Chapter Ke Dua Puluh : Pangeran Slim Dunk

1027 Words
"Selamat pagi Akira." Teman satu bangku dengan Akira yang bernama Hikaru menyapanya. "Selamat pagi." Akira menjawab sapaan temannya itu. Hikaru melihat Akira yang tersenyum. Sepertinya ada sesuatu hal yang baik terjadi. "Pagi yang cerah." "Benar. Pagi yang cerah." Akira menjawabnya setelah menatap ke atas. Awan terlihat berwarna putih. Tidak ada juga angin. "Aku dengar kamu akan ikut kompetisi piano?" Hikaru bertanya kepada Akira. "Iya. Apakah berita itu telah tersebar?" "Mungkin." Akira dan Hikaru tertawa bersama. "Masih ada setengah jam lagi untuk masuk. Bagaimana kalau kita pergi ke kantin?" Kate mengajakku ke kantin. Aku menganggukkan kepala. Saat berjalan menuju ke kantin dan aku bertemu dengan seseorang yang seharusnya tidak ingin aku temui. "Selamat pagi Sena." Steven menyapaku. "Kenapa kalian berdua mengikutiku?" Kedua pria yang berdiri di depanku membuka mulutnya dengan lebar. Kate menatapku kemudian kedua pria itu dengan ekspresi wajah yang bingung. Hanya Kate yang tidak mengetahuinya. "Apa yang tadi kamu bilang?" Louis berjalan mendekatiku. Aku melangkah kaki mundur ke belakang. "Dasar pria sok tampan!" "Aku memang pria yang tampan. Banyak gadis yang jatuh cinta kepadaku." "Gadis itu hanya saja tidak mengetahui sifat mu yang sebenarnya. Aku kasihan kepada mereka yang mengagumi pria sepertimu." "Coba katakan sekali lagi!" Suasana menjadi panas. Kate membuka kipasnya dan mendinginkan wajahnya. "Louis. Bukankah kita ingin pergi ke gedung olahraga. Mereka pasti sedang menunggu mu." Steven mencoba meredam amarah Louis. Setiap mereka berdua bertemu hanya pertengkaran yang terjadi. Louis berjalan pergi. Ketika mereka berdua melangkahkan kakinya dan Steven menatap Kate. Wajahnya kemudian tersipu malu. "Ayo kita ke kantin." Aku mengajak Kate ke kantin. Dia berjalan mengikutiku. "Sebenarnya gadis itu kenapa? Dia selalu mengajakku bertengkar." Louis berkata kepada Steven. Wajahnya terlihat sangat marah. "Sena mengatakan jika kamu selalu mengikutinya. Kamu tidak benar melakukan hal itu kan?" "Kamu kira aku ini seorang penguntit. Untuk apa mengikutinya. Dia bukan gadis impianku." "Kalau begitu gadis yang bagaimana termasuk dalam kategori mu?" "Dia seorang gadis yang cantik dan lembut. Rambutnya panjang berwarna pirang. Jika aku bertemu dengannya dan saat itu aku pasti akan mengatakan mengatakan perasaanku." Sikap Louis penuh dengan percaya diri. Steven menepuk kedua telapak tangannya. Dia memberikan pujian kepada Louis. Aku duduk di kursi kemudian melemparkan tas ke atas meja. Setelah beberapa saat barulah aku menyadari jika Kate tidak ada di belakangku. Aku kemudian melihat di sekitar. "Kamu sedang mencari siapa, Sena?" Suara itu adalah milik Kate. Aku melihatnya yang sedang membawa satu mangkuk ramen dan segelas s**u. "Kamu dari mana saja?" "Aku tadi membeli makanan dan minuman." Kate menjawabnya dengan menunjukkan tempat pemesanan. Aku kemudian berdiri dari kursi. Melihat menu hidangan terasa tidak bersemangat. Padahal pagi ini aku belum makan pagi. Akira berangkat ke sekolah lebih awal karena hari ini merupakan jadwal piket nya. "Ini semua karena orang itu." Aku sempat lupa kalau sekarang berada di kantin. Semua memperhatikan ku yang baru saja berbicara sendirian. Mereka pasti menganggap aku sebagai orang yang aneh. Aku memesan makanan dan minuman sama seperti yang di beli oleh Kate. Setelah pesanan sudah datang kemudian aku kembali ke tempat dudukku. Aku menghela nafas panjang. "Kenapa kamu membuang nafas?" "Sepertinya hari ini keberuntungan tidak berpihak kepadaku sehingga bertemu dengan pria itu." "Apakah yang kamu maksud pria itu adalah Louis?" "Benar. Aku ingin sekali menjambak rambutnya." "Sebentar Sena. Kamu pasti sedang membuat lelucon." Wajah Kate terlihat pucat. Dia kemudian menundukkan kepala. "Kamu kenapa Kate?" Kate tidak menjawab pertanyaanku. Ada seseorang yang memegang bahuku dengan erat. Aku kemudian membalikkan tubuhku dan melihat siapa orang yang telah memegang bahuku. Setelah mengetahuinya dan segera aku memalingkan wajah. Melihat ke arah lain. Ternyata orang itu tidak lain adalah Louis. Musuhku. Aku berusaha untuk menghindarinya. "Mau pergi kemana kamu? Aku tadi mendengar ada seseorang yang ingin menjambak rambutku." Louis berkata kepadaku. "Sepertinya kamu salah mendengar." Aku kemudian menjawabnya dan tersenyum. "Mana mungkin aku salah mendengar. Jelas aku berdiri di belakangnya." Louis berusaha menyudutkan ku. Aku memikirkan cara untuk kabur. Tetapi setelah aku mendapatkannya dan aku melihat Kate. Dia adalah temanku. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Sekarang aku masih ingin hidup. "Maafkan aku harus meninggalkanmu, Kate." Aku mengatakannya dengan nada suara yang pelan. Segera aku menepis tangan Louis yang masih memegang bahuku. "Kamu mau kabur. Aku tidak akan membiarkanmu pergi untuk kedua kalinya." Louis ingin meraih tanganku. Aku menginjak kakinya. Dia mengerang kesakitan. Ini saatnya aku terlepas dari genggamannya. Aku kemudian berlari kencang meninggalkan kantin. Di gedung olahraga ada Steven yang baru saja tiba. "Di mana ketua? Bukankah kamu selalu bersamanya." Teman team bertanya kepada Steven. "Ketua ada urusan penting. Dia akan segera datang. Bagaimana jika kita latihan dulu?" "Baiklah. Padahal kami semua sedang menunggu ketua." Semua anggota memulai berlatih. Steven mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. "Kamu pergi ke gedung olahraga saja dulu. Aku nanti menyusul mu." "Tunggu dulu Louis. Apakah yang harus aku katakan kepada anggota team?" "Kamu bisa memberi alasan kepada mereka." Louis menjawabnya lalu pergi. Steven menutup mata. Selalu saja temannya bersikap seenaknya. Untung saja dia dapat menjawab pertanyaan dari teman teamnya. Tiga puluh menit kemudian. "Bukankah itu ketua?" Salah satu anggota team mengatakanya. Louis berdiri di depan pintu. Steven merasa senang karena temannya telah datang. "Ketua." Semua anggota team menghampiri Louis. Mereka menanyakan kemana saja dan apa yang di lakukan oleh ketuanya sehingga terlambat datang. Louis menjawab jika ketua OSIS memanggilnya. "Ketua akan ikut kompetisi renang? Bukankah kita akan menjalani pertandingan antar sekolah." Seorang anggota team yang mendapatkan julukan Pangeran Slim dunk bertanya kepada Louis. "Benar. Kepala sekolah yang memintaku. Karena itu aku tidak bisa menolaknya." "Menjalani dua bidang dalam satu kompetisi itu sangatlah sulit. Lebih baik ketua mempertimbangkan kembali." Anggota team lainnya memberikan nasihat. Mereka semua mengkhawatirkan ketuanya. "Mungkin akan sulit tetapi aku tidak ingat melarikan diri." Setelah mendengar perkataan Louis akhirnya semua anggota team menerima keputusan tersebut. Louis mengambil bola basket di keranjang. Dia kemudian melakukan gerakan yang indah dan bola masuk. Anggota team terpanah melihat cara bermain Louis. Bahkan pangeran Slim dunk bertepuk tangan untuk ketua. Steven tersenyum lebar dan beranggapan jika Louis telah kembali. Pertemuan dengan Sena tadi pagi membuat Louis berubah. Saat jam pelajaran ada dua orang yang tidak mengikuti pelajaran. Mereka berdua tidak mendapatkan teguran dari guru karena kepala sekolah yang memintanya untuk latihan. Suasana menjadi hening ketika Louis dan Steven tidak berada di dalam kelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD