Louis menjawab perkataan Steven. Dia kemudian melihat ke arahku. Tanpa disengaja kedua mata kami berdua saling bertemu. Louis dan Steven berjalan menuju ke bangkunya. Mereka berdua meletakkan tas. Aku kemudian memalingkan wajah dan berusaha untuk menghindari seorang pria yang bernama Louis. Setiap hari bertemu dengannya di sekolah saja sudah membuat perutku terasa mual. Sekarang aku harus menjadi satu piket sama dengannya. Akira kemudian mengambil sapu yang telah aku genggam.
"Kamu kenapa Sena. Apakah kamu sedang sakit?"
Aku kemudian menatap Akira yang sedang bertanya kepadaku. Wajahku kemudian memerah saat dia menempelkan keningnya di wajahku. Jantungku seketika berdetak dengan kencang. Perhatiaan darinya membuatku gugup hingga mengeluarkan banyak keringat. Perasaan hati ini seperti tidak bisa dikendalikan.
"Sudah aku duga. Sepertinya kamu sedang demam. Wajahmu bahkan menjadi memerah. Lebih baik kita segera pergi ke ruangan kesehatan."
Akira mengatakannya kemudian menarik tanganku dan meninggalkan kelas. Padahal sekarang adalah jadwalku piket kebersihan. Apakah boleh meninggalkan tugas? Akira berjalan di depan dan memegang tanganku dengan erat. Hembusan angin segar mengenai rambutku yang terurai. Sebenarnya wajahku memerah bukan karena demam seperti yang di khawatirkan oleh Akira. Tetapi Akira telah salah paham. Ketika dia membawaku ke ruang kesehatan dan aku melihat punggungnya dari belakang. Ternyata tidak buruk juga. Aku tersenyum senang Akira selalu berada di sisiku.
Sekolah favorit tempat belajarku memiliki dokter pribadi yang bekerja di ruang kesehatan. Akira mengetuk pintu. Setelah mendapatkan izin untuk masuk kemudian aku dan Akira masuk ke dalam ruangan kesehatan.
"Selamat pagi, dokter."
Akira berkata kepada dokter. Seorang wanita dewasa yang cantik menatap Akira. Dokter tersebut telah menjadi pujaan hati para siswa pria. Sejak kedatangan dokter sebulan yang lalu saat permulaan siswa baru dan banyak siswa pria yang datang ke ruangan kesehatan dengan alasan sakit. Mereka ingin bertemu dengan dokter cantik tersebut. Dokter memintaku dan Akira untuk masuk kedalam ruangan.
Akira kemudian menarik tubuhku ke depan dokter untuk di periksa. Aku kemudian menolehkan kepala kebelakang dan menatap Akira yang sedang berdiri di belakang. Akira menganggukkan kepala dan tersenyum seolah memintaku untuk bersedia diperiksa. Tubuhku menjadi bergemetaran. Dokter pasti mengetahui keadaanku yang sehat.
Aku memberanikan diri untuk berbaring di atas tempat tidur pasien. Dokter menatapku dan Akira. Dia kemudian berjalan mendekatiku. Memeriksa tubuhku ini dengan alat kesehatan. Setelah selesai diperiksa kemudian aku kembali menghampiri Akira. Dokter mendekati Akira. Aku menutup kedua
mata dan mempersiapkan diri untuk mendengarkan perkataan dari dokter mengenai kesehatanku.
"Ini obat penurun demam untuk Sena."
Dokter memberikan obat. Kedua mata ini terbuka lebar seakan tidak mempercayai perkataan dokter yang barusan aku dengar. Akira menerima obat yang diberikan oleh dokter. Aku kemudian menatap wajah Dokter. Bukankah seharusnya dokter tahu jika aku sedang tidak sakit. Dokter yang menyadari tatapanku kemudian mengedipkan sebelah mata. Ternyata memang benar jika dokter sudah mengetahuinya.
"Terimakasih."
Akira mengucapkan terimakasih kepada dokter. Aku dan Akira kemudian meninggalkan ruangan kesehatan. Berjalan menuju kelas. Saat ingin kembali ke kelas, Akira memintaku untuk tidak membersihkan kelas dan dia yang akan menggantikan jadwalku piket kebersihan. Akira juga mengatakan kepadaku untuk meminum obat secara teratur dan melarang bermain setelah pulang sekolah. Aku kemudian tertawa kecil. Melihat sikapnya seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.
Akira masuk ke dalam kelas terlebih dahulu dan aku berada tepat dibelakangnya. Tubuh Akira seperti mematung. Karena merasa penasaran dengan sikap Akira yang diam kemudian aku berjalan masuk ke dalam kelas. Ruangan yang tadinya kotor sekarang telah bersih. Bahkan terlihat mengkilap. Tidak ada debu yang menempel. Aku terkejut setelah melihatnya. Kedua pria yang menjadi satu kelompok piket kebersihan denganku sedang duduk di bangkunya. Mereka berdua yang membersihkan kelas.
Bel masuk berbunyi. Aku berjalan ke tempat dudukku. Di atas meja ada sebuah kertas yang terlipat diantara isi bagian buku. Aku meraih kertas tersebut kemudian membacanya.
"Louis. Aku pasti akan memberikan pelajaran kepadanya."
Pengirim selembar kertas tersebut tidak lain adalah Louis. Musuhku. Aku kemudian meremas kertas itu hingga membentuk sebuah bola. Louis memang orang yang menyebalkan. Aku lalu memotong lembaran kertas dengan gunting. Kemudian menulis jawaban untuknya dengan menggambar seorang pria yang wajahnya ditutupi oleh tempat sampah. Setelah menggambar kemudian melipat kertas kemudian melemparkannya ke arah Louis.
Kertas itu seketika terbang lalu mengenai tepat di belakang kepala Louis. Dia kemudian melihat sekeliling dan mencari pelaku yang berani melakukannya. Segera aku mengambil buku yang berada di atas meja dan menutupi wajahku. Aku melihat Louis mengambil kertas secara tersembunyi. Tidak lama kemudian dia membalikkan badannya dan menatapku dengan tajam.
Di balik buku yang tidak terlihat aku tersenyum bahagia karena telah berhasil membalas suratnya. Orang yang sombong dan sok keren seperti Louis harus merasakan penghinaan. Selama ini tidak ada siswa berani melawannya. Dia selalu dikelilingi banyak wanita yang jatuh cinta kepadanya. Tetapi berbeda denganku yang sangat membencinya.
Akira melihat perilaku Louis dan Sena. Perasaan tidak suka perlahan datang di hatinya. Sejak kecil Akira selalu dekat dengan Sena. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Sekarang ada seorang pria yang menjadi perhatian Sena. Walaupun Sena mengatakan kepada Akira jika dirinya membenci Louis tetapi tetep saja itu mengganggu pikirannya.
"Kamu memang pantas untuk di benci."
Akira berkata kepada dirinya sendiri. Dia membayangkan sosok Louis yang berdiri dihadapannya dengan sosok yang tersenyum dan memeluk Sena.
Pak guru Ersan menulis sesuatu di papan. Suara yang awalnya tenang kemudian menjadi ramai. Pengumuman tentang hari ini akan diadakan ujian. Pak Ersan memberikan lembaran soal ujian kepada setiap murid.
Aku mengerjakan setelah menerima lembaran soal. Nomer satu terlihat sulit. Karena tidak mengerjakan kemudian aku mencoba untuk melompat nomer soal. Tetapi saat membaca soal selanjutnya juga lebih sulit. Hingga aku membaca semua soal. Aku kemudian meletakkan kepala di atas meja. Menyerah karena tidak bisa mengerjakan semua soal.
"Bagaimana ini? Kemarin malam aku tidak belajar."
Karena terlalu senang Akira akan menemaniku membersihkan kelas sehingga tidur lebih awal. Satu jam telah berlalu. Sudah waktunya untuk mengumpulkan tugas. Aku menatap punggung Akira. Berharap dia membalikkan badannya dan memberikan aku contekan. Siswa pertama yang berdiri adalah musuhku. Cara berjalan yang seakan penuh kesombongan. Louis menaruh lembaran soal di atas meja pak Ersan kemudian berjalan pergi meninggalkan kelas.
Tidak lama kemudian Akira berdiri dari tempat duduknya. Apakah dia sudah selesai mengerjakan tugas? Aku mengacak rambutku hingga berantakan karena kesal tidak dapat mengerjakan tugas.
"Ini pulpen milikmu. Terimakasih karena telah meminjamkannya kepadaku."
Akira berbicara denganku. Aku kemudian mengangkat wajah. Dia tersenyum manis kemudian membalikkan badannya menuju ketempat pak Ersan. Ekspresinya tersenyum terlihat mencurigakan. Seperti memiliki arti yang tersendiri. Aku kemudian mengambil pena yang di berikan Akira. Pena ini bukan milikku. Tetapi Akira mengatakan jika pena ini aku yang meminjamkan kepadanya. Akhirnya aku memahami maksud dari perkataan Akira.
"Terimakasih Akira."
Aku mengucapkan kata terimakasih untuk Akira walaupun dirinya tidak ada di dalam kelas. Tutup ujung pena itu kemudian aku buka. Didalamnya ada isi pena beserta gulungan kertas. Soal pertanyaan setiap nomer terdiri dari lima jawaban pilihan. Semua murid disuruh memilih salah satu diantara lima jawaban pada setiap nomer soal.
Akira memberikan jawaban yang benar di setiap soal pertanyaan. Segera aku menyalin jawaban darinya. Akira memang pangeran di hatiku. Karena kebaikannya membantuku memberikan contekan membuatku bisa menyelesaikan soal ujian tepat waktu.
Jika aku bisa mendapatkan nilai yang baik maka ayah dan ibu tidak akan memarahiku. Akira selalu membantuku dalam kesulitan. Karena itu aku semakin mencintainya.