"Apakah hidangannya enak?"
Akira bertanya kepadaku. Aku kemudian memotong steak daging dan mengarahkan ke mulut Akira.
"Cobalah!"
Aku menawarkan potongan steak daging. Akira kemudian membuka mulutnya. Potongan steak daging masuk ke dalam. Akira segera menutup mulutnya dan mengunyah steak daging.
"Sangat enak. Aku baru pertama kali memakan daging yang rasa strukturnya lembut dan bumbu rempah khas.
Akira memuji kelezatan steak daging.
"Benarkan? Aku tidak bohong."
Aku kemudian mengatakannya. Akira memang pandai dalam memilih restoran. Aku dan Akira memiliki banyak kesamaan. Salah satunya adalah kuliner. Setiap restoran terbaru tidak akan terlewatkan oleh kami berdua. Akira kemudian memberikan sup iga sapi kepadaku. Aku juga menerima sup tersebut.
"Wah, mereka romantis sekali?"
"Benar-benar pasangan yang serasi."
Banyak orang yang membicarakan ku dan Akira. Tetapi telah terbiasa karena kami berdua dekat sejak kecil. Setelah selesai menghabiskan semua hidangan di meja kemudian aku dan Akira meninggalkan restoran.
"Lain waktu kita pergi ke restoran ini lagi."
"Tentu saja."
Aku menjawab perkataannya. Saat dalam perjalanan pulang kemudian aku melihat Louis berjalan bersama dengan seorang gadis. Usianya seperti sudah masuk universitas. Ternyata musuhku seleranya gadis yang lebih tua. Sayang sekali aku tidak membawa handphone. Ini menjadi kesempatan untuk mengambil gambarnya lalu di pasang Instagramku.
Sepeda Akira telah berhenti di depan rumahnya. Paman yang merupakan ayah dari Akira berdiri di depan pagar.
"Selamat malam paman."
Aku memberikan salam kepada paman.
"Selamat malam Sena. Tidak masuk ke dalam?"
"Sepertinya sudah malam. Besok saja paman."
Aku menolak permintaan dari paman. Hati ini merasa tidak nyaman. Tetapi sekarang aku sudah bukan anak kecil seperti dulu yang selalu bersama dengan Akira. Aku malu kalau harus menginap di rumahnya.
"Baiklah kalau begitu. Seringlah main kesini. Akira sering kesepian karena paman dan bibi sering bekerja hingga larut malam."
"Baik paman."
Setelah mengatakanya kemudian aku berjalan pulang.
"Kamu sudah pulang."
Terdengar suara pria yang tidak asing bagiku. Dia adalah ayahku. Segera aku berlari dan memeluknya.
"Kapan ayah pulang?"
"Ayah sudah pulang saat kamu pergi dengan Akira."
"Akira tadi mentraktirku makan di restoran baru."
"Bagaimana dengan rasa hidangannya?"
"Sangat enak ayah."
"Iya sudah. Sekarang sudah malam. Kamu segeralah tidur dan jangan lupa untuk cuci tangan, kaki dan sikat gigi."
"Baik."
Aku segera naik ke atas setelah mendapatkan perintah dari ayah.
"Kamu selalu memanjakan Sena. Lihatlah dia sekarang sering membantah perkataanku."
Nyonya Hudson berkata kepada suaminya.
"Sudahlah. Sena adalah putri kita satu-satunya. Aku hanya ingin membuatnya bahagia."
Tuan Jack berusaha untuk mendamaikan suasana hati istrinya.
Di depan sebuah rumah yang besar Louis mengantarkan teman kerjanya pulang.
"Sudah sampai. Sekarang kamu bisa masuk ke dalam."
"Terimakasih karena Louis sudah mengantarkan aku sampai rumah."
Rui tersenyum kepada pria yang sudah mengantarnya. Louis menganggukkan kepala.
"Kalau begitu aku akan pulang."
Setelah Louis mengatakannya kemudian Rui melambaikan tangan. Louis melangkahkan kakinya pergi. Dia pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Di sekolah juga sama. Louis ingin membeli sepeda tetapi dia harus memikirkan kebutuhan sekolah adiknya. Karena itu dia tidak bisa membeli sepeda. Steven yang merupakan teman dekat selalu mengantar dengan mobilnya. Selain kepala sekolah dan tidak ada yang tahu jika Louis berasal dari keluarga sederhana.
Keesokan harinya. Mobil mewah berhenti di depan rumah Louis. Terdengar suara ketukan pintu. Nyonya Victoria membuka pintu rumahnya.
"Selamat pagi Tante?"
Steven memberikan salam kepada Nyonya Victoria.
"Selamat pagi. Louis masih sarapan. Ayo silahkan masuk."
Nyonya Victoria telah menganggap Steven sebagai putranya. Steven masuk ke dalam rumah. Dia melihat Louis sedang duduk di samping adiknya.
"Kakak. Itu roti punyaku?"
Angel yang merupakan adik dari Louis sedang memprotes kakaknya yang mengambil roti miliknya. Louis tersenyum lebar merasa senang karena berhasil mengambil roti. Dia kemudian menghabiskannya.
"Sudahlah. Kalian jangan bertengkar. Ibu akan membuatkan roti lagi."
Nyonya Victoria berusaha menghibur putrinya.
"Kenapa kamu masih berdiri? Duduklah di sampingku."
Louis berkata kepada Steven. Kemudian Steven melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Bukankah lebih baik kita berangkat sekarang?"
Steven memperlihatkan jam itu kepada Louis. Jam menunjukkan pukul delapan. Sebentar lagi akan masuk. Segera Louis bangkit dan meminum air putih yang ada di atas mejanya.
"Aku berangkat dulu."
Louis berpamitan kepada ibunya. Steven menganggukkan kepala. Mereka berdua berangkat menuju ke sekolah. Tidak lama kemudian Angel juga berangkat. Tinggal Nyonya Victoria sendiri yang berada di rumah.
Louis yang mengemudikan mobil milik Steven. Dia sangat pandai dalam menyetir seperti pembalap profesional. Mobil melaju dengan cepat.
"Louis. Apakah ini tidak bisa lebih pelan?"
Steven bertanya kepada temannya.
"Tenang saja. Ini masih dalam kecepatan yang tidak melanggar peraturan lalu lintas."
Louis kemudian menjawab. Tidak lama kemudian mereka telah sampai di tempat parkir sekolah. Posisi duduk Steven hampir jatuh. Dia bahkan seperti hampir pingsan. Di dalam hati Steven mengatakan apanya yang tidak melanggar peraturan. Bahkan speedo mobilnya berbunyi sebagai peringatan kecepatan. Louis membuka pintu mobil. Dia kemudian turun. Banyak siswa wanita yang mengelilinginya. Semua orang tahu kalau mobil itu milik Steven. Dua teman selalu berangkat bersama. Melihat Louis di kelilingi kemudian Steven ikut turun dari mobil. Dia kemudian melihat jam di tangannya.
"Bagaimana? Sepertinya kita tidak terlambat."
Steven mengalihkan pandangannya ke arah Louis yang sedang berkata kepadanya.
"Kamu benar. Sebentar lagi bel akan berbunyi. Lebih baik kita masuk ke kelas."
Suara teriakan lebih banyak ketika Louis dan Steven berjalan masuk ke gedung sekolah. Tidak lama kemudian sebuah motor balap berhenti. Seseorang melepaskan helm. Dia adalah Akira. Murid populer di sekolah.
"Akira."
Teriakan siswa wanita kembali ramai. Akira turun dari motor.
"Selamat pagi semuanya."
Dia memberikan salam kepada semua orang. Memang begitulah Akira yang tampan, pandai, dan ramah. Siswa wanita meminta tanda tangan. Akira memberikannya dengan perasaan senang. Senyumnya seperti malaikat. Sangat tampan. Setelah selesai tanda tangan dan menemani foto kemudian Akira masuk ke dalam kelas. Sudah tiga hari ini dia berangkat sendirian.
Aku sedang sarapan di kantin. Ibu sedang menemani ayah kerja di luar kota. Sedangkan aku tidak bisa memasak. Akira masuk ke dalam kelas. Dia menaruh tasnya di meja. Melihat tidak ada seseorang yang di carinya. Akira kemudian berjalan menuju ke kantin. Akhirnya dia menemukan orang itu.
"Sena."
Akira memanggilku. Aku melambaikan tangan kepadanya. Dia berjalan ke arahku.
"Selamat pagi Akira."
Akira kemudian tersenyum dan melihat roti yang sedang aku pegang.
"Kenapa kamu sarapan di kantin?"
Akira bertanya kepadaku. Selama ini aku tidak pernah sarapan di kantin sekolah.