“Sudah dibilangin, ‘kan? Sama Mas Kalandra kalau pertemuan keluarga hari Sabtu di rumah kita?” tanya Maisa sambil menimbang tepung, kacamata bacanya bertengger di ujung hidung. Nada suaranya ringan, tapi matanya sesekali melirik Marsha, memastikan putrinya benar-benar mendengar. Marsha sedang menuang cokelat chip ke adonan, tangannya cekatan, geraknya otomatis, tanda ia sudah terlalu sering melakukan ini. “Sudah, Ma,” jawabnya tanpa menoleh. “Dari kemarin juga sudah aku bilang. Hari Sabtu, jam empat. Mas Kalandra yang minta biar nggak terlalu malam. Maklum, Ibu Rindiani masih belum pulih sepenuhnya tapi sudah cepat-cepat mau ada pertemuan keluarga.” “Bagus,” gumam Maisa. “Biar jelas. Biar rapi. Mama tuh nggak enak kalau terus-terusan begini, seolah-olah semuanya digantung. Mana Ibu Rindi

