MASIH DIKA YANG DULU

1814 Words
Karenina sudah siap melayangkan pertanyaan, tapi urung saat pintu di belakangnya tiba-tiba saja terbuka, dan memunculkan sosok Siksa yang tengah menenteng makanan.   “Sini Sis!” kata Alfa sembari berdiri saat melihat sosok Siska yang hanya mematung dengan tatapan sungkan. “Kalian lanjutin makan saja, saya mau salat dulu,” lanjutnya yang langsung melangkah ke belakang.   Siska pun segera melangkah mendekat saat Alfa sudah menghilang di kamar mandi. Wanita itu memilih duduk di hadapan Karenina. “Mbak kenapa?” tanyanya yang melihat wajah Karenina sedikit memerah terutama di bagian hidung. Tapi bukannya menjawab, wanita itu hanya menggeleng. Masih terpikir ucapan Alfa yang tadi itu.   “Ini, tempat salatnya sebelah mana, ya?” Kedua wanita itu pun menoleh, dan sempat terpaku saat melihat wajah dan rambut Alfa yang basah karena terkena air wudhu. Sungguh pemandangan yang sangat—   “Sis!” tegur Alfa yang langsung dibalas cengiran sungkan oleh wanita itu,   “Di situ saja, Pak!” tunjuk Siska pada salah satu ruangan kosong yang memang dijadikan tempat salat. Alfa mengangguk, dan segera melangkah, tidak lupa melempar senyuman ke arah Karenina yang langsung memilih untuk menundukkan wajah.   “Ih Mbak, yang kayak gini harus dipepet. Udah cakep, mapan, rajin ibadah lagi,” bisik Siska yang langsung dihadiahi sikutan oleh Karenina. Takut jika yang dibicarakan masih bisa mendengar. Tapi bukannya diam, Siska malah masih menambahkan. “Mas Adi yang tampang pas-pasan aja nggak begitu. Salat cuman kalau jumat doang,” lanjut Siska yang langsung kembali menyuap makanan saat Karenina hanya menanggapinya dengan gelengan pelan.   *   Karenina baru saja pamit untuk pulang saat Alfa tiba-tiba saja keluar dari tempat istirahat. Setelah selesai salat tadi, laki-laki itu meminta izin untuk tidur sebentar. Dan tentu saja hal itu Karenina gunakan untuk segera kabur. Namun naas, hujan turun begitu lebat sebelum wanita itu memesan ojek online yang akhir-akhir ini mulai bermunculan di kota kecil itu.   “Kamu mau ke mana?” tanya laki-laki itu dengan muka bantal. Bahkan mata Alfa masih tampak merah dan mengantuk.   “Saya mau pulang, Bapak ngapain bangun?” Karenina sedikit berteriak, karena suara hujan yang berjatuhan pada atap seng memang cukup menimbulkan bunyi berisik.   “Saya dengar kamu pergi, jadi saya bangun,” jawab laki-laki itu sembari menguap. “Maaf, tadi malam saya nggak cukup tidur, lupa kalau hari ini ada janji sama Pak Wahid.”   Karenina yang tidak memerlukan permintaan maaf itu hanya tersenyum tipis. Lalu kepalanya menengadah ke atas, sekadar untuk memperkirakan apakah hujan akan segera berhenti.   “Kamu naik apa?” Alfa mengedar, ia berpikir mungkin saja Karenina membawa kendaraan sendiri. Tapi hanya ada satu motor yang tidak mungkin milik wanita ini, karena itu motor satria.   “Kalau nggak ojek ya angkot, Pak,” jawab wanita itu tanpa mau menoleh ke arah Alfa yang ia tahu sejak tadi terus mengamati wajahnya dari samping. Jujur, Karenina agak risi dan juga malu diperhatikan seperti itu.   “Saya antar aja, ya?” Tawaran yang bagus sebenarnya, tapi Karenina memilih untuk menggeleng.   “Kenapa?” Ada sorot kecewa, tapi tidak terlihat oleh Karenina karena wanita itu masih setia menatap pada air langit yang tengah berlomba untuk mengguyur bumi.   “Nanti merepotkan,” jawab Karenina sembari menoleh sekilas. Namun saat senyuman itu menghias di wajah Alfa, Karenina kembali melempar pandang ke arah lain.   “Saya nggak ada kerjaan kok. Tujuan saya ke sini kan cuman nemuin Pak Wahid,” jelas Alfa namun Karenina tetap kekeh pada penolakannya.   “Nanti Bapak kemaleman pulangnya.” Alfa yang sebenarnya kesal karena Karenina terus memanggilnya bapak, bertambah kesal karena penolakan wanita ini.   “Kalau kemaleman tinggal nginep,” jawab laki-laki itu enteng. Tapi dengusan sinis itu malah terdengar dari bibir Karenina.   “Jangan buang-buang uang mentang-mentang kaya, Pak,” sindir Karenina dengan nada ketus, namun selanjutnya wanita itu menutup mulut saat sadar jika sudah salah bicara. “Maaf, saya nggak bermaksud lancang.”   Alfa malah terkekeh, “Nggak masalah, dulu ada yang lebih dari pada saya, kok.”   Sontak Karenina pun menoleh, dengan mata memicing. “Maksudnya?”   “Dulu saya punya temen.” Entah mengapa ada rasa waswas saat Alfa mulai kalimatnya dengan kata ‘dulu’ karena ia pun ada di masa dulu itu.   “Kaya, cantik, dan saya suka dia.” Alfa menoleh, dan saat itu juga Karenina memalingkan wajah. Perasaannya semakin tidak menentu.   “Saya sering mendekatinya, tapi selalu ditolak.” Ada tawa kecil yang menguar, dan Karenina terpaksa melirik ekspresi yang Alfa tunjukkan dari ekor matanya,. Tidak ada sorot dendam atau pun kebencian di sana. Seolah itu memang hanya cerita masa lalu yang tidak perlu lagi dipikirkan.   “Kurang lebih 15 kali saya ditolak. Dan yang terakhir, dia mengatakan seuatu pada saya.” Karenina sudah siap melempar pandang, tapi tidak sempat karena Alfa sudah terlanjur mengunci matanya. Entah daya magis apa yang Alfa pakai sehingga ia terus menatap mata itu tanpa berkedip.   “Kamu, mau tahu apa yang dia katakan?” Entah mengapa Karenina harus mengangguk. Seharusnya ia lari saja sebelum semuanya menjadi kacau. Bahkan jantungnya juga sudah berderap tidak tahu malu di dalam sana.   “Dia bilang, dia akan menerima saya jika saya sudah sukses.” Tidak lagi ada senyum yang menghias wajah Alfa, melainkan sebuah keseriusan, yang entah mengapa membuat hati Karenina diliputi rasa takut saat itu juga.   “Dan selama perjuangan itu, dia melarang saya untuk menemuinya,” ujar Alfa lagi kini dengan nada lirih.   Karenina yang masih terpaku di tempatnya hanya bisa meneguk ludah kasar. Antara takut dan ingin mendengar lanjutan dari kalimat yang laki-laki itu katakan.   “Kamu tahu apa yang saya dapat setelah berjuang sedemikian besarnya?” Kepala Karenina menggeleng tanpa ia bisa cegah.   “Dia menghilang, lenyap begitu saja seperti tertelan bumi.” Karenina bisa melihat sorot kecewa itu muncul di mata Alfa. Namun, hanya sekilas, karena selanjutnya laki-laki itu mengalihkan fokus, menatap guyuran hujan yang perlahan tergantikan oleh rintik gerimis.   “Awalnya saya kira dia sengaja menghindar.” Ada jeda sesaat, dan selama itu mata Karenina tidak lepas sedikit pun dari gerakan yang Alfa perbuat. Laki-laki itu memasukkan kedua tangannya di balik saku celana jeans hitamnya.   “Tapi, setelah saya cari tahu, ternyata dia telah melewati masalah yang begitu pelik.” Ada ringisan masam, dan kepala Alfa kembali menoleh ke arah Karenina. “Dan akhirnya saya menemukannya, pada kondisi yang jauh dari kemewahan, dan juga keglamoran yang selama ini menaungi hidupnya.”   Kali ini Karenina memilih untuk melempar pandang, sedikit jengah saat orang di sampingnya ini nyantanya telah menceritakan dirinya. Kenapa Alfa harus berputar-putar seperti itu?   “Tapi saya kembali dibuat kecewa sama dia,” lanjut Alfa seolah yang ia bicarakan memang lah bukan Karenina. Membuat kening wanita itu berkerut bingung, tapi memilih untuk tetap bungkam.   “Saat saya menemukannya, dia ternyata sudah memilih yang lain.” Alfa mengakhiri kalimatnya dengan kekehan lirih. Meski sangat ingin menoleh, namun Karenina tidak menggerakkan matanya pada percikan air hujan yang terjatuh dari atap minimarket.   “Tapi sepertinya Tuhan masih memberi kesempatan untuk saya.” Tapi saat kalimat itu kembali meluncur, mau tidak mau Karenina menggerakkan kepalanya ke samping dan menemukan senyuman manis milik Alfa muncul di sana.   “Pernikahan yang dia rencanakan gagal.” Karenina sudah ingin membuka mulut, namun urung karena Alfa mengangkat tangannya sebagai isyarat jika perkataannya belum selesai.   “Kamu mau berkenalan dengannya? Dia kebetulan juga ada di kota ini,” ujar Alfa membuat kerutan bingung itu menghiasi wajah Karenina. Ini maksudnya apa? Jadi, bukan dia yang Alfa maksud? Kalau bukan, kenapa ceritanya bisa sama?   Belum sempat Karenina menolak, Alfa sudah membuka jaketnya, lalu melebarkan di atas kepalanya. Karenina sempat tersentak saat tangan besar itu menariknya mendekat, lalu secara otomatis keduanya berlari kecil ke arah mobil. Tanpa protes, Karenina cepat-cepat masuk agar gerimis yang masih turun tidak membasahi jok mobil.   “Kamu tahu salon yang bagus di sini, Ren?” Pertanyaan itu muncul sesaat Alfa masuk ke dalam mobil, lalu melempar jaketnya yang sedikit basah ke jok belakang.   “Tahu,” jawab wania itu kaku, dan segera menunjukkan lokasi salon yang menurutnya paling bagus. Karena memang kebanyakan hanya orang-orang kaya saja yang menjadi pelanggan salon ini. *   Awalnya Karenina pikir, Alfa membawanya ke sini karena orang yang akan mereka temui memang ada di sini. Tapi wanita itu melongo bingung saat Alfa malah mendorongnya ke arah pegawai salon yang seperti sudah siap melayaninya. Segala perawatam yang dulu Karenina sering lakukan ia kembali rasakan saat ini. Bahkan rambut hitamnya juga diberi warna almond seperti dulu.   Belum cukup sampai di situ, sesudah menghabiskan uang dan waktu di salon itu, Alfa menanyakan sebuah butik yang cukup bagus. Dan Karenina memilih menunjukkan saja tanpa berkomentar. Kali ini, wanita itu kembali dibuat bingung saat Alfa memilih satu dress satin bercorak bunga sepanjang lutut untuk dirinya.   Alfa tersenyum saat melihat Karenina keluar dengan penampilan barunya. “Sudah siap?” tanyanya. Karenina hanya mengerjab bingung karena memang tidak mengerti apa siap yang Alfa maksud.   “Sudah siap ketemu sama orang yang saya ceritain tadi?” ulang Alfa yang sadar jika wanita di depannya ini masih bingung. Namun meski begitu, ia tetap menarik wanita itu untuk keluar dari butik setelah melakukan pembayaran.   Sepanjang perjalanan yang entah ke mana tujuannya itu, Karenina memilih diam. Sesekali hanya melirik Alfa yang terus saja menyunggingkan senyuman. Ada rasa nyeri yang tidak Karenina mengerti apa artinya. Tapi rasa itu berada tepat di bagian hatinya. Rasa kecewa, mungkin lebih tepatnya? Entahlah, Karenina pikir jika yang Alfa ceritakan tadi adalah dirinya. Tapi ternyata bukan. Air mata kekecewaan itu nyaris tumpah andai saja Alfa tidak menghentikan mobilnya.   “Ayo turun!” ajak Alfa sembari ke luar dari mobil. Karenina pun turun masih dengan raut bingung yang tidak bisa ia sembunyikan.   “Mana orangnya?” tanya wanita itu memberanikan diri, karena sejak tadi Alfa hanya diam sembari menatapnya dengan senyuman yang tidak luntur.   “Kamu benar tidak tahu di mana orangnya?” tanya Alfa dengan tatapan yang— Karenina hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Lalu kembali mengedar ke tempat mereka kini berdiri. Tidak ada yang istimewa karena tempat mereka kini berdiri adalah tempat parkir sebuah rumah makan yang belum pernah ia masuki. Karena harganya yang terlalu mahal. Satu gelas air bening saja bisa ia gunakan untuk membayar angkutan umum yang sering ia gunakan sehari-hari sebagai alat transportasi.   “Orangnya ada di depan mataku, kamu bisa melihat bayangannya dari sini.” Alfa menunjuk matanya yang kini menunjukkan bayangan Karenina dengan penampilan yang berbeda.   Wajah terpoles make up walau tipis. Rambut panjang dengan warna almond lembut yang di curly bagian bawahnya. Dress yang walaupun harganya tidak terlalu mahal, tapi terlihat mewah saat kini Karenina kenakan. Semuanya ini, mengingatkan Karenina pada sosoknya dulu, saat segala kemewahan hidup masih ia miliki. Dan tanpa terasa, bulir bening itu merembes dari balik matanya.   “Aku kembali, Ren. Untuk menagih janjimu,” lirih Alfa sembari mengikis jarak mereka. Lalu ditariknya tubuh itu ke dalam dekapan untuk melepas rindu. “Aku masih yang dulu, Dikanya Karenina.” Dan saat kalimat itu meluncur, bahu wanita itu terguncang oleh suara tangis yang kian pecah.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD