Aku membaca tulisan tentang anggota yang akan bertanggung jawab menemani kompetisi. Ada ketua, wakil, sekertaris, dan bendahara. Ini sama seperti jabatan anggota OSIS.
"Daftar nama yang berada di sini tidak lain adalah ketua kelas diantara kalian."
Ketua kelas kemudian berdiskusi. Ada yang sudah berpengalaman dan juga masih baru menjabat sebagai ketua kelas sepertiku. Louis mengangkat tangan kanannya.
"Aku merekomendasikan Sena untuk menjadi ketua penanggung jawab kompetisi."
Semua orang menatap Louis. Aku terkejut mendengar perkataannya. Apakah dia sengaja melakukan ini kepadaku? Aku baru saja menjadi ketua kelas. Semua terasa baru.
"Sena."
Ketua OSIS membuka buku besar. Dia pasti sedang melihat data milikku.
"Sena baru saja menjadi ketua kelas. Apakah kamu yakin untuk menjadikannya ketua penanggung jawab kompetisi?"
"Iya. Aku yang akan menjadi jaminannya."
Louis menjawabnya dengan tatapan yang serius.
"Baiklah kalau begitu. Atas rekomendasi dari Louis bahwa Sena yang akan menjadi ketua penanggung jawab kompetisi. Selanjutnya kita memilih wakilnya."
"Bagaimana kalau Fujiwara dari kelas tiga. Selain dia pandai dan juga sudah lebih berpengalaman. Bisa membantu ketua yang masih baru."
"Setuju."
"Iya."
"Sudah di putuskan. Fujiwara yang menjadi wakil penanggung jawab kompetisi. Mohon bantuannya Fujiwara."
"Siap ketua OSIS."
"Untuk sekertaris penanggung jawab. Apakah boleh saya yang menanggung jawaban itu?"
Sekertaris OSIS mengajukan diri. Perhatian semua anggota berubah. Mereka memperhatikan Sai yang ingin menjadi sekertaris penanggung jawab kompetisi.
"Menjalani dua pekerjaan sekertaris tidak mudah."
"Aku akan berusaha keras dan tidak akan mengecewakan semuanya."
"Sesuai dengan permintaan dari Sai. Dia akan menjadi sekertaris OSIS."
Setelah tiga jam mengadakan rapat. Penanggung jawab kompetisi sudah di putuskan. Louis keluar dari ruangan.
"Mohon kerjasamanya."
Aku menarik tangan Louis dan membawanya menuju ke lorong sekolah. Melihat di sekeliling tempat. Ketika tidak ada seseorang yang melewati lorong kemudian aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya.
"Aku tidak memintamu untuk merekomendasikan ku sebagai ketua penanggung jawab."
"Memang benar aku sendiri yang merekomendasikannya."
"Karena itu kenapa kamu melakukannya. Apakah kamu ingin mempermalukan ku di depan orang jika gagal menjadi ketua?"
"Tentu saja tidak. Kamu pikir aku orang yang suka menindas orang."
"Lalu kenapa kamu memilih ku?"
Aku bertanya kepada Louis. Dia hanya diam dan tidak menjawab. Selama beberapa saat aku menunggunya. Tetapi suasana tetap hening.
"Pokoknya kamu harus menjadi ketua penanggung jawab dengan baik."
Setelah mengatakanya kepadaku kemudian dia pergi. Aku menendang dinding yang berada di lorong sekolah. Perkataan itu bukan jawaban yang aku inginkan. Louis pasti sengaja melakukannya.
"Kamu sudah kembali."
Steven berkata kepada Louis. Temannya tidak tahu jika dirinya baru saja mengikuti rapat penting.
"Ayo kita pulang."
Louis kemudian menjawab. Dia mengambil tas dan mengajak temannya untuk pulang.
"Bukannya sekarang belum waktunya pulang?'
"Hari ini tidak ada pelajaran. Aku ingin pulang dan tidur karena nanti malam harus bekerja."
Akhirnya Steven mengikuti Louis pulang. Mereka berdua melewati pagar sekolah. Dinding itu cukup tinggi. Tetapi banyak yang dapat memanjatnya terutama siswa pria.
"Ambil tas ini Louis!"
Louis menerima tas yang di lempar oleh Steven.
"Kenapa aku menjadi pesuruh mu?"
Louis memperotes Sikap temannya. Steven memanjat pagar kemudian turun dari atas.
"Apakah kamu lupa kalau kita ini?"
"Teman."
"Syukurlah kalau kamu masih mengingatnya."
Louis berjalan meninggalkan Steven.
"Tunggu dulu Louis."
Steven mengejar temannya. Ketika berjalan pulang kemudian Steven menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?"
"Kenapa aku bisa melupakannya. Mobilku?"
Steven berteriak dengan kencang. Dia lupa jika mobilnya masih di tempat parkir sekolah.
"Tenang saja. Kamu bisa mengambilnya besok. Aku akan mengantarmu ke sekolah dengan menaiki sepeda."
Louis berkata kepada Steven.
"Apakah ini namanya menghibur?"
Steven merasa sedih karena memiliki teman yang tidak peka. Bahkan Louis tidak dapat menghiburnya dengan baik. Perkataannya selalu sarkasme.
"Sekarang kita akan berpisah. Aku akan menghubungi sopirku untuk menjemput."
"Sampai jumpa besok."
"Bye."
Louis masuk ke dalam rumah. Dia segera mengganti pakaiannya kemudian tidur.
"Kamu kenapa Sena?"
Akira bertanya kepadaku. Hukumanku telah berakhir. Mulai hari ini aku bisa pulang bersama dengan Akira.
"Tidak apa-apa."
Aku kemudian menjawab. Akira menenggelamkan wajahnya. Maaf Akira. Ini adalah permasalahan antara aku dan Louis. Setiap aku berbohong kepada Akira dan hatiku terasa sakit. Aku memang gadis yang egois. Saat di dalam kamar banyak yang aku pikirkan. Menjadi ketua penanggung jawab kompetisi sangat tidak mudah. Apakah aku harus meminta bantuan kepada Akira? Tidak. Akira jangan sampai mengetahuinya. Aku memegang handphone. Menulis pesan chat LINE kepada Kate. Tidak lama kemudian Kate menghubungiku dengan video call. Aku menerima panggilan darinya.
"Halo. Selamat malam Kate."
"Apakah yang kamu tulis itu benar?"
Suara Kate bertanya kepadaku sangat keras.
"Hush! Suaramu terlalu keras."
"Maaf."
Aku menghela nafas. Pada akhirnya aku harus menceritakan ini kepada Kate. Hanya dia teman baik yang aku punya sekarang.
"Benar. Semua itu karena ulah Louis."
"Louis?"
"Benar."
Kate menatapku dengan penuh banyak arti.
"Apakah kamu mau menceritakannya kepadaku?"
Aku kemudian menceritakan semua kepadanya. Kate sempat terkejut dan tidak mempercayai perkataanku. Tetapi sebagai teman akhirnya dia percaya.
"Kalau begitu. Bagaimana kita membahasnya kembali di Cafe Zero?"
Aku berpikir jika perkataan dari Kate benar. Jika dia datang ke rumahku pasti akan membuat Akira curiga. Walaupun dia malam ini tidak menginap karena ayah dan ibu sudah pulang. Tetapi rumah kami bersampingan. Akira bisa mengetahui Kate yang datang ke rumahku.
"Aku mengerti."
"Baiklah Aku akan datang ke rumahmu."
"Tunggu dulu."
"Ada apa Sena?"
"Lebih baik aku yang datang ke rumahmu."
"Kalau begitu aku menunggumu di rumah."
"Sampai bertemu kembali."
"Bye."
Aku kemudian menutup panggilannya. Segera aku mengganti pakaian dan pergi ke tempat Kate dengan meminta sopir untuk mengantar. Ketika mobil berjalan aku melihat seseorang yang sedang mengawasiku.
"Mungkin aku salah lihat."
Aku kemudian menutup jendela mobil. Bangunan megah berwarna putih dan pagar yang berbentuk naga berada di depan. Mobil masuk ke halaman dan berhenti di depan rumah.
"Sena."
Kate berlari menghampiriku setelah turun dari mobil.
"Kamu bisa terjatuh kalau berlarian."
"Aku sangat merindukanmu."
"Bukankah kita baru saja bertemu saat berada di sekolah?"
"Kamu memang benar."
Aku dan Kate kemudian tertawa bersama. Di dalam mobil Kate duduk di sampingku.
"Apa tidak masalah kamu pergi tanpa mengganti pakaianmu?"
"Tidak apa-apa."
Kate menjawabnya dan menggelengkan kepala. Jika dia mengatakan seperti itu berarti aku tidak perlu bertanya lagi.
"Itu dia Cafe Zero."
Tanpa di sadari aku mengucapkan nama Cafe tersebut.
"Iya."
"Bisakah anda menghentikan mobil ini di depan Cafe itu?
"Baik."