"Akhirnya kamu selesai juga bimbingannya, bentar lagi wisuda deh. Udah capek bapak bimbing kamu."
Ya sama pak saya juga capek bolak balik cari bapak cuma untuk bimbingan skripsi. Umpat lidya dalam hati.
2 minggu setelah kejadian itu lidya berangsur-angsur melupakannya. Tentu saja kejadian itu begitu melekat terutama perkataan Rendi padanya.
Lid, Rendi ngadain pesta tunangannya hari ini lu diundang kan? Gua diundang nih sama Rendi.
Desi.
Iya gua diundang, kenapa?
Lidya
Nyari gaun yuk buat kepestanya, masa iya lu mau pakai baju kaos sama celana jeans aja kesana? Mumpung kerja dibutik kan siapa tau dapat diskon gitu selaku lu karyawannya.
Desi.
Membaca pesan desi seketika dia melihat penampilannya, ah masa bodo. Pikirnya tidak peduli dengan pesan desi.
Lid jangan dibaca doank ihh. Lu gak lupakan? Kalau acaranya tuh malam ini?
Desi.
"Eh?" Sontak lidya langsung membaca surat undangan digital yang dikirim Rendy padanya, dia pun langsung menarik bar notifikasi kebawah untuk melihat tanggal yang tertera di hpnya, "Astaga, masa iya harus datang?" Alih-alih terkejut dengan tanggalnya dia justru bertanya datang atau tidak ke acara tersebut.
Ayolah lid, sampai kapan sih mau ngehindar dari Rendi? Wajar aja Rendi nikah duluan kan? Dia umurnya lebih tua dari elu, dan elu juga masih kuliah dan baru lulus tahun ini.
Desi
Lidya menghela nafas berat membacanya. Jujur saja yang dikatakan Desi benar dia memang menghindari Rendi semenjak putus dengannya. Baginya Rendi adalah segalanya tapi perbedaan yang begitu besar diantara mereka membuat lidya menyerah dan mendoakan Rendi dengan yang lain. Sakit tentu dalam hatinya begitu perih namun lidya tidak ingin membuat Rendi menderita dengannya.
Lid! Woi astaga
Desi
Ya udah ayo sini ke butik sendiri
Lidya
Tega benar. Ya udah entar jam 2 gua kesana.
Desi
Lidya menahan air matanya yang sudah berada dipelupuk mata. Dia masih saja merasakan kepedihan tentang Rendy meski dirinya sudah cukup lama berpisah darinya.
Sesampainya di butik lidya langsung menaruh barangnya di gudang penyimpanan. Tempatnya memang untuk menaruh barang sementara karyawan layaknya tempat penitipan barang namun menjadi satu dengan gudang butik.
"Mbok ayu," Panggil lidya pada admin butik yang biasanya jadi tangan kedua dari Bosnya.
"Ya lid?" Tanya mbok ayu masih sibuk menata gaun-gaun yang bergantung.
Lidya tampak malu-malu untuk mengatakannya, "Lidya sama teman lidya mau nyewa gaun disini mbok, boleh gak mbok? Pakai nanti malam. Kira-kira ada gak ya gaun yang belum di Handel?"
"Banyak mah lid, pilih aja yang gak ada kertasnya. Tapi sebelumnya udah bilang ke Cece?"
Cece adalah bosnya sekaligus pemilik butik ini. Iya dari namanya cece adalah sebutan cewek untuk orang cina. Karena memang bosnya adalah keturunan Cina. Namun sudah lama tinggal di Indonesia.
"Belum mbok, lidya takut." Ungkap lidya blak-blakan.
Mbok ayu yang mendengar ketawa, "Hahaha lidya gapapa, ngapain takut malah cece senang dia dapat duit. Kamu ini aneh sekali. Lagian kamu juga kan karyawan yang disenangi cece jadi santai aja gak perlu takut. Bilang dulu sama cece kalau mau pinjam gaun, soalnya sore ini cece gak balik ke butik anaknya lagi sakit."
"Ouh ya mbok, lidya bilang dulu ke cece." Lidya langsung mengambil handphone nya untuk mengirim pesan ke cece.
"Gimana dah dibalas sama cece?" Tanya mbok ayu setelah 2 jam berlalu.
Lidya langsung melihat handphonenya, dia belum sempat melihat notifikasi lagi karena terlalu asik dengan pekerjaan yang dia pegang, "Belum mbok."
"Cece kayaknya sibuk. Kalau udah anaknya sakit uhh gak bisa lepas dari anaknya dia terus jagain anaknya. Makanya kalau dah dirumah handphonenya jarang dipegang malam-malam baru kirim pesan. Kadang mbok Kepupungan kalau dah kayak gitu."
Lidya tertawa kecil mendengar keluhan mbok ayu. Sesaat kemudian notifikasi masuk dari handphonenya.
Iya boleh pilih aja, bilang ke mbok ayu supaya diurus administrasi nya.
Cece
Makasih ce.
Lidya
"Boleh katanya mbok, udah dibalas," Tutur lidya kemudian.
"Ya pasti boleh, cuma formalitas harus ijin duluan. Pilih aja entar mbok ayu catat di buku administrasi."
"Ya mbok."
Baru saja lidya berdiri ada motor datang menuju butik, "Siapa itu?" Tanya mbok ayu. Karena ingatnya tidak ada janji apapun hari ini.
"Temannya lidya mbok, mau pinjam baju juga," Ungkap lidya.
"Ouh, tapi tadi udah bilang kalau pinjamnya berdua?"
"Udah mbok."
***
Malam pesta pertunangan Rendi dilakukan Outdoor. Banyak teman-temannya datang. Meski lidya cukup akrab dengan Rendi tapi diantara tamu undangannya hanya beberapa yang lidya kenal.
Lidya tampak sedikit malu dengan gaya pakaiannya, karena kebanyakan yang datang menggunakan pakaian sederhana. Kebanyakan juga berhijab sementara dirinya terlihat sedikit glamour.
Menggunakan dress merah ati ketat yang panjangnya menutupi mata kaki. Potongan rendah d**a tanpa lengan, lekukan tubuh yang terlihat jelas membuat dirinya minder berada di pesta ini.
Awalnya dia tidak berani untuk ikut bergabung, namun semakin malam acaranya orang-orang mulai datang dengan gaya gaun tidak jauh beda dengan gaya pakaian lidya. Dia pun mulai berani untuk berjalan mengambil minuman. Sejak tadi dirinya menahan rasa haus cukup lama.
"Hay, aku kira kamu gak bakalan datang."
Lidya perlahan membalikan tubuhnya, "Eh hay, selamat ya bentar lagi mau nikah."
"Iya makasih. Makasih udah datang kesini."
Lidya melepaskan jabatan tangannya dari Rendi. Dengar-dengar Rendi akan menikah bulan depan setelah acara tunangan. Lidya merasa sesak d**a mendapatkan berita tersebut.
"Masih aja nundukin kepala?"
"Hum?" Lidya seketika menatap Rendi yang ada dihadapannya. Lidya memang belum bisa move on dari Rendi perasaanya masih bertaut dengannya, namun dia tidak ber tergantungan juga dengannya. Makanya dia menyibukkan diri agar tak teringat dengan mantan kekasihnya tersebut.
"Kenapa terus nundukin pandangan gitu? Santai lid, aku gak bakalan lahap kamu kok."
lidya tersenyum kikuk menganggapinya, " Aku kesana dulu ya," Pamitnya hendak pergi.
Namun Rendi mencegat nya dan justru menariknya kebelakang.
"Ren... Apa yang kamu lakuin?" Pekik lidya pelan agar tak didengar orang-orang. Dia berusaha melepaskan cengkraman Rendy dari tangannya.
Bukannya melepaskan lidya, Rendi justru mendekatinya dengan mencium tekuk leher lidya.
"Ren!" Peringatan lidya berusaha menjauh dari Rendi.
Namun Rendi tampak masa bodo dan tetap menyambar tekuk leher lidya.
Lidya tampak menahan rangsangan yang timbul akibat ulah Rendi.
Perlahan-lahan Rendi menjelajahi nya hingga dia kini mulai mendekati bibir lidya, "Kenapa takut begitu?" Tanyanya.
Lidya perlahan membuka mata dan jarak mereka hanya beberapa cm, "Ren lepasin.." Dia berusaha untuk melepaskan lengan Rendi dari pinggangnya.
Namun Rendi justru makin menggila, dia mencium bibir lidya seakan-akan nafsunya sudah tak bisa menahannya lagi.
"Euhm..." Lidya terengah-engah saat tangan kiri Rendi menelusup ke tekuk leher belakangnya.
Takut, namun berhasil terangsang membuat lidya sesak nafas dengan perlakuan Rendi.
Rendi pun melepaskan ciumannya dia kemudian menatap lidya yang masih saja menurunkan pandangannya, "Kamu pernah bilang kalau kamu udah gak punya perasaan gak mungkin kmu takut ngelihat aku, ya kan? Hari ini kamu masih nurunin pandanganmu." Rendi mencoba memegang dagu lidya agar matanya saling bertatapan.
Meskipun dagu lidya terangkat, bola matanya tetap enggan untuk menatap Rendi.
"Apa yang terjadi lid?" Lirih Rendi bertanya, seakan-akan lidya menyembunyikan sesuatu.
Kenyatannya, lidya masih memiliki perasaan pada Rendi. Matanya mulai berkaca-kaca dan dia sudah tidak kuat untuk menahannya, "Aku harus pergi ren," Lirih lidya berusaha melepaskan tangan Rendi dari pinggangnya.
Tapi Rendi justru mengangkat tubuh lidya, "Aakh-" Lidya langsung menutup mulutnya agar tidak didengar oleh orang-orang.
"Ren, kamu mau bawa aku kemana?" Tanya lidya karena tiba-tiba saja Rendi menggendongnya. Rendi tetap bungkam tidak mengatakan sepatah katapun.
Sampai didepan pintu lidya berusaha untuk melarikan diri, namun dirinya terperangkap, "Ren, kamu ngapain bawa aku kesini?"
Rendi tetap diam membuka pintu dan mendorong lidya untuk masuk.
"Ren?!" Lidya berusaha untuk pergi namun Rendi mengunci pintunya dan dia melempar kuncinya asal entah kemana.
"RENDI?!" Pekik lidya tidak percaya dengan sikap Rendi.
"Jujur coba sama aku apa yang terjadi?" Tanya Rendi berjalan mendekati lidya.
Lidya perlahan-lahan mundur menghindari Rendi, "Maksud kamu apa sih ren? Apanya yang apa coba? Gak ada apa-apa." Dia mencoba mendorong pundak Rendi karena sudah hampir terpojok.
"Lihat mata aku lid, lihat!" Rendi memaksa lidya untuk melihatnya dengan mencengkeram dagunya namun lidya berusaha untuk menghindar.
Rendi adalah sosok yang bisa melihat apapun dari sorot mata seseorang dan lidya berusaha untuk menghindar tidak ingin Rendi sampai tau bahwa dia masih mencintainya.
Hingga akhirnya air mata lidya mengalir sangat deras, dia berusaha menatap manik-manik Rendi. Sesaat hanya berlangsung 1 detik kemudian manik-manik menghindar untuk bersitatap.
Seketika Rendi mencium bibir lidya dengan penuh hasrat. Lidya terus memukul-mukul pundak Rendi. Namun satu tangan Rendi yang menelusuri lehernya mampu membuat badan lidya merinding.
"Lid, jujur... Kamu masih punya perasaan sama aku?"
Lidya menahan air matanya, mengumpulkan keberanian untuk menatap Rendi, "Kamu akan menikah ren. Kamu gak bisa kayak gini sama aku."
Rendi justru mencium tekuk lehernya, membuat air mata lidya mengalir saat dirinya menutup mata. d**a lidya naik turun mengatur pernapasan. Tangan Rendi mulai melepaskan resleting gaun milik lidya.
"Ren." Tangan lidya menghentikan pergerakan tangannya Rendi.
"Kenapa? Jika kamu tidak menyukainya kenapa tidak menendangku?" Tanya Rendi.
Mata mereka hanya berjarak 5 cm.
Lidya tetap bungkam dan perlahan resleting gaunnya mulai turun. Lidya tidak bisa mengatur pernpasannya.
Rendi kembali melumat bibir lidya dengan nafsunya. Tak bisa dipungkiri bahwa lidya juga menikmatinya namun dia tetap berusaha untuk mencegah pergerakan Rendi.
"Uhm.." Desahan lidya langsung lolos saat Rendi meremas payudaranya.
Nafas lidya terengah-engah ciuman Rendi semakin mematikan untuk nya. Dengan keberanian yang terkumpul lidya berusaha mengungkapkannya, "Aku pengen nikah sama kamu..."
"Kenapa baru bilang sekarang?" Lirih Rendi bertanya pada lidya.
Lidya menahan air matanya, "Aku gak berani ngungkapinnya, karena pertengkaran kita terlalu besar hingga berujung perpisahan. Dan kita terlalu berbeda untuk disatukan. Aku juga terlalu buruk buat kamu. Aku sadar itu makanya aku memilih untuk mundur."
Rendi langsung memeluk lidya dengan sangat erat. Tangis lidya pun pecah dipundak Rendi.