Selamat membaca ya :) Jangan lupa follow dan komentarnya.
----
Helikopter dengan tipe A79 mendarat di tengah-tengah ladang semak belukar. Pemimpin pasukan ini adalah Kapten Damian. Dia sudah menyusun strategi di mana mereka akan mendarat dan di mana mereka akan menyebar demi mengepung kawanan Macan Putih yang terus mengganggu persatuan negaranya.
Damian mengambil granat yang sudah dia letakkan di saku celananya. Tidak lupa juga dia menyiapkan peluru mematikan untuk musuh-musuhnya nanti. Lelaki itu telah bertekad untuk meringkus kawanan Macan Putih yang terus saja meresahkan warga sekitar. Terlebih, kawanan itu tengah menyandera wanita yang Damian kenal.
Suara dalam hatinya untuk segera membebaskan Meechella dari sana membuat lelaki itu memupuk nyalinya meski penyergapan dilakukan dengan persiapan mendadak.
"Semua sudah siap?" tanya Damian kepada pasukannya.
Damian menatap semua pasukannya, tatapan sebuah kepercayaan dari atasan kepada anak buahnya.
"Siap laksanakan!" jawab mereka kompak.
"Kita akan melewati ladang ranjau, jadi gunakan peralatan kita sebaik mungkin. Jangan sampai lalai," ucap Damian diangguki mereka semua.
"Kita pasti menang!" Semboyan Damian, yang selalu dia gunakan untuk motivasinya bersama anggotanya.
"KITA PASTI MENANG!" teriak lantang anggota tentara yang dipimpin oleh Damian.
Mereka semua berjalan melewati ladang ranjau, tidak lupa mereka memberi tanda bendera negara Iraq sebagai tanda bahwa di titik itulah ranjau terkubur. Damian dan anak buahnya tidak memiliki waktu untuk menonaktifkan ranjau di sana karena tujuan awal mereka adalah menyelamatkan seorang sandera.
"Ini bukan lagi ladang ranjau, tapi kebun ranjau. Di setiap langkah kita jika tidak hati-hati bisa meledak," ucap Gary.
"Negara sudah menutup akses lahan ini, tapi Macan Putih seakan menganggap ini adalah pagar bagi komplotan mereka karena tidak satupun orang yang mau mempertaruhkan nyawanya ke sini," sahut Damian.
Akan tetapi anggapan dari kawanan Macan Putih itu sia-sia jika ditujukan untuk Kapten Damian. Butuh waktu tiga puluh menit untuk mereka sampai di tengah hutan.
"Kita menyebar, pastikan mikrofon bluetooth kalian sudah menyala," perintah Damian.
Setelah mengecek mikrofon milik mereka, mereka berpencar dari segala sisi mengepung markas Macan Putih yang kini berada di depan mata mereka.
Damian sudah siap dengan alat tembaknya, tidak ada rasa takut, yang terpenting baginya adalah menyelamatkan wanita yang diklaimnya sebagai kekasihnya.

"Di sini J-one, kami sudah sampai di belakang. Kami akan masuk lewat atap," lapor seseorang di sana.
"Laksanakan," jawab Damian.
Damian melihat ada tiga orang masuk ke dalam markas. Satu di antaranya seseorang yang Damian kenal sebagai pemimpin Macan Putih. Damian berjalan dengan mengendap-ngendap ke arah pintu utama.
Damian mengarahkan pisau di leher penjaga, tiga orang tewas ditangan Damian. Sedangkan di sisi lain, pertarungan antara penjaga Macan Putih dan Anggota Tentara Internasional bertarung menggunakan senjata.
"Ada penyusup!" Seseorang berteriak.
Para anggota Macan Putih langsung berlarian mengambil senjata mereka. Damian dan anggotanya menarik pelatuk mereka. Terjadilah aksi tembak-menembak antara kubu Macan Putih dan juga Anggota Damian.
Damian berlari masuk mencari keberadaan Meechella. Di sana dia melihat Meechella berdiri dengan tangan di ikat di atas kepala.
"Meechella," panggil Damian membuat Meechella menoleh.
Dia memberontak, memberi sinyal pada Damian untuk segera melepaskannya. Damian langsung mengarahkan pisaunya ke tali di mana Ella di ikat.
"Sekelompok Macan Putih berada di belakang," ucap anggota Damian yang melihat dari teropong.
Damian langsung menarik Ella untuk berada dibelakangnya. Damian memeluk Ella dan mengangkatnya berputar mengiringi putaran tembakannya. Lelaki itu benar-benar gesit dalam bertindak.
Meechella mengeratkan pelukannya kepada Damian. Dia tidak bisa berpikir apa yang akan penjahat itu lakukan padanya jika Damian tidak segera datang menemuinya.
Setelah memastikan mereka tidak berdaya, Damian menarik Meechella untuk berlari meninggalkan markas Macan Putih.
"Kita mundur sekarang, sandera sudah selamat," ucap Damian.
"Siap laksanakanñ"
Damian mengajak Meechella berlari keluar dari markas. Di luar sudah ada para anggotanya yang siap mengawal mereka keluar dari hutan untuk sampai di parkiran helikopter mereka.
"Kepolisian akan segera sampai untuk meringkus mereka," ucap Gary.
"Ayo cepat kita pergi dulu dari sini."
Damian melempar granatnya kearah markas untuk menghancurkan markas macan putih.
"Lari!" teriak Damian dengan tangannya menarik Meechella menjauh dari markas yang kini tengah meledak.

Mereka semua berlari meninggalkan markas macan putih. Di belakang mereka masih ada pimpinan Macan Putih yang selamat dari pertarungan bersama anak buahnya yang baru datang.
Pimpinan Macan Putih mengejar kelompok Damian hingga ke tengah hutan. Napas Meechella terengah-engah, dia sudah tidak sanggup lagi berlari.
"Berhenti, tinggalkan aku sendiri." Meechella melepaskan genggaman tangan Damian.
Tanpa pikir panjang, Damian menggendong Meechella dan melanjutkan perjalanan mereka agar cepat sampai di parkiran Helikopter.
Dorrrr dooorrrrr!
Tembakan itu keluar dari pistol pimpinan Macan Putih, untung saja mereka bisa menghindar dari tembakan.
"Turunkan aku, pergi saja. Kamu akan kesulitan berlari dengan menggendongku, Damian!" ucap Meechella.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini."
"Kenapa? Mereka tidak akan membunuhku karena aku tawanan. Tapi jika mereka menangkap kalian, kalian akan mati," isak Meechella ketakutan.
"Akupun akan mati jika tidak bisa menyelamatkanmu."
Mata teduh Damian membuat hati Meechella bergetar.
"Kenapa?" tanya Meechella.
"Karena kamu bagian hidupku, kamu kekasihku," ucap Damian spontan membuat hati Meechella menghangat.
Tanpa sadar Meechella mengeratkan pelukannya di leher Damian. Dia sangat ketakutan. Bagaimana bisa acaranya membeli oleh-oleh berujung petaka.
"Awas!" Damian berteriak ketika peluru menyerempet mengenai pundaknya hingga seragamnya tergores dan mengeluarkan darah.
"Kapten!" teriak semuanya.
"Jangan berhenti, di sana pasukan kita dan bala bantuan sudah menunggu."
Tidak memikirkan bagaimana lengannya yang terluka, Damian masih terus berlari dengan mengeratkan tangannya menggendong Meechella di pundaknya. Sedangkan Meechella sendiri tidak percaya, lelaki asing yang baru saja dia temui mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya.
"Bantu kami!" teriak Gary saat melihat bantuan sudah siap.
Ya, tim Damian hanya digunakan untuk memancing komplotan macan putih keluar dari markas. Kini tujuan mereka sudah tercapai. Pimpinan macan putih masuk perangkap dengan dikepung satuan tentara dan polisi Iraq. Tentu saja terjadi perlawanan. Namun apa daya, mereka hanya lima orang sedangkan satuan polisi dan tentara ada dua belas orang.
Mereka langsung dilumpuhkan dengan timah panas, polisi menangkap mereka dan sebagian menuju TKP markas macan putih untuk menangkap yang lainnya dan mengamankan barang bukti.
Meechella menangis tak tertahankan.
"Terimakasih Damian," isak Meechella memeluk Damian.
Isakannya sangat kencang, Damian sampai tersenyum merasakan deru napas Meechella di dadanya. Damian mengelus pundak Meechella.
"Tenanglah, kamu selamat sekarang," ucap Damian menenangkan Meechella.
Tiba-tiba tubuh Damian ambruk, ternyata bukan hanya lengannya yang tergores peluru. Namun ada peluru yang menancap di pundaknya saat tadi dia melawan kawanan Macan Putih di markasnya demi mengeluarkan Meechella.
"Kapten!"
"Damiannnn!"