Mata Karenina melebar saat melihat siapa laki-laki yang sejak tadi mereka tunggu. Bahkan tubuhnya seakan membeku di tempat, karena laki-laki ini adalah satu-satunya orang yang tidak ingin Karenina temui, apalagi dalam kondisi hidupnya yang tengah berantakan. Atau dalam kapanpun waktu yang ia miliki, sungguh … Karenina tidak mau berurusan dengan laki-laki, yang penampilannya sudah berubah drastis ini. Mereka memang telah sama-sama berubah. Namun, tentu saja perubahan yang mereka alami berbeda. Jika dirinya kehilangan segala kemewahan yang dulu ia banggakan. Maka yang terjadi dengan laki-laki ini adalah sebaliknya, segala hal yang diinginkan dari seorang pasangan sepertinya ada padanya. Tentu saja jika hanya dilihat dari segi fisik, dan juga materi.
“Siang, Pak!” Adi segera berdiri saat melihat kehadiran pemilik rumah yang ternyata masih muda. Ia segera menarik lengan Karenina, yang malah memilih menyembunyikan wajahnya.
“Saya Adi, Pak.” Adi mengulurkan tangan, lalu menyenggol pelan lengan Karenina dengan sikunya. “Ini Nina, rekan kerja di One Mart,” ujar Adi pada akhirnya, karena teman yang sejak tadi ia andalkan malah seperti ingin kabur dari tempat ini. Entah apa yang terjadi sebenarnya.
“Panggil saja Alfa,” ujar laki-laki itu membalas uluran tangan Adi, dan melirik bingung pada wanita yang kini malah menyembunyikan wajahnya itu.
“Nin, ngomong!” bisik Adi sembari menyenggol lengan Karenina lagi, lalu melempar senyum tidak enak pada Alfa yang terus memperhatikan mereka.
“Jadi, kalian karyawannya pak Wahid?” tanya Alfa pada akhirnya, karena dua orang di depannya ini malah seperti saling melempar debat lewat isyarat mata.
“I-iya, Pak. Jadi—“ Ucapan Adi terpotong saat Alfa mengisyaratkan jika sebenarnya ia sudah tahu apa yang akan mereka jelaskan dengan datang ke tempat ini melalui anggukan kepala.
“Sebenarnya saya sudah kirim pesan ke Pak Wahid untuk membatalkan niat kalian ke sini, karena beberapa menit lagi saya harus terbang ke Surabaya,” jelas Alfa dengan senyuman penuh wibawa.
Sementara Adi dan Karenina yang saat itu juga mengangkat wajah saling melempar pandang. “Bentar aku lihat hape,” lirih umam wanita itu seraya mengeluarkan ponselnya, lalu meringis pada Adi saat ada satu pesan dari Pak Wahid yang ternyata belum ia baca.
“Pak Wahid juga sudah menjelaskan apa yang menjadi tujuan kalian datang ke sini, dan saya butuh waktu untuk mempertimbangkan,” ujar Alfa sembari melirik Karenina yang kembali menundukkan wajah.
“Wah maaf ini, ya, Pak, kami malah jadi merepotkan,” ujar Adi tidak enak hati. Sementara Karenina yang masih mencoba meredam perasaan tidak nyaman yang kini bersarang di hatinya, hanya diam.
“Nggak papa, saya malah kasihan sama kalian yang sudah jauh-jauh ke sini. Besok, kalau saya sudah ada waktu, saya akan segera datang ke tempat kalian, dan bisa kalian jelaskan apa saja alasan masuk akal, yang bisa membuat saya mengurungkan niat untuk menutup tempat itu.”
Adi mengangguk, memutuskan untuk segera pamit, karena memang tidak ada lagi yang perlu mereka bahas. Dan lagi, Alfa juga sudah mengatakan jika dirinya harus segera ke bandara.
*
“Kamu itu kenapa si, Nin?” tanya Adi setelah keduanya keluar dari rumah megah itu. Adi menuntun motornya ke luar gerbang, baru menyalakannya setelah cukup jauh dari pelataran rumah itu. Entahlah, rasanya segan saja menyalakan motor berisiknya pada rumah elit yang seringnya ia lihat di televisi.
Bukannya menjelaskan, Karenina hanya menggelengkan kepala. Sesekali ia menoleh ke arah rumah dengan bangunan dua lantai yang tampak megah itu. Mengingatkannya pada rumah yang dulu ia miliki. Ternyata roda kehidupan benar-benar sudah berubah. Lihatlah, ia dan laki-laki itu bertukar posisi kali ini.
“Kamu kenal sama dia?” Adi menggedik ke arah rumah itu sebelum Karenina naik ke atas motornya.
Wanita itu lagi-lagi menggeleng. Tidak mungkin menceritakan apa yang kini ada di kepalanya. Bahwa laki-laki itu, Alfa atau yang dulu ia panggil Dika, adalah laki-laki yang ia tolak selama 15 kali. Laki-laki yang dulu ia anggap tidak satu level, sehingga tidak layak untuk menerima perhatiannya. Hidupnya benar-benar seperti sebuah sinetron azab. Dan kini, kemewahan yang Dika miliki adalah seperti sebuah tamparan keras yang membuat Karenina merasa sangat berdosa. Apa memang yang terjadi di hidupnya kini adalah sebuah karma?
Adi yang bingung dengan sikap Karenina hanya menggaruk kepalanya yang mendadak gatal karena kepanasan. Lalu tanpa menanyakan apa pun lagi, laki-laki itu segera melajukan motornya untuk kembali pulang.
*
Waktu sudah menunjuk tengah malam, tetapi Karenina tidak juga mampu memejamkan mata. Segala hal yang pernah terjadi dulu kembali teringat. Otaknya memutar kepingan masa lalu, apalagi pada tempat di mana ada Dika di dalamnya. Handika Alfarizky. Yah, bagaimana bisa Karenina melupakan nama yang sering berdengung di kepalanya setiap hari.
Dan mau tidak mau, ia teringat akan syarat yang pernah ia berikan dulu. Apakah, Dika atu Alfa mengingat semuanya? Tapi, dari cara laki-laki itu yang tampak biasa saja saat menatapnya tadi, sepertinya Alfa tidak lagi mengingat semuanya. Dia Alfa, bukan lagi Dika, pemuda yang dulu menggilainya. Lagi pula, misalkan Alfa mengingatnya pun rasanya tidak ada yang perlu diperpanjang. Karena jelas, kasta mereka berbeda, dan ia harus tahu di mana tempat ia berada kini. Alfa bukan lagi jangkauannya. Sekali lagi Karenina menekankan pada hatinya, mengingatkan jika yang ia temui tadi adalah Alfa, bukan Dika.
*
Pagi menjelang dan keresahan mulai menjalari hati Karenina. Jika benar yang dikatakan Alfa kemarin, berarti hari ini laki-laki itu akan datang untuk meninjau One Mart. Entah mengapa rasanya ia ingin lari saja dari minimarket ini. Lebih baik mungkin tempat ini tutup saja, daripada ia harus berurusan dengan laki-laki itu lagi. Sesungguhnya Karenina malu jika harus kembali berhadapan dengan Alfa. Sikap di masa lalunya yang tidak meninggalkan kesan baik, membuat Karenina ingin menghilang saja dari sini. Namun, baru saja ia terpikir untuk melarikan diri, dan tidak peduli jika seandainya Alfa menutup tempat ini, tepat saat itu juga sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti di depannya.
Senyuman ramah dari laki-laki yang berpenampilan ‘mahal’ itu kini menyapanya. Bentuk senyum basa-basi untuk orang yang baru saja saling mengenal. Dari sini saja sudah jelas, bukan? Kalau laki-laki ini sama sekali tidak mengingatnya? Jadi, untuk apa juga dia harus kabur? Bodoh!
“Kamu sendiri?” Baru saja Karenina ingin menjawab, matanya menangkap kehadiran Siska yang tampak berbinar saat melihat sosok Alfa. Yah, siapapun pasti akan langsung kagum dengan sosok tampan ini. Yang Karenina ingat, Alfa sejak dulu memang tampan. Hanya saja, dulu laki-laki ini tidak terlihat menarik karena mungkin faktor ekonomi yang kurang menunjang. Apalagi kaca mata tebal yang dulu Alfa pakai, menutupi mata sipit yang kini tidak terlindung apa pun. Hanya mengenakan kaos lengan panjang polos dan celana jeans saja, Alfa tampak begitu menawan.
“Ini Siska, Sis, ini—“ Ucapan Karenina terpotong karena kepala Siska sudah mengangguk-angguk tanda jika dia sudah tahu siapa sosok yang kini berdiri di hadapan mereka.
“Jadi, apa yang membuat saya harus berubah pikiran untuk tidak menutup tempat ini?” tanya Alfa sembari memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Sementara tangan yang lain memainkan kunci mobil. Sementara pandangan laki-laki itu kini mengedar ke sekitar.
Karenina nyaris tidak berkedip saat melihat itu semua, dan untung saja ada Siska yang segera menyadarkannya. Oke! Dia harus bisa bersikap seperti Alfa. Mereka pura-pura tidak saling mengenal, atau memang sosok Alfa sudah tidak lagi mengenalnya? Mendadak perasaan kecewa dan sakit hati menggerogoti hatinya. Karenina nyaris menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan hatinya, jika bukan salah laki-laki itu jika melupakan keberadaannya, yang kini bukan siapa-siapa. Lagi pula, ia sudah terbiasa untuk merasakan bagaimana sakitnya ‘dilupakan’ oleh banyak orang, bukan? Teman-temannya, saudara dekatnya pun melupakannya begitu ia jatuh miskin. Dan kali ini, satu lagi orang yang melupakannya, orang yang bahkan dulu tidak pernah ia anggap keberadaannya. Mengapa ia harus merasa sedih?
Senggolan di lengan membuat Karenina sadar jika sedari tadi ia ternyata malah melamun.
“Ah, ma-maaf,” ujar wanita itu sedikit tergeragap, lalu segera menyiapkan alasan yang Alfa inginkan. Dengan segala kemampuan yang ada, ia singkirkan segala hal yang mengganggu. Ingat! Dia Alfa! Bukan Dika! Kata-kata itu terus Karenina dengungkan di kepalanya.
“Jadi?” tanya Alfa mulai tidak sabar, sesekali menilik arloji yang menempel di pergelangan tangannya. Seolah sedang mengisyaratkan jika dia tidak lagi punya banyak waktu.
“Di daerah sini belum ada minimarket, Pak. Dan saat ini, One Mart sudah mulai dikenal. Apalagi, pabrik di depan kita ini bulan depan bakalan buka, jadi sayang sekali jika One Mart yang mulai ramai harus ditutup,” jelas Karenina. Entah hanya perasaannya saja, atau memang sejak tadi mata Alfa seperti tengah mengamatinya. Bukan jenis mengamati karena tengah mendengarkan penjelasan tapi dalam arti lain. Ada semacam … tatapan rindu? Ah tidak mungkin! Tepis Karenina dalam hati. Pasti itu hanyalah harapan yang ada di hati Karenina, hingga tatapan biasa Alfa terlihat seperti apa yang ia inginkan.
Alfa berdeham, dan terlihat sedikit salah tingkah, entah untuk apa. Karenina mencoba untuk tidak menerka-nerka, dan fokus menunggu jawaban Alfa yang sepertinya tengah mempertimbangkan sesuatu.
“Bagaimana pemasukan tiap bulan sejauh ini? Apakah ada perkembangan?”
Karenina mengangguk mantap, karena dirinya memang ditunjuk sebagai bagian keuangan. “Bahkan bulan ini melonjak drastis.”
“Oh ya?”
“Kalau Bapak butuh bukti, saya ada—“ Kalimat itu terhenti oleh gelengan kepala Alfa.
“Tidak perlu. Sepertinya, saya akan mengurungkan niat untuk menutup tempat ini.” Tanpa sadar bibir Karenina tertarik lebar saat itu juga. Membuat wajah ayunya yang sudah lama sekali tidak menampakkan senyum terlihat begitu cantik. Bahkan untuk sepersekian detik, mata Alfa seperti terpaku, menikmati indahnya ciptaan Tuhan di depannya. Namun selanjutnya kedua orang itu terlihat salah tingkah. Sementara Siska yang terjebak dalam momen canggung itu hanya bisa menahan senyuman. Sepertinya, akan ada kelanjutan sebuah cerita dari pertemuan ini.
“Terima kasih untuk keputusannya, Pak,” ujar Karenina dengan senyuman canggung.
Alfa pun hanya mengangguk. Selanjutnya laki-laki itu masuk ke dalam minimarket untuk melihat apa saja kiranya yang bisa ia lakukan sebagai bahan perombakan. Tentu saja agar minimarket ini lebih banyak peminatnya.
Karenina mencoba menyuarakan ide yang selama ini mengendap di kepalanya. Dan lagi-lagi, entah mengapa ia merasa jika Alfa terus mengamatinya dengan cara yang tidak biasa. Dan mata itu, Karenina yakin, ada arti dari pancaran mata Alfa yang seolah terus memindai wajahnya. Bolehkah ia menganggap jika ini pertanda, jika sebenarnya Alfa masih lah seorang Dika yang dulu menggilainya?
^___^