Di sebuah pangkalan operasi militer terpadu yang tersembunyi di pinggiran Merauke, pagi bergerak tanpa suara. Tidak ada hiruk-pikuk kota, tidak ada klakson, hanya deru mesin yang sesekali melintas, langkah sepatu lars di atas beton, dan dengung kipas besar yang berputar lambat di langit-langit. Pukul sepuluh lewat sedikit. Marsha terlelap di sebuah ruang istirahat personel, ruangan sederhana dengan ranjang lipat militer, dinding abu-abu kehijauan, satu meja besi, dan jendela kecil berjeruji yang menghadap landasan belakang. Pendingin ruangan berdengung konstan. Selimut tipis menutup tubuhnya hingga d**a. Rambutnya terurai tak rapi di bantal, napasnya berat dan teratur, sisa obat tidur masih bekerja. Di luar ruangan itu, pangkalan hidup dengan ritmenya sendiri. Bendera merah putih berki

