Upik Abu

1578 Words
"Maksud kamu?" ucap Arga menatap Naura. "Saya mau menghentikan misi kita. Misi kita untuk mendapatkan Bu Felly," jelas Naura. "Kenapa?" Naura diam, tidak bisa menjawabnya. Ia tidak tahu alibi apa yang akan ia pakai. "Jawab saya Naura, kenapa?" "Saya gak bisa, Pak. Lagian saya udah liat sendiri Bapak dekat dengan Bu Felly," ucap Naura. "Astaga, saya tadi hanya membantu Felly. Dia pingsan di ruangan dosen. Saya benar-benar butuh bantuan kamu," jelas Arga. "Tolong saya Naura. Saya mohon." Naura diam, ia masih bingung dengan keputusan yang akan ia ambil. "Oke. Saya akan bimbing kamu, sampai kamu lulus," ujar Arga menyakinkan Naura. "Beri saya waktu, Pak," ucap Naura. Ia berdiri dan langsung pergi meninggalkan Arga. Arga hanya diam, sembari menatap punggung Naura yang semakin jauh. Berharap, semoga Naura bisa membantunya kembali. **** From : Felly To. : Naura Dek, kamu gak pa-pa kan? "Ck! Siapa sih! Ganggu aja!" ucap Naura menggerutu sebal. Pasalnya sekarang Naura tengah berada di perpustakaan. Naura juga sedang mendengarkan lagu di ponselnya. Malah di ganggu dengan notif pesan yang masuk. From: Naura To. : Felly. Gpp Naura kembali melanjutkan aksinya. Tidur, di perpustakaan adalah sebuah hal yang sangat ia sukai. Selain sepi, ia juga bisa leluasa tidur kapan pun ia mau. Lagi, Naura menggerutu sebal. Karena semedinya di ganggu. Kali ini bukan sebuah pesan. Tapi sebuah telpon masuk. "Kenapa lagi sih Kak? Gue gak pa-pa!" ucap Naura tanpa melihat layar ponselnya. "Ra, ini gue... " Naura mengerutkan kening. Lalu melihat layar ponselnya. "Rahma? Ngapain nelpon gue?" "Lo di mana anjir! Gue sama Airin nyari lo dari tadi gak ketemu-temu!" omel Rahma. "Gue di tempat biasa. Pojok rak sastra," jawab Naura dengan santainya. "f**k! Lo di perpus dari tadi?! Njing, gue nyari lo dan gue juga ada perpus sekarang!" Naura seperti mendengar suara Rahma lebih dekat. "Nah ini si bangke di sini!" ucap Rahma. Rahma pun menutup telponnya. Sementara Naura masih santai-santai saja. "Gue ngantuk! Jangan ganggu gue ya!" ucap Naura. Naura menguap, dan merebahkan tubuhnya kembali. Rahma dan Airin duduk di depan Naura. Keduanya kompak menopang dagu mereka. "Kalian kenapa sih? Kesambet, ya?" ucap Naura kepada kedua sahabatnya. "Lo... beneran udah gak pa-pa?" tanya Airin, menatap Naura lebih dalam. "Menurut lo?" ucap Naura membalas tatapan Airin. "Gimana, Ma?" tanya Airin meminta pendapat Rahma. "Eum.... gue tahu apa yang harus kita lakukan!" ucap Rahma. Rahma dan Airin mengkode satu sama lain. Lalu mereka kompak menarik tangan Naura keluar dari perpustakaan. "Woy! Njir! Gue cuma butuh tidur! Kalian mau bawa gue kemana sih!" ucap Naura. Namun keduanya tidak merespon. Keduanya malah memasukkan Naura kedalam mobil Rahma. Dan mereka pergi dari pekarangan kampus. **** "Gimana kondisi kamu?" tanya Arga ketika memasuki ruang kesehatan. "Saya udah jauh lebih baik, kok," jawab Felly. Arga mengangguk sembari tersenyum. "Eum, kamu udah tahu? Naura kenapa?" tanya Felly kepada Arga. Arga menggelengkan kepalanya. "Dia gak mau cerita sama saya." "Huh, Naura bikin khawatir aja," gumam Felly lirih. Namun Arga bisa mendengarnya. Arga hanya diam, sembari menerka-nerka. Sebenarnya apa hubungan Naura dengan Felly? Kenapa Felly begitu khawatir kepadanya? "Saya harus ke ruangan saya. Terima kasih, ya. Tadi sudah membantu saya," ucap Felly sembari mendudukkan tubuhnya. "Biar saya bantu. Kamu masih sakit, kan?" ujar Arga. Arga segera memapah Felly. Keduanya berjalan di koridor menuju ruangan dosen. Felly diam, sembari mengamati wajah Arga dari samping. Sejak awal ia menjadi dosen di universitas ini. Ia tidak asing dengan wajah Arga. Apa mungkin ia mengenalnya? Felly mencoba mengingat-ingat. Dan, iya! Felly mengingatnya! Arga adalah kakak tingkatnya di kampus dulu. Tapi entah kenapa penampilan Arga dulu dan sekarang berbeda. Dan hal ini membuat ia lupa dengan sosok Arga. "Sekali lagi terima kasih, Pak. Sudah membantu saya," ucap Felly kepada Arga. "Iya sama-sama," jawab Arga sembari tersenyum. "Eum, kayaknya kita tuh satu kampus ya?" ujar Felly. "Saya baru ingat." "Iya. Kita dulu satu kampus. Kebetulan saya temannya Theo," jawab Arga. "Oh iya! Saya baru ingat, kalau bapak temannya Theo," jawab Felly. "Jangan panggil saya Bapak. Umur kita gak jauh beda. Panggil Arga aja," ujar Arga. "Emang gak pa-pa? Kalau saya panggil kamu Arga, aja?" tanya Felly terlihat sungkan. "Iya gak pa-pa. Kalau gitu, saya kembali ke ruangan saya, ya," ucap Arga sembari tersenyum. "Iya, sampai ketemu Arga," ucap Felly melambaikan tangannya. Arga pergi, sementara Felly masih tersenyum menatap Arga. Tiba-tiba ia mengingat semua tentang Arga. Flashback on. Felly berjalan di koridor kampus membawa setumpuk buku dalam dekapannya. Ia baru saja keluar dari perpus kampus. Untuk mencari bahan materi makalahnya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Theo. Theo merupakan kekasih Felly. Mereka sudah menjalin hubungan sejak awal-awal masuk ke perguruan tinggi. Saat itu Theo bersama dengan lelaki cupu, yang tidak lain, tidak bukan adalah Arga. "Kamu mau kemana? Bawa buku banyak banget?" tanya Theo. "Aku mau pulang. Ngerjain tugas, ini," jawab Felly. "Aku bantu, ya," ucap Theo. "Ha? Emang gak ngerepotin kamu?" "Enggak lah sayang." "Ga! Bantuin gue juga ya!" ucap Theo kepada Arga. Arga pun hanya mengangguk, membantu Theo membawa semua buku-buku Felly. "Oh iya sayang, kenalin ini Arga. Teman baru aku. Dia baru pindah dari Padang," ucap Theo mengenalkan Arga. "Arga... " "Felly... " Keduanya berjabat tangan. "By the way, maaf ya. Baru kenal udah nyusahin," ucap Felly tidak enak dengan Arga. "Iya. Gak pa-pa kok. Saya bisa membantu Theo dan juga kamu," ucap Arga begitu sopan. Sejak itu, Felly mengenal Arga sebagai sahabat Theo. Flashback Off "Iya dia Arga, sahabatnya Theo. Sekarang gimana kabar Theo, ya?" gumam Felly. Felly mengambil ponselnya. Ia pun langsung mescroll ponselnya untuk mencari kontak Theo. Saat menemukannya. Felly langsung menghubungi Theo. "Nomor yang anda tuju tidak terdaftar." "Nomornya udah gak aktif lagi," gumam Felly. "Kenapa tiba-tiba aku kangen Theo?" *** "Duh, kalian tuh ngapain sih? Bawa gue kesini?" ucap Naura menatap sekelilingnya. "Ya ngapain lagi kalau bukan nyulap upik abu jadi bidadari, iya kan Rin?" ucap Rahma meminta persetujuan Airin. "Nah betul tuh!" ucap Airin. "Gue gak mau... " ucap Naura. "Gue cuma butuh tidur. Itu aja woy!" ucap Naura. "Tidur? Ah lo mah gak asik. Udah deh! Duit lo banyak tapi gak mau ngerawat diri!" ucap Rahma pedes. "Iya. Gimana Pak Arga mau kepincut sama lo maemunah!" sambung Rahma lagi. "Heh! Tapi kan!" Sebelum protes, Rahma dan Airin menggeret Naura masuk kedalam salon. "Mbak, saya mau rubah teman saya jadi cantik kayak bidadari!" ucap Rahma kepada petugas salon. "Dih apaan? Gue udah cantik!" bantah Naura. Naura akan bangkit pergi, namun di tahan oleh Rahma. "Mbak, kayaknya kita harus ikat dia. Gak pa-pa kan? Kalau di iket?" ucap Rahma kepada petugas salon. "Ih iya mbak, gak pa-pa," jawab petugas salon. "Emang gue kangkung di iket-iket?" ucap Naura. Airin mengambil tali, dan mulai mengikat Naura. Naura akhirnya hanya pasrah. Airin dan Rahma duduk manis menunggu Naura. Sementara Rahma melirik tas Naura. Rahma mengambil ponsel Naura. Dan mencari nomor Arga. Ia mengetik sesuatu lalu mengirimnya. "Lo ngapain?" tanya Airin menatap Rahma. Airin sudah melihat sendiri, bagaimana Rahma mengirim pesan kepada Arga. "Lo gila, ya?" "Sttt.... " "Pak Arga udah nyakitin Naura! Dan Naura udah memutuskan misi mereka. Ngapain lo lakuin ini!" ucap Airin. Wajahnya terlihat begitu kesal. "Pak Arga itu, obat, sekaligus luka buat Naura. Paham kan maksud, gue?" ujar Rahma. Airin diam, ia tidak mampu berkata-kata kali kali ini. Rahma menaruh kembali ponsel Naura di tempat semula. Keduanya hanya diam, larut dalam pikiran masing-masing. Airin, bukan tidak suka Naura bahagia. Airin hanya tidak mau Naura kenapa-napa. Ia tidak mau jika Naura merasakan luka yang dulu sempat ia rasakan. Airin sangat kenal dengan Naura. Karena mereka kenal sejak SMP, bahkan Airin sudah menganggap Naura seperti saudaranya. Naura begitu baik kepadanya. Selalu ada untuk dirinya kapanpun, dimana pun. Mereka terpisah ketika SMA. Airin harus pulang ke kampung halamannya. Dan melanjutkan SMA di sana. Hal itu sangat berat untuk Airin karena Airin tahu bagaimana keadaan Naura pada saat itu. Hingga akhirnya bangku kuliah mempertemukan mereka kembali. Saat ini, Airin bersyukur, dan ia ingin menjaga Naura. "Mbak, kami sudah selsai mendandani teman, Mbak," ucap petugas salon. Membuat keduanya saling pandang. **** "Bagaimana keadaan saya, Dok?" "Cukup stabil. Namun harus menjaga istirahatnya. Tetap tidak boleh kecapean," ucap Dokter. "Iya. Terima kasih, Dok." "Kalau begitu saya pamit. Suster Hana, tolong catat kesehatannya, Nyonya Dianna Wijaya," ucap Dokter. "Baik Dok," jawab Suster. Suster melakukan tugasnya. Tok.... tok... tok... "Masuk!" "Permisi Bu," ucap seorang pria yang berjalan kearah Dianna. "Saya mau melapor, tentang wanita itu," ucap pria tersebut. Dianna hanya mengangguk. "Dia bukan orang sembarang. Dia anak dari pengusaha Atmajaya, namanya Naura Salsabila Atmajaya," jelas pria itu. "Atmajaya?" gumam Dianna. Ia sangat mengenal nama itu. "Kalau begitu, saya permisi Bu," ucap Pria itu langsung pergi dari ruangan Dianna. "Berarti dia anaknya Fania?" gumam Dianna. *** "Oh my god! Lo cantik banget, Ra!" ujar Rahma begitu heboh. "Kan gue udah bilang, gue emang cantik dari lahir!" ucap Naura membanggakan dirinya. "Besar kepala lo di puji. Padahal gue cuma basa-basi!" balas Rahma sembari tertawa. "Sialan lo Ma!" ucap Naura kesal. "Hahaha, bercanda Ra! Lo baper amat. Tapi serius deh, lo cantik banget! Aura sultannya begitu terlihat. Iya, kan Rin?" "Iya lo cantik banget," ucap Airin. "Uluh-uluh, makasih Airin ku!" ucap Naura memeluk Airin. "Udah-udah kita gak punya banyak waktu!" ucap Rahma. Ia menarik Airin dan Naura. Keduanya berjalan menuju kasir. "Mbak mau bayar atas nama Naura," ucap Rahma. "Totalnya Rp 5.700.000," ucap petugas kasir. "Ra dompet lo!" ucap Rahma. Rahma mengambil dompet Naura. "Gila, lo punya black card gak pernah di pake!" ucap Rahma. "Eh Ma, pake yang ini aja," ucap Naura menyodorkan ATM-nya. "Udah gak pa-pa ini aja. Biar Bapak lo seneng!" ucap Rahma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD