Tanpa Busana

1959 Words

Marsha terbangun pagi itu dengan napas yang masih terasa berat di d**a. Ia duduk sejenak di atas alas tipis, memeluk lutut, membiarkan ingatan dini hari tadi berputar ulang tanpa diminta. Hujan, teriakan, tanah yang bergerak, tubuh kecil yang dingin dan satu hal lain yang muncul seperti jangkar di tengah badai: Kalandra. Ia ingat bagaimana pria itu ada di sisinya tanpa banyak kata. Mengantarkannya ke posko pengungsian, memastikan ia berganti pakaian kering, menyuruhnya berbaring. Nada suaranya datar, tegas, tapi tangan itu hangat dan tidak goyah. Setelah itu, Marsha terlelap lelah yang terlalu dalam untuk ditolak. Kini, ketika ia membuka mata sepenuhnya, tenda itu terasa lebih sunyi. Tidak ada Kalandra. Tidak ada langkah berat atau suara radio. Hanya suara hujan yang tersisa, mengetuk te

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD