Bab 1
Matahari masuk menelusup lewat sela-sela ventilasi, sayup-sayup mata lidya mengintip fajar. Badannya terasa remuk serta kepalanya terasa berat dan pening. Tugas laporan skripsi ditambah pekerjaan yang sedang bermasalah berhasil membuat hidupnya mengalami depresi berat.
Bimbingan dosen yangtiada habisnya ditambah dengan omelan bosnya tanpa henti. Tentu itu ada sebabnya, dia diomelin bosnya karena selalu terlambat sampai ditempat kerja dan akhir-akhir ini pekerjaan sedikit kacau alias terganggu karena laporan skripsinya.
"Ahh, kenapa kepalaku berat sekali." Dia menyenderkan tubuhnya ditembok. Kemudian berusaha mengingat apa penyebab kepalanya terasa sangat berat.
Perlahan dia ingat bahwa dia baru bisa tidur jam 2 pagi, selain bergadang membuat laporannya dia juga terganggu karena pesta teman-temannya. Lidya tinggal di sebuah apartemen bersama sahabat karibnya. Orang tuanya masih ada, hanya saja dia ingin hidup mandiri menjauh dari kekangan dan aturan rumah orang tuanya. Berkat kerja sampingan menulis novelnya dia mampu membeli apartemen atas namanya sendiri.
Flashback on
Malam pukul 8.30 dia baru saja pulang dari kerja. Sepulang kuliah dia bekerja di sebuah butik sebagai karyawan. Dirinya memang pekerja keras tapi itu semata-mata hanya agar tidak ada waktu untuk termenung. Namun siapa sangka jika deadline bertabrakan akan membuatnya kualahan.
Saat dia membuka pintu, banyak sandal dan sepatu berantakan didepannya. Sontak emosinya naik 1 oktaf, "Des!" Lidya memanggil sahabatnya, desi. Sahabat yang tinggal seatap dengannya.
"Lid, kamu sudah pulang?" Tanya desi setengah terkekeh menutupi malu.
"Ada apa ini? Kenapa berantakan sekali?" Lidya masuk menggubris beberapa sandal yang menghalangi jalannya.
Desi merasa bersalah karena tidak meminta ijin terlebih dahulu pada lidya, "Hari ini ulang tahun pacarku lid, jadi aku dan teman-temannya merayakan ulang tahunnya disini."
Pikirnya lidya akan marah besar namun respon lidya hanya, "Ouhh.."
Desi bersyukur memiliki teman seperti lidya, bukan karena dia baik hati. Tapi memang dia sedikit cuek dan tampak seperti tidak peduli sama sekali yang terpenting dirinya tidak menyenggol sahabatnya tersebut.
"Ada Rendi juga disini."
Lidya langsung berhenti saat Desi menyebut nama Rendi, "Rendi?" Tanyanya mengulangi nama yang disebutkan oleh Desi. Rendi adalah mantan kekasihnya 2 tahun lalu.
"Iya, dia ada disini. Itu ada disana mau kesana?"
Lidya memutar bola matanya malas mendengar sahabatnya yang masih saja mencomblangin dirinya dengan mantan kekasih, "Des, berhenti deh jodoh-jodohin gua sama dia. Dia tuh dah tunangan dan bentar lagi mau nikah. Kenapa masih aja lu berusaha comblangin gua sama dia?" Lidya berjalan menuju mengambil segelas air untuk dia minum.
Desi yang sejak tadi ada dibelakang lidya ikut kedapur mengikutinya, "Ya maaf lid, pikir gua, lu bisa balikan lagi gitu sama Rendi. Tapi kayaknya gak ada harapan lagi ya?"
Lagi-lagi lidya memutar bola matanya malas menanggapi Desi, "Ya udah gua mau kekamar ngerjain tugas nih. Skripsi gua gak kelar-kelar si bos juga malah suruh bawa pulang kerjaan. Numpuk deh nih tugas kepala gua pusing banget kualahan asli."
"Ya salah lu sendiri sih, lagian lu dah ada sampingan nulis novel malah masih aja cari kerja mana itu tergolong kerjaan tetap. Lu masih kuliah kan susah bagi waktunya," Omel Desi karena lelah mendengar sahabatnya yang suka mengeluh.
"Ya mah gimana lagi, hidup gua susah. Butuh duit gak bisa senang-senang terus."
Seketika jiwa malas Desi meronta. Pasalnya sahabatnya itu bisa tergolong sukses karena berhasil membeli apartemen sendiri dengan uangnya sendiri dan dibeli atas namanya sendiri namun masih saja mengeluh sana sini.
"Serah lu dah lid." Desi berusaha acuh tak acuh mendengar keluhan lidya.
Lidya yang hendak kekamar pun dicegat oleh beberapa temannya Desi. Bagaimana tidak pesta ulang tahun pacarnya itu sebagian besar adalah temannya lidya juga, teman semasa SMA.
"Eh lid, udah pulang? Sini yuk gabung," Ajak leo pacarnya Desi.
"Ya entar deh gua gabung mau bersihin diri dulu." Pungkas lidya berjalan menuju kamarnya.
"Selesai bersihin diri langsung sini ya, awas lo gagal turun gara-gara ada Rendi."
Seketika Rendi menyiku temannya itu, merasa kesal karena namanya disebut-sebut dan malah jadi bahan comblangan temannya.
Bukan masalah comblangan sebenarnya tapi memang lidya sedikit menutup diri dari pergaulan yang tergolong liar. Dia tidak ingin ikut terjerumus kedalam pergaulan seperti itu. Iya lidya tidak turun setelah membersihkan diri, dia lebih memilih berkutik didepan laptopnya untuk mengerjakan skripsi. Sebab tadi saat dia berjalan melalui mereka, dirinya melihat beberapa minuman beralkohol dengan kadar alkohol yang cukup tinggi, itu bukan sekedar bir bintang biasa.
Dan pukul 11.30 otaknya buntu untuk menemukan naskah yang tepat untuk ditaruh di skripsinya dia kebingungan karena telah mencari beberapa situs web namun tidak menemukan satu paragraf pun yang sesuai dengan ideologinya.
"Ah sial, kenapa topiknya sama sekali gak ada sih?" Kesal lidya menutup laptopnya. Kemudian dia melihat kain yang keluar dari dalam tasnya, dia teringat bahwa bosnya memberikan tugas untuk dibawanya pulang.
"Gak bos, gak dosen sama aja." Baru saja dia hendak tidur namun ditundanya karena ingin menyelesaikan pekerjaannya tersebut. Dia harap agar besok tinggal menyelesaikan skripsinya saja dan bisa tidur dengan tenang karena esok adalah hari minggu.
Flashback off
Lidya mengusap-usap wajahnya, matanya masih tertutup erat saking ngantuknya. Saat kesadarannya sudah penuh terisi dia terkesiap melihat tubuhnya bertelanjang tanpa sehelai kain, bahkan dia merasakan bahwa pahanya saling bersentuhan dan terasa lengket seperti ada cairan yang menempel.
Dia melihat kesamping, sungguh dia sangat terkejut mendapatkan sosok Rendi disampingnya, "RENDI?!" Pekik lidya menutup mulutnya.
"Omay God apa yang terjadi?" Panik lidya menutupi dadanya dengan selimut.
Rendi yang mendengar teriakan namanya terbangun dari tidurnya, "Ini jam berapa sih? Udah berisik banget." Sayup-sayup dia mengambil handphonenya, "Baru jam 10 dan ini juga hari minggu. Kenapa udah dibangunin?" Dia mengucek-ucek matanya berusaha untuk bangun.
Emosi lidya sudah memenuhi dirinya, matanya terpejam sambil mengatur pernapasannya. Bahunya naik turun karena pengaturan nafasnya.
"Lidya?" Tanya Rendi kebingungan kenapa dia bisa satu ranjang dengan dirinya, "EH?!" Sontak dirinya terkejut menyadari apa yang telah terjadi.
"Lid, gua? Gua gak ada lakuin apa-apakan?" Dia mengintip dari balik selimut nya melihat bahwa tubuhnya bertelanjang bulat, "Astagfirullah!" Dia tampak panik dan kebingungan.
"Lid, gua gak bisa tanggung jawabin ini semua. Gua mau nikah."
"Ya gua juga gak minta pertanggung jawaban dari lo, gak usah GR."
"Lid, jangan keras kepala deh! Dengerin gua dulu. Gua gak tau ini nantinya bakalan kayak gimana kalau lu hamil gimana? Gua mau nikah, dah ada wanita yang gua cintai dan gua jaga komitmennya."
"Santai aja kali. Ngelakuin sekali gak bakalan bikin gua hamil, orang yang nikah bertahun-tahun aja belum tentu bisa hamil! Kenapa lu langsung mikir gua bakalan hamil hanya tidur semalam dengan lu?"
"Ya lu bisa ngomong gini lid, tapi kalau nanti beneran hamil gimana? Lu nangis, lu bingung harus gimana, terus lu minta pertanggung jawaban dari gua."
"Tenang aja ren, gua gak akan minta pertanggung jawaban dari lu, santai tenang aja. Kalau lu mau nikah, nikah aja gak usah mikirin gua." Lidya berdiri berjalan menuju kamar mandi.
"Lid, kalau lu hamil nanti, gugurin ya. Jangan dilahirin gua mohon, jangan sampai lu lahirin anak itu kalau lu hamil. Gua gak mau bikin lu menderita nanggung anak sendirian."
Brak!
Lidya membanting pintunya saat hendak menutupnya. Emosinya meledak meledak, "Setega itu, tega banget." Lirih nya dikamar mandi dengan tetesan air mata yang terus mengalir.