Chapter Dua Puluh Tujuh : Memberikan Masukkan

1011 Words
Hari ini aku pergi dengan menggunakan mobil. Akira yang mengendarainya. Berbeda dengan yang masih berusia enam belas tahun sedangkan Akira sudah mendapatkan surat izin mengemudi motor maupun mobil. Aku sekarang duduk di sampingnya. Hatiku berdetak dengan kencang. Wajah ini juga terasa panas. "Sena." "Iya Akira." "Tidak apa-apa." Ada apa dengan Akira? Padahal dia tadi ingin mengatakan sesuatu. Tetapi tidak jadi. Selama di dalam mobil aku melihat pemandangan. Jalan ramai dipenuhi oleh pegawai kantor dan siswa. Ada anak kecil yang lepas dari pegangan ibunya. Anak itu kemudian berlari menuju ke tengah jalan karena mengejar balonnya yang terbang. "Akira. Cepatlah tolong anak kecil itu. Aku mohon." Aku meminta Akira untuk menolongnya. Akira menghentikan mobil di depan taman. Aku dan Akira segera berlari mengejar. Sebuah truk besar berjalan ke arah anak kecil itu. Sekuat mungkin aku berlari tetapi itu percuma. Tidak akan bisa tiba di sana tepat waktu. Akira mempercepat larinya. Truk telah melewati anak kecil itu. Aku menutup wajah dan menangis. Bagaimana tidak aku melihat sendiri jika seorang anak kecil yang tertabrak truk dan tidak dapat dapat menolongnya. "Tenanglah Sena!" Akira berusaha membuatku untuk tenang. "Tapi anak kecil itu meninggal karena aku yang lemah tidak bisa menolongnya." Aku mengungkapkan semua kekesalanku. "Coba kamu lihat ke sana." Akira menunjukkan kepadaku ke suatu tempat. Dia ingin memperlihatkan kepadaku. Sesuai dengan permintaannya kemudian aku melihatnya. Anak kecil itu berdiri bersama dengan seseorang. "Louis yang menolong anak kecil itu." Perkataan Akira seperti hantu. Tidak nyata. Aku menghapus air mataku yang membasahi kedua pipi. "Bunta?" Ibu dari anak kecil itu berlari kemudian memeluk putranya dengan erat. Tubuhnya bergetar karena takut. Tapi ekspresi wajahnya merasa tenang karena anaknya tidak terluka. Ibu itu kemudian berdiri dan menatap Louis. "Terimakasih sudah menyelamatkan Bunta." "Lain kali harus lebih baik dalam menjaga putranya. Karena sesuatu yang menghilang tidak akan pernah kembali lagi." Louis berkata kepada ibu dari anak kecil itu. Perkataannya penuh dengan arti yang baik. Walaupun dalam penyampaiannya terkesan dingin. Louis kemudian pergi. Dia melihatku sebelum melangkahkan kakinya. Saat menatapku dia terlihat keren seperti pahlawan. Ada apa ini? Sadarlah Sena. Dia itu adalah musuh mu. Akira mengajakku ke mobil karena waktu mulai siang. Aku mengikutinya. Mobil kembali berjalan. Tidak tahu kenapa mobil ini seperti lebih cepat. Ketika menatap wajahnya terasa asing. Akira yang selalu tersenyum hangat sekarang berubah menjadi gelap. Aku hanya duduk diam. Setiba di sekolah, mobil masuk ke tempat parkir. Akira menghentikan mobilnya. "Kita sudah sampai Sena." Akira tersenyum kepadaku. Sikapnya kembali hangat. Mungkin aku hanya terlalu berlebihan menilai. Akira tetap seperti dulu. Dia tidak akan pernah berubah. Seorang siswa SMU yang pandai dan lembut. Dapat membuat nyaman ketika berada di sampingnya. Akira membuka pintu mobil untukku. Dia mengulurkan tangannya. Aku menerimanya dan turun dari mobil. "Akira." Para siswa wanita memanggil teman masa kecilku. Aku menggenggam tangannya. Terlihat mereka memasang ekspresi marah. Tidak akan aku biarkan Akira di rebut oleh siapapun. Akira adalah milikku. Aku masuk ke gedung sekolah. Semua siswa menatapku dengan tatapan yang aneh. "Sena." Aku melihat ke arah Akira yang memanggilku dengan kedua pipi memerah seperti tomat. Saat itu barulah aku mengetahui ternyata masih memegang tangannya. "Maaf." Segera aku melepaskan genggaman tangannya. "Tidak apa-apa Sena." Akira menjawabnya. Aku berjalan meninggalkan Akira dengan perasaan malu. Saat jam istirahat aku pergi ke ruangan yang berada di ujung gedung sekolah. Ada sebuah pintu diatasnya bertuliskan Ruangan Penanggung Jawab Kompetisi. Aku kemudian mengetuk pintu tersebut. "Masuklah." Seseorang menjawab kepadaku yang mengetuk pintu. Setelah itu masuk ke dalam. "Selamat pagi." Aku memberi salam kepada semua orang yang berada di ruangan. "Selamat pagi Sena." Mereka menjawab salam ku. "Ternyata kamu baru datang." Louis berkata kepadaku. Kenapa dia datang kemari? Aku menjadi gugup setelah melihat Louis. Lebih baik berpura tidak mengenalnya. Aku berjalan melewati dan tidak menjawab perkataan dari Louis. Walaupun tidak menatap Louis tetapi aku tahu ekspresi wajahnya yang sedang kesal. Aku duduk di meja ada namaku dan menulis pembagian kompetisi. Saat itu Louis menghampiriku. Aku lebih memfokuskan pekerjaan. Dia berdiri di belakangku dan tanpa mengatakan apapun. Syukurlah dia tidak menggangu pekerjaanku. Aku bisa mengerjakan tugas dengan tenang. Satu jam aku mengerjakan tugas. Dia masih berdiri di belakang. Apakah dia tidak merasa capek berdiri dalam waktu yang lama? Aku menggelengkan kepala. Untuk apa peduli dengannya. Hubungan kami berdua tidak sebaik itu. "Kamu salah menulis nama anggota. Lihatlah! Hills ikut kompetisi Melukis bukan bermain piano." Louis menunjukan nama Hills di daftar melukis. Dia memberitahu kesalahanku yang telah memasukkan data. Aku tidak mempercayai perkataannya begitu saja. Karena itu aku menghubungi Akira yang juga mengikuti kompetisi piano. "Halo?" "Ini aku Sena." "Apakah ada sesuatu hingga kamu menghubungiku?" "Sebenarnya aku ingin bertanya kepadamu tentang Hills." "Hills. Ada apa dengannya?" "Bukan. Aku hanya ingin mengetahui apakah Hills mengikuti kompetisi piano?" "Tunggu sebentar. Sepertinya Hills tidak mengikuti kompetisi piano. Oh ya, kemarin aku melihatnya sedang melukis. Mungkin saja dia mengikuti kompetisi melukis." "Jadi begitu. Terimakasih." "Iya." "Bye?" Aku menutup telepon setelah mengakhiri panggilan. Louis tersenyum lebar. Wajahnya menunjukkan atas kemenangan. "Bagaimana?" Dia bertanya kepadaku. Aku tidak bisa mengatakan jika perkataannya benar. Sedangkan aku yang salah dan meminta maaf. Aku mencoret nama Hills di daftar kompetisi piano dan memasukkan namanya ke kompetisi melukis. Setelah selesai menulis daftar kemudian membuat jadwal latihan. Aku harus sebisa mungkin jadwal itu tidak menghalangi pelajaran. "Sepertinya jadwal itu terlalu dekat setelah jam pulang sekolah. Para peserta akan kelelahan bahkan sebelum kompetisi di mulai." Louis kembali memberikan masukkan. Ketika mempertimbangkan dengan baik, sepertinya perkataannya Louis memang benar. Jika aku harus kuat latihan setelah satu jam pulang sekolah dan itu menghabiskan banyak tenaga. Aku mengganti jadwal awal menjadi jam enam pagi. Latihan sebelum berangkat ke sekolah lebih baik. Kondisi tubuh masih segar. Kita menjadi bersemangat ketika mengikuti pelajaran di sekolah. Setelah pulang para siswa bisa langsung main dan malamnya beristirahat. Louis tidak mengatakan apapun. Sepertinya dia juga menyetujui jadwal baru. "Akhirnya kita bisa pulang." Louis mengatakannya dengan tatapan penuh dengan semangat. Ternyata dia juga seperti siswa lain yang menyukai waktu pelajaran telah usai. Anggota penanggung jawab kompetisi mendapatkan hak untuk tidak mengikuti pelajaran beberapa hari kedepannya. Aku mengangkat kedua tangan. Merenggangkan otot tubuh yang kaku. Tidak lama kemudian aku baru menyadari jika Louis masih berdiri di belakangku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD