Kali ini, Marsha sama sekali tidak menyangka akan diajak ke Laut Natuna Utara, wilayah yang menjadi pusat seluruh spekulasi buruk tentang TNI AL. Tempat yang oleh publik dituding sebagai bukti kelalaian yang mengakibatkan ekosistem rusak, dasar laut mati, ikan bermigrasi, air berubah warna.
Dan hari ini, Marsha Kencanaakan melihatnya langsung. Dia hampir tersenyum lebar seperti anak kecil yang dibawa piknik pertama kali. Sayangnya, helm penerbangan yang hendak dia pakai tidak kunjung terpasang benar karena bibirnya yang tak berhenti mengembangkan senyum.
Kalandra berdiri di depannya, seragam flight suit biru gelap membentuk garis tegas tubuhnya. Pria itu mendengus panjang, lalu— TUK! Telapak tangannya menepuk helm Marsha dari atas.
Helm itu langsung turun pas di kepalanya.
“Aduh!” Marsha mengusap puncak kepala. “Bapak kenapa kasar amat sih?”
“Karena kamu senyum seperti orang habis menang undian sampai tidak bisa pasang helm,” balas Kalandra datar. “Fokus. Natuna bukan tempat rekreasi.”
Marsha mengembuskan napas panjang. “Iya, Pak…”
Pelabuhan militer itu berbasis Pondok Dayung dipenuhi helikopter, kapal patroli, dan prajurit yang lalu-lalang. Helikopter AS565 Panther dengan baling-baling menganga seperti sayap logam menunggu mereka. Angin dari rotor yang berputar perlahan menampar wajah Marsha, membuatnya semakin bersemangat.
Kalandra naik lebih dulu. Gerakannya cepat, presisi, tidak ada satu pun yang terbuang sia-sia. Dia duduk di kursi pilot, headset terpasang, jemari cekatan menekan tombol dan sakelar.
Saat Marsha hendak naik— BRUK!
Dia terpeleset di anak tangga dan jatuh duduk.
Hening dua detik. Kemudian terdengar embusan napas panjang dari dalam kokpit. “…serius?” gumam Kalandra.
“Saya bisa! Saya bisa bangun sendiri!” Marsha buru-buru bangkit, pipinya panas. Marsha langsung duduk, menegakkan punggung, memeluk tas kameranya.
Helikopter mulai hidup. Lampu indikator menyala. Rotor utama berputar makin cepat. Suara helikopter menggelegar, memenuhi seluruh hanggar pelabuhan.
Suara Kalandra terdengar dari headset Marsha, lebih rendah, lebih intim. “Pre-flight check. Baca pengaman sabukmu.”
Marsha buru-buru menarik sabuk dan memasangnya. “Sudah, Pak!”
“Flaps control normal… altimeter set… heading indicator locked…” Dia bergerak seperti mesin hidup, setiap prosedur mengalir mulus dari bibirnya.
“Panther-07, siap lepas landas,” katanya ke radio.
Suara menara merespons, “Panther-07, izin lepas landas diberikan. Arah utara, ketinggian awal tiga ribu kaki.”
Helikopter melonjak halus ke udara. Jakarta menyusut di bawah. Laut biru menghampar seperti sutra yang direntangkan angin.
Marsha menempelkan kamera ke wajahnya, klik, klik, klik, bagai jurnalis yang ketagihan oksigen. Kalandra melirik dari sudut mata. “Ekspresi itu… seperti orang menang lotre.”
Marsha mengangguk tanpa malu. “Saya bahagia! Akhirnya saya bisa melihat bukti asli, bukan hanya laporan masyarakat. Dan saya menunggu penjelasan TNI AL kenapa bisa melakukan kelalaian besar sampai merusak Natuna.”
Kalandra terkekeh dengan pendek, sinis. “Tunggu sampai kamu lihat dengan mata sendiri.”
Hingga akhirnya helikopter memasuki wilayah Natuna Utara. Air di bawah berubah. Warnanya bukan biru jernih. Lebih pucat… keabu-abuan… seperti lautan kehilangan napas.
Marsha mencondongkan tubuh. “Itu!” Dia mengambil foto cepat-cepat. “Buktinya sangat jelas! Tidak ada ikan, tidak ada bayangan rumput laut, bahkan warnanya… mati.”
Dia mengambil foto lain. “Pak, air itu jelas-jelas beracun. Lihat gradiennya, zona anoksik. Tidak ada oksigen terlarut. Tidak mungkin terjadi alami.”
Kalandra tersenyum tipis. “Pintar juga kamu.”
“Jadi, apa alibi TNI AL?” Marsha menyipitkan mata. “Saya ingin dengar.”
Kalandra tidak langsung menjawab. Suaranya turun ketika dia berkata, “Kalau kamu harus memilih… menyelamatkan laut atau menyelamatkan manusia, kamu pilih mana?”
Marsha terdiam. Pertanyaan itu menusuk. Bukan teknis, bukan akademis, tapi moral. “…tergantung konteksnya,” jawabnya pelan. “Karena apa pun pilihannya, ada yang dikorbankan.”
“Bagus,” gumam Kalandra. “Sekarang dengar baik-baik.” Helikopter menurun sedikit, memberi sudut pandang jelas ke zona laut yang rusak. “Itu,” kata Kalandra, “adalah medan perang yang tidak pernah muncul di berita.”
Marsha mengerjap. “Medan… perang?”
“Delapan bulan lalu,” suara Kalandra stabil, “TNI AL menerima intelijen tentang sindikat penyelundupan yang berasal dari Filipina Selatan. Mereka menahan puluhan nelayan Indonesia, dijadikan sandera di kapal selam modifikasi tanpa identitas.”
“Sandera… di kapal selam?”
“Nasib buruk menunggu mereka, terkait organ ilegal,” lanjut Kalandra. “Dikirim ke jaringan medis gelap di Laut Cina Selatan. Operasi mereka sangat rapi. Tidak terdeteksi radar. Tidak muncul di AIS. Kami hanya punya satu cara menahan mereka keluar dari perairan.”
“Yaitu?” Marsha hampir berbisik.
“Kami harus menciptakan zona mati di dasar laut.” Suaranya dingin, bukan bangga tapi lebih seperti menyampaikan beban yang berat. “Kami ledakkan jalur pasir untuk menutup rute penyelundupan. Kami harus mengaduk dasar laut agar kapal selam itu tersangkut dan muncul ke permukaan.”
Marsha menatap ke bawah zona mati itu tampak seperti luka menganga.
“Puluhan nyawa lebih penting daripada pasir dan plankton,” lanjut Kalandra. “Jika operasi itu gagal, mereka mati. Tanpa jejak. Tanpa berita. Tanpa kuburan.”
Marsha menurunkan kameranya. “Kenapa… tidak diberitakan?”
Kalandra menatap horizon. “Karena ini bukan film. Ini negara.” Nada suaranya mengeras. “Kami punya prosedur kerahasiaan. Kami tidak boleh membuat masyarakat panik. Perang sudah lama berubah bentuk, bukan lagi tembak-tembakan, tapi infiltrasi halus. NKRI dijaga bukan hanya dari musuh yang terlihat, tapi dari yang bergerak diam-diam.”
Ia menatap Marsha, serius.
“Kamu jurnalis. Apa yang akan kamu tulis? Tetap menuduh TNI AL merusak alam?”
Marsha membuka mulut… menutup lagi. Hatinya berdebar. “…kenapa Bapak bilang semua ini ke saya?” bisiknya. “Ini operasi rahasia, bukan?”
Kalandra menyeringai tipis. “Karena kamu tidak punya teman. Kamu pasti simpan semuanya sendiri.”
Marsha melotot. “Ap—apa maksudnya itu?! Saya punya teman!”
“Yakin? Buktinya semua curhatan kamu mengendap di kepala kamu sendiri.”
“Pak!” Marsha memukul bahunya dari samping. “Sumpah Bapak nyebelin!”
Kalandra tertawa pendek, sangat langka, berat, dan hangat. “Lihat ke bawah.”
Helikopter turun perlahan. Dan di bawah sana sebuah KRI raksasa muncul dari kabut laut. Haluan panjang, meriam 76 mm di depan, radar SPY-3 berputar seperti mata raksasa, helipad luas dengan personel berlari teratur.
Lalu muncul kapal kedua. Dan ketiga. Dan keempat. Marsha membeku. Suaranya keluar pelan, “…gila… ini… ini pertama kalinya saya lihat kapal sebesar ini dari dekat…”
Kalandra tersenyum tanpa menunjukkan gigi. “Selamat datang di garis depan perbatasan, Jurnalis.”
Helikopter mulai menurun, bersiap mendarat di helipad KRI. Angin laut memukul kaca kokpit. Baling-baling helikopter kapal di bawah ikut berputar, menyambut mereka.
Marsha mengetap kaca jendela, matanya berbinar seperti melihat dunia baru. Dan di sampingnya… Kalandra tampak bangga menunjukan sisi kehebatannya ini.
***
Seharian berada di kapal perbatasan raksasa itu membuat Marsha merasa seperti pindah dunia. Kapal ini tidak sekadar besi raksasa yang mengapung, dia seperti kota kecil yang berdenyut dengan ritme tugas, disiplin, dan napas para prajurit laut.
Kalandra menghilang sejak helikopter mendarat. Katanya “ada yang harus diurus.” Tapi di kapal sebesar ini, ke mana pun Marsha berjalan, sosok Kalandra tidak pernah terlihat. Entah pria itu berada di ruang operasi laut, anjungan utama, atau sedang berkoordinasi dengan tim patroli bawah air.
Sebagai gantinya, Marsha ditemani oleh seorang Perwira Pelaksana (Palaksa), pria ramah berusia sekitar empat puluhan.
Mayor menjelaskan segalanya dengan sabar. Mulai dari cara kerja radar anti-penyelundupan, data migrasi ikan yang berubah karena kapal-kapal asing, sampai bagaimana beberapa oknum pemerintah sendiri kadang memaksa TNI AL menutupi kesalahan mereka.
“Banyak yang pikir kami hanya jaga laut buat gaya,” ujar sang Mayor sambil menunjukkan ruang kendali sonar. “Padahal, setiap malam ada kapal asing yang coba masuk, ada nelayan kita yang perlu ditolong, ada jalur penyelundupan organ manusia dari perbatasan utara.”
Setelah hampir dua jam berkeliling, sang Mayor akhirnya membawanya ke tempat istirahat. “Tempat istirahat Mbak sudah disiapkan. Ada camilan juga, istirahat disini sekalian nunggu Laksamana Kalandra selesai dengan tugasnya.”
“Terima kasih, Pak,” jawab Marsha dengan tulus.
Kamar yang diberikan cukup luas dengan ranjang empuk, meja kecil, tumpukan biskuit kaleng, bahkan sebotol s**u dingin. Namun Marsha tidak tahan berada dalam ruangan tertutup. Dia mengambil sepotong kue coklat dan s**u, lalu keluar ke dek depan, bagian kapal yang menghadap langsung ke arah laut terbuka.
Angin datang menyambutnya. Hangat. Asin. Penuh suara.
Marsha duduk di besi pembatas yang lebar sambil menggigit kuenya. Di depannya, lautan membentang luas seperti halaman kitab tua yang belum selesai ditulis. Garis matahari mulai merunduk, memercikkan warna keemasan di permukaan air. Ombak kecil memantulkan cahaya seperti serpihan kaca, dan aroma besi kapal bercampur dengan bau asin laut, menciptakan rasa yang anehnya menenangkan.
Marsha menutup mata. Untuk sesaat, semuanya diam. Dunia seperti mengambil napas. Dan dia ikut bernapas di dalamnya.
Hingga— BRAKKK!
“Aaaaaaa!!”
Marsha melonjak berdiri. Kuenya hampir jatuh. Susunya terlempar ke samping. Dia menatap lantai de dan langsung menjerit lagi.
“Aaaaaa!”
“Diam astaga,” ucap Kalandra santai.
Seekor ikan besar, sepanjang lengan orang dewasa, menggelepar di bawah kakinya. Kalandra berdiri tidak jauh darinya, masih memakai rompi taktis, sebagian basah, wajahnya penuh puas seperti habis menang perang.
“Apa-apaan ini, Pak?!”
Kalandra terkekeh. “Tangkapan patrol saya. Bagus, kan? Kamu masak ini nanti malam.”
“Mas—apa?! Masak? Saya? Ini?!” Marsha memekik sambil menunduk memeriksa ikan itu. Sisiknya besar-besar, warnanya perak kebiruan. Masih
Kalandra menyilangkan tangan. “Kamu bilang suka laut. Ya sudah, hormati laut dengan masak yang benar. Itu ikan kuwe gerong. Beratnya bisa belasan kilo. Jarang dapat yang sebesar bayi begini.”
“Ini BESAR sekali, Pak! Dan masih—”
“Ini enak, Sha. Coba kamu lihat lebih jelas.”
Marsha yang juga penasaran tapi takut itu berjongkok, hendak menyentuh dengan ujung telunjuknya namun… GLUB-GLUB!
“Aaaaa!” PLAK!
Ekor ikan itu mendarat tepat di pipi Marsha. Pukulan basah, dingin, dan sangat menjijikkan. "Bapakkkk!"
"Oh, astaga, Marshaa," ucap Kalandra segera merangkup pipi Marsha dan mengelusnya, mengabaikan itu lengket dan basah. "Kenapa liatin saya kayak gitu? salah kamu sendiri."
marsha tengah menahan kesalnya menatap tajam Kalandra dengan mata memerah, abai saat pipinya terus dielus.