Chapter Dua Puluh Sembilan : Si Putih

1014 Words
Aku mencari dua kucing kemarin ketika mau pergi ke sekolah. "Kemana anak kucing dan induknya?" Kalau tidak salah kemarin mereka berada di sekitar taman. "Si putih?" Aku berteriak dan mencari kucing tersebut. Aku memberikan nama mereka dengan panggilan Si putih. Sesuai warna bulu kucing itu. Sudah hampir selama tiga belas menit aku mengelilingi taman dan mencari kucing tersebut tetapi belum saja menemukannya. Nafasku terengah karena kelelahan. Tidak lama kemudian aku melihat Louis yang sedang berjalan. Segera aku menghampirinya. "Louis." Dia melihat ke arahku setelah aku memanggilnya. "Selamat pagi Sena." "Selamat pagi. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." "Apakah itu?" "Aku mencari anak kucing dan induknya. Tetapi hingga sekarang aku tidak menemukannya. Apakah kamu tahu dimanakah mereka berada?" Aku memberikan diri untuk bertanya kepada Louis. Semoga saja dia dapat menemukan dua kucing itu. "Baiklah aku akan mencarinya." Louis berjalan menuju rumput. Ada bangunan lama yang sudah tidak terpakai. Aku mendengar jika tempat itu ada hantu. "Tunggu dulu Louis. Kamu mau masuk kesana?" "Tentu saja." "Tetapi bangunan itu sudah lama tidak ada penghuninya." "Justru karena tidak ada orang yang tinggal sangat sesuai untuk tempat persembunyian." Louis mengatakan kalimat yang aneh. Wajahnya terlihat tegang. Tidak seperti Louis yang selalu menunjukkan kesombongan. Dia berjalan masuk ke dalam. Karena tidak berani masuk dan akhirnya aku menunggu di luar. Sudah lama Louis berada di sana. Hingga sekarang dia belum keluar. "Apakah kamu baik-baik saja Louis?" Aku berteriak sekuat mungkin dan berharap Louis dapat mendengarnya. Perasaanku menjadi khawatir. Aku berjalan memutar. Bagaimana kalau benar ada hantu di sana? Itu berarti Louis dalam bahaya. Aku menggenggam kedua telapak tangan. Mengumpulkan semua keberanian. Aku harus masuk kedalam. Jika dia dalam bahaya dan aku akan berusaha untuk menolongnya. Perlahan aku melangkahkan kaki maju ke depan. Bangunan tua itu semakin terlihat dengan jelas. Secara tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Sosok Louis mulai terlihat. Dia keluar dari bangunan tua bersama dengan anak kucing. Induknya berjalan mengikuti Louis di belakang. "Syukurlah kalian masih hidup." Aku memeluk induk kucing. "Terimakasih." "Tidak apa-apa. Aku hanya menepati janji untuk membantumu. Bagaimana dengan kucingnya?" "Aku akan membuatkan tempat tinggal untuk mereka." "Pemikiran yang bagus. Kalau begitu biarkan aku membantumu." Aku menganggukkan kepala dan menyetujuinya. Louis mengumpulkan papan. Dia menyatukan papan dengan lem. Membuat sebuah kotak berukuran sedang. Kotak itu nantinya akan untuk tinggal kucing. "Sudah selesai." "Sekarang ini adalah tempat tinggal kalian." Aku berkata kepada dua kucing tersebut. Mereka berdua masuk ke dalam kotak. "Kamu bisa mengunjungi dua kucing itu kapanpun." "Kenapa kamu bisa mengetahui jika kucing itu berada di sana?" "Sudah aku bilang. Para kucing menyukai tinggal di tempat yang tidak ada penghuninya. Dengan ini mereka akan merasa aman dari gangguan apapun. Bagaimana denganmu. Mengapa kamu tidak merawat kucing itu? Bukankah kamu sangat menyayanginya." "Ayahku alergi dengan bulu binatang. Waktu ayah mengunjungi rumah teman kantornya ada seekor anjing mendekatinya. Ayah langsung bersin tanpa berhenti. Setelah itu ayah selalu menjauhi binatang." "Jadi begitu. Kalau begitu lebih baik kucing ini tinggal ditempat barunya." "Kamu benar." Aku melihat tangan kanan Louis banyak luka gores. Ada sebuah goresan yang masih baru. Kemudian aku teringat jika membawa plaster luka. "Tanganmu terluka." "Itu hanya tergores saat membuat memotong daging." Louis segera menyembunyikan lukanya. Aku mengambil plaster di dalam saku bajuku. "Maaf." Aku menarik tangannya. Louis seketika terkejut. "Apa yang sedang kamu lakukan?" Dia marah kepadaku. Aku tidak menghiraukannya. Luka goresan itu kemudian aku tutup dengan plaster. "Sudah selesai. Anggap saja aku membayar kebaikanmu yang telah mencari dan membuat tempat baru Si putih." "Si putih?" "Iya. Itu adalah nama yang aku berikan kepada mereka." "Dasar bodoh." Setelah mengatakanya kemudian dia berdiri. Apa yang tadi dia katakan? Aku bukan gadis yang bodoh. Ingin sekali aku memukul wajahnya. Tetapi aku tidak ingin merusak suasana. Louis pergi meninggalkanku. Dia memang pria yang sombong. Tidak seperti Akira selalu tersenyum dan menemaniku. Ketika aku melihat anak kucing dan induknya kemudian aku merasa senang. "Setidaknya dia bisa bersikap baik dengan binatang." Louis berangkat dengan berjalan kaki. Mulai satu bulan yang akan datang dia harus berlatih dengan keras. Pemilik Cafe ingin Louis mendaftarkan diri ke PSB. Walaupun berharap menjadi penerus tetapi Louis tetap harus berjuang agar lolos dengan kemampuannya sendiri. Dia akan malu kalau hanya mendapatkan dukungan dari pemilik Cafe. "Ah, jadwalku akan semakin padat." Selain berjuang untuk masuk menjadi anggota PSB. Louis juga harus berlatih untuk pertandingan basket antar sekolah dan juga kompetisi renang. Padahal dia tidak bisa berenang. Ada alasan tersendiri Louis mengikuti kompetisi renang. Anggota PSB juga harus dapat berenang. Salah satu persyaratan militer. Dia meletakkan tasnya di kelas. Walaupun Louis dan anggota OSIS maupun penanggung jawab memiliki hak khusus untuk bebas tidak mengikuti pelajaran tetapi Louis juga mau belajar. Dia tidak ingin ketinggalan pelajaran. Karena itu Louis tetap mengikutinya walaupun setengah hari. "Selamat pagi." Teman sebangkunya yang bernama Steven menyapa Louis. "Selamat pagi." "Kamu kemarin malam kemana? Aku tadi datang ke rumahmu tapi kamu tidak pulang." Louis lupa memberitahu temannya jika dia malam ini tidak pulang. Sebenarnya Louis sedang berlatih dengan pemilik Cafe setelah pulang bekerja untuk masuk anggota organisasi bulan depan. Organisasi PSB adalah pekerjaan yang memiliki resiko besar. Identitas mereka sangat rahasia. Bahkan kepolisian Jepang tidak mengetahuinya. Jika suatu saat anggota ketahuan identitasnya dan orang sekitar akan mengalami bahagia. Louis tidak ingin ayah, ibu, adiknya dan bahkan teman dekatnya ikut terlibat. Karena itu sampai kapanpun Louis akan selalu merahasiakannya. "Pemilik Cafe akan membuka cabang. Karena itu selama satu bulan ini aku akan menginap dirumahnya." "Kenapa kamu tidak cerita kepadaku?" "Maaf. Karena aku sangat sibuk." Steven menghela nafas. Dia sangat mengenal temannya itu. "Sebentar lagi kamu akan mengikuti pertandingan basket antar sekolah dan kompetisi renang. Kamu harus menjaga dirimu dengan baik. Jangan sampai sakit teman." Louis bahagia mendengarnya. Perkataan dari Steven menjadi obat penyemangat. "Aku pasti akan memenangkan pertandingan basket dan kompetisi renang." Louis berjanji kepada Steven jika dirinya akan meraih kemenangan. "Tentu saja kamu harus menang." Steven mempercayai janji temannya. Setelah jam istirahat berbunyi Louis pergi ke gedung olahraga. Dia berlatih basket sendirian. "Apakah kamu membutuhkan teman untuk bertanding?" Sekertaris OSIS berkata kepada Louis. "Aku tidak akan menolak tantangan dari seseorang." Louis kemudian menyetujuinya. Sekertaris OSIS juga merupakan satu team basket dengan Louis. Dia juga pandai bermain basket.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD