"Sepertinya suasana hatimu sedang baik."
"Ayo Louis. Rebut kembali bolanya."
Louis tersenyum lebar. Dia sangat mengenal suara itu. Steven memberikan dukungan.
"Kamu pasti senang mendapatkan dukungan dari temanmu."
"Iya. Benar."
"Sepertinya kamu melupakan sesuatu hal yang penting."
"Apakah kamu sedang membohongiku?"
"Tentu saja tidak."
Dengan cepat Louis melewatinya dan memasukkan bola ke keranjang.
"Tidak mungkin. Ini pasti hanya mimpi."
"Aku sudah bilang kepadamu yang telah melupakan sesuatu hal penting. Jangan lengah."
Wakil OSIS terpanah dengan ucapan dari Louis. Semua yang dikatakannya benar.
"Pertandingan ini aku yang menang."
"Baiklah. Aku mengakui kekalahan ini. Tetapi lain kali aku pasti akan mengalahkan mu."
"Aku sangat menantikannya."
Louis menjawabnya lalu pergi meninggalkan gedung olahraga. Sekarang sudah waktunya untuk pergi ke perpustakaan. Setelah tiba di sana kemudian Louis meletakkan kepalanya di atas meja. Tempat yang paling tepat untuk tidur. Jika dia tidur atas atap gedung sekolah pasti akan terganggu. Steven mengetahui tempat rahasianya itu. Pria itu pasti akan membuat kegaduhan. Berbeda saat di perpustakaan. Steven tidak menyukai belajar. Suasana terasa damai.
"Selamat tidur."
Louis berkata kepada dirinya sendiri dengan suara yang pelan. Beristirahat juga baik untuk tubuh. Dia lalu memejamkan mata. Louis merasakan ada seseorang yang memegang bahunya. Secara alami tubuhnya menghindar.
"Maaf."
Orang itu adalah petugas perpustakaan.
"Apakah ada sesuatu?"
Louis bertanya kepada seorang gadis dewasa dan cantik yang bekerja menjadi petugas perpustakaan baru.
"Aku hanya ingin memberitahukan kalau sudah waktunya pulang sekolah."
Petugas perpustakaan itu kemudian menjawabnya. Louis melihat ke arah jendela. Awan terlihat mulai gelap. Sepertinya gadis itu tidak berbohong.
"Terimakasih."
Louis segera meninggalkan perpustakaan yang sebentar lagi akan tutup. Dia berjalan menuju ke kelas. Saat berada di taman Louis bertemu dengan teman sekelasnya.
"Sena."
"Aku baru saja selesai mengerjakan tugas. Ini tas milikmu."
"Terimakasih."
Aku mengembalikan tas miliknya. Louis menerima tas itu. Sebenarnya aku ingin pulang bersama dengan Akira. Tetapi aku melihat tas Louis masih di atas meja. Dia selalu meninggalkan tasnya ketika sedang berlatih.
"Apakah kamu tidak mengikuti pelajaran karena sedang berlatih?"
"Tidak."
Aku menghentikan langkahku setelah mendengar jawabannya.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak mengikuti pelajaran?"
"Aku tidak sengaja tertidur di perpustakaan."
Bohong. Tidak mungkin siswa yang selalu mendapatkan peringkat pertama tertidur.di perpustakaan. Louis mendekatiku.
"Apakah kamu tidak mempercayai perkataanku?"
Aku menghela nafas.
"Iya. Aku percaya kepadamu."
"Kamu menghela nafas sebelum menjawabnya. Itu berarti kamu belum mempercayaiku. Aku menjadi sedih."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Dengan ini Louis akan terhibur.
"Walaupun sedikit kelelahan karena harus sekolah dan bekerja. Tetapi aku sangat menikmatinya."
"Kalau berat dilakukan. Kenapa kamu tidak berhenti bekerja? Bukankah kita bisa meminta kepada ke dua orang tua."
Aku berkata kepada Louis. Menurut pembicaraan diantara aku dan Kate. Sepertinya ada rahasia yang di sembunyikan oleh Louis dengan baik. Aku ingin mengetahuinya. Karena itu aku berusaha agar Louis bercerita kepadaku. Tentunya aku bisa membuatnya kesulitan. Louis adalah musuhku.
"Aku tidak menyukai sikap seperti anak manja. Bekerja dan menghasilkan uang merupakan kepuasan hati sendiri."
"Jadi begitu."
Tunggu dulu. Louis tadi mengatakan jika dirinya tidak menyukai sikap anak manja. Jadi dia menilai ku seperti itu? Awas saja kamu! Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu. Kami berdua pulang. Ini kedua kalinya aku berjalan bersama dengan musuhku. Sejenak aku melupakannya. Hubungan yang dari awal telah retak selamanya tidak akan bisa baik. Aku harus menjauhi Louis. Orang yang aku cintai adalah Akira. Jika Akira tahu aku bersama dengan Louis pasti akan marah. Bagaimana jika dia marah kemudian memiliki kekasih? Aku tidak bisa melihat Akira bersama dengan gadis lain.
"Selamat tinggal."
Aku berlari setelah mengucapkan kalimat itu kepada Louis. Ini adalah keputusan yang baik. Tetapi kenapa hatiku terasa sakit? Mungkin karena kami sudah mulai dekat. Terdengar suara handphone berbunyi. Louis kemudian mengangkatnya.
"Halo?"
"Gawat Louis! Banyak pelanggan yang sudah menunggu di depan Cafe Zero."
Rui menghubungi Louis. Ketika dia pulang dari universitas dan melihat banyak pengunjung yang menunggu. Rui tidak bisa mengatasi pelanggan sendiri. Apalagi semua karyawan tiga puluh menit lagi baru datang. Cafe baru buka saat sore hari. Karena itu Rui meminta bantuan kepada Louis. Teman kerjanya.
"Baiklah. Aku akan segera kesana."
Segera Louis menghampiri Rui. Dia berlari dengan kencang.
"Itu dia. Pelayan Cafe Zero."
Ada pelanggan yang melihat Rui. Dengan tubuh bergemetaran Rui melangkah kakinya menuju ke Cafe Zero.
"Kapan Cafe ini buka? Aku sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu."
"Benar."
Semua pelanggan memperotes Rui. Ingin sekali Rui memarahi pelanggan dan berkata jika Cafe masih tutup. Tetapi dia tidak bisa melakukannya.
"Tunggu sebentar. Aku akan membersihkan tempatnya."
"Baiklah. Kami akan menunggu."
Rui membuang nafas lega karena pelanggan bersedia menunggu. Tidak seperti biasanya pelanggan datang sebelum Cafe buka. Rui mengambil sapu. Dia melihat ke arah depan.
"Cepatlah datang Louis."
Rui berharap Louis segera datang untuk membantunya. Tidak lama kemudian Louis datang. Nafasnya terengah karena habis berlari.
"Maaf sudah menunggu."
"Louis."
Rui menangis setelah melihat Louis. Akhirnya dia datang. Louis memegang wajah Rui dan menghapus air mata. Dia tidak bisa melihat seorang gadis menangis. Rui memeluk tubuh Louis.
"Sebentar saja."
Louis terkejut melihat Rui memeluknya. Tetapi Rui memohon Louis untuk meminjamkan tubuhnya. Akhirnya Louis membiarkan Rui berada di pelukan. Selama beberapa saat kemudian Rui menjauhi tubuhnya dari Louis.
"Maaf."
"Tidak apa-apa."
Suasana menjadi canggung. Louis dan Rui kemudian tertawa bersama.
"Ayo, kita buka Cafenya."
Louis mengajak Rui membuka Cafe.
"Iya."
Setelah itu mereka berdua membuka Cafe.
"Selamat datang di Cafe Zero."
"Akhirnya Cafe buka."
Pelanggan masuk ke dalam Cafe. Mereka berbaris dengan rapi. Ada juga pengunjung yang datang. Louis membuat menu baru. Rui melayani pelanggan. Sekitar lima belas menit setelahnya pelayan Cafe Zero yang lain datang. Mereka terlihat bingung karena jadwal buka Cafe masih sekitar sepuluh menit lagi.
"Kenapa kalian diam saja. Cepat bantu Louis!"
Rui mengatakan kepada pelayan yang lain.
"Baik."
Mereka kemudian mengerjakan tugasnya masing-masing. Rui tertawa kecil ketika melihatnya.
"Hari ini Louis sangat tampan."
Rui memuji teman kerjanya. Dia menganggap tidak hanya hari ini tetapi setiap hari Rui terpesona dengan Louis. Dari wajah maupun sifatnya. Semua terlihat keren.
"Apakah kamu bisa membantuku?"
Louis berkata kepada Rui. Perkataan itu membuat Rui tersadar dari lamunannya.
"Iya. Tunggu sebentar."
Rui berjalan menghampiri Louis dan membantunya. Louis kemudian memberikan sayuran kepada Rui supaya di potong kecil-kecil.