di dinding. Jam 8.
“Mau langsung pulang kan?” tanya Ceryl. Dia temannya satu stase.
“Hm,” jawab Fianer. Dia mengelap tangannya agar kering lalu melepas jas putihnya. “Iya.”
“Mobilmu masih di bengkel?” tanyanya lagi.
“Ya, masih belum selesai.” jawab Fianer. “Aku pulang naik taksi saja.”
Ceryl menoleh tapi tak mengatakan apa-apa. Setelah memastikan sudah membereskan semuanya, dia langsung menelpon seseorang. Kekasihnya, siapa lagi. Fianer tersenyum saat wanita itu mengulum senyumnya. Fianer tahu persis, sebentar lagi Ceryl akan melancarkan serangan. Lebih tepatnya merengek pada pacarnya minta dijemput.
Fianer mendengus. Melihat tingkah Ceryl membuatnya terkekeh geli. Ceryl beruntung mempunyai kekasih yang mau menjemputnya walaupun harus dipaksa dulu. Lalu pikiran selintas itu datang. Bukankah aku juga punya?
Wajah Fianer berbinar namun tegang. Dia tak pernah sesenang ini menyadari dirinya tak sendiri lagi. Fianer mengeluarkan ponselnya. Mengusap layarnya ragu.
Berpikir, apa dia tidak akan terdengar manja kalau minta dijemput? Bagaimana kalau Egar marah-marah lalu menyuruhnya untuk pulang sendiri?
Fianer mendengus. Dia tetap mencoba menelponnya.
Pada deringan ketiga, telpon baru diangkat. “Halo?”
Mendengar suaranya yang berat, Fianer terdiam. Keragu-raguan itu makin membesar. “Mm ... hai.”
“Kenapa Ann?” tanyanya.
Mulut Fianer terbuka. Tapi tak jadi bicara. Dia justru menggigit bibirnya. Melirik ke Ceryl yang masih berkutat untuk membujuk pacarnya agar mau menjemput.
“Kamu sibuk?” tanyanya akhirnya.
“Tidak, pekerjaanku sudah selesai.” katanya.
“Oh,”
“Kamu ingin aku datang?” tanyanya dan seketika Fianer mendengus karena yakin Egar sedang tersenyum mengejeknya di seberang sana. “Sudah aku bilang, menikah saja denganku. Jadi, kamu tak perlu memintaku datang lagi.”
Fianer mendengus kembali sambil tertawa. “Kalau begitu buat Ayahku menyukaimu.” tantang Fianer cepat.
Tidak ada suara di seberang. Ada jeda yang lumayan panjang hingga Fianer sempat mengernyit sebentar. “Aku tahu.” jawab Egar.
Fianer ingin bertanya lagi tapi dia dapat melihat Ceryl sudah selesai menelpon. Wajahnya bahagia menandakan misinya berhasil. “Gar ... boleh aku minta tolong?” tanya Fianer cepat.
“Apa?”
“Bisa jemput aku di rumah sakit? Mobilku masih di bengkel. Dan ini sudah malam sekali. Aku mau naik taksi tapi ...”
“Bodoh, tunggu di sana. Lima belas menit lagi aku sampai!” katanya keras sekali. Finer sampai kaget. Tapi Fianer tak bisa mengatakan apapun karena Egar langsung memutus sambungan.
Sadar dari kekagetannya, Fianer mendesis. Laki-laki itu masih sama kadar kurang ajarnya!
“Ann,” Ceryl menghampiri Fianer. “Pacarku mau datang. Kamu ikut saja denganku nanti ya, jangan naik taksi.”
“Hm ... aku juga dijemput nanti.” jawab Fianer malu.
“Abang ganteng?” tanyanya. Fianer menggeleng. “Rafan?” Fianer menggeleng lagi. “Oh, Kahfi?” Lagi-lagi Fianer menggeleng. Dan setelahnya, mata Ceryl melebar. Mulutnya terbuka. “Gebetan ya? Pacar?” tanyanya antusias.
Wanita itu dari dulu selalu bertanya apa yang salah dengan Fianer sampai tak mau punya pacar. Bersahabat dengan Fianer sejak masuk kuliah membuatnya tahu Fianer tak pernah terlibat hubungan cinta dengan siapapun.
Fianer meringis ragu, lalu mengangguk. Dan jeritan Ceryl menggema di ruangan mereka. Membuat Fianer menyesal telah memberitahunya. Karena setelah itu yang terjadi adalah, Ceryl mengalungkan lengannya ke lengan Fianer, menggandengnya keluar ruangan hingga berjalan sepanjang lorong rumah sakit. Ceryl terus mencecar dengan interogasi tiada henti.
“Namanya aja, please, kasih tahu.” rengeknya. Fianer mengulum senyum. Menggeleng. “Ann! Ya Tuhan! Aku harus tahu semuanya. Dia punya apa sampai kamu mau dengannya?” tanyanya penasaran.
Fianer kembali tertawa. “Banyak.” jawab Fianer kalem.
“Oh, God. Apa dia tampan sekali? Apa dia sekaya Bill Gates? Apa dia ... “ Fianer tertawa makin geli. Dan Ceryl melotot. “Ann! Aku serius!” katanya.
Fianer tetap bertahan tak memberikan informasi apapun hingga mereka sampai di depan rumah sakit dan duduk di kursi tunggu besi di sana.
Segencar apapun Ceryl memaksa Fianer bicara, Fianer tetap tersenyum tanpa mau menjawab. “Aku traktir seminggu full ya?” Dia mencoba menyuap Fianer. Dan Fianer lebih tersenyum lagi.
“Ann, ayolah, kasih bocoran.”
Tak lama, Bimo, kekasih Ceryl datang. Dia datang dengan wajah tertekuk dan lingkaran mata hitam di matanya. Laki-laki itu memang belum bekerja, hobinya tidur. Dia paling tak suka jika diganggu. Jika Ceryl tidak merengek, laki-laki itu tak akan turun dari tempat tidur untuk menjemputnya.
“Ayo pulang!”suruhnya.
Ceryl menggeleng keras. “Kita tunggu Ann sampai jemputanya dateng ya, kasian kalau dia ditinggal sendirian.” kilahnya.
Fianer mendengus. Tahu kalau tujuan Ceryl bertahan di sana hanyalah ingin melihat siapa yang menjemputnya. Fianer langsung mengibaskan tangan. “Pulang saja. Aku tidak masalah menunggu sendirian.” usir Fianer.
“Tuh, dia aja nggak apa-apa.” kata Bimo.
Ceryl masih bersikeras menahan Bimo. Akhirnya mereka berdebat lama sekali. Sampai sebuah mobil meluncur di depan mereka. Fianer tersenyum tipis karena dia datang.
Laki-laki itu turun dan Fianer tersenyum melihatnya berjalan menghampiri mereka. Well, dia memang tidak setampan dewa Yunani atau sekaya Bill Gates. Tapi dia laki-laki yang paling Fianer suka.
“Ayo pulang,” ajak Egar.
Perdebatan di samping mereka terhenti. Ceryl langsung menoleh dan Fianer tak ingin melihat reaksinya. Mungkin Egar jauh dari ekspektasi Ceryl. Tapi Fianer tetap bangga saat memeluk lengan laki-laki itu.
“Gar, kenalin temanku.” kata Fianer. Fianer menoleh ke Ceryl dan melihat sahabatnya itu sibuk tertegun menatap Egar.
“Cer, ini pacarku. Egar.”
“Tunangan,” ralat Egar cepat.
Fianer mendengus. “Tunangan.” kata Fianer akhirnya. Dan Ceryl tak bisa lebih menganga lagi. Dia langsung meghadiahi Fianer pelototan tajam. Mungkin juga kutukan karena tak memberitahukan hal sebesar itu.
Tapi wanita itu langsung tanggap dan mengulurkan tangan. “Ceryl.”
“Egar,” Egar menyambutnya. Lalu beralih ke Bimo. “Egar.”
“Bimo.” kata Bimo. Dia mengernyit melihat Egar. Melihat dari ujung kepala hingga kaki, menilai. Entah apa yang dipikirannya karena setelah itu dia bertanya. “Kerja di mana?” tanyanya.
Sangat kompetitif. Fianer tahu Egar menyadarinya tapi dia tak terpengaruh.
“Hadiwijaya Grup.” jawabnya.
Laki-laki itu terkejut. “Supervisor? Manager?” kejarnya.
Egar menoleh pada Fianer, dari tatapannya, jelas terbaca keraguan apa dia harus jujur? Dan Fianer hanya menggeleng sambil mengulum senyum. “General Manager.” jawab Egar akhirnya.
Dan itupun sanggup membuat pacar Ceryl ternganga. Dia langsung tersenyum. “Bagaimana kalau kita makan malam berempat? Aku yakin mereka berdua belum makan malam juga.” kata Bimo sambil menunjuk Fianer dan Ceryl.
Ceryl tersenyum senang dengan usul itu. Dan saat Fianer menoleh ke Egar, laki-laki itu terlihat ragu. Fianer meremas lengannya pelan. Egar menoleh dengan alis terangkat.
“Ikut saja.”
Egar mendengus. “Oke.” katanya pada Bimo.
Dan Bimo tak berusaha sedikitpun untuk menutupi rasa senangnya. Mereka memutuskan memakai mobil masing-masing. Bimo yang memimpin jalan dan memilih tempat makannya. Sedangkan Egar mengikuti dari belakang.
“Kamu tidak suka pada Bimo?” tanya Fianer saat mereka berdua di mobil.
Egar tersenyum miring. “Aku punya firasat dia berencana memanfaatkan posisiku.” kata Egar sambil fokus mengikuti mobil Bimo. “Kita lihat, apa yang akan dia minta nanti.”
“Ceryl sahabatku. Bisakah kamu tidak membuat Bimo marah?” pinta Fianer. Dia tak mau Egar mengeluarkan sifat aslinya dan membabat habis Bimo di depan Ceryl. Ceryl sangat mencintai laki-laki itu, dan pasti akan membelanya apapun yang terjadi.
“Oke. Tak masalah.” jawabnya. “Asal dengan satu syarat.”
“Apa?” tanya Fianer.
“Jika membutuhkanku, yang harus kamu lakukan hanya meminta.” katanya kesal.
Fianer tersenyum. Kalau begitu, dia pasti akan minta banyak sekali. Karena dia memang membutuhkan laki-laki ini.
---
Seperti dugaan Egar.
Bimo menceritakan usahanya untuk melamar pekerjaan dan beberapa kali ditolak oleh Hadiwijaya Grup. Dia ingin sekali masuk sana tapi tak pernah berhasil.
“Bisa kamu membantuku? Aku dengar sekarang perusahaan itu butuh Manager. Aku sudah mengirimkan CV tapi belum ada panggilan.”
“Aku tak tahu.” jawab Egar sambil memotong steaknya. “Di perusahaan kami, keputusan CEO itu absolut. Kami tidak diperkenankan membantu penerimaan karyawan walaupun itu saudara kami.”
Bimo mendesah. “Aku tahu.” katanya murung. “Aku dengar CEO kalian dingin sekali. Banyak yang bilang kalau dia sangat kejam. Tidak berperasaan. Kabarnya dia pernah menjadi mafia.”
Fianer tersedak karena tak bisa menahan tawa. Dia mengapai serbet dan menutup mulutnya untuk menyembunyikan suara tawanya. Semua yang di meja menatapnya. Ceryl dan Bimo menatapnya bingung sedangkan Egar menatapnya dengan mata menyipit kesal.
“Menakutkan sekali, namanya siapa?” tanya Ceryl.
“Rama.”
Fianer membeku. Tawanya terhenti dan senyumnya hanya tersisa tipis. Rama ....
Fianer menatap Egar dengan tatapan intens. Egar juga menatapnya dengan pandangan bertanya. Tapi Fianer menggeleng pelan.
Laki-laki ini sudah melangkah sejauh apa? Seperti apa dia di luar sana? Karena di sampingnya, dia tetap Egar yang sama. Entah kenapa, Fianer ingin bertemu dengan Rama. Sisi lain dari Egar. Fianer berharap dia bisa berkesempatan melihatnya.
Tatapan Egar berubah hangat. Membuat hatinya ikut menghangat hingga Fianer balas tersenyum padanya. “Makan.”
Satu kata itu membuat senyum Fianer makin mengembang. Tatapan sehangat apapun, tapi nada bicaranya tak berubah. Tak ada peningkatan. Tetap datar. Tapi tetap saja Fianer menyukainya.
Saat dia menatap steak di piringnya, dia langsung menoleh ke piring Egar. Steak Egar sudah terpotong rapi. Terlihat enak sekali. Wajahnya berbinar saat mengambil garpu dan menusuk satu potongan steak dari piring Egar dan memakannya.
Egar terkekeh. Tapi Fianer tak peduli. Entah kenapa, makanan di piring Egar selalu lebih enak dari makanan di piringnya. Dan minuman di gelas Egar lebih manis dari gelasnya.
Tusukan kedua juga dia makan dari piring Egar. Selanjutnya, Egar menukar piring mereka.
Fianer tak sungkan untuk memakan steak itu. Di sampingnya Egar menggeleng takjub. Binar geli terpancar jelas di mata hitam pekat itu saat Fianer menoleh padanya.
Biar saja Egar mengejeknya habis, Fianer sedang tak peduli. Dia menusuk dagingnya lagi dan mengarahkan ke mulut Egar.
“Ayo coba,”
Untuk sesaat, Egar terdiam menatap daging itu ragu. Laki-laki ini tak pernah bisa terbiasa dengan hal-hal seperti ini sejak dulu. Fianer harus memaksanya terlebih dahulu baru Egar mau makan steaknya dengan sukarela. Itupun setelah menghela nafas panjang.
Fianer tertawa melihat wajah terpaksa itu.
Tapi tawanya hilang saat menoleh pada Ceryl. Dia tertegun menatap Fianer. Tatapannya aneh. Tatapan itu terlalu terkejut hingga sepersekian detik blank. Tapi akhirnya dia tersenyum juga. Seperti ikut merasakan kebahagian Fianer.
Fianer menunduk malu. Tapi senyumnya tak bisa dia tahan lagi. Ya, dia bahagia. Sangat.
“Kamu hebat bisa menakhlukkan Ann.” kata Ceryl tulus.
Egar hanya tersenyum samar.
“Padahal, selama lima tahun aku bersahabat dengannya, dia tidak pernah sekalipun tertarik pada laki-laki. Ratusan yang menyukainya, dan dia tolak begitu saja. Aduh!”
Ceryl mengusap kakinya karena tulang keringnya di tendang Fianer di bawah meja. Fianer melotot. Tapi Ceryl justru tak peduli. “Kenapa menendangku?”
Fianer mendesah, terlebih saat mendengar Egar tertawa. Memalukan.
Egar menoleh, menatap Fianer dengan tatapan berbinar. Wajah Fianer memang merah, tapi dia tak mau kalah. “Itu karena mereka tak ada yang bagus.” gerutunya.
“Tidak ada yang bagus bagaimana? Jimy tampan sekali. Fahmi paling pintar sefakultas. Riel anak konglomerat ternama. Lalu Lucky ... laki-laki paling romantis. Waktu dia kirim bunga, kamu langsung membuangnya ke tempat sampah.”
Egar senang sekali mendengar fakta kecil itu.
“Shut up!” desis Fianer. Tapi Ceryl tetap bercerita panjang lebar. Bahkan Bimo menimpali.
“Dulu temanku juga ada yang mengejarmu. Si Pras sampai jungkir balik melakukan pendekatan. Lima bulan dan gagal total!”
Fianer diam saja. Dia mencabik daging dengan pisau di tangannya. Egar hanya tersenyum cool saat mendengarkan cerita mereka. Kadang-kadang dia tertawa senang.
“Kalau aku tidak datang kam u bisa jadi perawan tua,” komentar Egar.
Haish. Fianer mendesis menatap laki-laki itu. “Ya, ya, keep laughing. Happy?”
Egar kembali tersenyum lebar. Lalu mengusap puncak kepala Fianer yang langsung mengerucutkan bibir.
“Ngomong-ngomong kapan kalian akan menikah?” tanya Ceryl.
“Setelah dia sudah jadi dokter.” jawab Egar.
Bibir Ceryl membentuk huruf O. Lalu mengangguk. “Waow, kurang dari dua tahun lagi. Cepat juga.” Ceryl mendesah iri tapi nadanya juga bahagia.
Tubuh Fianer menegang. Gerakan tangannya terhenti hingga potongan steak yang tertancap di garpu batal masuk ke mulutnya.
Egar merasakan tegangnya tubuh di sampingnya. Dan itu membuatnya curiga hingga dia bertanya pada Ceryl. “Apa maksudmu kurang dari dua tahun lagi?” tanyanya. “Bukannya tiga tahun lagi?”
Ceryl tiba-tiba tertawa. “Lama betul? Beberapa bulan lagi kami selesai koas. Tinggal ujian lalu internship setahun. Paling lama 2 tahun. Itupun kalau ujian gagal berkali-kali atau internship diperpanjang karena kekurangan kasus.”
Ceryl tetap bercerita panjang lebar tentang programnya. Dia tak sadar sama sekali kalau informasi yang diberikannya membuat kedua orang di depannya membeku.
Bimo tanggap. Dia menyenggol lengan Ceryl. Saat Bimo memberi isyarat untuk diam, Ceryl menoleh pada Egar dan Fianer.
Egar kini terdiam, mengatupkan rahang. Sedangkan Fianer, memalingkan wajahnya dengan raut cemas.
“Ups,” Ceryl menggigit bibir.
Tapi semuanya sudah terlambat.
---
Sejak Ceryl membuka semuanya, Egar tak banyak bicara. Fianer tak mengatakan apa-apa bahkan tak berani menatap matanya. Diamnya laki-laki itu sangat mengerikan. Di sampingnya, Fianer bisa merasakan kemarahan itu menguar lewat auranya yang panas.
Laki-laki itu benar-benar diam.
Fianer bersyukur Egar tak mengeluarkan amarahnya di hadapan Ceryl dan Bimo. Fianer pikir, Egar akan meledak di mobil. Tapi bahkan sekarang, setelah setengah perjalanan, laki-laki ini pun masih tak mengatakan apa-apa.
Fianer cemas akan keterdiaman Egar.
Dia tahu dia telah membohongi Egar sedangkan Egar paling tidak suka dibohongi. Fianer ingat bagaimana reaksi Egar setiap Fianer berbohong. Egar akan mengamuk, marah dan berteriak.
Sekarang, Fianer hanya menunggunya meledak.
Mata Fianer terpejam, tak kuat dengan keterdiaman yang berlangsung lama. “Maaf.” kata Fianer akhirnya.
Tak ada balasan. Laki-laki itu tak mengatakan apapun. Hingga akhirnya Fianer memutuskan untuk mengikuti alur diamnya. Karena diapun tak tahu harus mengatakan apa.
Seperti biasa, Egar mengantar sampai depan pintu apartemennya. Fianer pikir Egar akan masuk. Mereka akan bicara di sana semalaman lalu dia akan dimaafkan.
“Pastikan pintunya dikunci. Langsung tidur, jangan lupa besok harus berangkat pagi. Jangan sampai terlambat.” kata Egar mengingatkan.
Fianer tertegun menatapnya. Hatinya mencelos sedih tahu Egar tak mau masuk. Terlebih saat Egar mencium dahinya lembut. Sebagai ciuman selamat malam.
Ciuman itu tenang, namun ada aura dingin di dalamnya. Membuat Fianer merasa sedih.
Lebih sedih lagi saat ciuman itu terlepas. Fianer menatap Egar, berharap dia bisa membujuknya hanya lewat tatapan. Tapi Egar tetap dingin. Fianer merasakan rasa kehilangan yang sangat besar.
Saat Egar berbalik, Fianer menahan lengannya. “Masuk ya, sebentar saja.” pintanya.
Egar terdiam sesaat menatap Fianer. Wanita itu memasang wajah memohon hingga akhirnya Egar mengangguk kaku.
Mereka masuk dan Fianer menutup pintu. Dia menunggu hingga Egar duduk di salah satu sofa yang ada di sana. Tapi Egar bahkan tak berniat untuk duduk. Dia menghentikan langkah di tengah-tengah ruangan. Lalu berbalik menghadap Fianer.
Tubuh tinggi itu diam tak bergerak. Seperti patung Yunani yang terpahat indah. Walaupun ekspresi di wajahnya mati, tapi selalu bisa Fianer lihat aura yang menarik di dalamnya. Pesona pekat dan gelap. Siapapun yang melihatnya bisa merinding tapi Fianer justru terpesona.
Suasana hening.
Fianer tahu Egar tak akan mengatakan apapun dan Egar menunggunya bicara. Jadi Fianer menghirup udara banyak-banyak lalu menghelanya panjang.
“Aku minta maaf.” katanya sambil menunduk, tak berani menatap matanya. “Aku sudah membohongimu.”
Egar masih diam. Fianer menatap mata laki-laki itu yang masih menyorot dingin. Tak terpengaruh sama sekali dengan permintaan maafnya.
“Aku ... aku belum siap menikah. Aku ... aku ingin menikmati hubungan kita dulu. Aku ingin kita ... “
“Sudah malam. Lebih baik kamu tidur.” potong Egar dingin. Jantung Fianer teremas. Tak nyaman.
Fianer menatap mata Egar. Ledakan amarah itu tak pernah datang. Tapi dia tahu amarah itu mengumpul di dasar. Laki-laki ini menahan diri dan Fianer tak suka. Dia lebih suka Egar yang dulu. Kemarahan yang meledak. Egar memarahinya dan mereka bertengkar. Rasanya itu lebih mudah.
Fianer tersentak saat Egar bergerak. Dan saat Egar kembali berjalan melewati Fianer, kemarahan itu datang begitu saja.
“Aku mohon, jangan begini!” bentak Fianer kesal. Langkah Egar terhenti dan dia berbalik. Saat berhadapan kembali dan Fianer tak melihat ada perubahan di wajah itu, kemarahan itu makin memuncak.
“Dulu kita bersama hanya sebentar. Tidak bisakah kita menikmati hubungan ini dulu?” katanya dengan nada tinggi.
Egar tiba-tiba menatapnya. Tenang, teramat tenang hingga membuat Fianer tersentak dengan dinginnya tatapan itu.
“Kita sudah kehilangan banyak waktu.” katanya. Fianer tertegun. “Apa kamu benar-benar ingin menikah denganku?” tanyanya lagi. “Karena aku mulai meragukan itu.”
Mata Fianer mengerjap kaget. Kata-kata Egar membuatnya tersentak. Tapi sebelum kata-kata itu tercerna sempurna, Egar berbalik lalu pergi. Menutup pintu dengan ketenangan yang masih bertahan di sana.
---
Air mata Fianer jatuh saat pintu berdebum tertutup.
Kemarahan yang sempat dia rasakan menguap begitu saja. Tergantikan oleh rasa hampa. Lebih pekat, lebih ganas membuat hatinya ngilu.
Fianer menghela nafas, setiap tarikan terasa perihnya. Dia melangkah lunglai ke pintu. Menguncinya, lalu gontai ke kamar. Rebah dan menangis di bantal.
Hatinya sakit sekali. Dia berharap pada detik ini Egar masih ada di sini, memarahinya karena telah berbohong padanya.
Kita sudah kehilangan banyak waktu.
Dia tak pernah memikirkannya, sampai detik ini.
Banyak waktu yang habis hanya untuk merindukannya. Terbuang percuma hanya karena memikirkannya. Waktu yang hilang tanpa harus ada dia. Waktu yang lewat begitu saja untuk menunggunya.
Dan setelah mereka bersama, setelah Egar mengusahakan semuanya. Waktu masih mereka buang.
Kalau boleh, saya ingin meminta ijin untuk melamar putri Om
Aku ingin sekali bersamamu. Aku ingin hidup denganmu. Kamu tahu itu?
Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menikah denganku sekarang?
Kalau kita sudah menikah, kamu tak perlu memintaku datang. Karena aku pasti akan pulang ke tempatmu.
Tanpa peduli waktu, aku bisa menemui setiap aku pulang.
Kamu bisa memelukku setiap tidur, sampai pagi.
Setiap malam.
Air mata Fianer menetes ...
Aku tidak mau menikah denganmu ... kecuali kamu mau menungguku hingga aku sudah menjadi dokter.
Tapi aku tidak bilang kalau aku mau menikah denganmu sekarang.
Jika kamu bisa membuat Ayahku menyukaimu sebelum 3 tahun, aku akan menikahimu saat itu juga. Itu janjiku. Tapi kalau tidak, kamu harus menikah denganku 3 tahun lagi, seperti perjanjian awal.
Apa kamu benar-benar ingin menikah denganku?
Karena aku mulai meragukan itu.
“Oh my God ...” Air mata Fianer mengalir deras dengan pandangan menerawang. “Apa yang sudah aku lakukan?” bisiknya.
Waktu yang hilang ... yang tak bisa terkejar. Dia telah menyia-nyiakannya ... lagi?
---
Egar terduduk di sisi tempat tidur kamarnya.
Matanya mulai terpejam, dia menelan ludah dengan pahit.
Ketenangan yang dia pertahankan seakan luruh.
Dulu kita bersama hanya sebentar. Tidak bisakah kita menikmati hubungan ini dulu?
Dia mencengkeram bantal terdekat. ARRRRGGH!!! Dilemparnya bantal itu hingga terpental ke dinding!
Amarah, dia bisa merasakannya di setiap hati dan nadi. Butuh usaha lebih untuk bisa menekannya. Namun, setiap usaha itu menimbulkan nyeri yang teramat sangat.
Dia lelah.
Dijatuhkan tubuhnya terlentang. Setiap usaha untuk bersamanya, setiap permohonan agar bisa menikah dengannya, setiap kata yang Egar tekankan betapa inginnya Egar berada di sisinya ... dia tak pernah mendengar.
Sepertinya Egar berharap terlalu tinggi padanya. Pada hubungan ini. Pada perasaan yang mereka miliki.