Karenina hanya bisa menggigiti ujung kukunya sembari menatap bingung langit yang sudah menggelap. Tentu saja bukan perkara langit yang menggelap alasan kebingungan yang kini wanita itu alami. Tapi tentang sikap Alfa yang terkesan menarik ulur hatinya.
Jujur, satu sisi hati Karenina yakin jika sebenarnya Alfa sudah mengenali dirinya. Dan jika boleh ia menduga, laki-laki itu kini tengah berusaha untuk mempermainkan hatinya. Semacam balas dendam, mungkin? Sesuai dengan apa yang Karenina lakukan dulu terhadap laki-laki itu saat masih menjadi Dika. Tapi satu sisi hatinya yang lain, mengatakan jika Alfa sudah melupakannya, dan kini laki-laki itu entah sedang memiliki maksud apa hingga memperlakukannya semanis itu. Padahal jika dipandang dari sudut mana pun, jelas saja opsi pertama lah yang paling memungkinkan. Ia saja bisa langsung mengenali Alfa yang sudah berubah jauh. Bagaimana mungkin laki-laki itu tidak mengenalinya?
Perubahan yang Karenina alami memang cukup drastis. Namun tidak serta merta membuat orang akan melupakannya begitu saja. Apalagi potongan rambut yang kini Karenina miliki masih sama seperti tahun dulu. Hanya saja rambut hitam itu ia biarkan lurus ke belakang tanpa perawatan atau pewarna apa pun itu. Bahkan kadang ia ikat asal jika terburu-buru. Jadi, bisa dipastikan berapa besar pun perubahan yang kini ia alami, tidak lantas akan membuat orang dari masa lalunya lupa.
Wanita yang sudah siap terlelap itu menghela napas, lalu mulai merebahkan tubuhnya. Namun, satu pesan masuk ke dalam ponselnya, dan membuat wanita itu kembali terjaga. Apalagi saat nama Alfa terpampang jelas sebagai si pengirim pesan.
‘Alfa : Ren, besok kamu jadi antar saya lagi, kan?’
Mata Karenina mengerjab sejenak sebelum memutuskan untuk mengetik pesan balasan. Andai saja ia bisa menolak, tentu saja ia ingin menjawab tidak. Tapi, bagaimana nanti jika tiba-tiba saja laki-laki ini memecatnya? Wanita itu menggeleng, dan segera mengetik kata ‘bisa’. Tanpa menungggu jawaban dari seberang, Karenina langsung mematikan ponselnya, sebelum Alfa membalas pesannya lagi yang mungkin saja akan membuatnya tidak bisa tidur.
*
“Ini beneran cuman segitu harganya?” tanya Alfa entah untuk ke berapa kali. Mereka baru saja menikmati bubur kacang hijau di alun-alun.
Untuk Karenina, harga tiga ribu untuk satu porsi sebenarnya tidak bisa dikatakan murah sekali. Tapi tidak heran jika hal itu keluar dari bibir seorang Alfa. Karenina yang dulu pun pasti akan seperti itu. Atau, ia boleh menjamin malah tidak akan sudi mampir ke gerobak di pinggir jalan, yang dulu ia anggap tidak steril ini.
Karenina yang sudah mengangguk sebanyak pertanyaan Alfa terlontar kali ini hanya membalas dengan senyuman geli, lalu berkata, “Di sini kalau mau nyari kuliner murah, banyak banget. Apalagi kalau mau yang agak ke pedalaman gitu."
“Wah, boleh tuh dicoba! Gimana kalau minggu depan?” ajak Alfa penuh dengan antusias.
Karenina yang tidak mengerti dengan maksud hari Minggu depan mengangkat kedua alis. “Minggu depan?”
“Kita jelajah kuliner,” jawab Alfa dengan senyuman tersungging.
Bukannya mengangguk atau pun menggeleng, wanita itu malah hanya membuka mulut.
“Ah iya, saya udah telat. Orangnya udah nunggu, ayok!” Alfa dengan tanpa rasa enggan langsung menarik tangan Karenina untuk melangkah lebih cepat ke arah mobil laki-laki itu terparkir.
“Nanti siang jadi, kan?” tanya Alfa tiba-tiba setelah mobil berjalan. Lagi-lagi Karenina dibuat tidak mengerti dan hanya bisa mengangkat alis.
Melihat hal itu tentu saja membuat Alfa terkekeh geli, “Kamu kan yang bilang kalau mau nemenin saya makan bakso uleg yang di depan bank itu?”
Wanita itu ber-oh panjang, lalu ingin mengangguk tapi tidak jadi. “Tapi, nanti saya kerja,” ujarnya saat mengingat hal itu.
“Ya libur lagi aja,” jawab Alfa enteng.
“Ya nggak bisa gitu dong, Al.” Entah mengapa Alfa malah tersenyum saat mendengar kalimat itu. Tanpa Karenina sadari, sejak kemarin baru kali ini wanita itu memanggil nama Alfa walaupun tidak secara utuh.
“Saya kan nggak enak sama Siska. Sama Adi juga,” lanjut wanita itu setelah menekan rasa canggungnya karena Alfa terus saja menyunggingkan senyumannya.
“Kan kalau kamu pergi sama saya itu hitungannya juga kerja, Ren.” Alfa mengatakan itu sembari membelokkan mobilnya ke sebuah komplek perumahan.
Karenina yang sebenarnya tidak tahu tujuan mereka, memilih untuk meneruskan topik pembicaraan. “Dilihat dari bagian mananya saya kerja?”
Alfa malah tersenyum geli sebelum menjawab, “Kamu nemenin saya kerja,” jawabnya santai sambil memarkirkan mobil.
Karenina sempat melongok rumah dengan halaman luas di sampingnya sebelum menoleh ke arah Alfa. “Pokoknya saya mau kerja, atau saya berhenti saja dari pada nggak profesiaonal,” tantangnya dengan nada gugup. Tentu saja hal semacam ini sangat lancang. Dan lagi, sebenarnya tidak sopan juga menantang bos seperti itu. Tapi Karenina tidak memiliki opsi lain, walaupun dalam hati berharap semoga Alfa tidak langsung mengangguk untuk menyetujui tantangannya itu. Karena jika sampai itu terjadi, Karenina juga bingung harus mencari pekerjaan ke mana.
“Ya udah kita bicaraain nanti lagi, saya masuk dulu.” Alfa pun segera membuka pintu mobil. “Kamu, mau ikut?” Dan saat gelengan tegas itu Karenina berikan sebagai jawaban, maka Alfa pun segera keluar, dan menutup pintu mobil.
*
“Kenapa Mbak nggak tanya langsung aja ke Pak Alfa soal itu? Dari pada penasaran,” usul Siska saat Karenina menceritakan apa yang kini ia rasakan.
Tentang kebingungannya terhadap sikap yang Alfa tunjukkan. Jika memang mengingatnya, kenapa harus bersikap seperti itu? Tapi jika tidak mengingat, kenapa laki-laki itu seperti sangat akrab dengannya?
“Nanti, kalau dia pura-pura nggak ingat, aku dong yang malu.” Itulah yang membuat Karenina terus menahan rasa penasaran tentang sikap yang sering Alfa tunjukkan.
“Tapi seenggaknya kan Mbak Nina nggak penasaran lagi.” Karenina tidak langsung menjawab, matanya malah memandang tanpa open yang kini sudah terlihat dari dalam. Itu artinya, minimarket sudah tutup, dan seharusnya sejak beberapa menit yang lalu mereka pulang.
“Atau Mbak Nina pancing-pancing aja!” celetuk Siska yang membuat fokus Karenina kembali teralih. Ia menatap wanita di depannya dengan alis terangkat.
“Ya, Mbak Nina singgung-singgung apa, kek biar dia keceplosan dan ngaku kalau memang sebenarnya ngenalin Mbak Nina,” ujar Siska sembari memainkan rambut sebahunya yang digerai.
Karenina malah mendesah lelah, “Nyinggungnya gimana, ya, Sis, aku bingung.”
Siska yang sedang berpikir, tidak langsung menjawab. Namun saat satu ide melintas, ia segera membisikkannya pada Karenina, seolah takut jika ada yang mendengar ide itu dan mengagalkannya. Karenina yang masih bingung hanya meringis, apalagi saat mata Siska berbinar penuh semangat. Entah mengapa Karenina merasa, jika usul itu bukanlah yang terbaik.
*
Sebenarnya hari ini adalah jatah Karenina libur, tapi pesan yang tadi Siska kirimkan, mau tidak mau membuatnya langsung meluncur ke minimarket dengan pakaian santai. Celana jeans sepanjang lutut, serta kaos polos hitam yang ia lapisi jaket karena mendung membuat udara yang sudah dingin makin menciptakan gigil.
‘Siska : Mbak, Mas Adi bawa nasi jagung plus teman-temannya ini. Banyak banget. Kalau Mbak Nina mau ambil gih!’
Karenina yang kala itu baru saja selesai membantu ibunya menanam cabe di kebun belakang rumahnya pun langsung meluncur. Sejak pertama kali mencoba makanan dari olahan jagung yang dibuat seperti tepung itu, Karenina langsung ketagihan. Membayangkan makanan dengan tekstur lembut tapi sedikit kasar beserta ikan asin dan sayur urapnya saja, sudah membuat perut Karenina yang memang belum sempat makan siang langsung keroncongan.
“Mbak Nina paling semangat kalau dengar nasi jagung!” ledek Siska saat melihat kedatangan wanita itu.
Karenina memilih hanya menggedikkan bahu. Tidak peduli dengan orang-orang yang tidak menyukai makanan yang katanya jaman dulu sekali itu. Di lidahnya, makanan itu sangat enak dan wajar jika ia favoritkan.
“Besok aku bawain tiwul, deh, Mbak. Biar Mbak Nina makin kegirangan,” imbuh Siska dengan senyuman geli.
Karenina memang sangat menyukai makanan tradisional. Apalagi jika itu dibuat dengan cara sederhana, dan tanpa bahan pengawet. Mungkin karena sejak kecil tinggal di kota, dan tidak pernah bersentuhan dengan makanan tradisional seperti itu, jadi sekali merasakan Karenina langsung ketagihan dan mencoba untuk mencari makanan tradisonal lainnya. Getuk, tiwul, dan masih banyak makanan olahan dari singkong itu sangat Karenina sukai.
“Jadi mana nasi jagungnya?” tanya wanita itu tidak sabar. Lagi-lagi Siska tertawa geli lalu segera menggedik ke dalam ruang istirahat yang hanya boleh dimasuki oleh karyawan.
“Mas Adi juga lagi makan.” Karenina pun segera menjawab oke, dan segera melangkah ke tempat Siska menggedik, tanpa menyadari jika sebenarnya Siska juga menunjukkan senyuman lain. Jenis senyuman yang patut Karenina waspadai.
*
Perasaan menggebu yang tadi Karenina rasakan luntur seketika. Berganti dengan kernyitan heran, saat melihat siapa kini orang yang sedang menyantap makan siang bersama Adi.
“Eh,Nin! Sini!” Adi yang lebih dulu menyadari kehadiran Karenina segera menepuk tempat kosong di sebelahnya. Sementara Alfa, yang posisinya memang membelakangi wanita itu seketika menoleh. Laki-laki itu juga memanggilnya walau hanya lewat isyarat mata, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya. Kalau boleh sebenarnya Karenina ingin kabur saja, tapi tentu saja tidak ia lakukan karena tidak ingin mendapat dugaan yang tidak-tidak.
“Bapak di sini juga?” tanya Karenina hati-hati, lalu perlahan memilih duduk bersila di antara Adi dan juga Alfa.
“Nih, buat kamu. Ibu buat khusus buat kamu yang itu,” jelas Adi sebelum Alfa sempat menjawab apa pun.
“Tadi serah terima secara resmi kepemilikan minimarket ini. Jadi mulai sekarang sudah resmi jadi milik saya,” jelas Alfa. Matanya tidak lepas memindai gerak yang kini Karenina tunjukkan. Wanita itu mengangguk-anggukan kepala sembari sibuk membuka bungkusan yang tadi Adi sorongkan. Laki-laki itu ikut tersenyum saat melihat binar di mata Karenina yang terlihat begitu bahagia hanya karena sebungkus nasi jagung.
“Terus jadinya mau direnov, Pak?” Pertanyaan yang Adi layangkan, terpaksa merubah fokus Alfa. Namun tetap saja sesekali ekor mata itu melirik Karenina yang juga sempat mencuri-curi pandang ke arahnya.
“Jadi. Kata kamu teman kamu ada yang pemborong, kan? Kapan saya bisa ketemu buat nego harga?” Alfa kembali menyantap nasi jagung di depannya. Sebenarnya itu jatah Siska, tapi wanita itu memilih mengalah, dan sebagai gantinya Alfa memesan makanan lewat aplikasi online.
“Saya tanya teman saya dulu, ya, Pak. Nanti segera saya kabari, Bapak.”
Alfa mengangguk, dan setelah itu kembali mengangguk saat Adi pamit untuk ke luar karena harus bergantian dengan Siska yang juga akan ISOMA.
“Kamu suka banget makanan ini?” tanya Alfa saat pada akhirnya mereka hanya ditinggal berdua.
Karenina menunjukkan senyuman canggung, “Iya, lumayan,” jawabnya seadanya. Sebenarnya hanya sedang menetralkan detak njantungnya yang mendadak tidak keruan.
“Kamu pernah kangen Jakarta nggak, Ren?” Karenina yang sedang mengunyah makanannya pun tersedak.
“Pelan-pelan dong Karenina!” Alfa segera mengambil satu gelas air mineral untuk diberikan pada Karenina yang kini merasakan panas menjalari tenggorokannya.
“Tadi Pak Alfa nanya apa?” tanya Karenina setelah mampu menetralkan rasa sakit di bagian pernapasannya.
“Kamu suka kangen Jakarta nggak?” Karenina pikir tadi salah dengar, tapi ternyata tidak. Alfa menanyakannya dengan kesadaran penuh. Jadi, laki-laki ini sebenarnya mengenalnya?