Sepanjang perjalanan menuju ke tempat makan yang ia rekomendasikan, Karenina memilih untuk melempar pandang ke luar jendela. Mati-matian ia terus mempertahankan kewarasannya untuk tetap terjaga. Apa yang Alfa lakukan padanya, pasti tidak memiliki maksud lebih. Menggandeng tangannya, membukakan pintu mobil, lalu kini terus melirik ke arahnya. Jika boleh memilih, sungguh Karenina ingin kabur saja dari mobil dan kembali ke minimarket. Dari pada terjebak pada momen membingungkan seperti ini.
“Ini kita belok kiri,” ujar wanita itu saat mobil Alfa berhenti di lampu merah, laki-laki itu hanya mengangguk.
Hening, tidak ada yang mulai bersuara. Karenina memilih untuk sibuk mengamati jajaran toko yang kini berderet di seberang jalan. Lalu saat bosan, ia mendongak, sekadar melihat lampu jalan yang dalam sepuluh detik lagi akan segera berubah warna menjadi hijau.
“Kalau udah belok pelan-pelan aja, udah deket rumah makannya.” Lagi-lagi Alfa hanya mengangguk. Dan saat sekali lagi Karenina bersuara untuk memberi tahu tempat yang mereka tuju, Alfa pun bersiap membelokkan kemudinya.
Karenina sengaja langsung membuka pintu saat mobil yang mereka tumpangi sudah benar-benar berhenti. Mengabaikan senyuman geli yang tentu saja terdengar dari samping. Ia hanya tidak mau kembali terjebak pada situasi yang semakin membuatnya kebingungan.
Tempat makan yang menyediakan berbagai jenis sambal itu lumayan sepi, karena ini memang bukan hari libur. Biasanya tempat ini akan penuh saat weekend, atau saat idul fitri, momen di mana orang-orang biasanya pulang kampung.
“Kamu pesankan apa saja, saya mau ke toilet sebentar,” ujar Alfa sembari melangkah ke arah toilet. Tidak lupa menitip ponsel dan juga dompet miliknya seperti sudah sangat percaya pada Karenina. Dan, ya memang tidak ada yang akan Karenina lakukan selain menjaga dua benda berharga milik Alfa itu.
Karenina memilih tempat duduk lesehan di bagian ujung. Tempat yang menurutnya paling nyaman karena dekat dengan jendela, di mana ada kolam ikan kecil di sana.
‘Aku suka segala olahan ikan. Suatu saat mungkin kamu memerlukan info itu.’
Karenina tersenyum sendiri saat bayangan kalimat yang dulu pernah Alfa ucapkan terngiang di kepalanya. Siapa yang menyangka jika perkataan laki-laki itu terwujud kali ini. Tapi, masihkah laki-laki itu menyukai olahan ikan?
Tanpa berpikir panjang, Karenina memilih untuk memesankan ikan bakar, dan juga cumi untuk dirinya sendiri. Serta tiga jenis sambal karena ia tidak tahu mana yang akan menjadi pilihan Alfa. Juga, untuk minuman ia memilih untuk memesan teh manis saja supaya aman.
Alfa kembali tepat saat pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
“Saya pesankan ikan bakar,” ujar Karenina sembari mengembalikan ponsel dan juga dompet milik Alfa yang langsung diterima oleh pemiliknya dengan senyuman.
“Kamu?”
Karenina mengangkat alis bingung sebagai jawaban.
“Kamu pesan apa?”
“Cumi goreng tepung,” jawab wanita itu dengan kerutan bingung, karena Alfa malah menunjukkan senyuman yang terlalu lebar.
“Nggak jauh-jauh dari seafood, selera kamu nggak berubah, Ren.” Karenina mengerjab bingung, lalu bayangan Dika yang sering diam-diam membawakannya cumi goreng dulu kembali muncul. Jadi, sebenarnya Alfa masih mengenalinya? Baru saja Karenina ingin menanyakan hal itu, ponsel Alfa berdering dan membuat laki-laki itu sibuk dengan benda pipih itu.
Wanita itu mengembus napas lirih, kesalahan-kesalahan di masa lalu kembali menamparnya. Sembari menatap gemericik air mancur buatan yang kini terlihat di sampingnya, Karenina membayangkan kembali saat di mana Dika sering membawakannya cumi goreng tepung. Hal manis yang seharusnya mampu meluluhkan hatinya. Tapi karena gengsi dan takut menjadi olokan, Karenina dengan kejamnya membuang makanan itu ke tong sampah. Bisa ia lihat bagaimana wajah Dika yang kecewa saat itu.
“Ren.” Panggilan itu membuat kesadaran Karenina kembali, dan ia menemukan fakta jika laki-laki yang dulu sering ia kecewakan kini tengah duduk di depannya. Jarak yang mereka miliki hanya bersekat meja. Dengan bisikan lirih pun seharusnya apa yang akan ia ucapkan bisa terdengar. Tapi bayangan Alfa yang kebingungan, dan pura-pura tidak mengenalinya, membuat wanita itu urung untuk sekadar mengucapkan satu kata maaf. Padahal, ia butuh maaf laki-laki ini untuk lepas dari segala karma yang ia yakini ada untuk membalas segala kekejian yang dulu sering ia lakukan.
“Selain di sini, ada rekomendasi tempat makan lagi?” tanya Alfa yang mau tidak mau membuat kepala Karenina bergerak ke depan.
“Bapak—“
“Saya bilang jangan panggil Bapak!” Alfa berdecak dengan memasang wajah kesal, dan Karenina hanya bisa meringis bingung. Tapi meskipun tidak nyaman, ia terpaksa memenuhi permintaan laki-laki yang sepertinya tengah merajuk ini.
“Emm, kamu sukanya apa? Selain olahan ikan?” tanya wanita itu sembari meneliti wajah Alfa yang hanya menunjukkan salah satu sisi wajah, karena laki-laki itu masih memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, saat wajah itu bergerak ke arahnya, cepat-cepat Karenina melempar pandang ke mana pun.
“Bakso, mie ayam, saya suka. Saya dengar, di sini terkenal dengan bakso ulegnya? Saya penasaran, bisa kamu bawa saya ke sana?” ujar Alfa dengan penuh antusias.
Sebenarnya Karenina ingin menolak, tapi ia tidak mungkin melakukan hal yang mungkin saja bisa membuat laki-laki ini berubah pikiran. Ia bingung dengan nasib Siska dan Adi jika One Mart ditutup. “Boleh, kapan ka—“
“Kalau nanti malam, gimana?”
Karenina mengerjab, matanya terpaku pada senyuman lembut yang kini Alfa tunjukkan. Namun tidak lama ia berdeham dan mencoba menetralkan perasaannya yang terasa campur aduk. “Kalau malam udah tutup, biasanya buka sampai sore.”
“Gimana kalau besok?” Usulan itu meluncur begitu saja seperti tanpa Alfa pikirkan. Memangnya agenda laki-laki ini sedang tidak padat?
Alfa yang seperti mengerti dengan arti keterdiaman Karenina pun mulai menjelaskan. “Besok saya ketemu orang pagi-pagi, jadi rencananya mau nginep di hotel aja malam ini. Dan jam makan siang saya sudah free. Dan besok kamu libur, kan?”
Awalnya Karenina mengerut bingung, dari mana Alfa tahu jika besok dia libur? Tapi saat bayangan Siska dan Adi yang bisa jadi informan untuk laki-laki ini muncul, wanita itu hanya mengangguk. Dia tidak mungkin bisa menolak, kan?
*
Karenina pikir, setelah acara makan siang itu, Alfa akan langsung mengantarkannya ke minimarket, tapi ternyata tidak.
“Tenang, nanti ini saya itung lembur,” jawab laki-laki itu saat Karenina mengajukan protes meski tidak terang-terangan.
“Tapi saya nggak enak sama Siska.” Karenina mendesah lirih sambil melempar pandang ke luar jendela mobil yang melaju.
“Siska sudah bersedia menggantikan kamu, dan saya juga akan kasih uang lembur buat dia.” Dan saat penjelasan itu meluncur, Karenina hanya bisa memilih diam. Di sini Alfa bosnya, dan sudah kewajibannya mengikuti apa pun yang Alfa katakan asal masih pada batas wajar.
Kali ini Alfa kembali mengunjungi lahan kosong yang ada di pinggiran kota. Namun meski agak terpencil, lokasinya sangat strategis.
“Menurut kamu, kalau saya bangun minimarket di sini bagaimana?” Pertanyaan itu meluncur saat keduanya sudah berdiri di samping mobil. Mereka kini tengah menunggu pemilik tanah yang sedang dalam perjalanan.
Karenina pun segera mengedar pandang, “Apa nggak terlalu rawan? Ini tempatnya sepi, dan kalau udah mulai abis magrib, hampir nggak ada yang melintas.”
“Berarti lebih cocok dibangun apa?”
Karenina kembali mengedar pandang, lalu satu ide terlintas di kepalanya saat melihat pemandangan gunung dan sawah yang begitu indah. Juga udara dingin yang terasa menusuk, membuat wanita itu yakin jika apa yang ia pikirkan tepat. “Penginapan, saya rasa itu akan lebih cocok.”
Alfa tampak menimbang, lalu mengangguk-angguk. Entah setuju dengan ide wanita itu atau tidak. Lagipula Karenina juga tidak terlalu peduli. Dia hanya dimintai pendapat, dan tidak akan merasa rugi jika apa yang ia usulkan tidak digunakan. Sebenarnya Karenina bingung pekerjaan macam apa yang kini digeluti oleh Alfa. Tapi jika boleh menebak, sepertinya laki-laki ini pengusaha. Dalam bidang apanya Karenina kurang tahu.
Karenina memilih untuk menikmati pemandangan di sekelilingnya, saat pemilik tanah datang, dan Alfa bernegosiasi dengan laki-laki beruban itu. Kedua laki-laki itu terlihat seperti sudah mengenal. Hal yang membuat Karenina ragu jika Alfa tidak mengenal tempat ini dengan baik. Dan soal mengajaknya sebagai penunjuk jalan serta pendapat untuk merekomendasikan tempat makan itu, seperti memiliki maksud tertentu. Entah apa yang sebenarnya Alfa rencanakan. Dan saat satu kecurigaan muncul, Karenina memilih untuk membuangnya jauh.
Tapi, jika mengingat kembali apa yang pernah ia lakukan dulu pada laki-laki ini, bukankah wajar jika Alfa menyimpan dendam padanya? Bagaimana jika ternyata laki-laki ini sedang menyusun sebuah rencana untuk menghancurkannya? Sebuah aksi balas denadam, yang mungkin sudah terencana lama. Wanita itu berdecak dan segera menepis segala pemikiran buruk yang kini menguasai kepalanya. Meski rasanya apa yang ia pikirkan terasa tidak masuk akal, nyatanya ia harus tetap waspada.
“Ini istri Mas Alfa?” Pertanyaan itu mau tidak mau membuat kepala Karenina sontak bergerak ke arah dua laki-laki yang kini tengah menatapnya. Seharusnya Alfa langsung menjawab tidak, tapi justru yang Alfa lakukan hanya tersenyum penuh misteri.
“Bukan ya? Berarti calon?” tebak bapak-bapak itu yang membuat wajah Karenina memerah saat itu juga.
“Kalau menurut Bapak, kita cocok tidak?” Karenina tentu saja melongo saat mendengar kalimat tanya itu meluncur dari bibir Alfa.
“Mirip si, Mas. Kalau jodoh kan katanya mirip, ya.” Keduanya tertawa, mengabaikan aura Karenina yang sudah tidak lagi terlihat baik. Tidak hanya memerah, bahkan jantung Karenina kini berdentum hebat tidak tahu malu.
“Aamiin. Minta doanya saja, Pak. Semoga dimudahkan kalau memang jodoh.” Alfa mengucapkan itu sembari menoleh ke arah Karenina yang sudah mati kutu di tempatnya. Lalu dengan tidak berperasaan, laki-laki itu melempar senyum paling manis yang Karenina lihat sepanjang hari ini. Apa laki-laki ini tidak sadar efek dari apa yang ia lakukan nyaris membuat Karenina pingsan saat itu juga.
^__^