ketakutan itu menjadi nyata

314 Words
Sudah satu Minggu ini aku mual , dan tidak enak badan , sudah minum obat tapi tetap tidak ada perubahan , aku takut , takut jika ada yang tumbuh diperut ku , pasalnya setelah sebulan yang lalu aku telat datang bulan . " hoek..hoekk.." tubuh ku lemas dan tak bertenaga , air mata ku tidak berhenti menetes , aku takut mas . Aku teringat lagi dengan adegan satu bulan yang lalu , bagaimana kalau sampai aku hamil . " nduk , kamu ke bidan desa aja ya , ibu takut ada apa-apa dengan kondisi kamu yang seperti ini , lihat badan mu kurus sekali nduk " ucap ibu menatapku khawatir , aku tidak sanggup melihat ibu dan bpk terluka karena aku " ngk usah buk " ucapku pelan seraya menahan tangiss , tiba-tiba penglihatan ku menjadi buram , pusing , lemas dan gelap **** aww , aku terbangun dengan selang infus ditanganku . kepala ku masih sangat pusing , aku melihat ibu menangis dan bapak menatap ku dingin. Ada apa , apa bpk dan ibu sudah tau kondisi ku yang sebenarnya. Ya Tuhan aku tidak sanggup melihat mereka terluka , maaf kan aku pak buk " Sudah bangun kamu nduk ??" tanya bpk dingin , " lebih baik sekarang kamu istirahat agar bisa cepat pulang !!" bpk masih bicara dengan nada dingin , ada kekecewaan yang tersorot dari matanya . ibu masih menangis dan menatap ku nanar . Aku hanya mengangguk lemah . ** " ini Bu obat nya , tolong dihabiskan ya . kasian , janin nya kuat , tapi anak ibu yang lemah kondisi nya , tolong sampaikan jangan terlalu lelah dan banyak fikiran ya Bu " ibu menerima obat itu lalu permisi untuk pulang . Disepanjang perjalanan kami hanya diam . Ada rasa sedih yang ku lihat dari mata mereka , maaf Bu pak , aku siap menerima hukuman ini .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD