Alam Tanpa Suara

1936 Words

“Pak…,” suara Marsha pecah sebelum kalimatnya benar-benar terbentuk. “Ini… kerusakan parah. Kemana pemerintah? Kemana semua orang? Kenapa mereka menyakiti Bumi?” Kakinya menyentuh pasir yang bukan lagi pasir. Teksturnya lembek, bercampur lumpur halus berwarna cokelat keabu-abuan. Setiap langkah meninggalkan jejak yang cepat terisi air keruh. Matanya menyapu pemandangan di hadapannya, pesisir yang seharusnya berkilau kini kusam, garis pantai tercoret noda minyak tipis, dan batu-batu karang yang dulu tajam kini tertutup selaput lumpur seperti luka yang dibiarkan bernanah. Di beberapa titik, kayu-kayu bekas dermaga darurat tergeletak miring, berkarat, seolah ditinggalkan terburu-buru. Bau logam dan solar bercampur tanah basah menyusup ke napas. Kalandra turun menyusul, memastikan perahu kec

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD