Chapter Dua Puluh Delapan : Keberuntungan

1005 Words
"Aku pulang dulu." Aku kemudian berdiri. Segera mungkin harus pergi menjauh darinya. "Sena." Louis memanggilku. Dengan terpaksa aku membalikkan badan. "Ada apa Louis?" "Apakah aku boleh menemanimu pulang?" Sebenarnya ada apa dengannya. Dia tidak salah meminum obat kan? Jika aku menolaknya sekarang tidak ada siswa yang masih berada di gedung sekolah. Aku takut dia akan melakukan sesuatu yang buruk kepadaku. Baiklah Sena. Kamu harus menentukan jawaban terbaik. "Iya. Boleh." Louis tersenyum lebar. Berbeda denganku yang menderita karena harus menerima ajakannya. Hari ini aku sungguh sedang bernasib sial. Wahai Dewi keberuntungan. Segeralah datang. Aku tidak ingin pulang bersama dengannya. Louis berjalan di sampingku. Sesekali aku memalingkan wajah kemudian sosok jiwaku yang menangis dalam kesedihan. "Kenapa kamu mengajakku pulang bersama? Bukankah rumah kita tidak berlawanan arah." Aku memberanikan diri untuk bertanya. Sebenarnya apa alasan Louis mengajakku pulang bersama. Semoga saja dia tidak ingin melakukan sesuatu kepadaku. "Memang benar. Tetapi aku ingin langsung bekerja." Louis menjawab pertanyaanku. Jadi alasannya karena ingin bekerja. Cafe Zero terletak searah dengan rumahku. Jika dari sekolah dan tempatnya lebih jauh. Aku mengangguk kepala sebagai jawaban. Saat aku berjalan kemudian secara tiba-tiba Louis menghentikan langkah kakinya. Seekor anak kucing mendekati Louis. Dia kemudian mengambil sesuatu di tasnya. Benda itu adalah roti. Louis membuka bungkusnya dan memberikan roti kepada anak kucing. "Sekarang makanlah!" Anak kucing itu memakan roti dengan lahap. Sepertinya dia sedang kelaparan. Aku baru ingat kalau memiliki sisa kue yang tadi di makan ketika mengerjakan tugas. Kemudian memberikan kue kepada anak kucing. Selama ini aku tidak pernah mendekatinya. Anak kucing itu terlihat menggemaskan. Aku memberanikan diri untuk memegang bulunya. Anak kucing itu kemudian mengusapkan kepalanya ke telapak tanganku. Aku tertawa melihat tingkahnya yang lucu. Ada seekor kucing besar yang berjalan mendekatiku. Anak kucing itu berlari menuju kucing besar. "Sepertinya itu induknya." Aku melihat Louis yang sedang mengatakannya. Jadi kucing besar itu induk dari anak kucing yang aku kasih makan kue. Kedua kucing itu kemudian pergi meninggalkan kami. Louis pandai merawat anak kucing. "Ternyata kamu menyukai kucing?" Aku bertanya kepadanya. Dia tersenyum lebar. Wajahnya bahagia terlihat kembali. "Adikku sangat menyukai kucing. Suatu hari dia menemukan kucing di tengah jalan saat turun hujan yang deras. Dia kemudian mengambil dan membawanya pulang ke rumah. Hingga sekarang dia selalu merawatnya dengan baik. Setelah itu aku menjadi suka kepada kucing." Louis menceritakan kehidupan pribadinya. Aku baru mengetahui jika dia memiliki seorang adik. Sepertinya hubungan mereka berdua juga terlihat baik. Aku sangat iri kepadanya. Aku dan teman masa kecilku tidak memiliki saudara. Karena itu aku dan Akira sering bersama untuk melengkapi kesepian diantara kami. "Pasti menyenangkan jika memiliki seorang adik." "Apakah kamu tidak memiliki seorang adik?" Aku menggelengkan kepala untuk menjawabnya. "Jadi begitu. Bagaimana kalau kamu ikut denganku pulang ke rumah? Aku akan mengenalkan adikku kepadamu." Seketika wajahku menjadi panas setelah mendengar perkataan dari Louis. Dia ingin mengajakku ke rumahnya. Bagaimana ini? Aku tidak pernah ke rumah pria sebelumnya. Walaupun aku sering datang ke tempat Akira. Tetapi rumahku dan Akira berdampingan. Kami selalu bersama sejak kecil. Tidak ada batasan dinding. Sekarang ada seorang pria yang mengajakku datang ke rumahnya. Pria itu adalah musuhku. Iya, kami berdua bukan teman. Akhirnya aku dapat kembali seperti biasa. Aku menarik nafas panjang kemudian mengeluarkan dengan perlahan. "Maaf. Aku tidak bisa. Sore ini Akira mengajakku belajar bersama." "Sepertinya hubungan kalian berdua sangat baik." "Tentu saja. Kami berdua berteman sejak kecil. Rumah kami juga berdekatan." Ketika aku menjawabnya kemudian aku menatap wajah Louis yang gelap. Dia terlihat berbeda saat meninggalkan gedung sekolah. Apakah aku telah mengatakan sesuatu yang membuatnya marah? Aku kemudian menggelengkan kepala. Itu bukan urusanku. Louis mengantarkan ku hingga di depan rumah. "Aku sudah sampai. Kamu tidak perlu mengantarku ke dalam rumah." "Baiklah. Kamu bisa masuk sekarang. Aku akan pergi setelah kamu masuk ke dalam." Louis menjawab perkataanku. Aku kemudian melangkahkan kaki menuju rumah. Membuka pintu dan masuk ke dalam. Aku berlari ke kamar. Melihat Louis dari jendela. Louis berjalan pergi. Punggungnya terlihat jelas hingga semakin lama menghilang. Segera tubuh ini terbaring di atas tempat tidur. Aku kemudian menutup mata. Saat tertidur sosok Louis terlihat mengulurkan tangannya kepadaku. Aku ingin menerimanya. Saat aku mendekatinya kemudian jam kamar berbunyi. Setiap jam tujuh akan terdengar suara burung di jam. Aku mematikan suara tersebut dan bangun. Tubuhku terasa gatal. Setelah pulang sekolah aku lupa untuk mandi. Aku mencium aroma tidak sedap di badanku. "Bau." Segera aku berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Aku turun kebawah setelah mandi. Ibu sedang menyiapkan makan malam. Setiap jam setengah delapan kami semua berkumpul keluarga. Aku membantu ibu menaruh peralatan makan ke atas meja. Ayah keluar dari kamarnya. "Selamat malam ayah." Aku kemudian menyapa ayah. "Selamat malam." "Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" Ibu berkata kepadaku dan ayah. "Iya bu." "Baiklah." Aku dan ayah menjawab perkataan dari ibu. Ayah duduk di kursi paling ujung. Sedangkan aku duduk di sisi kanannya. Setelah selesai menaruh semua hidangan maupun minuman kemudian ibu duduk di kursinya. Aku dan ibu duduk saling berhadapan. "Selamat makan." Aku mengucapkan selamat sebelum mencoba hidangan di atas meja. Ayah menikmati Bintang Michelin, ibu memilih Teishoku, dan aku menghabiskan nasi kari yang merupakan makanan kesukaanku. "Bagaimana dengan sekolahmu?" Ayah bertanya kepadaku. Dia adalah suami dan ayah yang baik. Setiap hari dia selalu memperhatikan pendidikan putrinya. "Sekolah akan mengadakan kompetisi antar sekolah. Aku terpilih menjadi ketua penanggung jawab kompetisi. Untuk kedepannya aku akan selalu sibuk." "Putriku memang yang terbaik." Ayah memujiku. Aku tersenyum kepadanya. Selain anggota OSIS dan ketua kelas tidak ada yang mengetahuinya. Aku tidak mengatakan kepada ayah dan Akira mengenai Louis yang merekomendasikan. Hubungan Akira dan Louis tidak baik. Aku juga tidak ingin Akira menjauhiku. "Sena." Louis memanggil nama Sena. Hari ini dia mengantar Sena sampai ke depan rumahnya. Sebelum pergi dia melihat bangunan besar dan megah di samping tempat Sena. Pasti itu adalah rumah Akira. "Memang kenapa kalau dia memiliki keberuntungan?" Louis berkata kepada dirinya sendiri. Dia dan Akira merupakan rival. Mereka berdua sama memiliki prestasi. Hal yang membedakannya adalah Akira merupakan anak dari keluarga yang kaya. Walaupun ayahnya bekerja sebagai satpam tetapi Louis merasa bahagia. Hidup di keluarga sederhana bersama dengan kedua orang tuanya dan adik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD