Manik Marsha menatap dari kejauhan. Dari dek kapal cepat yang mulai melambat, pulau itu tampak seperti bayangan kelabu yang terapung di balik tirai hujan gerimis. Garis pantainya tidak tegas seolah tanah dan laut sudah saling mencampur, kehilangan batas. Air berwarna cokelat pekat mengalir ke laut, membawa sisa-sisa batang kayu, potongan bambu, dan lumpur yang belum sempat mengendap. Mesin kapal meraung rendah, lalu menurunkan tenaga, sebelum akhirnya menepi di dermaga kecil darurat, sekadar susunan papan kayu dan besi yang dipasang tergesa. Ombak masih menggoyang badan kapal pelan, membuatnya tak pernah benar-benar diam. Seorang laki-laki berjas hujan biru tua mendekat. “Mbak Marsha?” sapanya keras agar menembus suara hujan. “Iya,” jawab Marsha sambil merapatkan tudung jas hujannya. “

