Aku dan Kate berjalan menuju Cafe. Ada tulisan menu baru di papan. Kalau tidak salah saat pertama kali datang tulisan ini. Seorang pria membuka pintu.
"Selamat datang di Cafe Zero."
Dua pria menyambut kedatangan kami. Ruangan sama sekali tidak berbeda.
"Selamat malam. Hari ini ada menu terbaru di Cafe Zero. Apakah anda ingin mencobanya?"
Louis tersenyum lebar. Aku terkejut melihatnya.
"Kate. Kamu pasti sudah tahu kalau Louis bekerja di Cafe ini."
Aku berkata kepada Kate.
"Benar."
"Jadi begitu."
Aku menatapnya dengan tajam. Louis kemudian melihatku dan Kate. Senyumannya yang indah kini menghilang. Kate berjalan mendahuluiku.
"Aku mau pesan dua paket menu baru. Benarkan Sena?"
Begitulah Kate. Dari dulu dia selalu bersikap semaunya.
"Iya."
Aku kemudian menjawabnya dan tersenyum.
"Baiklah. Mohon di tunggu."
Kate menarik tanganku menuju ke meja pelanggan. Dia kelihatan tidak nyaman.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Iya. Justru aku yang mengkhawatirkan mu."
Aku tertawa hingga air mata keluar. Kate meminjamkan sapu tangannya. Segera aku menghapus air mataku dengan sapu tangan itu. Beberapa saat kemudian seorang pelayan wanita yang cantik datang dengan membawa pesanan.
"Ini dua paket menu baru hari ini. Boleh di coba."
"Terimakasih."
Kate menjawabnya. Wanita itu pergi. Aku melihat wanita itu menghampiri Louis. Mereka berdua terlihat sangat dekat.
"Ha...ha...ha...!"
Suara tawa terdengar jelas. Louis sedang tertawa. Itu benar kan? Aku baru mengetahuinya. Tapi dia terlihat manis juga saat tertawa.
"Ternyata tidak buruk juga."
"Ada apa?"
"Maksudnya bangunan Cafe Zero ini."
Aku melihat sekitar. Walaupun tidak berubah tetapi aku harus akui kalau bangunan ini sangat bagus.
"Kamu benar. Aku pernah menceritakan Cafe Zero kepada Akira. Dia mengatakan jika nama Cafe memiliki sebuah arti. Bisa dikatakan jika tempat ini bukan hanya sekedar Cafe."
"Aku baru mengetahuinya."
Kalau tidak salah Louis yang membuat hidangan ini. Jadi dia adalah seorang koki. Aku mencoba untuk memakan hidangan yang di buat oleh Louis. Makanan masuk kedalam mulut.
"Enak."
Cita rasanya begitu terasa. Kelembutan teksturnya dan juga aroma makanan yang khas. Ini pertama kali aku memakan hidangan seenak ini. Aku melanjutkan makan.
"Ah, perutku sangat kenyang."
Hidangan dia atas meja telah habis. Aku tidak mengira akan menghabiskannya. Tetapi ada hal yang aku lupakan.
"Gawat! Aku gagal diet. Bagaimana ini?"
Aku menggelengkan kepala seakan ingin pergi menghilang.
"Sena."
Kate memanggil dan menggoyangkan tubuhku dengan cepat. Dia berusaha untuk menyadarkan ku.
"Kate."
Aku menjawab panggilannya.
"Syukurlah kamu sudah sadar."
Kate memeluk tubuhku. Bahu ini basah. Dia menangis.
"Aku hanya terkejut karena telah gagal diet."
Kate mengedipkan mata. Aku berusaha untuk bangun.
"Apakah ada yang dapat saya bantu?"
Seorang pelayan wanita menghampiriku.
"Tidak. Terimakasih."
Aku menjawabnya dengan dingin. Pelayan wanita itu kemudian berjalan pergi. Ketika menatap wajahnya sudah membuat hatiku merasa kesal.
"Bagaimana kalau kita pergi ke taman Toyosu Gururi?"
Kate mengajakku pergi ke tempat lain dan tidak langsung pulang? Aku melihatnya yang sedang menanti jawaban. Ekspresinya sangat imut seperti seekor kelinci. Aku tidak bisa menolaknya.
"Baiklah kita pergi ke sana."
"Yeah."
Aku pergi ke kasir untuk membayar nota. Kate mencegahku dan mengatakan jika dia yang akan membayarnya. Tetapi aku bersikeras menolak dengan alasan janji kami saat pulang dari Cafe Zero. Akhirnya Kate menyetujuinya walaupun dia sedikit sedih.
"Terimakasih atas kunjungannya."
Louis mengatakannya kepadaku dan Kate yang menjadi pembeli. Aku tidak menghiraukannya dan melangkah pergi meninggalkan Cafe Zero. Sekitar tiga puluh menit mobil tiba di tempat tujuan. Ketika turun kemudian aku terpesona melihat pemandangan di depan.
"Wah, indahnya?"
"Benar. Aku pernah mendengar mengenai taman Toyosu Gururi. Tetapi aku tidak mengira tempatnya sebagus ini."
"Kalau begitu aku tidak salah mengajakmu pergi."
Kate berlari dengan perasaan bahagia. Aku berjalan ke arah sisi kanan. Ternyata pemandangan malam kota Tokyo dapat terlihat dari bawah. Kita bisa menikmati Kota Tokyo dengan berbagai aktivitas. Udaranya juga sangat sejuk. Aku dan Kate duduk di kursi panjang.
"Ini minumnya."
Aku menerima minuman kaleng dari Kate. Sebelum datang kemari Kate pergi ke mini market. Dia membeli beberapa minuman kaleng.
"Terimakasih."
"Seandainya kita berdua memiliki kekasih dan pergi bersama."
"Itu tidak mungkin akan terjadi."
Aku melipatkan kedua tangan. Kate menghela nafas dengan berat.
"Kamu benar. Tetapi bukankah kita tidak bisa mengetahui kejadian di masa depan."
"Lihatlah Kate! Ada hujan meteor."
Aku menunjukkan padanya ke langit. Banyak meteor yang jatuh. Kejadian ini jarang sekali. Biasanya fenomena ini terjadi di Jepang sekitar seratus tahun sekali.
"Sejak kecil aku selalu sendirian. Ayah bekerja sebagai kepala rumah sakit. Sedangkan ibu menjadi dokter. Mereka berdua berada di rumah sakit yang sama. Walaupun begitu mereka selalu saja sibuk. Tidak pernah ada waktu untuk bersama denganku. Bahkan ketika hari libur mereka tetap bekerja. Setelah bertemu denganmu saat itu aku tidak merasa kesepian lagi. Kita selalu bermain bersama. Tentunya dengan Akira."
Kate tertawa setelah bercerita. Aku hanya mengetahui dia merupakan gadis yang ceria dan pandai. Banyak yang tidak aku ketahui tentang sisi lainnya.
"Aku juga senang bisa menjadi temanmu. Sebenarnya aku juga sering kesepian. Aku tidak memiliki saudara. Meski memiliki Akira sebagai teman. Tetapi aku tidak bisa menceritakan hal kepadanya. Mungkin karena kami tidak sesama jenis."
Kate memegang kedua tanganku. Kami berdua berjanji apapun yang terjadi di masa depan, ikatan persahabatan yang telah terjalin diantara kami tidak akan pernah putus. Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat. Angin semakin dingin. Aku menggertakkan gigi karena kedinginan. Kate juga tidak jauh berbeda denganku.
"Bagaimana kalau sekarang kita pulang?"
Aku mengajak Kate. Dia menganggukkan kepala dan menyetujuinya. Aku menarik tangan Kate untuk membantu berdiri. Pakaian bawahan kami kotor terkena debu. Aku dan Kate berjalan menuju ke mobil dengan saling bergandengan tangan.
"Kita akan pergi kemana, nona?"
Sopir ayah bertanya kepadaku.
"Kita akan mengantarkan Kate pulang ke rumah."
"Siap laksanakan."
Mesin berbunyi. Mobil berjalan menuju rumah Kate. Genggamanku dan Kate tidak terlepas hingga saat di dalam mobil.
"Secara kebetulan kita bertemu dengan Louis."
Kate memulai pembicaraan. Beberapa saat yang lalu suasana terasa sepi.
"Dia adalah koki di Cafe Zero. Tentu saja kita bertemu dengannya."
Aku menjawab perkataan Kate. Dia tersenyum canggung.
"Benar juga. Tetapi aku masih tidak mengira jika Louis bekerja menjadi koki di sana."
Kate berkata kepadaku dengan ekspresi wajah ingin tahu.
"Bukankah tidak ada larangan seorang murid bekerja paruh waktu?"
"Tetapi sekolah kita adalah sekolah favorit di Jepang. Murid yang masuk di di sekolah berasal dari keluarga yang kaya."
Aku sempat lupa jika sekolah kita merupakan sekolah favorit di Jepang.