Melawan Nafsu

1763 Words
Setelah kejadian Kalandra mencium Marsha di bawah air yang menurut Kalandra adalah rescue breathing dan menurut Marsha adalah tindakan tidak sopan, membuat Marsha duduk diam di kursi Combat Boat sambil memeluk kamera. Bibirnya manyun, pipinya masih panas, dan tatapannya lurus ke ombak seolah laut itu punya jawaban. Sebaliknya, Kalandra berdiri di haluan kapal, sama sekali tidak sadar bahwa perempuan itu kesal setengah mati. Sesekali dia meneguk air minum, lalu berkata dengan nada datar, “Perairan ini aman. Yang berbahaya hanya satu…” Marsha menoleh. “…sampah manusia,” lanjutnya sambil menatap laut dengan tegang penuh disiplin. Marsha memutar bola mata. “Iya, iya, Pak. Aman. Saya sudah lihat.” Kalandra tidak menjawab. Combat Boat mendarat. Mereka kembali ke mobil dinas yang membawa mereka ke Markas Komando. Begitu mobil berhenti di pelataran markas, beberapa perwira muda langsung memberi hormat tinggi. “Lapor, Laksamana! Sea Survival Drill dan Combat Readiness Simulation sedang berlangsung di Lapangan Bravo!” Kalandra mengangguk. “Bagus. Tingkatkan akurasi waktunya.” Kemudian dia menatap Marsha yang masih duduk di kursi belakang dengan muka masam. “Turun,” perintahnya. Marsha membuka pintu dengan malas. “Ini waktunya makan siang, Pak. Saya harus ikut kemana?” “Kamu ikut melihat Sea Survival Drill sebelum makan siang.” Kalandra berjalan duluan tanpa menunggu. Marsha mendesah panjang, tetapi ikut menapaki jalan beraspal menuju area pelatihan. Langkah Kalandra panjang, gagah, dan cepat… sedangkan Marsha harus hampir setengah berlari agar tetap berada di radius yang aman. Sambil berjalan, Kalandra menjelaskan, “Ini pelatihan dasar untuk memastikan kesiapan personel laut ketika terjadi insiden di tengah operasi. Tujuannya memastikan mereka bisa bertahan dalam kondisi minim oksigen, tekanan psikologis ekstrem, dan arus yang tidak stabil. Selain itu—” Marsha menguap kecil. Tidak sengaja. Kalandra berhenti. Perlahan dia menoleh. “Marsha,” suaranya datar, rendah, dan bukan nada yang aman, “kamu dengarkan tidak apa yang saya jelaskan?” Marsha tersentak. “Denger, Pak… denger kok…” “Coba ulangi kalimat terakhir saya.” Marsha panik. “Eee… tekanan psikologis ekstrem… sama arus… yang… memutar?” Tatapan Kalandra meruncing. “Itu kalimat pertama saya. Bukan terakhir.” Marsha menelan ludah. “Maaf, Pak…” Kalandra mendekat. Satu langkah. Lalu dua langkah. Marsha mundur, terus mundur, sampai punggungnya menabrak dinding beton benteng kecil di sisi jalur. “Kenapa kamu tidak fokus?” suaranya rendah, hampir seperti geraman. “Dari mobil sampai sini kamu cemberut. Kenapa?” “Itu— nggak apa-apa.” “Marsha.” Tubuhnya semakin dekat. Tidak sampai menyentuh, tapi jaraknya cuma beberapa inci. “Kamu tahu saya tidak suka jawaban palsu.” Marsha menggigit bibir, gelisah. “Pokoknya nggak apa-apa, Pak…” “Kenapa?” ulang Kalandra. “Katakan.” “Tadi saya bilang nggak— apa— apa—” Kalandra menyandarkan satu tangan ke dinding beton, membuat Marsha terkunci di antara tubuhnya dan dinding itu. “Terakhir kali. Kenapa? Jawab atau saya suruh kamu pulang.” Marsha mengembuskan napas cepat, lalu meledak, “Karena tadi Bapak cium saya di bawah air! Itu pelecehan! Pasal 228 KUHP!” Kalandra diam selama lima detik. Lalu… Pelan. Sangat pelan. Dia tertawa. Marsha menganga. “Apa yang lucu? Bapak benar melakukan itu dan itu sangat tidak baik!” Setengah terkekeh, Kalandra mengangkat tangan dan menjitak kepala Marsha pelan. “Ouch, pak!” “Pertama, Marsha… Pasal 228 itu tentang ancaman terhadap penguasa, bukan pelecehan. Kedua, pasal pelecehan yang kamu maksud itu 289. Ketiga…” Dia menahan tawa. “Kamu serius menuduh saya mencium kamu karena nafsu? Di tengah operasi? Dalam air asin?” Marsha memegang kepala yang dijitak. “Sakit, Pak. Dan ya, saya nggak suka Bapak nyium saya begitu!” “Itu rescue breathing,” balas Kalandra, mendengus kesal. “Kamu hampir pingsan. Kamu diam seperti kepiting mabuk di dasar laut. Saya pikir kamu kekurangan oksigen.” “Ya tapi caranya jangan begitu.” “Memangnya ada cara lain melakukan napas buatan dalam air?” balasnya. “Marsha, kamu menyelam tanpa izin, tanpa alat, dan tanpa berpikir. Saya menyelamatkan kamu dari tindakan bodoh kamu sendiri, dan sekarang kamu menyudutkan saya? Bahkan saya guncang tubuh kamu sebelumnya, kamu tidak memberikan respon.” Marsha terdiam. Kalandra melangkah mundur satu langkah. Napasnya dalam, tampak berusaha tidak melempar Marsha ke laut. “Pulang saja,” katanya dingin. “Saya tidak butuh jurnalis yang tidak bisa membedakan penyelamatan dan pelecehan.” Marsha terperanjat. “Pak… tunggu! Saya cuma kesal sesaat! Jangan suruh saya pergi! Pak!” Kalandra berjalan cepat. Sangat cepat. Langkah pria setinggi 190 cm itu membuat Marsha hampir lari kecil mengejarnya. “Pak! Bapak dengar saya dulu! Saya minta maaf! Tapi jangan ninggalin begitu aja! Pak! Kalandra!” Pria itu tidak menoleh. Semakin Marsha mengejar, semakin jauh jarak mereka. Sampai— BRUK! Marsha tersungkur ke aspal kasar. “Aduh… aduh…!” Lututnya perih, darah mengalir dari goresan panjang. Baru setelah itu Kalandra berhenti. Dia menarik napas dalam. Sangat dalam. Seolah sedang menghitung dosa apa yang membuatnya bertemu perempuan ini. Perlahan dia menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada lutut Marsha yang berdarah. Marsha meringis sambil memegangi lukanya, tetapi masih cemberut. Dengan langkah besar, Kalandra mendekat. “Marsha… kenapa kamu selalu merepotkan saya?” Marsha mendongak, kesal. “Saya nggak niat jatuh. Bapak jalan cepat banget. Mana saya bisa nyusul!” “Dari tadi kamu seperti anak kecil,” omel Kalandra sambil jongkok di depan Marsha. “Menyelam sembarangan, marah tidak jelas, menuduh saya macam-macam… dan sekarang jatuh. Kamu pikir saya punya waktu untuk urus semua tingkah kamu?” Marsha manyun. “Maaf.” Kalandra menatapnya lama. “Napas kamu bau laut,” gumamnya dingin, “tapi ya sudah. Berdiri.” Dia menyodorkan tangan besar itu ke Marsha. Perempuan itu ragu sejenak… lalu meraih juga. Genggaman itu kuat, terlalu kuat menariknya berdiri dengan satu tarikan, seperti menarik tas ransel, bukan manusia. “Aduh! Pelan dong, Pak!” “Kamu yang pelan hidupnya,” balas Kalandra. “Langkah kamu tiga puluh senti, bagaimana bisa mengejar saya?” Marsha ingin melempar sepatu ke mukanya. Tapi memilih menahan daripada berdebat lagi dan mengamcam pekerjaannya. **** Sebenarnya Marsha sangat tidak tertarik dengan pelatihan militer yang sedang berlangsung di depan matanya. Yang dia inginkan hanyalah melihat laut, mengambil data, lalu menemukan sedikit saja bukti kerusakan lingkungan yang bisa memperkuat laporannya. Tapi kalau dia terang-terangan menunjukkan malasnya… Kalandra pasti melemparnya ke tengah laut tanpa pelampung. Jadi Marsha hanya mengangguk-angguk sambil mengikuti langkah panjang Laksamana itu. Perwira-perwira berlari, teriak komando, berguling di pasir, memanggul senjata tiruan, lalu melompat ke kolam simulasi laut. Suasana keras, intimidatif bagi orang awam tapi Kalandra menjelaskan semuanya seolah Marsha adalah mahasiswa semester satu. “Simulasi Sea Survival Drill ini melatih adaptasi awak ketika kapal mengalami kerusakan atau kebocoran,” jelasnya, tangan menyilang di d**a. “Mereka harus menguasai teknik mengapung, pelepasan beban, pengendalian napas, dan respon terhadap arus balik.” Marsha hanya bergumam, “Hmm… iya, Pak…” Kalandra melirik curiga. “Kamu dengar tidak?” “Dengaaaaaar.” Kalandra menghembuskan napas panjang, tapi melanjutkan. “Dan ini—” Kruyukkkkkk! Suara perut Marsha meledak seperti guntur mini. Cukup keras untuk membuat dua prajurit yang sedang lewat menoleh. Marsha membeku. Perlahan dia menunduk. Kalandra berhenti berjalan. Menoleh perlahan ke belakang. Lalu… Tertawa. Bukan tawa kecil. Tapi tawa rendah penuh ejekan yang sangat menyebalkan. “Hahaha… Marsha, kamu kalau lapar bisa gempa rupanya.” Marsha memerah. “Saya lapar, Pak. Dari tadi belum makan apa-apa selain udara laut. Maaf kalau perut saya bersuara, saya bukan robot.” “Sudah. Ambil mobil saya. Pergi makan. Jangan menyebalkan di area pelatihan.” Dia merogoh kantong, lalu melempar kunci mobil ke tangan Marsha. Kunci itu berat, logamnya dingin, dan logo mobilnya membuat Marsha tertegun. “Eh… Pak? Saya bawa mobil sendiri.” “Mobil kamu terhalang truk logistik,” jawab Kalandra santai. “Pakai mobil saya saja. Sekalian isi bensin. Ini uangnya.” Pria itu menyodorkan uang tunai sambil menatap Marsha seperti sedang menyerahkan tugas negara. Marsha tersenyum kecil, senyum terpaksa setelah pagi menyiksa. “Baik, Pak. Terima kasih. Saya pergi dulu.” Dia melangkah ke kanan. Padahal parkiran ada di kiri. Membuat Kalandra heran. “MARSHAAA!” suara Kalandra menggema seperti meriam. Marsha menoleh sambil mengangkat tangan pasrah. “Ke kamar mandi dulu, Pak! Tenang aja!” seolah tahu apa yang ada di pikiran Kalandra. Marsha berlari kecil menuju toilet dekat lapangan latihan. Di dalam, dia mencuci muka, mengusap pipi, lalu membuka bungkus permen dan memasukkannya ke mulut. Rasa mint kuat membuat kepalanya sedikit segar. “Sabaaaaar, Marsha. Demi berita yang bagus. Demi liputan yang naik,” gumam Marsha sambil menatap cermin. “Jangan mati gara-gara Laksamana barbar itu.” Dia keluar toilet dan menuju parkiran. Mobil Kalandra Mobil itu terlihat gagah, hitam, tinggi seperti tank kecil. Toyota Land Cruiser LC300 GR Sport — hitam mengilap. Tentu saja. Cocok dengan Kalandra yang hidupnya penuh testosteron. “Buset… mobilnya manusia atau bos mafia sih…” Dia masuk ke kursi kemudi. Interiornya kulit hitam dengan panel karbon. Wangi maskulin, campuran cedar dan sandalwood, memenuhi kabin. Marsha menyalakan mesin. Suaranya halus tapi berat, seperti suara harimau yang baru bangun tidur. Saat mobil melaju keluar markas, Marsha menyalakan radio. Dan… Chandelier – Sia mengalun. Marsha membeku. “Astaga… ini lagu favorit aku…” Karena ingin melepaskan kekesalan, dia ikut bernyanyi. Suaranya… ya… pas-pasan. “I’m gonna swing from the chandelieeeeeeer… from the chandeliEEEEEEER—” Nada tinggi keluar. Marsha ikut melepaskan semua kekesalan, frustrasi, amarah, dan rasa malu pagi ini. Dia melengking lagi. “AaaaaAAAAA—” Tiba-tiba ada suara tawa pecah dari belakang. “Hahahahahahaha!” “AAAAAAAAA!” Marsha langsung banting setir ke kiri sampai ban menyentuh bibir trotoar. Jantungnya ambruk ke kaki. Dia menoleh. Kalandra duduk santai di kursi belakang, tapi tatapannya tampak kesal. “Apa-apaaan, Pak?! Kenapa bapak ada di sini?!” Kalandra mengangkat alis. “Saya mau makan siang juga. Kenapa? Mobil saya tidak boleh saya tumpangi?” “Pak! Bapak bikin saya hampir nabrak pembatas jalan!” “Makanya,” jawab Kalandra tenang. “Jangan gegabah saat mengemudi. Fokus. Dan jangan teriak seperti banshee kesurupan.” Marsha menutup wajah dengan telapak tangan. “Kenapa Bapak nggak bilang kalau ikut?!” “Saya bilang ke anak buah saya. Kamu tidak dengar.” Marsha mendengus. “Ya saya mana tau Bapak tiba-tiba teleport ke kursi belakang…” Kalandra menyandarkan tubuh, menyilangkan kaki. “Selain itu, kamu pernah menabrak pembantu saya. Saya tidak mau mobil saya lecet. Jadi… lanjutkan mengemudi. Saya ingin lihat kemampuan kamu.” Marsha masih mengambil napas. Dia mematikan radio dengan kasar. Keheningan memenuhi kabin dan kembali mengemudi sekarang. “Ngomong-ngomong,” suara Kalandra terdengar sangat santai, “Nada tinggi kamu tadi mirip tukang kue putu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD