Fianer menghela nafas saat keluar dari pintu rumah sakit. Keluar pintu sudah seperti simbol tersendiri baginya. Bahwa dia sudah bisa bernafas lega. Tugas selesai, artinya dia bisa beristirahat dan bersantai.
Tubuhnya sudah lelah, langkahnya sudah lunglai saat dia berjalan sendirian ke gerbang rumah sakit. Walaupun gelap, tapi lampu-lampu taman yang bertiang banyak membuat cahaya temaram ini tak begitu redup.
Dia sudah melalui hari yang berat. Tentu saja, dia tidak boleh mengeluh. Karena beratnya hari ini juga karena kesalahannya sendiri.
Dia terlalu bahagia pagi tadi bersama Egar hingga mengabaikan panggilan dari dokter Hartono. Tidak terlalu susah ditebak akhirnya.
Ya, dia terlambat hampir satu jam. Dokter Hartono memarahinya dan memberikan hukuman tambahan. Dia baru selesai mengerjakan tugas dari dokter Hartono tadi, 3 jam lebih lambat dari teman-temannya yang lain. Belum lagi diharuskan mengganti temannya untuk jaga malam besok lusa.
Dan beratnya hari ini masih dilanjutkan bahkan setelah dia pulang. Jam sudah begitu larut. Mobilnya masih dibengkel langanan Egar. Teman-temannya satu stase sudah pulang semua. Lengkap bukan?
Dia sampai di pos satpam di depan gerbang. Pak Toni, satpam rumah sakit tersenyum dan menyapanya.
“Baru pulang, Dok?” tanyanya.
“Iya, pak. Tugas baru kelar.” kata Fianer.
“Nggak bagus non, jam segini masih di luar.”
Fianer tahu. Dia pun berpikiran sama. Dia juga tak begitu suka berkeliaran selarut ini. Tapi dia tak punya pilihan. Andai saja ada yang menjemputnya, pasti dia tak perlu menunggu taksi. Memikirkan itu, entah kenapa ide itu terlintas begitu saja.
Egar ... dia bisa minta tolong Egar untuk menjemputnya.
Senyum Fianer mengembang senang. Tangannya bergerak mengambil ponsel di tas. Namun gerakannya terhenti saat ada lampu yang menyorot tajam di depannya. Mata Fianer hanya menyipit sebentar, lalu lama-lama matanya normal lagi.
Mobil itu berhenti di hadapannya.
Senyum Fianer melebar melihat mobil siapa itu. Kaca jendela penumpang turun hingga Fianer bisa melihat pemiliknya. Laki-laki itu menumpukan kedua tangannya ke setir dan menoleh ke arahnya. Tak mengatakan apapun, hanya tersenyum miring dan mengedikkan dagu. Isyarat agar Fianer masuk.
Dengan senang hati Fianer mengangguk. Memang tumpangan ini sangat dibutuhkannya sekarang. “Pak, saya pulang dulu.” pamit Fianer.
“Ati-ati Dok.”
Fianer tak menjawab. Karena senyumnya sudah mengambang terus menatap lak-laki di dalam mobil itu. Dia bergegas menghampiri mobil dan membuka pintunya.
Saat sudah duduk nyaman di kursinya barulah Fianer menghela nafas lega. Dia menoleh dengan senyum lebar pada laki-laki itu, Kahfi.
“Untung ada kamu.”
Kahfi hanya terkekeh. “Aku selalu datang tepat waktu kan?” Fianer mencibir mendengar nada yang sombong itu, tapi tak menyangkalnya.
“Tahu dari mana aku pulang jam segini?” tanya Fianer langsung saat mobil sudah berjalan.
“Ceryl. Dia bilang tadi pagi kamu terlambat dan malam ini kamu harus menyelesaikan beberapa tugas tambahan.”
Hubungan Kahfi dan Ceryl memang tergolong dekat. Jika Kahfi ingin mencari Fianer, maka Ceryl yang akan dia hubungi lebih dahulu.
Jadi Fianer sama sekali tak heran dengan informasi itu. Dia hanya mengangguk-angguk saja.
“Makasih ya.”
Kahfi hanya tersenyum tipis. Satu tangannya terangkat dan mengacak rambut Fianer yang dicepol asal-asalan. Sentuhan itu ringan, tapi sangat nyaman.
“Aku pikir aku sudah tidak diperlukan lagi.” kata Kahfi.
Alis Fianer menyatu. “Kenapa?”
“Kamu sudah punya tunangan. Seharusnya aku sudah pensiun dari tugas antar jemput begini.”
Fianer berdecak, tapi tak menanggapi. Dia sibuk menyalakan CD dan lagu Animal milik Maroon 5, favorit Kahfi langsung terdengar.
“Haish, masih juga suka lagu ini.” dengusnya. Dia langsung mematikan CD dengan wajah sebal. Lebih baik tak ada musik apapun dari pada mendengar lagu itu lagi.
“Memang kenapa? Bagus toh?”
Bagus. Musiknya bagus. Namun saat mendengar liriknya yang menurutnya sedikit v****r entah kenapa Fianer langsung ngeri. Merinding.
“Selera kita beda.” ketus Fianer segera.
Kahfi tahu apa yang Fianer pikirkan dan dia tertawa keras-keras. Fianer memang selalu diejek Kahfi terlalu polos. Tapi Fianer tak keberatan selama artiannya positif.
Fianer mengambil tempat kaset dan membukanya. Dia sering membeli kaset CD untuk di simpan di mobil Kahfi. Karena seperti yang dia bilang tadi, selera musik mereka berbeda. Semua koleksi lagu Kahfi tak ada satupun yang dia suka. Jadi dia beli sendiri.
Setiap kali Fianer naik mobil Kahfi, mobil itu seakan miliknya. Biasanya Kahfi tak pernah komplain. Mau memutar musik macam apa, mau dirubah seperti apa, mau dibuat seberantakan apa, Kahfi tak pernah melarang. Laki-laki itu cenderung memanjakan Fianer.
Kini, Maroon 5 telah tercabut digantikan Kelly Clarkson.
Kahfi hanya tersenyum saat menoleh sekilas. Namun senyumnya menjadi ragu saat mengingat permintaan Erfan padanya tadi.
Senyum gadis ini sudah membaik, sudah hampir seperti dulu. Dia tak tega untuk mengambil senyum itu. Namun dia pun takut Erfan benar. Bahwa Fianer salah memilih.
“Kamu benar-benar sangat menyukai Egar?” tanya Kahfi.
Fianer tersenyum miring. “Kenapa jadi ke sana pertanyaannya?”
“Jawab saja,” kata Kahfi tak sabar.
Fianer mengangguk. “Ya.”
Kahfi terdiam sejenak. Lalu melanjutkan pertanyaan selanjutnya. “Kenapa kamu bisa menyukainya? Memangnya apa bagusnya?” tanyanya. Namun saat Kahfi melihat senyum Fianer, laki-laki itu langsung menambahkan. “Ini serius.”
Fianer memang berencana menjawabnya sebagai candaan. Hingga peringatan Kahfi itu membungkam semua jawabannya yang asal.
Kahfi memintanya untuk serius. Hingga dia terdiam untuk menemukan jawaban yang jujur. Fianer terdiam sesaat.
Entahlah.
Dia tidak pernah tahu alasannya sangat menyukai Egar. Dia pun tak pernah mengerti kenapa dirinya sangat ingin bersama laki-laki itu. Yang dia tahu, dia suka saat di samping Egar. Dia bahagia saat laki-laki itu tersenyum padanya. Hidup tanpa Egar membuatnya sedih.
Fianer menghela nafas. “Kalau aku tidak bersamanya, aku mati.” kata Fianer perlahan.
“Kamu tidak bersamanya sekarang. Tapi kamu hidup.”
Fianer mendesis kesal. Dipukulnya lengan Kahfi. “Apa kamu tidak pernah dengar kata kiasan?” tanya Fianer sebal. “Tidak benar-benar mati! Itu hanya perumpamaan.” Kesal, kenapa hal begini harus dijelaskan juga.
“Makanya, jatuh cinta! Nanti kamu bisa rasakan sendiri seperti apa.” kata Fianer dengan nada mencibir. Kahfi sendiri hanya bergumam tak jelas.
Tepat pada saat itu, lagu Because Of You – Kelly Clarkson terdengar. Senyum Fianer terkembang tipis. Lagu itu tak begitu tepat untuknya. Namun setengahnya adalah penggambaran dirinya saat hidup tanpa Egar.
Lagu itu mengalun merdu.
I lose my way and it’s not too long before you point it out
(Aku kehilangan jalanku dan itu tidak lama sebelum kau menunjukkannya)
I cannot cry, because I know that’s weakness in your eyes
(Aku tidak bisa menangis, karena aku tahu itu adalah kelemahan di matamu)
I’m forced to fake a smile, a laugh everyday of my life
(Aku terpaksa pura-pura tersenyum, tertawa setiap hari dalam hidupku)
My heart can’t possibly break, when it wasn’t even whole to start with
(Hatiku tidak mungkin hancur saat awalnya saja sudah tidak utuh)
Because of you, I never stray too far from the sidewalk
(Karna dirimu, aku tak pernah menyimpang terlalu jauh dari jalan)
Because of you, I learned to play on the safe side so I don't get hurt
(Karna dirimu, aku belajar bermain di aman agar aku tak terluka)
Because of you, I find it hard to trust not only me, but everyone around me
(Karna dirimu, aku merasa sulit percaya tak hanya pada diriku, namun juga pada semua orang di sekitarku)
Because of you, I tried my hardest just to forget everything
(Karna dirimu, aku berusaha sangat keras untuk melupakan semuanya)
Because of you, I don’t know how to let anyone else in
(Karna dirimu, aku tidak tahu bagaimana membiarkan seseorang masuk dalam hidupku)
Because of you, I’m ashamed of my life because it’s empty
(Karna dirimu, aku merasa malu karena hidupku kosong)
Because of you, I am afraid
(Karna dirimu, aku takut)
Senyum Fianer tertahan dan dia memejamkan mata merasakan sesak yang akhirnya datang lagi. Sesak yang mengingatkannya tentang luka. Tentang ketakutannya.
Hidup seperti apa yang dia jalani enam tahun ini. Dia selalu bermain aman. Tidak membiarkan orang melihat kesedihannya, lukanya, ketakutannya. Dia harus terlihat kuat setiap hari. Hingga tak ada satupun yang sanggup masuk ke pertahanan dirinya.
Dan itu melelahkan. Hanya satu yang hilang, namun hidupnya terasa berbeda. Ada yang kurang, tidak pernah utuh.
“Dia memang tidak sempurna.” lirih Fianer. “Tapi hidupku tidak sempurna tanpa dia.”
Kahfi terdiam. Dia menoleh dan mendapati Fianer sedang menyandarkan kepala ke punggung jok dengan mata terpejam.
Dia tak mengatakan apapun.
---
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat Fianer sampai di apartemen. Kahfi hanya mengantar sampai depan dan tidak ikut naik.
Fianer sangat berterima kasih pada laki-laki itu. Kahfi selalu siap sedia jika Fianer membutuhkannya, kapanpun, bahkan saat tengah malampun Fianer membutuhkannya, Kahfi pasti akan datang.
Berbeda sekali dengan Fier yang selalu sibuk dan Rafan yang selalu banyak alasan untuk mengelak. Kahfi jauh lebih bisa diandalkan dari kedua saudaranya itu.
Setelah sampai apartemen, Fianer langsung mandi. Rasanya segar sekali setelah lelahnya terbawa oleh air. Dia tak berlama-lama, karena setelah itu dia langsung menjatuhkan diri di tempat tidur.
Namun kantuk tak pernah datang. Dia memeluk bantal dan terdiam saat melihat jam di dinding kamar. Jam 11. Sudah terlalu larut.
Jujur saja, dia berharap Egar datang. Fianer sangat merindukannya. Dia menghela nafas berkali-kali. Dia tahu Egar tak akan datang malam ini.
Saat memegang ponselnya, Fianer berharap Egar menelpon atau paling tidak Egar mengiriminya pesan.
Tapi laki-laki ini tak melakukan keduanya.
Interaksi terakhir yang mereka lakukan adalah telponnya tadi siang. Fianer ingin makan siang bersama namun ternyata Egar sedang makan siang. Akhirnya, Fianer batal mengajak laki-laki itu.
Dan kini, kalau dia menelpon lagi, apa dia tak terlihat sangat agresif?
Lagi-lagi Fianer menghela nafas. Ponsel yang ada di tangannya dia letakkan begitu saja di atas bantal. Berusaha tak mempedulikannya. Tapi tetap saja. Dua menit sekali, Fianer menoleh dan saat ponsel masih saja diam, dia mendesah kecewa.
“Atau aku telpon saja?” putusnya akhirnya. Tapi melihat jam sudah larut, dia ragu. Mungkin saja Egar masih sibuk, mungkin saja dia sudah tidur, mungkin saja telpon Fianer akan mengganggunya.
Tapi, Fianer tetap mendial nomornya. Pertimbangan sebelumnya terhapus semua karena Fianer benar-benar ingin mendengar suara Egar sedikit saja. Paling tidak, dia hanya ingin mengucapkan selamat malam.
Jantung Fianer berdetak cepat saat nada sambung terdengar. Dan jantungnya nyaris putus saat nada sambung berhenti dan suara itu bisa dia dengar lagi. “Halo?”
Fianer meringis. Malu. Tapi dia sungguh senang mendengarkan suaranya. “Aku ganggu ya?” tanyanya.
“Tidak. Ada apa?” tanya Egar.
Fianer cemberut. Agak kesal. Apa hanya dia yang merindukannya?
“Tidak ada. Cuma ingin mendengar suaramu.” katanya terus terang. Egar hanya diam saja di seberang sana. Tak menanggapi. Lagi-lagi Fianer mendesah kecewa. “Ya sudah. Istirahat ya, tidur yang cukup. Bye.”
“Bye,” jawab Egar.
Dan seketika, ada sesak yang mengumpul. Kekecewaan yang menyatu menjadi rasa gemas karena kesal. Dia tutup telponnya dan membuangnya ke sisi tempat tidur.
Fianer memilih untuk kembali memeluk bantal.
Laki-laki itu tak berubah. Semakin tidak peka!
---
Egar menutup telpon dari Fianer. Membuang ponselnya ke samping jok, lalu mendesah kesal. Kepalanya dia sandarkan ke punggung jok dengan mata terpejam.
Saat hanya melihat kegelapan, akhirnya dia membuka mata dan menatap ke depan. Menatap ke pintu masuk menuju lobi apartemen Fianer.
Sejujurnya, dia sudah ada di parkiran sepuluh menit lalu. Diam di mobil tanpa berniat untuk turun. Jam sudah terlalu malam untuk bertamu. Walaupun ingin, tapi dia tahu setelah kejadian di kantor Erfan tadi pagi, dia tak mungkin melewatkan kemungkinan kalau dia diikuti juga kali ini.
Egar tidak mungkin tak mempedulikan peringatan mereka walaupun sebenarnya peringatan mereka berlebihan. Dia tahu bagai mana menjaga Fianer tanpa harus di dikte.
Tapi dia juga tahu, pendapat Erfan tentangnya sangat penting pada situasi ini. Dia ingin Erfan menerimanya. Bukan hanya karena terpaksa karena ingin Fianer bahagia. Tapi benar-benar menerimanya.
Dan itu hanya bisa dilakukan kalau Egar menjaga sikap. Terlebih Erfan tidak menerima kelonggaran tentang batasan. Kalau sampai dia melanggar batasan itu, bisa dipastikan walaupun perut Fianer sampai buncit pun, dia pasti akan tetap ditendang keluar.
Mereka tak perlu memberinya daftar panjang untuk tahu apa yang boleh dan tidak boleh Egar lakukan. Egar paham dengan sendirinya, bahwa jam malam adalah salah satu point di sana.
Jadi, karena Egar sangat merindukannya, yang dia lakukan adalah duduk di dalam mobil. Dan terus menatap apartemen gadis itu tinggal.
Ponselnya berdering lagi. Dia angkat langsung setelah melihat siapa yang menelponnya.
“Halo?”
“Bos ... saya sudah melacaknya bos.”
Egar mengernyit. “Siapa?” tanyanya.
“Salah satu security apartemennya.”
Egar tersentak. Tatapannya langsung terarah ke pintu lobi yang transparan. Dari kaca, dia melihat security yang memperhatikan mobilnya terus menerus. Dan Egar tersenyum tipis. Dia terkekeh pelan dan membenturkan kepala ke punggung jok.
“Oke.” Egar menutup telponnya dan mendengus keras. Sejak dia tahu dirinya diikuti, dia memang memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki siapa mata-matanya.
Bermain dengan Erfan, Egar dan Rafan memang harus sangat hati-hati. Terlebih jeli. Dengan seringai halus, Egar memperhatikan terus security itu. Saat ada tamu yang bertanya padanya, dia melepaskan perhatiannya dari mobil Egar. Saat itulah Egar turun. Dia langsung bergerak cepat ke arah dinding samping pintu lobi. Bersandar di sana sambil melambungkan kerikil yang dia ambil saat bergerak tadi.
Dan dengan tiba-tiba, Egar melempar batu itu ke atap salah satu mobil di parkiran hingga suara alarm mobil terdengar memekakan telinga. Security itu langsung keluar, berlarian menghampiri mobil itu dan saat itulah Egar menyelinap ke dalam.
Dia membetulkan jasnya lalu berjalan santai ke lift. Masuk saat lift terbuka dan naik ke lantai 5. Dia berdoa semoga Fianer belum tidur.
Egar mengambil ponselnya, dan dia mendial nomor wanita itu.
---
Saat nada getar terdengar, Fianer langsung terlonjak bangun. Dia bergerak cepat menggapai telponnya dan langsung tersenyum lebar melihat siapa yang menelpon.
Telpon langsung dia angkat. “Halo,”
“Belum tidur?” tanyanya.
Fianer tersenyum. Dia duduk lalu bersandar di kepala ranjang. “Belum.” jawabnya halus. Entah ke mana kekesalannya tadi. “Kamu sendiri?”
“Masih ada yang belum selesai.” jawabnya.
Fianer tersenyum tipis sekali. “Oke,” Laki-laki ini masih sibuk bahkan pada jam selarut ini. Itu membuat Fianer sedih.
“Boleh aku menemuimu sebentar?” tanyanya.
Sejenak, Fianer tertegun. Jantungnya berdebar dan dia tak henti-hentinya tersenyum. “Boleh.”
“Kalau begitu tolong bukakan pintu sekarang.”
Awalnya Fianer bingung dengan permintaan itu. Tapi setelah memahami, dia ternganga. Dia langsung bergegas keluar kamar dan membuka pintu depan.
Dan di sana, sudah berdiri laki-laki yang sangat dia rindukan. Sedang tersenyum miring padanya. Membuat darahnya berdesir lembut.
Bagaimana Fianer bisa hidup tanpanya?
---
Egar tak tahu apa keputusannya untuk datang ini tepat.
Melihat wajah Fianer yang kaget melihat kedatangannya, Egar menyeringai puas. Tapi saat mata Egar turun ke bawah, menatap baju tidur yang melekat di tubuh Fianer, seringainya hilang begitu saja.
Baru saja Egar memutuskan untuk mengucapkan selamat malam saja dan langsung pergi saat dari ujung koridor ada seorang laki-laki yang berjalan ke arah mereka sambil menjinjing tas, penghuni kamar lain. Dan hal yang dilakukan Egar adalah, langsung masuk ke apartemen Fianer dan menutup pintunya.
Dia tak ingin laki-laki itu melihat tunangannya dengan baju setipis itu! Hanya dia yang boleh!
“Udah makan?” tanya Fianer.
Egar mengangguk walaupun kenyataannya dia hanya minum kopi tadi. Fianer mengangguk. Dia berjalan ke sofa merah kesayangannya. Egar mengikuti dan menelan ludah melihat lekuk tubuh Fianer dari belakang.
Alarm otaknya berbunyi. Dia harus cepat melarikan diri sebelum hal-hal buruk terjadi!
“Tunggu.” Egar sudah tak tahan lagi.
Fianer menghentikan langkah lalu menoleh. Laki-laki itu menatapnya dengan pandangan aneh. Bulu kuduk Fianer sampai meremang melihat tatapan Egar yang lurus hanya padanya. Laki-laki itu mendekat.
Jantung Fianer sudah berdegup kencang saat Egar berdiri di belakangnya, dekat dengannya. Bahkan teramat dekat. Ada beberapa gerakan di belakang dan Fianer yakin Egar sedang melepas jasnya. Membuatnya menelan ludah. Satu suara hampir keluar dari bibir Fianer saat lengannya di sentuh lembut. Perutnya mulas. Tangan itu turun menyusuri lengannya perlahan hingga membuat Fianer nyaris lemas.
Saat sampai di pergelangan tangan, Egar mengangkat tangan Fianer. Membuat Fianer merasa takut dengan sensasi yang menerpa tubuhnya.
Tapi sensasi itu lenyap seketika saat tiba-tiba Egar membawa tangan Fianer yang terangkat untuk memasukkannya ke tangan jasnya. Memakaikan jas itu dan kembali lagi ke depan.
Mulut Fianer terbuka. Namun seperti tak sadar, Egar merapikan jasnya yang kebesaran di tubuh ramping Fianer. Jas itu praktis menutupi tubuh Fianer. Egar tersenyum puas pada dirinya sendiri.
“Buat apa?” tanya Fianer bingung. Dia tak merasa kedinginan.
“Lain kali, jangan pakai baju begitu lagi di depanku.” kata Egar tenang. Mulut Fianer makin terbuka. Dia menunduk lalu mengintip bajunya. Dia segera menutupnya lagi rapat-rapat. Lalu mendongak menatap Egar dengan pandangan kesal.
“Memang bajuku kenapa?”
Egar berdecak, tak ingin membahasnya. Dia memilih untuk duduk di sofa sambil melonggarkan dasi yang mencekiknya. Gerakan itu luwes, tapi Fianer harus mengelus d**a karena jantungnya berdebar berlebihan. Terlebih jika mengingat reaksinya tadi saat dia pikir Egar akan menyentuhnya. Wajahnya sudah merah karena malu.
Bagaimana dia bisa berpikir sejauh itu? Untuk kesekian kalinya, Fianer menghela nafas. Kesabarannya selalu diuji setiap kali bersama laki-laki ini.
Walaupun malu, tapi Fianer menyeret langkahnya juga. Menyadari Egar yang sedang menggulung lengan bajunya, dia kembali memalingkan muka.
Fianer sendiri sudah malas bicara sampai dia mencium aroma aneh dari jas Egar. Saat diendus, parfum Egar seakan bercampur dengan parfume lain. Dan wanginya sangat lembut. Ini jelas parfum wanita!
Parfum ini tidak akan tercampur kalau posisi mereka tak dekat. Minimal pelukan.
Pikiran selintas itu benar-benar mengganggu. Fianer menoleh dengan mata curiga menatap Egar yang tak sadar sedang melemaskan ototnya.
“Seharian ngapain aja?” tanya Fianer dingin.
“Kerja.” jawab Egar santai. Dan nada santai itu membuat Fianer main kesal.
“Oh, sekretaris kamu cantik nggak?” pancing Fianer.
Egar menoleh. Dia masih belum sadar arah pertanyaan Fianer hingga menjawab pertanyaan itu masih santai dan tanpa berpikir lagi. “Cantik.”
“Enak dong punya sekretaris cantik.”
Egar terkekeh. “Lumayan buat cuci mata.”
Egar kaget satu patung keramik melayang. Untungnya dia sigap dan menangkapnya. Saat menoleh, Fianer sudah menggeretakkan geraham menahan kesal. Dia mencari barang di atas nakas lagi tapi tak ada. “Kenapa sih!?”
Fianer tak menjawab. Dia melepaskan jas Egar dan membuangnya ke lantai. Egar masih ternganga tak percaya jas mahalnya teronggok menyedihkan di bawah kaki mereka. Tak habis pikir dia menoleh. “Jasku kenapa di buang?” tanyanya dengan nada lebih tinggi.
Bukannya menjawab, Fianer justru berdiri dan menginjak jas itu. Tak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Egar makin ternganga. Tapi saat melihat wajah Fianer, dia melihat wanita itu mengatupkan rahang tak peduli. Seperti marah padanya.
Hey, memang dia salah apa?
Untuk sejenak, Egar ikut emosi. Tapi melihat kemarahan terpancar di wajah Fianer, dia tak jadi marah. Diam saja jas mahalnya diinjak-injak seperti keset. Dia biarkan Fianer menumpahkan kekesalannya dan memilih untuk menyenderkan punggungnya ke sofa. Menonton Fianer yang dengan marah menginjak-injak jasnya. Entah jasnya salah apa.
Namun, tubuh itu kembali terpampang dihadapannya. Egar menelan ludah lagi merasakan gairahnya hadir. Berkali-kali dia harus menghela nafas untuk menahannya.
Sebenarnya, baju tidur Fianer tak begitu seksi. Babydoll putih tanpa lengan dan beberapa senti di atas lutut. Sederhana. Namun saat Fianer yang memakainya, baju sederhana itu benar-benar terlihat sangat-sangat seksi. Lekuk tubuh Fianer terlihat. Dan itu sungguh menyiksa.
Fianer baru puas menginjak jasnya itu entah setelah injakan keberapa. Yang jelas, jas Egar sudah kusut masai seperti selesai dijemur. Puas menginjak, Fianer menendangnya sampai jas itu bersarang di kolong sofa.
Itupun Egar diam.
Nafas Fianer turun naik dan emosi itu masih ada. Saat dia menoleh dan orang yang membuatnya marah malah bersender santai, kemarahan itu makin meluap.
“Dekat-dekat saja sana dengan sekretarismu!” sentaknya emosi.
Fianer melangkah pergi tapi pergelangan tangannya di cekal Egar. Mata Fianer melebar. Dia berusaha melepaskan diri tapi Egar lebih kuat darinya. Dia mendongak dan menatap Egar sengit. Saat ekspresi Egar masih datar, Fianer memakai kedua tangannya untuk memutar pegangan. Tapi seperti tahu apa yang akan dilakukan Fianer, Egar menyentakkan gadis itu hingga tubuh Fianer limbung dan jatuh ke pangkuannya.
Keduanya terkejut. Saat tangan Fianer menapak di d**a Egar untuk pegangan, matanya menatap Egar kaget. Mata Egar menyorot tenang. Setenang telaga. Tanpa riak. Mata pekat yang menyorot lembut. Pekat yang sanggup menenggelamkannya bertahun-tahun. Membuatnya hanyut.
Sulit untuk lepas dari mata itu. Saat Fianer mengerjap, kesadarannya baru kembali. Dan detik itu dia meronta. Tapi kedua tangan Egar mengurungnya kokoh. Fianer paham dia tak akan bisa pergi ke mana-mana. Dia kembali ke mata itu. Mengusir pesonanya dan melotot.
“Lepas!”
Tapi Egar seperti tak mendengar. Tangan laki-laki itu mengunci pinggangnya. d**a Fianer bergemuruh cepat karena dia tahu sentuhan Egar di pinggangnya adalah bentuk sentuhan yang berbeda.
Dia menatap Egar yang sudah menatapnya aneh. Dan itu membuat Fianer gugup. Satu tangan Egar melepaskan satu pinggangnya. Fianer bisa melarikan diri saat itu tapi dia tak melakukannya. Dia membiarkan Egar menguasainya. Dan saat tangan Egar memegang rahangnya, Fianer membeku.
Tangan itu mengungkungnya. Egar menggerakkannya agar Fianer menatap mata laki-laki itu.
“Aku akan memecatnya kalau kamu mau.” katanya serak.
Mata Fianer melebar mendengar kata-kata Egar. Tapi Egar tak memberikan waktu untuk Fianer berpikir. Dia membawa gadis itu mendekat dan mencium bibir mungil itu lembut.
Tubuh Fianer sudah melemas saat Egar melumat bibirnya. Perlahan namun pasti, tubuhnya memanas. Membuat tangannya yang bebas, menyusuri d**a Egar, naik bahunya.
Ciuman Egar makin menuntut, terlebih saat tangan Egar di pinggang Fianer turun ke pinggulnya. Geleyar di tubuh Fianer makin nyata. Kini, bibir Fianer ikut bergerak. Dia ikut melumat bibir Egar hingga mereka saling melumat kasar. Tangan Fianer sudah meremas belakang kepala Egar saat kontrol dirinya lepas.
Mereka menikmati ciuman itu tiap detiknya. Kerinduan itu, kemarahan itu, luluh sempurna dan melebur bersama ciuman mereka. Ciuman ini yang mengingatkan kembali Fianer bahwa seberapa banyak dia menginginkan laki-laki ini. Seberapa banyak rindu yang dia miliki.
Geleyar ini, sensasi ini, semuanya menyatu pada satu rasa yang dia miliki untuk satu-satunya laki-laki yang dia inginkan. Rasa yang begitu kompleks.
Tidak perlu selalu bahagia tiap detiknya. Karena setiap kemarahan atau kekesalan yang laki-laki ini buat mudah sekali untuk hilang. Teramat mudahnya hingga dia tak pernah takut ada masa tak bahagia. Selama bersamanya, selama dia ada, dia tak pernah takut merasa sakit lagi. Asal bersama laki-laki ini, sakit adalah hal yang mudah hilang.
Asal bersama laki-laki ini.
Tak ada yang ingin mengakhiri ciuman ini tapi Egar berhasil menahan diri dan menjauhkan kepalanya. Nafasnya sedikit terengah. Tapi matanya tak pernah lepas dari mata Fianer. Lembut, nanar, tapi berbinar bahagia.
Tangan Egar kembali ke rahang Fianer. Mengusap pipi dengan ibu jari dan terdiam menatap mata wanita itu lama.
Egar tak pernah tahu seberapa berbahayanya dirinya di sini. Seberapa masuk akalnya kata-kata Erfan, Rafan dan Fier untuk mereka. Terlalu banyak cinta, terlalu banyak rindu, terlalu banyak waktu dan kesempatan. Terlalu banyak hingga dia bisa melanggar batas jika dia hilang akal. Dan itu sangat berbahaya. Untuk Fianer, juga untuk hubungan mereka.
“Aku ingin kita kompromi,” katanya. Masih mengusap pipi Fianer dengan lembut. Fianer mengangguk. “Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menikah denganku sekarang?” tanyanya. Fianer tersentak. Dia menatap mata Egar dengan mata yang melebar dan mulut terbuka. “Kamu ingin aku melakukan apa?” pelan Egar. “Aku akan melakukan apapun. Dengan cara apapun aku akan membayarnya. Katakanlah.”
Mata Fianer masih melebar. Binar terkejut itu sungguh nyata. Matanya kesana-kemari kebingungan. Tapi Egar tak bergerak. Egar membiarkan Fianer bereaksi seperti apapun. Membiarkan dia berpikir selama apapun, sebanyak mungkin.
Yang Egar tahu, kalau ada celah, kalau ada cara, Egar akan mengambilnya.
Tak lama, mata Fianer menatap Egar tenang. Seperti sudah menguasai dirinya dan siap dengan pembicaraan ini.
“Apa untungnya aku menikah denganmu? Apa yang tidak bisa aku dapatkan saat bertunangan denganmu jika dibandingkan kalau aku menikah denganmu?”
Mata Egar meredup. Jari di pipi Fianer kembali mengusap atas bawah. Tatapannya menunduk pada halusnya pipi itu. Menelan ludah.
“Kamu bisa menghabiskan uangku sesukamu.”
Bibir di samping pipi itu tersenyum mengejek. Tentu saja, Ayahnya selalu memberikan segala fasilitas yang ada. Sehingga keuntungan itu tak ada nilainya. Terlebih kartu kredit Egar sudah ditangannya. Fianer masih bisa menikmati uang Egar meskipun mereka hanya bertunangan.
“Kamu bisa menyandang namaku.”
Senyum itu tak mengejek lagi. Tapi tersenyum tipis, sopan. Egar tahu Fianer tak tertarik. Laki-laki itu mengerutkan dahi memikirkan keuntungan apa yang bisa wanita ini peroleh.
“Bagaimana kalau ... kita bisa bertemu setiap hari?” tanya Egar.
Fianer tersenyum lagi. “Saat kita bertunanganpun kita bisa melakukannya. Aku tinggal menelpon menyuruhmu datang.”
Egar tak berekspresi. Gerakan tangannya di pipi Fianer berhenti. “Kalau kita sudah menikah, kamu tak perlu memintaku datang. Karena aku pasti akan pulang ke tempatmu.” pelannya. Bibir Fianer berhenti tersenyum. “Tanpa peduli waktu, aku bisa menemuimu setiap aku pulang.” pelannya lagi. “Kamu bisa memelukku setiap tidur, sampai pagi.” Egar melihat Fianer menelan ludah dan bibir itu terbuka. Sungguh, Egar tak tahu bahwa keuntungan itu begitu menggiurkan hingga wanita ini akhirnya goyah. “Setiap malam.” tambah Egar.
Mata Fianer bergerak dan menatap Egar. Kali ini, Egar tak ingin menghilangkan kesempatan emas ini. Dia tak ingin memberikan Fianer waktu lebih untuk berpikir. Karena banyaknya pertimbangan hanya akan membuat keraguan itu hilang.
Egar memanfaatkan keraguan itu dengan baik. Dia tak mengatakan apapun, tak menyentuh Fianer lagi. Hanya menatapnya. Menatapnya dengan tenang. Dan itu berhasil membuat Fianer goyah sama sekali.
“Aku mau.” jawab Fianer seperti tak ingin berpikir lagi. Dan bibir Egar mengembang sempurna. Dia tersenyum menatap Fianer yang masih kaget dengan keputusannya. Egar lalu memeluk wanita ini erat. Mencium rambut Fianer sesekali lalu tersenyum lagi.
“Kita akan menikah. Kamu akan mati kalau mengubah keputusanmu lagi.”
Fianer yang masih ragu dengan keputusannya tadi, tersenyum seketika. Joke itu membuat seluruh sendinya rileks dan dia tahu keputusannya benar. Dia memang ingin sekali menikah dengan laki-laki ini.
Fianer mendorong d**a Egar untuk memberi mereka jarak karena dia ingin bicara. “Tapi kamu bilang kita sekarang sedang kompromi.” katanya.
Egar mengerutkan dahi. “Ya,” jawabnya ragu. “Lalu?”
“Aku ingin mengajukan beberapa syarat.” kata Fianer dengan mata yang menurun tak mau menatap Egar. Tangannya bermain-main di kerah kemeja laki-laki itu.
Egar masih mengerutkan dahi. Dia tahu, syarat ini pasti tak akan mudah. “Beberapa itu seberapa banyak?” tanyanya.
Fianer mendengus. Kali ini dia menatap Egar. “Cuma dua.” katanya.
Egar menghela nafas lega. “Oke, apa?”
“Aku tadi bilang mau menikah denganmu.” Egar mengangguk membenarkan. “Tapi aku tidak bilang kalau aku mau menikah denganmu sekarang.”
Mata Egar melotot. “Tapi ...”
Telapak tangan Fianer menginterupsi apapun protes Egar. “Kita bisa saja menikah besok, kalau kamu bisa memenuhi syarat pertamaku.”
Dahi Egar makin mengernyit. Jadi, semakin cepat dia memenuhi syarat pertama, semakin cepat juga dia menikah dengan Fianer? “Apa syarat pertamanya?”
Fianer menatap mata Egar. Menatapnya lembut. “Ayah.” katanya. Dan seketika, Egar lemas. Satu kata itu membuatnya sadar bahwa dia tak akan menikah dengan Fianer dalam waktu dekat. “Kamu sendiri tahu. Kemarin Ayah menerima pinanganmu hanya karena ingin aku bahagia.” pelan Fianer. “Bisakah ... bisakah kamu membuatnya menyukaimu?” tanya Fianer. Air matanya menetes. Itu harapannya selama ini. Dan Egar menatap air mata itu dengan ragu.
“Itu bisa lama sekali.” bisik Egar.
Laki-laki ini tak menyerah. Hanya memperkirakan lamanya dia berhasil melakukan itu. “Kamu yakin dengan syarat ini? Bagaimana jika aku tak pernah bisa melakukannya? Apa kamu tidak akan mau menikahiku?” tanyanya.
Fianer tersenyum. “Jika kamu bisa membuat Ayahku menyukaimu sebelum 3 tahun, aku akan menikahimu saat itu juga. Itu janjiku. Tapi kalau tidak, kamu harus menikah denganku 3 tahun lagi, seperti perjanjian awal.”
Egar mengangguk mengerti. “Lalu syarat kedua?”
“Syarat kedua hanya berlaku kalau kamu berhasil memenuhi syarat pertama.”
“Katakan saja,” ucap Egar tak sabar.
“Aku ingin menunda punya anak.” katanya. Egar mengangkat alis. “Kalau sebelum 3 tahun kita sudah menikah, aku ingin kita menunda punya anak. Kalau aku sudah selesai dengan gelar dokterku, baru aku siap punya anak.”
Egar terdiam. Dia menimbang untung ruginya. Saat menatap Fianer, wanita itu menatapnya sungguh-sungguh dan Egar tahu bahwa ini adalah jalan tengah dari masalah mereka.
Laki-laki itu mengangguk “Deal.”
---
Jam 1 dini hari, Egar baru pamit pulang.
Laki-laki itu menyampirkan jas di bahunya dan berjalan ke pintu dengan langkah setenang biasa walaupun bajunya berantakan.
“Kamu yakin tidak mau menginap?” tanya Fianer. “Sudah terlalu larut.”
“Ini undangan untuk apa?” tanya Egar dengan alis terangkat. Langkahnya terhenti dan Fianer ikut menghentikan langkah. Fianer melihat lingkaran hitam di sekitar mata Egar tanda laki-laki ini lelah. Menyetir malam-malam dalam kondisi kurang tidur ... dia tahu tawarannya sangat masuk akal.
“Aku serius,” kata Fianer khawatir.
Kekhawatiran itu terlihat jelas dan membuat Egar tersenyum tipis. Iris mata wanita itu bergetar dengan dahi mengerut.
Egar tak tahan untuk sekedar mengusap pipi Fianer agar wanita ini santai. Dia sudah terbiasa pulang larut, sudah terbiasa seperti zombi yang tidur 1 jam sehari. Dia sudah terbiasa lebih lelah dari ini. Lagi pula dia punya alasan lain tak bisa menginap di apartemen ini lagi.
Erfan. Setelah peringatan tadi siang, sakit jiwa namanya jika dia tetap mengulanginya lagi.
Walaupun ingin tinggal, dia tetap tidak bisa.
“Nanti kunci pintunya, jendela ditutup, jangan dibuka, nanti masuk angin. Jangan lupa besok harus follow up pagi. Tidak boleh telat lagi.” pesannya panjang lebar. Walaupun nada suaranya tegas, tapi mata itu menyorot lembut. Menenangkan. Membuat Fianer betah berlama-lama menatapnya.
Terlebih, Egar tak hanya memberikan serentetan pesan. Tapi juga sebuah ciuman. Memang hanya ciuman di dahi. Tapi sanggup membuat mata Fianer memejam, takut melewatkan moment indah ini begitu saja. Ciuman di dahi itu dalam dan lama, penuh perasaan. Fianer merasa sangat disayangi.
Dan saat ciuman itu terlepas, otomatis ketenangan itu terenggut dan lenyap begitu saja. Walaupun begitu, senyum lebar Egar sanggup menutupi rasa kehilangan itu.
“Aku pulang dulu.” lirihnya.
Tak ada yang bisa Fianer lakukan selain mengangguk. walau berat, tapi dia tetap diam saat Egar membuka pintu dan melewati ambangnya.
Rasanya, ada yang mengganjal di hatinya, seperti ada yang salah. Fianer masih bisa merasakannya saat Egar tersenyum lagi lalu pergi menyusuri koridor apartemen yang sepi. Hanya punggungnya saja yang bisa Fianer lihat. Makin jauh makin membuat perasaan Fianer tak enak. Tangannya tetap berpegangan pada kusen. Tak lelah hingga menunggu punggung Egar benar-benar menghilang.
Laki-laki itu menunggu sebentar hingga lift terbuka dan masuk. Untuk terakhir kalinya pada malam ini, mereka bisa saling melihat lagi walaupun dari jarak puluhan meter. Tapi Fianer tahu kalau Egar tersenyum miring padanya. Sedangkan Fianer tak dapat membalas senyum itu. Bibirnya kaku.
Dan saat pintu lift tertutup, barulah dia tahu rasa apa itu.
Hampa.
---
Rasa hampa itu tetap bertahan hingga subuh menjelang. Tak ada yang Fianer lakukan selain terbaring memeluk guling dan sesekali menatap ponsel yang tetap diam tak berdering.
Egar tak menelponnya.
Setidaknya untuk mengabari bahwa dirinya sudah sampai rumah dengan selamat. Namun sampai subuh Fianer menunggu ... Egar tetap tak menghubunginya.
Sejenak Fianer memejamkan mata, menekan d**a menghalau rasa hampa. Namun hampa itu tetap tak hilang. Semakin di tekan, hampa itu semakin menjadi.
Anehkah kalau Fianer sudah merindukan laki-laki itu lagi? Rasa bahagianya menguap saat laki-laki itu pergi. Kosong ... seakan ada yang hilang. Dan akhirnya memaksa Fianer untuk memikirkan tiap percakapan mereka.
Kamu bisa memelukku setiap tidur, sampai pagi.
Fianer menghela nafas mengingat kata-kata Egar tadi. Memeluk Egar sampai pagi, itu adalah hal yang paling dia inginkan sekarang. Tapi itu hanya berarti mereka berdua harus menikah terlebih dahulu.
Mengingat itu kepala Fianer langsung pusing. Dia pikir, Egar terlalu terburu-buru memutuskan untuk menikah.
Mereka masih terlalu muda. Banyak hal yang belum dia capai di umurnya yang sekarang. Karirnya masih jauh. Egar mungkin sudah sukses dan berhasil mencapai semua yang dia impikan. Tapi Fianer bahkan belum memulai sama sekali.
Terlebih lagi saat mengingat masa lalu mereka. Masa lalu yang dominan dengan luka ... masa lalu yang penuh air mata. Fianer ingin sekali mengulang masa itu dan memperbaiki segalanya.
Yang dia tahu ... dia ingin mengulang saat-saat mereka bersama. Saat yang harus terenggut paksa. Saat-saat yang hanya terisi oleh tangisan. Kebersamaan mereka hanya dari sedikit waktu. Dia ingin mengisi kenangan lain yang lebih bahagia.
Dimana mereka akan menciptakan banyak kenangan bahagia yang mengikuti jejak langkah mereka sebelum mereka menutup buku dan melangkah pada hubungan baru.
Sebuah pernikahan.
Mereka pasti akan menikah. Itu pasti. Tapi tidak bisakah mereka menikmati kebersamaan mereka terlebih dahulu? Salahkah dia jika ingin menunda sebentar?
Dia hanya meminta sedikit waktu. Sedikit saja ...