"Mungkin karena ada sesuatu tujuan Louis bekerja di sana."
Ketika dua gadis membicarakan Louis. Dia berjalan ke suatu tempat setelah pulang bekerja. Louis masuk ke sebuah gudang yang sudah lama tidak terpakai. Seorang pria tua menunggunya.
"Selamat malam pak."
Louis memberikan salam kepada pria tua. Orang itu adalah pemilik Cafe Zero.
"Aku senang karena kamu bersedia datang."
Pemilik Cafe mengantar Louis ke sebuah ruangan. Ketika membuka pintu dan ruangan tersebut penuh dengan senjata api dan perlengkapan militer.
"Coba kamu gunakan ini. Arahkan ke lingkaran di depan."
Pemilik Cafe meminta Louis menggunakan senjata.
"Tetapi pak?"
Louis melihat sekitar. Pemilik Cafe tersenyum. Dia bisa membaca raut wajah Louis.
"Tenang saja. Ruangan ini di lengkapi dengan penyadapan suara."
"Baik pak."
Louis menutup mata kirinya. Tangan kanannya maju ke arah depannya. Dia kemudian memasukkan pegangan (handel) pistol tersebut ke antara jari telunjuk dan ibu jari tangan yang dominan. Dengan ibu jarinya pada satu sisi dari pegangan. Menjaga jari tengah, jari manis, dan kelingking kemudian menggenggam secara aman di sekeliling sisi lainnya tepat di bawah pengaman pelatuk. Setelah Louis menekan pelatuknya. Peluru keluar dari senjata dan melesat menuju lingkaran. Tetapi sayang tembakannya meleset.
"Maaf."
"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku akan mengajarimu cara menggunakan senjata api dengan benar."
Pemilik Cafe mengambil senjata api lainnya di atas meja.
"Lihatlah dengan baik, Louis! Aku akan mengajarimu menjadi penembak jitu."
Louis memperhatikan pemilik Cafe dengan serius. Tiap posisi, gerakan, bahkan hembusan nafas tidak terlewatkan dari pengamatannya.
Pertama pemilik Cafe mensejajarkan diri ke depan dan belakang. Kemudian memastikan bahwa bagian atas dari pos depan setingkat dengan bagian atas dari belakang. Seperti akan memastikan bahwa senjata tersebut rata dan kamu akan memperoleh sebuah "bidikan gambar" yang baik saat kamu mengarahkannya pada sasaran. Kemudian menggenggam grip pistol dengan weapon hand secara penuh konsisten dan erat. Telunjuk mengarah ke depan sejajar dengan laras ke weapon hand dan siap menekan trigger. Sebelum menarik pelatuk dia menutup mata kirinya.
"Dor!"
Peluru keluar menuju gambar lingkaran sangat cepat. Kecepatan bahkan hampir tidak dapat terlihat dengan jelas dengan ke dua mata.
"Keren."
Louis terpanah melihat peluru yang mengenai tepat di tengah lingkaran. Ini pertama kalinya dia memegang senjata api dan juga melihat seseorang yang menembak dengan sempurna. Pemilik Cafe tersenyum kepada Louis. Dia kemudian meletakkan senjata api ke atas meja.
"Lakukan seperti yang aku perlihatkan kepadamu. Aku akan memberikan waktu selama satu minggu. Hasil itu yang akan menentukan kamu bisa menjadi penerus ku."
"Siap laksanakan."
Louis kemudian menjawab dan memberi hormat kepada pemimpin badan keamanan publik Nasional Jepang atau yang di sebut juga dengan PSB. Alasan Louis menerima permintaan pemilik Cafe bukan karena ingin menjadi penerus. Melainkan dia ingin melindungi Jepang dari para teroris atau kejahatan. Louis sangat menyukai negaranya. Membawa Jepang menjadi negara yang aman. Matahari mulai terbit. Pemimpin Cafe tidur di gudang depan. Saat membuka mata dirinya tidak melihat Louis.
"Apakah dia masih di ruangan itu?"
Pemilik Cafe berjalan menuju ruangan rahasia. Ketika berada di sana dia melihat Louis tertidur dengan kepala di atas meja dan senjata api di sampingnya.
"Kamu telah bekerja keras."
Pemilik Cafe berkata kepada Louis yang sedang tidur. Dia kemudian membuka jaketnya dan menutupi tubuh Louis. Membiarkan Louis beristirahat sebentar. Sinar matahari mengenai wajah Louis. Dia membuka mata dengan perlahan. Ada jaket yang membungkus punggungnya. Ini ada jaket pemilik Cafe.
"Aku ketiduran."
Louis melipat jaket pemilik Cafe. Dia meletakkannya di atas meja. Kemudian melangkahkan kaki keluar gedung. Melihat cahaya matahari. Tubuhnya terasa sakit karena belum terbiasa memegang senjata api.
"Kamu sudah bangun?"
Pemilik Cafe berkata kepada Louis.
"Selamat pagi pak."
Segera Louis menyapa pemilik Cafe.
"Selamat pagi. Berbalik lah!"
Pemilik Cafe memberikan perintah kepadanya. Dengan perasaan ragu Louis mematuhi perintah. Pemilik Cafe meletakkan plaster ke lengan Louis.
"Ini plester untuk meredakan nyeri di tubuh. Badanmu pasti sekarang sedang sakit. Aku dulu juga pernah merasakan sepertimu."
"Apakah Tuan belajar menembak sendirian?"
"Tentu saja tidak. Aku memiliki seorang guru yang merupakan anggota FBI. Saat itu aku hanya hidup sebatang kara. Kedua orang tuaku meninggal karena penyakit cacar saat aku masih usia sepuluh tahun. Dia yang merawat dan mengajarkanku militer."
"Penyakit cacar?"
"Iya. Sebenarnya dia terkena virus Variola major saat di medan perang."
"Bukankah Virus Variola mayor menyebabkan cacar yang merupakan penyakit sangat menular dan jika terinfeksi tidak dapat disembuhkan?"
Louis mengatakannya dengan ekspresi wajah yang tegang. Pemilik Cafe menatap ke arah atas. Pandangannya kemudian pergi jauh.
"Benar. Saati itu dia berada di medan perang. Virus tersebut telah digunakan sebagai senjata biologis melawan penduduk asli Amerika dan sekali lagi selama Perang Revolusi Amerika."
Louis duduk di tanah. Kedua kakinya menjadi lemas. Dia pernah melihat berita tentang Perang Revolusi Amerika. Kejadian berdarah yang menyebabkan banyak korban.
"Pemerintah Uni Soviet memulai program pada 1980 untuk mengembangkan virus cacar dalam jumlah besar yang disimpan dalam tangki berpendingin untuk digunakan sebagai agen senjata biologis."
"Ternyata kamu banyak tahu juga nak."
"Itu karena aku suka membaca buku pengetahuan saat berada di rumah."
Pemilik Cafe melihat jam tangannya.
"Masih ada waktu untuk makan pagi sebelum pergi ke sekolah."
"Baik pak."
Pemilik Cafe memberikan nasi kotak kepada Louis.
"Aku membeli makanan ini saat kamu masih tidur."
Louis kemudian membuka nasi kotak tersebut kemudian melihat isinya.
"Tamagoyaki."
"Makanan ini sesuai dengan pertumbuhan di usia muda sepertimu "
Tamagoyaki alias telur dadar menjadi salah satu lauk yang selalu muncul untuk bekal sarapan.
"Sebenarnya makanan ini aku sendiri yang membuatnya."
Louis kembali melihat nasi kotak. Tamagoyaki ini buatan pemilik Cafe. Nasi kotak yang terbuat dari telur dikocok lalu dibumbui dengan gula dan garam kemudian digoreng hingga matang.
"Untuk membuat tamagoyaki ini tidaklah mudah karena kamu memerlukan teknik khusus yakni menggulung telur yang di dadar di atas wajan dengan bentuk yang sempurna agar mudah dipotong-potong. Biasanya tamagoyaki ditambahkan dengan nori alias rumput laut saat masih setengah matang untuk menambah citarasa."
"Aku tidak bisa berbohong ketika berbicara denganmu."
"Selamat makan."
Louis mengambil sumpit. Dia kemudian memakan Tamagoyaki dengan lahap. Pemilik Cafe tersenyum bahagia melihat Louis. Di depan rumah ada Akira yang sedang menungguku.
"Selamat pagi Sena."
"Selamat pagi."
"Apakah kamu mau berangkat ke sekolah bersama denganku?"
Sudah selama tujuh hari kami tidak berangkat ke sekolah bersama. Aku sempat mengira jika Akira menghindari dariku karena kejadian kemarin. Kenangan saat aku ingin mencium Akira kembali teringat.
"Iya."
Aku menjawab perkataan Akira tanpa menatapnya.