Pelayan Cafe yang lain pulang terlebih dahulu. Mereka memberi hormat kepada pemilik Cafe sebelum pulang. Rui sudah mengganti pakaiannya. Dia berjalan keluar. Tidak ada Louis di tempatnya. Rui pergi untuk mencari teman kerjanya. Saat berada di luar dia melihat Rui bersama dengan pemilik Cafe. Segera dia menghampiri mereka.
"Selamat malam pak."
Rui memberi salam kepada pemilik Cafe.
"Lama tidak bertemu Rui."
"Iya pak."
Di dalam hati Rui tidak nyaman. Padahal kemarin pemilik Cafe yang membantunya saat Louis tidak masuk. Sekarang pria tua itu mengatakan lama tidak bertemu.
"Maaf Rui. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu pulang."
Louis berkata kepada Rui.
"Tidak apa-apa.'
Rui menjawabnya dengan melambaikan tangan ke kanan dan kiri. Louis merasa bersalah karena tidak menepati janji. Akhirnya malam ini Rui pulang sendirian. Pemilik Cafe mengajak Louis ke restoran tidak jauh dari Cafe Zero.
"Silahkan di pilih menunya."
"Baik pak."
Louis terlihat sangat gugup ketika makan malam bersama dengan pemilik Cafe. Banyak menu hidangan di restoran. Karena tidak bisa berkonsentrasi akhirnya Louis tidak dapat memilih. Pemilik Cafe mengetahui kesulitan Louis. Dia lalu menunjukkan buku menu dengan jari telunjuknya.
"Bagaimana jika memesan menu hidangan ini? Sepertinya enak."
"Baik pak."
"Kamu tidak perlu merasa gugup ketika berbicara denganku. Bagaimanapun kita memiliki hubungan kerja."
Louis memahami maksud perkataan itu. Pemilik Cafe merasa senang karena dirinya tidak salah dalam memilih untuk menjadikan Louis sebagai penerusnya.
"Terimakasih pak."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu. Apakah kamu menyukainya?"
"Iya pak. Saya sangat menyukainya. Karena ini adalah salah satu impian saya sejak kecil."
"Bagus kalau begitu. Sebenarnya aku ingin menawarkan pekerjaan tambahan untukmu. Kamu juga masih bisa bekerja di Cafe seperti biasanya."
Louis terdiam sesaat. Dia memikirkan penawaran pekerjaan tambahan tersebut. Sebenarnya gaji di Cafe hanya cukup untuk biaya sekolah. Sedangkan untuk biaya makan dan kebutuhan pribadi Louis masih meminta ke dua orang tuanya. Dia juga ingin membantu biaya sekolah adiknya. Tetapi bagaimana jika itu akan membuat sekolahnya terganggu? Setelah mempertimbangkan dengan baik pada akhirnya Louis memberanikan diri untuk bertanya.
"Apakah saya boleh tahu pekerjaan itu?"
"Aku ingin kamu menjadi penerus ku."
"Tetapi itu permintaan yang sulit."
"Kamu bukan menjadi pemilik Cafe Zero melainkan bekerja sebagai pemimpin kepolisian Jepang. Biro Keamanan Publik atau disebut juga dengan nama PSB."
"Tunggu sebentar pak."
Louis memukul meja dengan ke dua tangannya karena terkejut. Tidak lama kemudian dia menyadari dengan perbuatan yang baru saja dia lakukan.
"Maaf."
Louis meminta maaf atas perbuatannya. Dia kembali duduk di kursi dan berusaha untuk menenangkan diri.
"Kamu tidak perlu meminta maaf. Sepertinya aku terlalu cepat untuk mengatakan. Semua orang pasti terkejut jika mendengar perkataanku."
"Kenapa bapak memilih saya?"
"Karena kamu memiliki jiwa kepemimpinan dan sikap yang berani. Hanya kamu yang dapat menjadi penerus ku. Aku ingin kamu menerima permohonan ini."
Pemilik Cafe menundukkan kepala. Louis tidak mungkin dapat menolak permintaan tersebut. Dia juga tidak ingin kehilangan pekerjaan di Cafe Zero.
"Tetapi saya belum pernah bekerja di kepolisian."
"Aku akan merekomendasikan kamu untuk masuk ke anggota PSB. Jika suatu saat nanti kamu tidak menginginkannya dan kamu boleh mengundurkan diri."
"Baik pak. Aku bersedia melaksanakannya."
"Terimakasih. Tetapi sebelum itu aku akan mengajarkanmu dasar untuk menjadi anggota kepolisian Biro Keamanan Publik."
Lampu kamar menyala. Setelah menjadi ketua kelas sekarang banyak tugas sekolah yang harus di kerjakan. Terdengar suara ketukan pintu.
"Silahkan masuk."
Akira masuk ke dalam kamar. Dia berjalan mendekatiku.
"Kamu belum tidur?"
Aku menggelengkan kepala.
"Masih ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan malam ini."
"Mau di bantu?"
"Tidak. Aku akan mengerjakannya sendiri."
Aku kembali mengerjakan tugas. Akira menemaniku dan duduk di samping. Waktu telah berlalu. Akhirnya aku telah menyelesaikan semua tugas. Tubuh ini terasa kaku karena terlalu lama duduk. Aku mencoba untuk meregangkan kedua tangan. Akira tertidur pulas. Padahal dia sedang tidur tetapi wajahnya tetap terlihat tampan. Ini sangat tidak adil. Perlahan aku memegang wajahnya. Kulit putih dan halus seperti wanita. Aku melihat ke dua bulu matanya yang panjang dan lentik. Alisnya tebal. Bibirnya yang tipis memerah seperti buah delima. Aku kemudian mendekatkan diri ke wajahnya. Saat ingin memberikan sentuhan lembut di bibirnya kemudian Akira terbangun. Kami saling menatap. Aku segera kembali ke tempat dudukku. Merapikan rambut yang agak berantakan. Akira berdiri. Tanpa berkata apapun dia meninggalkan kamarku dan menutup pintu. Aku menyesal karena telah ingin menciumnya.
"Dasar bodoh. Kenapa kamu melakukannya?"
Aku memukul kepala dengan ke dua tangan ini. Di balik pintu ada Akira yang sedang berdiri. Dia memegang dadanya. Sekarang dia dapat mendengar jelas jantungnya yang berdetak dengan cepat. Wajahnya juga menjadi sangat merah. Perasaan ini seperti tidak dapat di sembunyikan. Kejadian saat Sena ingin menciumnya masih teringat dengan jelas. Sebenarnya Akira saat itu belum tertidur. Dia hanya memejamkan mata karena lelah. Tetapi ketika membuka mata dan melihat Sena yang akan menciumnya membuat Akira juga ingin melakukannya. Tetapi dia yang masih setengah sadar mencoba untuk menjauh. Akira tidak ingin Sena mengira dirinya sebagai pria yang mengambil kesempatan.
"Aku mencintaimu Sena."
Sebuah kalimat yang terucap untuk teman masa kecilnya. Tetapi sayang sekali Akira tidak berani mengungkapkan perangkat tersebut. Dia takut Sena akan menjauhinya jika tahu Akira menyukai teman masa kecilnya tersebut. Setelah kejadian itu aku tidak dapat tidur. Apakah Akira juga merasakan hal yang sama denganku? Ketika menyukai seseorang dan kita akan selalu memikirkannya. Di saat tidur bayangan Akira selalu ada. Pagi telah tiba. Akhirnya aku tidak bisa tidur. Segera aku mencuci muka. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Aku menggunakan bedak untuk menutupinya. Akira duduk dikursi. Roti dan segelas s**u berada di atas meja. Akira yang menyiapkan sarapan ini.
"Selamat pagi Akira."
Aku mencoba untuk menyapanya. Kejadian kemarin malam harus segera di lupakan.
"Selamat pagi Sena."
Akira kemudian menjawabnya. Aku mengambil satu potong roti bakar di atas meja. Saat memakan roti dan aku melihat Akira sedang memperhatikanku."
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Aku bertanya kepada Akira dengan malu.
"Tidak. Hanya saja kamu terlihat cantik."
Ternyata Akira menyukai gadis yang menggunakan make-up. Baiklah! Mulai hari ini aku akan selalu menggunakan make-up saat di rumah maupun di sekolah. Aku harus terlihat cantik di depannya. Dengan ini Akira akan memujiku cantik. Suatu saat nanti dia pasti mencintaiku. Aku membayangkan Akira yang membawa bunga mawar merah kemudian menyatakan perasaan cinta di halaman sekolah.