JANGAN PANGGIL SAYA BAPAK!

1737 Words
Karenina memulai harinya dengan perasaan yang sedikit baik. Tidak lagi ada kesedihan tentang Aryo, karena memang ia tidak memiliki perasaan apa pun untuk laki-laki itu. Sebenarnya ia hanya merasa malu, tapi seiring berjalannya waktu, ia mulai bisa melupakan kejadian itu. Mungkin semuanya bisa ia jadikan pelajaran untuk ke depannya. Itu juga jika Tuhan masih mengizinkannya untuk mengenal laki-laki lain. Dan juga, andai karma itu tidak pernah ada. Berbicara tentang karma, Karenina sedang dirundung dilema antara ingin meminta maaf pada Alfa atau tidak? “Jadi, Dika yang dimaksud Mbak Nina itu Pak Alfa?” Siska terlihat sangat terkejut saat Karenina menceritakan tentang Alfa dan Dika yang sebenarnya orang yang sama. “Tapi, kok kalian seperti orang asing gitu tadi, Mbak?” Itulah, hal yang membuat Karenina menjadi bingung. Ia takut jika memutuskan untuk meminta maaf, tanggapan Dika atau Alfa malah lain. Bagaimana jika laki-laki itu tetap pada sikapnya yang sekarang? Pura-pura tidak mengenalnya. “Aku juga nggak tahu, Sis. Makanya itu, apa aku harus minta maaf jika kondisinya seperti ini?” Siska tampak berpikir, lalu menoleh cepat dengan senyuman lebar. “Mbak Nina cari tahu dulu aja, apa dia itu pura-pura atau memang nggak ngenalin, Mbak. Kalian nggak ketemu berapa tahun coba?” Karenina tampak menghitung di dalam kepalanya. “Sekitar tujuh tahunan,” jawabnya ragu. Tapi sepertinya memang sekitar itu, atau lebih? Usianya sekarang 27 tahun, dan mereka terakhir bertemu saat kelulusan sekolah. Yang mana saat itu usianya masih 18 tahun. Jadi? “Sembilan tahun kayaknya deh, Sis,” ralat Karenina cepat. “Dan menurut Mbak, dia berubah?” Tidak perlu berpikir, Karenina langsung mengangguk. Drastis, Dika berubah begitu drastis. Bahkan nama panggilannya pun berubah. Seolah, laki-laki itu ingin mengganti semua kenangan di masa lalunya. Mungkin juga kenangan tentang dirinya sudah laki-laki itu hapus. Entah mengapa Karenina merasa kecewa hanya dengan membayangkan hal itu. “Tapi Mbak langsung bisa ngenalin dia, kan?” Lagi, Karenina langsung mengangguk. Sebesar apapun perubahan orang, pasti akan ada satu ciri-ciri fisik yang melekat. Terutama t**i lalat yang ada di sudut mata sebelah kanan Alfa. Hal yang kini membuat laki-laki itu terlihat begitu menawan saat tersenyum. “Jadi, kemungkinan besar, dia sebenarnya hanya sedang bersandiwara si menurutku,” gumam Siska. “Maksudnya gimana?” Karenina mengerti, hanya pura-pura tidak mengerti. “Yah secara, dia dulu ngejar-ngejar Mbak kayak gitu. Mana mungkin si dia lupa sama Mbak Nina?" ujar Siska yakin. "Padahal menurutku, Mbak Nina itu nggak mangalami perubahan yang besar,” lanjutnya. “Masak si, Sis. Aku jadi buluk gini, dibilang nggak berubah?” Karenina menggeleng dengan senyuman masam. Tentu saja dia berubah drastis. Dulu dia sering ke salon untuk perawatan, memakai barang-barang mahal. Dan sekarang? “Bener Mbak, Mbak Nina nggak berubah banyak kok. Masih cantik,” ujar Siska dengan senyuman penuh keyakinan. Sementara Karenina hanya menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk tidak terpengaruh oleh ucapan Siska. Ia tidak boleh berharap lebih. Apalagi sampai berharap, Dika atau Alfa masih mengingat janji yang dulu pernah terucap. * Karenina terkejut saat pagi itu mendapati Alfa sudah berdiri di depan minimarket dengan pakaian semi formal. Celana jeans, dengan atasan kemeja panjang biru yang dilipat sampai ke siku. Sepatu mahal yang dulu menjadi benda favorit Karenina, melekat pas di kaki besar laki-laki itu. “Ini memang bukanya jam berapa?” tanya laki-laki itu saat melihat kedatangan Karenina yang sedikit berlari setelah turun dari angkutan umum. “Maaf, Pak, saya nggak tahu kalau Bapak mau datang. Biasanya, kita buka jam sepuluh kalau hari biasa. Sabtu minggu jam sembilan,” jelas Karenina sembari membuka gembok rolling door. Wanita itu berusaha untuk tetap tenang saat Alfa kini berdiri begitu dekat dengannya. Bahkan bahu mereka nyaris menempel karena kini Alfa tengah membantunya untuk membuka pintu besi itu untuk dinaikkan ke atas.Aroma parfum yang juga tidak bisa dibilang murah, kini terhidu sangat jelas di indera penciuman Karenina. Dan, ia sangat menyukai parfum dengan aroma manly tapi lembut itu. “Sesiang itu?” Karenina mengangguk, tanpa mau menoleh pada Alfa yang ia yakini kini sedang mengamatinya. Dengan sedikit gemetar, wanita itu mencoba tetap fokus pada kunci yang kenapa susah sekali dibuka? “Biar saya bantu.” Alfa perlahan mengambil alih kunci di tangan wanita itu, lalu dengan mudah memutar kunci hingga pintu kaca itu terbuka. Karenina yang merasa gugup hanya bisa berdiri, dan segera masuk saat Alfa sudah terlebih dulu melangkah ke dalam. “Menurut kamu, apa yang perlu saya renovasi di sini?” tanya laki-laki itu sembari mengedar pandang. Karenina yang sedang mengambil sapu untuk membersihkan tempat itu sembari menunggu komputer menyala, mau tidak mau menoleh. Namun, segera fokus ke arah sapu di tangannya saat tiba-tiba saja kepala Alfa memutar ke arahnya. “Ren?” Karenina tersentak, dan segera mendongak dengan alis terangkat. “Ya, Pak?” Emtah mengapa Alfa malah tersenyum, seperti tengah menemukan sesuatu dari wajahnya. Dengan susah payah Karenina menelan salivanya. Alfa berdeham sebelum kembali mengedar pandang. “Kamu belum jawab pertanyaan saya, Karenina.” Karenina kembali tersentak, “Pertanyaan yang mana, Pak?” tanyanya bingung. Ada tawa lirih yang menguar. Dan benar yang Karenina bilang, wajah Alfa terlihat menawan saat tengah tersenyum seperti itu. “Kamu itu, yang tadi. Saya tanya, kira-kira apa yang bisa saya renovasi dari minimarket ini?” Ada ringisan malu yang kini wanita itu tunjukkan. Dan lagi-lagi Alfa tersenyum, makin membuat Karenina salah tingkah. Selanjutnya wanita itu menyuarakan isi kepalanya sebelum suasana bertambah makin canggung baginya. “Saya selama ini terpikir, gimana kalau bagian atas dibuat kayak tempat nongkrong gitu, Pak?” Alfa terlihat tertarik dengan ide itu, ia pun memusatkan penuh perhatiannya pada Karenina yang harus bersusah payah untuk tetap fokus. Apalagi kini tubuh menjulang Alfa terlihat makin menawan saat laki-laki itu memasukkan kedua tangannya pada saku celana jeans yang laki-laki itu kenakan. “Kan sebentar lagi pabrik depan dibuka,” lanjut Karenina yang dibalas anggukan antusias oleh Alfa. “Nah, lantai atas itu nantinya disewakan sama pedagang lain. Tapi jangan terlalu mahal kalau bisa, di sini itu kan makanan yang laku yang murah-murah.” Lagi-lagi Alfa mengangguk. Kota ini memang terkenal dengan jenis kulinernya yang beragam dan murah meriah. “Jadi dibuat kayak ruangan terbuka, begitu?” Kali ini giliran Karenina yang membalas dengan annggukan. “Oke, bagus juga ide kamu, lalu atapnya?” “Bisa dibuat kayak tembus pandang gitu nggak, Pak? Biar kalau pas malam bagus, bisa lihat bintang,” ringis Karenina yang hanya dibalas anggukan dan senyum tertahan oleh Alfa. Suasana mungkin akan bertambah canggung andai sosok Adi tidak segera muncul. * Karenina tidak bisa menolak saat Alfa, yang entah sudah resmi atau belum menjadi bosnya saat ini, memintanya untuk mengantar ke suatu tempat. “Adi, boleh kan saya pinjam temannya sebentar?” tanya Alfa kala itu. Adi tentu saja tidak membantah, malah entah kenapa laki-laki itu seperti menunjukkan senyum senang. Padahal jika Karenina dibawa pergi, otomatis ia akan berjaga sendiri. Dan kebingungan Karenina bertambah saat ia melihat sosok Siska yang seharusnya libur malah masuk hari ini. Jelas wanita itu akan bekerja karena kini mengenakan seragam One Mart berwarna toska dominan ke biru. “Liatin apa, si?” Karenina yang sedang mengamati sosok Siska dari kaca spion terpaksa menoleh ke arah Alfa yang kini sudah duduk di bangku kemudi, lalu menggeleng. “Nggak papa, Pak,” jawabnya tanpa berniat mencari tahu maksud dari kehadiran Siska di minimarket. “Ini kita, mau ke mana, Pak?” tanya wanita itu saat suasana di mobil yang mereka tumpangi hanya menyisakan hening. “Sebelum saya jawab, boleh nggak saya minta satu hal?” Karenina pun menoleh dengan pandangan bertanya. “Jangan panggil saya, Bapak. Kesannya saya udah tua banget,” ringis Alfa sembari menoleh ke arah Karenina yang tampak tertegun, sebelum kembali fokus pada kemudinya. “Tapi Bapak kan bos saya,” jawab Karenina nyaris terdengar seperti gumaman. “Tapi kamu tahu saya belum setua itu, kan, Ren. Bahkan usia kita pun sama.” Karenina yang memilih melempar pandang ke luar jendela untuk mengalihkan rasa gugup kembali menoleh. “Jadi, panggil saja saya Alfa, atau kalau kamu mau, Dika juga boleh.” Karenina bisa merasakan jantungnya mulai berderap cepat di dalam sana. Ini, apa maksud Alfa sebenarnya? Sedang memberikan kode, jika laki-laki itu mengingatnya atau bagaimana? * Karenina hanya diam dan sesekali memberikan senyum saat laki-laki di hadapannya itu melirik ke arahnya. Tentu saja ia sedang dalam kondisi tidak mengerti tentang apa pun itu yang kini Alfa bahas dengan laki-laki bernama Herman itu. Keberadaannya di sini pun, Karenina sendiri tidak terlalu mengetahui apa fungsinya. Oke, tadi Alfa meminta tolong untuk ditunjukkan jalan menuju ke tempat ini. Alfa berkata, jika dirinya belum hafal betul jalan-jalan di kota ini. Dan Karenina pikir, setelah Alfa menemukan tempat laki-laki itu akan bertemu dengan klien, maka ia akan dibiarkan kembali ke minimarket. Bukannya malah menjebak dirinya di tengah-tengah obrolan seperti ini. Dan lihat saja ketimpangan yang kini terlihat jelas. Alfa dan Herman memakai pakaian formal. Sementara Karenina hanya memakai kaos serta celana jeans. Beruntung ada jaket yang menutupi kaos berlogo One Mart saat ini. “Maaf lama, kamu bosen, ya?” tanya Alfa dengan senyuman manis saat kliennya sudah pergi. Tentu saja Karenina menggeleng. Mau tidak mau, ia harus memakai topeng saat sedang bersama Alfa seperti saat ini. Mau bagaimana pun hubungan mereka dulu, sekarang nyatanya ia dan Dika hanyalah orang asing. Ah ralat, bukan Dika, tapi Alfa. “Ngomong-ngomong saya lapar, kamu punya rekomendasi tempat untuk kita makan siang?” tanya Alfa sembari beranjak dari kafe kecil tempatnya bertemu dengan klien tadi. Dan Karenina pun ikut bangkit, lalu mengikuti langkah laki-laki itu. “Bapak sukanya apa?” “Kenapa Bapak lagi?” protes Alfa cepat sebelum Karenina melanjutkan ucapannya. Ada ringisan tipis yang kini menghiasi wajah ayu Karenina. “Kan nggak enak kalau saya panggil nama. Apalagi kalau sampai Adi sama Siska denger, Bapak aja, ya? Kan, Pak Alfa, memang atasan saya?” Alfa tidak langsung menjawab, laki-laki itu malah seperti tengah berpikir, lalu senyum tipis ia tampilkan. “Kalau itu masalahnya, kamu panggil saya Bapak pas ada Siska dan Adi nggak masalah. Kalau lagi berdua seperti ini, kamu panggil saya nama saja. “ “Tapi, Pak—“ “Nggak ada tapi-tapian, atau kamu mau saya pecat?” ancam Alfa tidak main-main. Mata Karenina melebar saat itu juga, “Jangan, Pak! Oke-oke, Alfa.” Agak canggung, namun terpaksa Karenina lakukan. “Begitu lebih baik. Sekarang kita cari tempat makan!” ajak Alfa sembari menggandeng tangan Karenina begitu saja. Tanpa sadar ekspresi seperti apa yang kini wanita itu tunjukkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD