Chapter Ke Tujuh : Foto Dan Tulisan Di Papan Dinding

1021 Words
"Lihatlah!" Seorang siswa wanita berkata kepada temannya. Banyak orang yang berkerumun di sekitar papan dinding kelas. Hari ini Steven dan Louis berangkat ke sekolah bersama. Mereka kemudian melihat sekelompok orang. "Sepertinya ada sesuatu. Bagaimana kalau kita melihatnya?" Steven berkata kepada Louis. "Aku tidak berminat. Kamu saja yang melihatnya." Louis menjawabnya dengan acuh. Ketika mereka berdua masuk kedalam kelas kemudian semua orang memperhatikannya. Hal ini membuat Steven menjadi tidak nyaman dan menggaruk kepala. Mereka kemudian masuk ke dalam kelas. Tatapan itu tidak jauh berbeda saat berada di lorong sekolah. Seorang siswa wanita kemudian mendekati Louis yang sedang duduk. "Ada apa?" Louis bertanya kepada siswa wanita itu. "Apakah berita di papan dinding itu benar?" Louis kemudian berlari keluar kelas. Aku tertawa melihat musuhnya sedang kesulitan. Sepertinya rencana ini berhasil. Steven mengikuti temannya. Louis berhenti di depan papan dinding. Ada foto seorang gadis yang sedang menangis di depan Louis dan sebuah tulisan. "Ternyata siswa populer di sekolah kita tidak sebaik dengan sikapnya. Kasihan siswa wanita itu yang telah di tolak cintanya di depan banyak orang." Steven yang baru saja datang kemudian membaca tulisan di papan dinding. Dia terkejut setelah membacanya. Siapa siswa yang berani menulis dan memasang foto Louis? Steven melihat ekspresi wajah temannya berubah menjadi menakutkan. Louis kemudian berjalan masuk ke dalam kelas. Aku tertawa kecil melihat sikapnya berusaha menahan marah. Sekarang aku ingin mengetahui apa yang akan dia lakukan untuk mengatasi permasalahan ini? Steven duduk tidak lama kemudian. Selama pelajaran aku mengikutinya dengan penuh semangat. Penderitaan yang di rasakan oleh Louis sebagai obat penyemangat untukku. Ketua OSIS datang ke kelas saat jam istirahat. "Siapa di sini siswa yang bernama Sena?" Sena yang saat itu masih belum keluar dari ruangan kelas merasa bingung. Dia merasa bukan anggota dari OSIS. Kenapa sekarang dia mendapatkan panggilan? Sena kemudian menangkan tangan kanannya ke atas. "Ikutlah denganku! Kepala sekolah ingin bertemu denganmu." Ketua OSIS kemudian berkata kepadaku. Aku menganggukkan kepala dan berjalan mengikutinya. Ruangan kepala sekolah melewati papan dinding. Aku melihat foto dan tulisan itu telah di sobek. Sepertinya orang yang telah melakukannya adalah Louis. Ruangan kepala sekolah berada di tempat paling depan gedung sekolah. Ruangan itu memiliki bangunan tersendiri. Ketua OSIS mengetuk pintu. "Masuklah!" Setelah mendapatkan izin kemudian aku masuk ke dalam kelas. Ketua OSIS kemudian menutup pintu. Di dalam gedung olahraga ada Louis yang sedang bermain basket. Steven mendengar jika Sena telah di panggil oleh kepala sekolah. Berita itu kemudian menyebar dengan cepat. "Apakah kamu tahu jika teman kelas kita yang bernama Sena telah dipanggil oleh kepala sekolah?" Steven bertanya kepada Louis. Dia berusaha mengambil bola dari tangan Louis dan menghadangnya. Dengan cepat Louis menghindar kemudian berlari menuju ring. Melompat dan melemparkan bola. Tepat pada sasaran bola masuk ke masuk dalam ring. Keringat yang berada di wajah Louis menetes jatuh ke lantai. "Aku yang telah melaporkannya ke kepala sekolah." Louis menjawab perkataan temannya. "Melaporkannya. Kenapa?" Steven tidak mengerti maksud dari Louis. "Siswa yang telah memasang fotoku dan menulis di papan dinding tidak lain adalah Sena." Steven terkejut mendengarnya. Dia tidak mengira jika siswa yang melakukannya adalah Sena. Memang dia pernah melihat gadis itu begitu berani melawan kakak Senior dan bahkan membanting tubuh mereka. "Sebenarnya apa alasan Sena memasang foto kamu di papan dinding?" "Karena dia membenciku. Aku telah menggagalkan rencananya yang ingin mengatakan perasaan kepada Akira. Saat itu aku masuk ke dalam gedung olahraga untuk mengembalikan bola basket kemudian bertemu dengan Sena. Dia mengira aku adalah Akira. Ketika dia mengetahui salah mengatakan perasaan cinta kepada orang lain lalu terjatuh. Aku berusaha ingin menolongnya tetapi justru ikut terjatuh. Saat itu juga pria yang di cintainya datang dan salah paham." Louis berusaha untuk menjelaskannya. Sekarang Steven mengetahui alasan Sena memasang foto dan menulis tentang temannya di papan dinding. Sena ingin membalas dendam kepada temannya. Dia baru mengetahui ternyata ada hubungan yang rumit di antara Sena dan Louis. "Lebih baik kamu mengakhiri permusuhan diantara kalian." Steven memberikan saran kepada temannya. "Bukankah kamu ini adalah temanku. Aku tidak akan melakukannya jika dia berhenti berbuat." Sebenarnya Steven sudah mengetahui jawaban dari temannya. Louis adalah seorang pria yang memiliki prinsip dan keteguhan. Tetapi tidak ada permusuhan antara pria dan wanita. "Kamu pasti akan menyesal karena tidak mendengar perkataanku." Steven berkata kemudian dia berjalan pergi meninggalkan gedung olahraga. Louis tetap melanjutkan permainannya. Sekarang dia bermain basket sendirian. "Apanya yang menyesal? Justru aku yang akan menyesal jika tidak membalas perbuatannya." Louis berkata kepada dirinya sendiri menjawab perkataan dari Steven. "Apa yang tadi kamu katakan?" Akira berkata dengan suara nada yang tinggi. Dia mencoba bertanya untuk memastikan kembali yang di dengarnya dari teman satu kelas. "Sena mendapatkan panggilan dari kepala sekolah." Alphonse yang merupakan teman satu kelas Akira kembali mengulangi perkataannya. Segera Akira berlari menuju tempat kepala sekolah. Ini pertama kali Sena di panggil. Pasti sekarang Sena sedang ketakutan. Akira sangat mencemaskan sahabatnya tersebut. Aku keluar dari tempat kepala sekolah. Akira berdiri di depanku. "Sena. Apa yang dikatakan oleh kepala sekolah?" Akira kemudian bertanya kepadaku. Aku tidak ingin Akira mengetahuinya. Tanpa menjawab kemudian aku berjalan melewati Akira. Dia berdiri diam dan terpaku. Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Ketika berjalan menuju kesana dan aku teringat saat kepala sekolah memarahiku. "Aku mendapatkan laporan jika ada salah satu murid yang sedang berkencan saat jadwal piket kebersihan." Kepala sekolah menunjukkan foto ketika Akira menggandeng tanganku. Aku teringat saat itu Akira membawaku ke rumah sakit. Tetapi aku tidak tahu siapa yang berani mengambil gambar. Setelah beberapa saat kemudian aku menghentikan langkahku. Ada seseorang yang aku curigai. "Tidak salah lagi. Ini pasti perbuatan dari pria sok keren." Aku akan menemui dan memarahinya. Segera aku melangkahkan kakiku untuk mencari Louis. Keinginanku pergi ke perpustakaan sekarang berubah. Walaupun harus mencarinya di semua tempat itu tidak akan menjadi masalah. Pertama tempat yang aku cari adalah ruangan kelas. Aku segera membuka pintu. Melihat semua siswa dan tidak menemukan Louis. Aku juga melihat Akira yang sedang menatapku. Dengan perasaan bersalah kemudian aku menghindarinya. Berbalik dan menjauhi kelas. Air mata keluar membasahi pipi. Aku mengusap air mata dengan sapu tangan. Berusaha untuk tegar. Kemudian aku berjalan menuju gedung olahraga. Akhirnya aku bisa menemukannya. Louis sedang berdiri dan memegang bola bersama dengan teman klubnya. Aku berjalan menghampirinya. "Plak!" Sebuah tamparan keras dariku mengenai pipi kanan Louis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD