Marsha menarik napas dalam. Aroma bawang yang dia tumis pelan mengisi dapur marmer hitam itu, bercampur samar dengan aroma kopi hitam dari cangkir Kalandra. Jemarinya bergerak cekatan memotong sayuran, tetapi pikirannya masih tertinggal di rumah Eyang tadi yang dengan tatapan penuh hinaan, suara Ayumares yang manis palsu, dan Arveno yang berdiri di sana tanpa rasa bersalah. Sakitnya seperti mengunyah beling.
Di balik meja dapur, Kalandra menyandarkan pinggul pada counter, menyeruput kopi dengan sikap santai tapi matanya… tidak. Pria itu memperhatikannya seakan sedang mengurai jaringan saraf Marsha satu per satu. Tatapan yang terlalu fokus, terlalu dalam, terlalu… menelanjangi.
Marsha akhirnya tidak tahan. Dia melirik, mengaduk pan dengan kekuatan sedikit lebih keras. “Ehm… Pak? Kenapa lihat saya kayak gitu?”
Tatapan Kalandra tidak beranjak. “Penasaran.”
“Penasaran… apa?” Dia harus tetap memasak. Kalau berhenti, dia akan terlihat gugup. Dan gugup di depan Laksamana ini hanya akan membuatnya makin terlihat bodoh.
Kalandra mengangkat alis. “Laki-laki itu. Arveno. Mantan kamu?”
Suara sendok kayu berhenti di udara. Marsha memejamkan mata satu detik sebelum mengangguk pelan. “Dan sekarang dia dengan sepupu kamu sendiri?”
“Iya,” jawab Marsha pelan. “Mereka memang… ya begitu.”
Keheningan jatuh. Hanya suara mendesis dari telur yang dia goreng.
Kalandra meletakkan kopinya, menautkan kedua lengannya di depan d**a. Sorot matanya tidak lagi menghakimi. Tidak lagi dingin. Justru… ada keteduhan yang tidak pernah Marsha lihat sebelumnya.
“Dengar, Marsha.” Suaranya lebih lembut, berat namun tidak menindas. “Kamu masih dua puluh lima. Hidup kamu panjang. Hidupmu tidak berhenti karena pria seperti itu.”
Marsha mengedipkan mata. Kenapa tiba-tiba menasehati?
“Kamu punya café yang berjalan bagus,” lanjut Kalandra. “Tidak semua orang bisa membangun bisnis dari nol. Dan kamu jurnalis lingkungan, itu bidang langka. Tidak semua orang mau peduli pada hal-hal seperti itu. Itu artinya kamu pintar, dan kamu punya kompas moral.”
Pipi Marsha mulai hangat. Dia menunduk, sibuk membalik telur walau telurnya sudah matang sempurna sejak tadi.
“Pasangan yang akan kamu dapat nanti…” Kalandra meneguk napas pelan, seolah memilih kata. “Akan sama pintarnya. Sama hebatnya. Sama berharganya.”
Marsha tertegun. Itu bukan pujian murahan. Itu bukan belas kasihan. Itu… tulus. Dan kata-kata tulus dari lelaki seperti Kalandra Galuhpati terasa seperti hadiah yang tidak pantas dia terima.
“Anggap saja,” lanjutnya, “Tuhan sedang menjauhkan kamu dari sesuatu yang akan merusak kamu. Dari ketidakbahagiaan yang tidak kamu lihat.”
Marsha menahan napas. Telinganya panas, bukan malu… tapi karena kalimat itu begitu tepat sasaran.
“Terima kasih, Pak,” gumamnya, suara terseret keluar. “Saya… nggak nyangka Bapak bisa ngomong gitu.”
Kalandra justru terkekeh kecil, suara langka yang membuat Marsha mendongak refleks. “Jangan salah paham,” katanya, kedua alis naik sinis. “Saya bukan memuji kamu, apalagi tertarik.”
Marsha langsung sebal. “Siapa juga yang salah paham? Saya cuma suka kata-kata motivasinya. Lagian mana mungkin saya suka sama Bapak? Usia Bapak aja sudah hampir kepala empat, terus… terus Bapak itu minim nurani, galak, nggak ada manis-manisnya, tiap ngomong kayak mau—”
Kalandra menatapnya. Lama. Sangat lama. Perlahan meletakkan cangkir kopi di meja. “Minim… apa tadi?”
Marsha membeku. Otaknya baru sadar bahwa mulutnya sudah berkhianat. “S-saya… itu… saya cuma— maaf, Pak. Kelupaan napas.”
Kalandra menghela napas panjang, mendengus. “Sudahlah. Selesaikan sarapannya cepat.”
“Baik, Pak…” Marsha merutuki dirinya sendiri.
“Kita pergi jam sembilan,” tambah Kalandra sambil berjalan menuju tangga spiral menuju lantai dua. “Ke Pulau Lancang. Saya tunjukkan pada kamu kondisi laut sebenarnya. Tidak ada kerusakan yang tim kalian gembar-gemborkan.”
Pulau Lancang. Marsha menelan ludah. Itu lokasi sensitif. Indah, namun penuh isu lingkungan.
Kalandra berhenti di anak tangga kedua, menoleh sedikit. “Dan Marsha…”
“Hm?”
“Hati-hati bicara. Saya mudah tersinggung. Kalau saya sudah tersinggung, saya suka ingin menyembelih sesuatu…. Atau seseorang.”
Marsha memelototkan mata, tapi pria itu sudah menghilang di lantai atas.
Dia meletakkan spatula, lalu menepuk bibirnya sendiri. “Ya Tuhan… aku harus lebih hati-hati kalau ngomong sama pria itu…” Napasnya keluar panjang. “Sedikit salah dikit bisa mati berdiri.”
*****
Combat Boat 90 (CB90) melesat membelah permukaan air, suaranya rendah namun mantap seperti deru napas mesin yang terlatih. Ombak siang hari memantulkan cahaya matahari hingga seluruh perairan tampak berkilau seperti serpihan kaca. Marsha duduk di sisi kiri dek, memeluk kamera DSLR-nya sambil menahan terpaan angin laut. Empat awak kapal berdiri di pos masing-masing, sementara Kalandra berdiri di haluan depan dengan tangan bersedekap dengan gagah, tegas, nyaris seperti patung baja.
“Masuk zona Pulau Lancang, Komandan,” lapor salah satu anak buahnya.
Kalandra mengangguk pelan sebelum menoleh pada Marsha. “Baik. Sekarang saya jelaskan. Pakai kuping kamu untuk mendengarkan, bukan untuk melamun mantan pacar.”
“Ish, apasih, Pak,” gumam Marsha kesal.
“Operasi yang diberitakan tim kamu sebagai operasi yang merusak ekosistem sebenarnya adalah operasi pembersihan jalur selam dan perairan tangkapan nelayan,” ucapnya, pandangan masih ke laut. “Di titik koordinat 05°57’ sampai 06°01’, kami melakukan pemasangan rumpon dan penertiban alat tangkap ilegal. Tidak satu pun kegiatan yang menyentuh terumbu karang. Kami bekerja di atas dasar pasir laut.”
Marsha mengatur fokus kameranya, menyorot ke permukaan air. “Tapi publik melihat rekaman gelombang tekanan dari ledakan kecil. Itu cukup mengganggu. Dan di laporan warga, katanya… ada area yang rusak.”
Kalandra menoleh, alis terangkat. “Kamu bicara soal ledakan? Itu controlled detonation untuk memusnahkan sisa ranjau ikan rakitan yang ditemukan nelayan setempat. Kalau tidak dimusnahkan, itu bisa hilang terbawa arus dan mengenai perahu wisata. Jangan anggap semua ledakan sebagai sesuatu yang destruktif.”
Marsha mengerjap. “Tapi koordinat area rusak—”
“Baik,” potong Kalandra. “Arahkan ke barat daya.”
“Siap, Dan!”
Awak kapal mengubah haluan. Lima menit kemudian, air berubah warna tidak sejernih sebelumnya, ada serpihan kecil sampah plastik mengambang.
Marsha berdiri. “Nah! Ini. Ini yang masyarakat keluhkan.” Dia menekan shutter kamera beberapa kali, wajahnya serius.
“Sampah manusia,” jawab Kalandra tanpa menatapnya. “Arus laut Selat Sunda membawa limbah domestik dari pesisir utara. Bukan kerjaan kami. Dan tim TNI AL melakukan pembersihan rutin seminggu sekali. Sayangnya, laut tidak bisa membersihkan dirinya secepat manusia mengotori.”
Marsha menghela napas, lalu berbisik, “Benarkah?”
“Tidak ada satu pihak saja yang bisa disalahkan,” balas Kalandra. “Tapi ada banyak yang bisa bertanggung jawab.”
Marsha memanyunkan bibir, lalu bertanya, “Jadi benar perairan ini aman? Bisa dipakai berenang, begitu?”
“Iya.” Kalandra menoleh penuh, matanya gelap tapi bernada yakin. “Tidak ada ranjau. Tidak ada hewan berbahaya. Tidak ada limbah kimia. Hanya laut biasa.”
Marsha mengerling. “Tapi laut yang lain belum tentu, apalagi buktinya lebih kuat daripada perairan ini.”
Kalandra menyipitkan mata, seolah membaca tantangan di wajah perempuan itu. “Satu-satu, Marsha. Kita mulai dari yang terdekat dulu. Sana kamu coba berenang kalau mau.”
“Kalau memang aman, saya ingin lihat dari bawah. Jurnalis lingkungan butuh bukti visual, Pak.”
Kalandra terkekeh kecil, ekspresi yang jarang muncul. “Baik. Tunggu di sini. Saya ambilkan alat renang,” ucap Kalandra berbalik.
Namun Marsha tidak bisa menunggu, apalagi kepalanya berisik. Dia meletakan kamera dan ponselnya sebelum…. BYUURR!
“Mbak! Mbak jurnalis!”
“Aman kok, Pak. Saya bisa berenang,” ucap Marsha sebelum menenggelamkan diri. selain untuk melihat bukti visual, Marsha juga ingin ketenangan.
Sebab dalam air, dunia berubah diam. Cahaya matahari menembus tipis, membuat rambut Marsha tampak seperti pita gelap yang melayang. Dia menyelam lebih dalam, melewati gelembung yang berlari dari mulutnya. Di bawah sana, rumput laut bergoyang lembut. Ikan-ikan kecil bergerak seperti debu hidup. Ada bagian pasir yang teraduk, tapi tidak ada kehancuran yang diceritakan masyarakat.
Marsha memejamkan mata.
Untuk beberapa detik, dia tidak lagi menjadi jurnalis. Tidak menjadi perempuan yang dibentak eyangnya. Tidak menjadi korban pengkhianatan Arveno. Tidak menjadi pacar pura-pura Laksda Kalandra Galuhpati.
Dia hanya… dirinya sendiri. Di bawah laut yang sunyi. Mencari ruang untuk melepaskan semua ingatan yang masih menusuk d**a.
Di atas, Kalandra menatap air dalam-dalam, rahangnya mengeras. “Marsha…” gumamnya, suara nyaris tak terdengar. “Jangan bodoh terlalu lama.”
Marsha seharusnya sudah muncul. Tapi tubuh itu justru turun semakin dalam, seperti serpihan putih yang ditelan hijau laut.
“Komandan… dia nggak naik-naik,” ujar salah satu bawahan, suara mulai panik. “Izin menyelam, Komandan.”
Kalandra memajukan tubuhnya ke tepi dek, kedua tangannya menggenggam besi pagar. Detik demi detik berlalu. Marsha tidak bergerak. Tangan yang tadi sempat mengibaskan air kini turun pasif. Matanya tertutup.
“Dan?”
“Biar saya saja,” jawabnya. “….Sial.”
Tanpa kata lain, dia mencopot jaket kombatnya, lalu menarik kaosnya hingga terlepas, melemparkannya ke lantai dek. BYUURRR!
Air menelan tubuhnya seketika.
Di bawah permukaan, laut terasa lebih dingin. Kalandra menukik cepat, gerakan kakinya efisien seperti seseorang yang sudah bertahun-tahun berenang dalam operasi. Dan akhirnya dia melihat Marsha yang mengambang pasrah dengan mata terpejam, seolah tertidur.
Dia meraih bahu Marsha keras-keras, mengguncangnya. Tidak ada respons. Kalandra kesal sekali! Padahal di sisi lain Marsha tetap diam karena dia masih ingin menikmati sekitar.
Kalandra mengumpat pelan, gelembung udara lolos dari bibirnya. Dia menarik pinggang Marsha mendekat, menahan kepala perempuan itu dengan telapak tangannya. Tidak ada pilihan lain. Dia menempelkan bibir pada bibir Marsha, memberi dorongan napas buatan dalam air.
Mata Marsha membelalak, tubuhnya tersentak sadar, lalu— DUK! Dia mendorong d**a Kalandra sekuat tenaga, wajahnya penuh kemarahan sekaligus kebingungan.
Di dalam air, suaranya hanya menjadi gerakan bibir marah, “Apa yang Bapak lakukan?!”
Kalandra, yang sama marahnya, memijit dahinya sendiri lalu mendorong dahi Marsha dengan telapak tangan besar itu seperti menegur anak kecil menyebalkan, dan tanpa melakukan apapun lagi Kalandra menarik pergelangan tangan Marsha untuk naik ke permukaan.
Kalandra berulang kali meminta diri sendiri lebih sabar. Tapi bagaimana bisa jika yang dia hadapi adalah anak nakal. Kalandra bisa darah tinggi tidak lama lagi.