"Kenapa aku harus kemari?"
Aku berkata kepada diriku sendiri. Sebenarnya beberapa jam yang lalu dilaksankan pemilihan ketua kelas. Padahal aku sudah memutuskan untuk tidak ikut serta dalam pemilihan. Tetapi Akira yang mengajukan aku sebagai calon ketua kelas. Ada tiga siswa yang menjadi kandidat calon ketua kelas. Pemilihan ketua kelas kemudian di adakan. Namaku mendapatkan jumlah terbanyak. Pada akhirnya kelas memutuskan untuk menjadikanku sebagai ketua kelas. Tetapi tidak lama kemudian ketua OSIS memintaku untuk memberikan data siswa kelas yang mengikuti kompetisi. Aku menghela nafas sebelum mendorong pintu gedung olahraga. Ada sekelompok team basket yang sedang berlatih. Perlahan aku melangkahkan kakiku menuju kesana.
"Louis. Lihatlah siapa yang datang!"
Steven memanggil Louis. Bola kemudian di berikan kepada anggota team lain. Louis menatap wajahku. Aku kemudian menghentikan langkah karena gugup. Kenapa aku bersikap seperti ini? Dia adalah musuhku. Tapi jantungku berdetak dengan kencang. Dia menghampiriku.
"Ada apa kamu kemari?"
Suaranya terdengar dingin. Aku mengangkat kepala. Dia terlihat sangat menakutkan. Kenangan saat menginjak kakinya teringat dan membuatku tersenyum lebar. Louis mengerutkan keningnya. Dia membenciku yang tersenyum.
"Ketua OSIS memintaku untuk menyalin nama murid yang akan ikut kompetisi."
Aku melemparkan selembar kertas. Setiap siswa yang ikut harus mengisi nama dan biodata pribadi.
"Mana penanya! Aku bisa menulis jika memiliki alat tulis."
Louis berkata kepadaku. Aku lupa untuk memberikan pena kepadanya.
"Ini."
Segera aku memberikan pena kepadanya. Louis duduk di kursi. Dia mengisi data yang aku berikan. Jam pulang berbunyi. Para siswa wanita masuk ke dalam gedung. Jumlahnya sangat banyak. Memang benar dia merupakan salah satu primadona di sekolah dan juga rival dari Akira.
"Louis keren sekali."
Para siswa wanita meneriaki Louis. Aku tidak tahu kenapa siswa wanita memujinya keren. Padahal dia hanya duduk dan menulis. Tidak lama kemudian Louis menyerahkan lembaran kertas. Dia kemudian berjalan melewati ku tanpa berbicara apapun. Sikapnya sangat sombong. Aku meremas lembaran itu dan pergi. Terlalu lama berada di sana dapat membuatku semakin kesal.
"Kenapa Sena menemuimu?"
Steven bertanya kepada Louis. Mereka berdua melihat ke arah pintu.
"Dia memintaku untuk mengisi nama dan biodata diri untuk kompetisi renang."
"Aku merasa penasaran apakah Sena juga mengikuti kompetisi?"
"Bukankah kamu bisa menanyakannya secara langsung."
Steven menggarukkan kepala. Bertanya kepada Sena yang membenci temannya sama saja dengan menyerahkan diri masuk ke dalam kandang singa. Louis meninggalkan gedung olahraga. Dia mendekatkan wajahnya pada air yang keluar ke atas. Ketika memejamkan mata dan sosok Sena hadir dalam bayangan. Saat marah wajah Sena terlihat imut. Seandainya saja pertemuan pertama mereka tidak terjadi karena salah paham. Apakah dia dan Sena dapat berteman dengan baik? Tetapi itu tidak mungkin terjadi. Sena berteman baik dengan Akira yang merupakan rivalnya. Mereka berdua sudah dekat sejak masih kecil. Ada dinding yang tinggi menjadi jarak pemisah antara dirinya dan Sena. Louis mematikan kran. Air berhenti keluar. Louis mengeringkan wajahnya dengan kain handuk. Dia mengganti pakaian olahraga dengan seragam. Hari sudah sore. Sudah waktunya untuk bekerja. Semua siswa juga sudah pulang. Setelah menggunakan seragam kemudian dia mengambil tas di kelas. Louis melihat tas milik Steven sudah tidak ada. Itu berarti temannya sudah pulang terlebih dahulu.
"Aku pulang."
Di rumah tidak ada orang. Suasana terasa hening. Ayah dan ibu bekerja. Sedangkan adiknya pasti sedang bermain di rumah teman. Louis bergegas mandi. Dia menggunakan seragam kerjanya. Ketika berdiri di depan cermin dan dia melihat dirinya seperti seorang petugas kepolisian. Sebenarnya alasan dia bekerja di tempat itu karena tertarik dengan nama Cafe itu. Baginya Zero merupakan nama yang sangat bagus.
"Selamat datang di Cafe Zero."
Rui memberikan sambutan kepada pengunjung.
"Lama tidak bertemu, Rui."
"Louis."
Rui kemudian menghampiri teman kerjanya. Sudah selama dua hari tidak bertemu. Dia sangat merindukan Louis.
"Kamu pasti kesulitan bekerja sendirian."
Louis kemudian mengatakanya. Rui menggelengkan kepala. Dia menunjukkan jika dirinya baik-baik saja.
"Kemarin bos membantuku. Bagaimana dengan liburannya?"
"Aku dan Steven pergi ke pemandian air panas. Kami juga tidur di penginapan."
"Pasti sangat menyenangkan."
"Iya."
Louis menceritakan semuanya. Dia juga bercerita mengenai penginapan yang terlihat menyeramkan.
"Aku sangat ingin melihat Steven yang sedang ketakutan."
"Kamu benar. Jika kembali mengingatnya dapat membuatku ingin tertawa."
Wajah Louis sangat bahagia. Ini pertama kalinya Rui melihatnya. Dia lalu ikut tersenyum.
"Aku akan membuat menu baru yang ku pelajari saat liburan."
Louis berkata kepada Rui. Dia kemudian menggunakan celemek dan menggulung lengan bajunya. Tidak lupa menggunakan topi koki. Dengan kelenturan tubuhnya, Louis membuat bahan dasar yang biasa menjadi kue istimewa dan enak. Papan kosong yang di simpan dari kemarin sekarang kembali terpasang. Louis menuliskan potongan harga setiap pembelian dua paket menu baru. Pelanggan setia Cafe Zero mulai berdatangan. Mereka mengetahui jika pelayan tampan yang menjadi idola mereka telah mulai lagi bekerja.
"Selamat datang di Cafe Zero. Mau pesan apa? Hari ini ada potongan harga dengan membeli dua paket menu baru."
"Baik. Aku pesan dua paket menu baru dan satu cangkir teh hijau."
"Siap di laksanakan. Mohon menunggu."
Pembeli lainnya datang.
"Selamat datang di Cafe Zero. Mau pesan apa? Hari ini ada potongan harga dengan membeli dua paket menu baru."
Louis kembali menawarkan menu barunya. Seorang gadis cantik berada di hadapannya.
"Aku pesan seperti yang kakak katakan."
"Siap di laksanakan. Mohon menunggu."
"Tunggu dulu."
Gadis itu memanggil Louis.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Louis bertanya kepada gadis itu. Rui menatap
"Boleh minta tanda tangannya."
Gadis itu menyodorkan kertas dan pena kepada Louis. Semua orang terkejut melihatnya dan tidak terkecuali Rui. Louis mengedipkan mata sekali. Meminta tanda tangan kepada seseorang yang di kagumi membutuhkan keberanian besar. Sekarang Louis merasakan menjadi seorang idola sesungguhnya. Louis menerima kertas dan pena tersebut. Dia mencoret di kertas kosong.
"Terimakasih."
Gadis itu menerima pena dan kertas yang bertuliskan tanda tangan Louis. Dia tersenyum bahagia karena mendapatkan yang di inginkan. Setelah itu dia berjalan menuju meja. Pelanggan berganti.
"Bagaimana kalau kita sekarang menutup Cafe?"
Rui bertanya kepada teman kerjanya. Louis melihat jam tangan. Memang sudah waktu untuk menutup Cafe.
"Iya. Sebaiknya kita segera menutupnya."
Sebelum Cafe tutup dan para pelayan Cafe membersihkan ruangan. Ada yang mencuci piring maupun gelas, membersihkan meja, dan mengepel lantai. Louis pergi ke ruang ganti. Dia melepaskan seragam dan mengganti dengan pakaiannya yang di taruh dalam tas.
"Kamu sudah selesai?"
Rui bertanya kepada Louis.
"Iya."
"Kalau begitu aku juga akan mengganti seragam ini."
Rui berlari masuk ke dalam. Louis masih berdiri di tempatnya. Seorang pria tua masuk ke dalam Cafe.
"Maaf, Cafe sudah tutup."
Louis berkata kepada pengunjung. Dia sangat terkejut ketika melihat pria tersebut. Orang itu ternyata adalah pemilik Cafe Zero.
"Apakah kamu memiliki waktu? Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu."
Louis menganggukkan kepala. Dia menerima perintah dari pemilik Cafe.