Semua siswa yang berada di gedung olahraga menatapku dan Louis. Wajahnya terlihat sangat marah. Tangan Louis kemudian ingin menamparku. Aku menutup mata.
"Kamu ini sudah gila ya?"
Louis menghinaku di depan banyak orang.
"Aku baru tahu ternyata ada seorang gadis yang memiliki sikap kasar seperti dirimu."
Dia kembali menghinaku. Tidak hanya satu kali dia mengatakannya. Setelah itu dia membuang bola ke lantai dan pergi. Semua orang menatapku dengan tatapan yang simpati. Aku tidak membutuhkan belas kasihan. Ada penyesalan di dalam hatiku karena telah menampar wajahnya. Tetapi dia pantas mendapatkan dariku. Karena perbuatannya sehingga aku mendapatkan hukuman memberikan toilet sekolah wanita selama satu minggu.
Steven membawa dua minuman mineral di genggaman pada d**a masuk ke dalam gedung olahraga. Dia tidak melihat sosok Louis. Kemudian bertanya kepada salah satu anggota klubnya.
"Apakah kamu tahu dimana Louis?"
"Ketua team pergi keluar setelah bertengkar dengan seorang siswa wanita."
Anggota klub kemudian menjawab. Steven menghela nafas. Dia segera mencari temannya. Gadis yang di bicarakan pasti adalah Sena. Setelah meninggalkan tempat kepala sekolah kemudian Sena mendatangi Louis. Tentunya dirinya tidak melihat pertengkaran diantara mereka berdua.
Louis sedang berdiri di gedung teras atas. Dia memukul pagar pembatas dengan kaki kanannya sangat keras hingga menimbulkan bunyi. Steven mendekati temannya. Dia kemudian meletakkan air mineral dingin ke wajah Louis.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Padahal sebelumnya kamu masih berada di gedung olahraga."
Steven bertanya kepada temannya. Louis menerima minuman mineral tersebut. Dia kemudian membuka segel botol dan meminumnya mencapai setengah. Pipi kanannya yang masih sakit akibat tamparan keras dari Sena masih membekas. Steven melihat temannya yang sedang memegang pipi.
"Kenapa wajahmu bengkak?"
Mendengar pertanyaan dari Steven membuat Louis sangat marah. Dia bahkan meremas botol minuman mineral hingga airnya jatuh keluar. Setelah melihat temannya sedang marah kemudian Steven berhenti bertanya. Dia tahu Louis pasti tidak ingin membahasnya kembali.
Pelajaran dimulai. Louis tidak mengikutinya. Dia masih berada di gedung teras atas. Steven melihat bangku Louis kemudian menghela nafas. Temannya selama ini selalu rajin mengikuti pelajaran. Bagi Louis untuk bisa masuk ke sekolah terkenal di Jepang itu tidak mudah. Dia harus belajar dengan rajin supaya mendapat prestasi.
Steven adalah anak dari direktur perusahaan terbesar di Jepang. Sedangkan Louis hanya anak dari seorang satpam. Perbedaan status mereka sangat jauh. Tetapi itu tidak menjadi penghalang dari persahabatan. Sekarang Steven ingin temannya kembali baik. Sebentar lagi akan ada pertandingan bola basket.
Jam pulang telah tiba. Steven kemudian menemuiku.
"Apakah kamu punya waktu sebentar?"
Aku menatapnya yang berusaha menghalangiku pergi. Pria yang ada di depanku bukankah teman dari musuhku. Untuk apa dia menemuiku saat setelah jam pulang sekolah? Aku kemudian menganggukkan kepala dan menyetujuinya Rasa penasaran yang membuatku menerima permintaan.
Steven berjalan menuju gedung sekolah lama. Suasana terlihat sepi. Tidak ada yang melewati tempat ini. Dia menghentikan langkah kakinya dan menundukkan kepala.
"Aku mohon jangan mengganggu Louis. Sebentar lagi dia akan ada pertandingan basket. Kami semua sangat membutuhkan ketua team."
Jadi dia datang kesini hanya untuk memohon kepadaku. Aku baru mengetahui ternyata Louis memiliki anjing peliharaan yang setia. Jika ini merupakan salah satu strateginya. Tidak mungkin aku akan mudah untuk dibodohi.
"Seharusnya bukan kamu yang memintaku untuk melakukannya. Aku tidak akan mengganggunya jika dia yang memohon dan meminta maaf kepadaku."
Aku kemudian menjawabnya dan tersenyum.
"Kamu memang gadis yang berhati dingin. Aku sekarang mengetahui alasan Louis tidak menyukaimu."
Setelah mengatakannya kemudian Steven berjalan pergi. Aku menatapnya dengan perasaan kesal.
"Ada apa dengannya? Dia dan temannya memiliki kepribadian yang sama. Sungguh menyebalkan."
Perasaanku menjadi kesal. Ada sebuah kaleng bekas di depanku. Kemudian aku menendangnya hingga terlempar jauh. Tetapi tanpa di sengaja kaleng bekas itu mengenai kepala seseorang.
"Siapa yang berani melakukannya!"
Pria tua itu terlihat marah. Wajahnya sangat menakutkan. Segera aku bersembunyi di balik tiang listrik yang besar. Aku membuang nafas dengan perlahan.
"Hampir saja aku kena marah. Kenapa hari ini aku selalu sial?"
Dewa keberuntungan sepertinya tidak memihak kepada ku. Tidak terasa hari sudah sore. Akira berdiri di depan rumahku.
"Kenapa pulang terlambat?"
Akira bertanya kepadaku.
"Aku baru saja belajar di rumah Kate."
Kate adalah teman satu bangku denganku. Seorang siswa wanita yang pendiam dan pandai. Dia tidak memiliki banyak teman. Aku merupakan teman satu-satunya yang dekat dengannya.
"Apakah kamu mau makan denganku? Kebetulan ada restoran baru yang tidak jauh dari rumah."
Akira ingin mentraktirku makan. Aku kemudian menggelengkan kepala. Sejak pagi hingga sekarang belum makan. Perutku juga sudah memberontak.
"Kalau begitu kamu kita pergi bersama."
"Baiklah."
Aku menjawab perkataannya. Akira pulang untuk mengambil sepeda. Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Meletakkan tas dan mengganti seragam sekolah dengan pakaian biasa. Tidak lama kemudian aku melihat Akira sudah berada di depan rumahku dengan menaiki sepeda. Aku naik di belakangnya.
Restoran itu terlihat bersinar. Aku merasa ragu untuk masuk.
"Ayo kita masuk."
Akira berkata kepadaku. Dia melangkahkan kakinya menuju ke dalam. Karena tidak ingin sendirian berada di luar akhirnya aku mengikutinya. Akira duduk di kursi yang kosong. Seorang pelayan datang melayani.
"Selamat sore. Ini adalah menu hidangan kami. Apakah kalian berdua sepasang kekasih? Kebetulan hari ini kami memberikan potongan harga lima puluh persen bagi pasangan kekasih."
Pelayan itu berkata. Aku dan Akira kemudian saling menatap. Sepertinya kami berdua memiliki pemikiran yang sama.
"Benar. Kami adalah pasangan kekasih."
Aku dan Akira menjawabnya secara bersamaan. Pelayan itu kemudian pergi membawa buku menu hidangan dan catatan pesanan. Ketika sedang menunggu lalu ada seseorang yang membawa biola. Dia menggesekkan sinar itu dan terdengar alunan lagu yang indah. Suasana seketika menjadi romantis. Aku kemudian menatap wajah Akira. Dia sedang mendengarkan alunan lagu dengan kedua mata. Melihatnya dari dekat membuatku semakin senang. Jika aku mengatakan perasaanku sekarang. Apakah Akira akan menerima pernyataan cintaku ataukah dia akan menjauh? Perlahan aku memegang tangan Akira. Dia merasakannya kemudian membuka kedua mata dengan perlahan.
"Akira. Sebenarnya aku..?"
Sebelum aku selesai mengatakannya kemudian alunan lagu berhenti. Seorang pelayan datang membawa hidangan yang di pesan. Akira kemudian menjauhi tanganku. Sikapnya menjadi canggung. Aku menggenggam kedua tangan dengan erat. Keinginanku untuk mengatakan cinta kepadanya tidak terjadi. Pelayan meletakkan makanan dan minuman di atas meja. Peralatan makan seperti sendok, garpu, dan pisau di bungkus dengan rapi.
"Terimakasih."
Akira mengatakan kepada pelayan. Dia juga memberikan tips. Pelayan menganggukkan kepalanya dan tersenyum kemudian berjalan pergi.