Chapter ketiga : Jadwal piket kebersihan kelas

1030 Words
Aku masuk ke dalam kelas dengan keringat yang keluar dan nafas tidak beraturan. Para siswa wanita menatap ke arah Sena dengan dingin. "Lupakan saja. Aku tidak ingin menimbulkan perselisihan dengan mereka." Dengan berpura seakan tidak pernah terjadi aku duduk di kursi. Tidak lama setelah itu jam pelajaran berbunyi. pak guru datang. Louis masuk ke dalam kelas. Aku mengambil buku untuk menutupi wajahku. Memperhatikannya secara diam-diam. Louis berjalan dengan tenang melewati ku. Selama pelajaran tidak ada sikap Louis yang mencurigakan. Aku harus segera meninggalkan kelas saat jam pulang nanti. "Hei Louis. Apa kamu menjalani hubungan dengan Sena?" Steven bertanya kepada Louis. "Jangan berkata yang aneh. Aku tidak menjalani hubungan dengannya." "Kamu tadi membawanya keluar. Semua siswa melihatnya. Masih mengatakan kalau kalian tidak memiliki hubungan. Ayolah Louis ceritakan kepadaku kapan kalian menjalani hubungan." Louis tidak menghiraukan perkataan dari Steven. "Hari ini bapak akan membagi jadwal piket kebersihan kelas." Pak guru menulis nama kelompok di papan tulis. Aku terkejut melihatnya. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke belakang. Menatap Louis yang berada di ujung. Louis menjawab tatapan Sena dengan mengangkat kedua alisnya. Seperti ingin mengatakan kamu sekarang tidak dapat kabur lagi dariku. Aku menundukkan kepalanya. Dia merasa nasibnya sungguh tidak beruntung. Besok adalah hari di mana dia piket. Dua teman yang menjadi anggota kelompoknya adalah Louis dan Steven. Jam pulang berbunyi. Sena dengan segera bergegas pulang tetapi dia di hadang oleh dua orang gadis di lorong menuju halaman depan sekolah. Salah satunya merupakan siswa wanita terpopuler di sekolah. "Sena. Kamu memang gadis yang pandai menaruh perhatian kepada dua pria populer di sekolah ini." Karena ulah perbuatan Louis. Aku menjadi berurusan dengan para siswa wanita di sekolah. "Aku tidak mengerti maksud kalian. Tetapi bisakah kalian memberiku jalan. Sekarang aku harus pulang." Louis dan Steven berjalan di lorong itu. Mereka melihat Sena di hadang oleh dua wanita. "Kamu tidak ingin membantunya?" Steven bertanya kepada sahabatnya. Louis hanya diam berdiri melihat. "Baiklah jika kamu tidak ingin membantunya." Louis menggenggam ke dua tangannya dengan erat. Dia tidak suka kepada gadis itu. Tetapi melihat seseorang yang melakukan pembullyan di sekolah membuat Louis sangat kesal. Louis kemudian melangkah kakinya. Steven tersenyum melihat perbuatan sahabatnya. "Darimana gadis sepertimu memiliki keberanian melawan kami?" Salah satu siswa wanita. Teman dari siswa wanita terpopuler di sekolah ingin melayangkan tangannya. Menampar pipiku. Tetapi tidak berhasil karena aku menangkisnya kemudian menarik tangan itu dan membanting tubuhnya hingga terjatuh ke tanah. Aku kemudian meninju tangannya ke telapak tangan. Dia terlihat menyeramkan. Jessie gadis populer di sekolah takut kepadaku. Bahkan seluruh tubuhnya gemetaran. "Ku mohon jangan sakiti aku!" "Melakukan pembullyan di sekolah. Apakah kalian menganggap sekolah ini adalah milik orang tua kalian?" "Kami tahu kami salah. Karena itu mohon maafkan kami." "Kalau kalian ingin menebus kesalahan. Mulai sekarang kalian harus bersedia menjadi asistenku." Ke dua siswa wanita itu saling memandang. "Baiklah kami bersedia menjadi asisten mu." Tidak jauh dari tempatku. Terdengar suara tawa yang keras. "Ha...Ha...Ha...!" "Apakah kamu ingin tertawa sepanjang waktu?" Louis berkata kepada Steven. "Ternyata Sena merupakan gadis yang menarik." "Iya. Dia memang gadis yang kuat. Membanting seseorang sampai jatuh ke tanah." Louis menjawabnya dan menganggukkan kepala. Dia merasa kagum melihat apa yang telah di perbuat oleh Sena. "Bahkan membuat seorang pahlawan yang tidak mendapatkan peran dalam misi penyelamatan." Steven berkata kepada Louis dan tersenyum. Dia sedang menggoda temannya. "Sudahlah lebih baik kita pulang. Aku harus segera pergi bekerja." Louis berjalan kembali meninggalkan tempat itu. "Baiklah." Steven juga melangkahkan kakinya tepat di belakang sahabatnya. "Hari ini terasa panjang dan melelahkan." Aku menghapus keringat dan mengambil tasnya yang tadi terpaksa di buang. Tidak ingin berlama di sana. Aku lalu pergi membeli buah untuk Akira. Setelah membayar di kasir. Aku kemudian meninggalkan toko itu. "Akira pasti senang kalau aku membelikan buah kesukaannya." Beberapa saat kemudian. Aku tiba di depan rumah Akira. "Sena baru pulang sekolah." "Selamat siang tante." "Selamat siang. Ayo masuklah ke dalam." Nyonya Adler membawa Sena menemui putranya. Akira terbaring lemah. "Akira." Sena memanggil teman masa kecilnya. Akira terbangun setelah mendengar panggilan itu. "Kamu sudah datang." "Iya. Aku membawa buah kesukaanmu." Aku memperlihatkan kantung yang berisi buah. Dia kemudian meletakkan kantung di atas meja. Sena mengambil satu buah jeruk. Mengelupas kulit buah tersebut. "Ayo sekarang buka mulutmu." Akira lalu membuka mulutnya dengan perlahan. Potongan buah jeruk masuk ke dalam mulut. "Bagaimana?" "Buah ini terasa manis. Aku sangat menyukai. Terima kasih." Akira tersenyum kepada Sena. "Baguslah jika kamu menyukainya." Sena memberikan beberapa potong buah jeruk. "Kenapa seragam mu kotor?" Akira memperhatikan penampilan Sena yang terlihat sedikit berantakan. Selama ini Sena selalu berpenampilan dengan rapi. Apakah ada sesuatu kepada Sena? "Karena kurang berhati-hati. Tadi aku terjatuh saat berjalan pulang." "Jadi begitu.Oh ya. Bagaimana dengan sekolahmu?" Aku menatap Akira. Apa yang harus aku katakan kepadanya. Akira tidak menyukai Louis. Aku tidak bisa menceritakan yang terjadi kepadanya. "Tidak ada kamu di sekolah. Aku merasa kesepian." "Kalau begitu aku harus segera sembuh." Aku tertawa kecil melihat Akira. "Pak guru membagi piket kebersihan kepada kita." "Benarkah?" "Iya. Besok adalah jadwalku piket." "Dengan siapa kamu piket?" Aku tidak menjawab perkataan Akira. "Apakah itu Louis?" "benar." Aku menjawabnya dengan suara yang pelan. Akira lalu menenggelamkan wajahnya. Sena tahu perasaan Akira sekarang pasti sedang sedih. "Bagaimana setelah kamu sembuh kita pergi ke taman hiburan?" "Baiklah. Aku akan sangat menantikannya." Ekspresi Akira kembali senang. Syukurlah jika dia tidak bersedih lagi. Setelah tiba di rumah. Aku berlari menuju ke kamar. Setelah Akira sembuh. Sena dan Akira akan pergi bersama ke taman hiburan. Mereka berdua pergi berkencan. Ke esokkan harinya Sena berangkat menuju ke sekolah. "Akira." "Selamat pagi Sena." Aku melihat Akira berdiri dengan memakai seragam sekolah dan membawa tas. "Bagaimana dengan keadaanmu?" "Semua ini karena kebaikan Sena. Kamu sudah merawat ku hingga sembuh." "Aku senang sekali mendengarnya." Akira dan Sena berjalan bersama menuju ke sekolah. "Oh ya. Hari ini adalah jadwal piket mu." "Iya. Karena itu aku berangkat lebih awal." Mereka berdua akhirnya sampai di sekolah. "Kalau begitu aku akan membersihkan ruangan kelas." "Sena." Akira memanggil teman masa kecilnya. "Bagaimana kalau aku ikut membantumu?" "Tidak boleh. Pembagian ini sudah di tentukan oleh pak guru." Aku melarang Akira untuk membantunya. Tidak lama kemudian Louis dan Steven masuk ke dalam kelas. "Kenapa aku harus membersihkan kelas hari ini?" "Pembagian kelompok ini pak guru yang menentukan. Karena itu kamu janganlah mengeluh."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD