Ternyata dugaan Marsha total salah. Kalandra tidak melakukan apa pun yang mengarah ke… situ. Bahkan tidak sekalipun menurunkan tatapan ke arah yang membahayakan iman. Justru laki-laki itu berdiri di dapur dengan wajah datar khas seorang komandan yang sedang merumuskan strategi operasi militer. “Cookies matcha yang kamu pernah kasih ke saya dulu… buatkan sekarang.” Marsha hampir menjatuhkan mixer. “Sekarang?? Menuju tengah malam, Pak?” Kalandra mengangguk pelan, seperti ini adalah hal paling wajar di dunia. “Besok pagi saya berangkat bertugas. Saya mau bawa itu sebagai bekal. Rasanya enak. Saya suka.” Marsha membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia ingin protes. Ingin marah. Ingin menjelaskan bahwa manusia normal tidur jam segini. Tapi sebelum sempat bicara apa pun, Kalandra menambahkan

