Chapter Ke Sepuluh : Hantu Di Sekolah

1025 Words
"Hari ini ibu menemani ayah bekerja di luar kota." "Berapa hari?" Akira kembali bertanya kepadaku. "Sekitar tiga hari." "Kalau begitu aku akan menemanimu." Perkataan Akira membuatku terkejut. Itu berarti Akira ingin menginap di rumahku. Aku dan Akira pernah tidur bersama. Tetapi saat itu kami masih kecil. Aku membayangkan Akira tidur di sampingku dan kami berpelukan. Seperti pasangan pernikahan. Selama beberapa saat aku menggelengkan kepala kemudian menampar wajahku dengan keras. Sekarang aku telah tersadarkan dari lamunan kotor. Akira memperhatikanku. Aku menjadi malu. Dia tadi pasti melihatku yang telah bertingkah aneh. Aku segera meraih s**u yang berada di atas meja kemudian meminumnya hingga habis. "Ah..!" Kemudian menghela nafas dan meletakkan gelas s**u yang sekarang telah kosong ke atas meja. Sepertinya bel mau berbunyi. Kalau begitu aku akan kembali ke kelas. Setelah mengatakanya aku kemudian lari meninggalkan Akira yang masih duduk di kantin. "Aduh." Karena tidak memperhatikan jalan kemudian aku menabrak tubuh seseorang dan kepeleset. Aku melihat orang itu adalah Louis. Dia seperti ingin membantuku tetapi di urungkan. Akhirnya aku sendirian yang terjatuh. "Bruk!" Aku jatuh dalam keadaan terlentang. Louis kemudian berjalan pergi meninggalkanku. Semua orang melihatku. Tidak lama kemudian ada seorang pahlawan yang menarik tanganku dan membantu berdiri. "Akira." Aku memanggilnya kemudian tersipu malu ketika mengetahui pahlawan itu Akira. Teman masa kecilku. "Apakah kamu tidak apa-apa?" "Iya. Terimakasih." Setelah berdiri kemudian aku merapikan seragamku yang kotor terkena debu. Dia lalu mengajakku ke kelas. Aku melihat bangku Louis yang kosong. Ingin sekali aku memberikan perekat di bangkunya sehingga ketika dia duduk dan kursi itu selalu menempel ke tubuhnya. Bel pulang berbunyi. Akira kemudian menghampiriku. "Bagaimana kalau kita pulang bersama?" Akira bertanya kepadaku. Ternyata dia ingin mengajakku pulang. Tetapi hari ini aku mendapatkan hukuman. Semua ini karena Louis. Aku harus membersihkan toilet. "Aku belum selesai mencatat pelajaran." Akira kemudian menatap ke arah buku milikku. Segera aku menutup catatan tersebut dan tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Aku akan pulang terlebih dahulu. Kamu juga harus segera pulang setelah selesai mencatat pelajaran." "Siap." Aku menunjukkan sikap hormat kepada Akira. Dia kemudian membalikkan badannya dan pergi. Setelah sosoknya menghilang lalu aku membuang nafas. "Syukurlah Akira tidak menaruh curiga." Tidak mudah untuk berbohong. Aku sangat tidak pandai dalam memberikan sebuah alasan. Setelah semua teman pulang dan kelas menjadi kosong. Aku lalu berjalan menuju toilet. "Lebih baik cepat aku bersihkan. Kalau pulang kemalaman nanti aku tidak berani pulang." Segera aku meraih tongkat pel dan wadah. Mengambil air lalu menaruhnya ke dalam wadah yang aku bawa. Mengisi air setengah dan memberi pembersih lantai. Setelah selesai kemudian aku membersihkan toilet. Satu jam telah berlalu. Akhirnya aku selesai membersihkan ruangan toilet untuk wanita. Sekarang tinggal ruangan toilet untuk pria. Aku kemudian melihat sekitar. Kalau ada orang yang mengetahuinya pasti akan mengira aku adalah seorang wanita yang m***m. Setelah melihat tidak ada orang kemudian aku masuk ke dalam. "Toiletnya bau sekali." Aku mencium bau tidak sedap di sekitar. Dengan segera aku menutup hidung dengan dua jari kiriku. Ruangan toilet pria terlihat kotor. Tidak seperti ruangan toilet wanita yang bersih. Ketika membersihkannya sangat sulit. Di dalam hatiku berkata jika sekarang aku tahu kenapa Akira tidak mau pergi ke toilet sekolah. Bahkan sebelum berangkat dia ke toilet rumah terlebih dahulu. Kalau aku jadi Akira juga akan melakukan hal yang sama. "Sudah selesai. Sekarang waktunya untuk pulang ke rumah." Aku melihat jam tangan. Sekarang sudah jam sepuluh malam. Butuh tiga jam menyelesaikan ruangan toilet. Ketika meninggalkan toilet kemudian aku melihat lampu di setiap ruangan sekolah perlahan sudah mulai gelap. Seluruh tubuhku menjadi gemetaran. Aku mengambil tasku kemudian berlari pergi meninggalkan gedung sekolah. Ketika berlari tidak tahu kenapa aku melihat sosok seseorang yang berdiri di bawah pohon besar. "Hantu!" Aku berlari ketakutan. Setelah tiba di rumah kemudian aku masuk ke dalam kamar. Menutupi seluruh tubuh dengan selimut. "Apakah hantu itu mengikutiku?" Aku bertanya kepada diriku sendiri. Perasaan ingin tahu dan takut menjadi satu. Setelah beberapa saat memikirkan dan akhirnya aku memutuskan untuk melihatnya lewat jendela. Tidak ada hantu di sana. Aku menghela nafas. Perasaan ini mulai tenang. Jendela yang terbuka kemudian aku tutup dan kembali ke tempat tidur. Sosok yang di takuti kemudian menampakkan diri setelah jendela tertutup. Keesokan harinya terdengar suara di dapur. Aku terbangun dan mengusap kedua mata. "Mungkin itu ibu." Setelah aku mengatakannya kemudian barulah teringat jika ibu berada di luar kota bersama dengan ayah. "Kalau begitu siapa yang sedang berada di dapur?" Aku keluar dari kamar. Turun melewati tangga. Ada sebuah sapu di depan toilet. Segala aku mengambil sapu tersebut. Aku melangkah kakiku dengan perlahan. Sekarang aku telah berada di depan pintu dapur. Tidak lama kemudian pintu dapur terbuka. Aku mengangkat sapu itu dengan tinggi lalu menurunkannya. "Tunggu Sena." Seseorang memanggilku. Sapu yang aku pegang tidak dapat di gerakkan. Suara itu seperti bukan hantu. Aku kemudian membuka mata dengan perlahan. Wajah Akira yang pertama kali aku lihat. Dia sedang memegang sapu. Itu berarti aku tanpa sengaja hampir melukainya. "Maaf." Aku kemudian berkata kepadanya. Akira perlahan merebut sapu itu dariku. "Seharusnya aku yang meminta maaf karena masuk ke rumahmu tanpa menghubungi terlebih dahulu. Kamu pasti sangat terkejut melihat kedatanganku." Akira tidak menyalahkan ku. Dia lalu meletakkan piring yang berada di tangannya ke atas meja. "Aku sudah membuat sarapan untukmu. Walaupun tidak pandai dalam memasak tetapi kalau hanya membuat roti panggang dan telur setidaknya aku masih bisa melakukannya. Ayo, kita sarapan sebelum berangkat ke sekolah." Aku duduk di kursi. Akira kembali pergi ke dapur. Tidak lama kemudian dia membawa satu piring roti panggang yang atasnya ada telur dadar satu gelas s**u dan memberikannya kepadaku. "Terimakasih." Aku segera mengambil roti kemudian memakannya. Akira meminum air putih di dalam gelas. Saat menghabiskan roti ketika itu aku selalu mencuri pandang darinya. Mungkin Akira tidak akan tahu jika aku telah jatuh cinta kepadanya saat pertemuan pertama kali. "Bagaimana jika malam ini aku menginap di sini?" Akira memulai pembicaraan. Dia kembali membahas keinginannya untuk menginap di rumahku. Jika aku kembali menolaknya dan dia pasti akan benar marah. Apalagi kemarin malam aku melihat hantu di sekolah. Kejadian itu kembali teringat. Perasaan takut hadir dalam hatiku. Bagaimana jika hantu itu nanti malam datang kemari? Saat itu di dalam rumah hanya ada aku sendirian. Sepertinya tidak menjadi masalah kalau Akira menginap di rumahku. "Iya. Kamu boleh menginap di rumahku?" "Benarkah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD