“Jangan bohong, De,” suara Maisa lembut tapi waspada. Ia bersandar di bantal tinggi, kaki kanannya diangkat sedikit, sementara Marsha duduk di ujung ranjang, memijat pelan telapak dan betis ibunya. “Emang beneran kamu udah punya pacar?” Marsha tersenyum sambil menekan ibu jarinya ke titik yang biasa membuat Mamanya menghela napas lega. “Beneran, Ma,” katanya ringan. “Dan aku baik-baik aja. Sungguh.” Maisa menatapnya lama. “Mama cuma nggak mau kamu pura-pura kuat,” ujarnya lirih. “Mama masih ingat kamu bolak-balik ke psikiater cuma gara-gara pria itu. Mama nggak mau kejadian itu terulang.” “Aku paham, Ma. Tapi sekarang beda. Aku nggak keberatan sama pernikahan Ayumares sama Arvino. Aku… udah lewat masa sedihnya. Aku udah nemuin pria yang cocok buat aku, yang mau berjalan bersama denganku

