Plak! Plak! Plak!
Tamparan bolak balik dari ayahnya membuat tubuh lidya terhempas. Air matanya mengalir deras setelah tamparan keras yang didapatnya.
Emang harusnya aku gak pulang, ujar lidya dalam hati.
Sebelum lidya pulang...
Di kampus...
Lidya sedang berfoto-foto dengan teman-temannya dikampus. Ini adalah hari wisudanya.
"Lid, itu.oramg tua lu kan?" Tanyanya maya teman sebangkunya.
Lidya langsung menoleh kearah yang ditunjuk maya. Benar itu orang tuanya yang baru saja datang, mereka pasti sibuk bekerja sehingga baru bisa datang saat acaranya sudah hampir selesai.
"Selamat ya nak, kamu udah lulus. Ibu bangga sama kamu."
"Makasih bu." Lidya mencium tangan ayah dan ibunya.
"Ayah dan ibu udah buatin makanan buat kamu dirumah, nanti kerumah dulu ya? Gak ada kerjakan hari ini?" Tanya ibunya.
Orang tuanya tau bahwa lidya memang menyibukkan dirinya sendiri selama ini. Lidya menganggukan kepalanya, "Iya gak ada, lidya minta libur acara wisuda." Pelepasan mahasiswa ini memang berlangsung hingga sore hari sehingga lidya tidak bisa kembali bekerja jika acaranya sudah sudah selesai. Sudah lewat dari jam kerja siangnya.
Namun siapa sangka yang dia sembunyikan selama ini justru harus diketahui orang tuanya saat dia berada dirumah. Benar kata pepatah sejauh-jauhnya tupai melompat ia akan jatuh juga. Begitulah nasib lidya, sejauh-jauhnya dia pergi, sebohong-bohongnya dia menyembunyikan rahasia orang tuanya tetap akan mengetahuinya.
Tas lidya tanpa sengaja terjatuh saat dia hendak meletakkannya diatas meja. Beberapa barang yang dia taruh dikantong samping keluar berserakan bersamaan dengan alat test pack yang belum sempat dia buang.
"Ini punya siapa lid?" Tanya ibunya ragu-ragu.
Lidya mencoba berpikir, "Itu punya temannya lidya bu, lidya lupa untuk membuangnya."
"Kamu hamil?" Tanya ayahnya menangkap basah kebohongannya.
"Enggak yah, lidya gak hamil."
Plak!plak! Plak!
Tamparan keras itu mendarat di pipinya.
"Kamu jangan bohong lidya?! Jujur sama ayah sama ibu, kamu hamil?!" Tanya ayahnya dengan nada tinggi.
Untungnya mereka sedang berada didalam rumah, dan ukuran rumah yang cukup luas sehingga tidak bisa didengar begitu saja oleh tetangganya.
"Maafin lidya yah.." Lidya pun mengakui kesalahannya dia tak bisa lagi berbohong. Insting orang tuanya pasti lebih kuat meskipun berbohong dia akan tetap diketahui juga pada akhirnya.
"Siapa ayahnya?"
"Dia sudah menikah yah." Lidya tidak tau lagi bagaimana kabar Rendi. Lidya melarikan diri dari masa lalunya.
Ayahnya shock berat mendengar penuturannya, "Kenapa kamu bisa hamilin anak, dari ayah yang sudah menikah?"
"Kejadiannya sebelum dia nikah yah."
"Kenapa kamu bisa lakuin sama dia, kamu pasti tau kalau dia bakalan nikah iyakan? Orang nikah itu udah direncanakan jauh-jauh lalu kenapa kamu masih deketin dia?" Tanya ayahnya tak percaya.
Lidya menghela nafas, menahan air matanya, "Seandainya ayah gak banding-bandingin dia sama orang lain. Seandainya ayah mau nerima dia. Seandainya ayah dan ibu merestui hubungan kami. Mungkin lidya sama dia gak akan berpisah-"
"LIDYA!!!" Nafas ayahnya memburu emosinya siap meledak, "Ayah gak merestui hubungan kalian, karena kamu masih sekolah lidya, ayah gak mau kamu sampai gagal sekolah karena pacaran. Tapi sekarang apa? Yang ditakutin ayah sama ibu beneran terjadi."
Lidya hanya menundukkan kepalanya, matanya terus berkaca-kaca.
"Terus sekarang gimana? Kamu mau ngapain?" Tanya ayahnya beranjak duduk disofa.
"Lidya mau rawat anak ini," Jawab lidya memegang perutnya.
"Bagaimana bisa kamu ngerawat nya lidya? Bagaimana bisa kamu melahirkannya?"
"Ya dilahirin," Saut lidya masa bodo.
"Kamu bisa jawabnya gitu, tapi status nya? Bagaimana dengan statusmu di KTP. Tidak menikah tetapi memiliki anak, bagaimana dengan pikiran masyarakat seorang wanita single merawat anak?"
"Kalau begitu carikan lidya calon suami, nikahkan saja dulu. Kalau nantinya dia minta cerai ya gapapa setidaknya lidya menyandang status janda sebagai seorang ibu."
"LIDYA!!!" Ayahnya mengusap wajahnya frustasi mendengar jawaban putrinya tersebut dia tak habis pikir bagaimana bisa putrinya mempunyai solusi tanpa berpikir panjang.
"Ayah gak tau mau gimana lagi sama kamu lid," Ujar ayahnya kualahan.
"Ya jangan dipikirin." Lidya bangkit dan mengambil tasnya.
"Kamu mau kemana nak?" Tanya ibunya mencegat lidya pergi.
"Lidya mau pergi bu, gak mungkin lidya tinggal disini yang ada lidya cuma jadi aib keluarga."
"Kamu mau pergi kemana? Apartment?" Tanya ayahnya.
Lidya menggeleng, "Pergi sejauh yang bisa lidya lakukan sampai orang-orang terdekat lidya gak akan tau kalau lidya hamil dan melahirkan seorang anak."
"Nak, jangan pergi. Tinggal disini sama kami. Ibu dan ayah akan merawat kamu. Kamu gak bisa tinggal sendirian diluar sana dalam kondisi seperti ini. Kamu sedang hamil kamu pasti kesusahan menanggung semuanya sendiri apalagi sampai kamu melahirkan nanti, siapa yang akan menolong mu?" Tanya ibunya menggenggam telapak tangannya.
"Diluar sana banyak orang baik kok buk, gak semuanya jahat. Saat lidya kesusahan siapapun pasti nolongin lidya."
"LIDYA! Gak semua orang kayak gitu, kamu bisa ngomong seenaknya tapi kamu gak pernah mikir diluar sana ada apa aja. Kamu ngomong ini itu tanpa berpikir apapun!" Maki ayahnya tak suka dengan perkataan lidya.
Lidya tersenyum kecil, "Ayah sama ibu selalu berpikiran negatif gak bolehin lidya ini dan itu-"
"Tapi kenyataannya apa? Yang terjadi?! Kamu hamil? Salah siapa? Kamu sendiri, ibu sama ayah buat aturan demi kebaikan kamu sekarang kayak gini kan jadinya?!" Sanggah ayahnya membenarkan diri.
Lidya menggelengkan kepalanya, "Ayah sama ibu selalu mentingin ini dan itu, gak pernah nanyak apa lidya butuh teman atau tidak. Lidya selalu gak dikasih keluar rumah bahkan baru keluar 2 jam saja sudah disuruh pulang. Karena itu semua lidya jadi jarang berkomunikasi dengan teman-temannya lidya."
Ibunya menitikkan air mata, "Nak, ayah sama ibu pengen yang terbaik buat kamu. Ingin kamu sukses dan bisa mendapatkan masa depan yang cerah."
"Lidya sudah mendapatkannya, sekarang lidya pergi. Karena lidya sudah bawa aib gak mungkin lidya tinggal disini yang ada justru hanya bikin malu keluarga." Lidya pergi seraya menggendong tasnya.
Pergi sejauh yang lidya bisa.
---
Di Apartment lidya.
Rendi setengah frustasi sudah hampir 3 minggu dia mencari lidya namun tidak menemukan jejaknya sedikitpun.
"Des, kamu udah nanyakin lidya?" Tanya leo pada pacarnya.
"Iya leo, tapi ponselnya gak bisa dihubungi."
"Ren lo gimana?"
"Gua kayaknya diblokir dari dulu semenjak gua putus dari dia."
Leo menepuk jidatnya. Dia mencoba untuk mengirimi pesan pada lidya.
"Jangan pakai lo gua kalau ngechat lidya, yang ada enggak dibalas sama dia," Ucap Desi memperingati pacarnya.
"Lah kenapa? Dia biasakan pakai gua lo?"
"Iya tapi kalau chatingan sama dia kudu tau tata krama apalagi kalau pertama kali istilahnya pembukaan chat, kudu tutur sopan santun supaya gak naik emosinya lidya. Jangan sampai niatnya baik eh gak sengaja justru nyenggol dirinya."
Leo menghela nafasnya diapun langsung memperbaiki pesan teksnya yang belum dia kirim.
"Kalau lidya pergi, terus apartment nya gimana?" Tanya Desi khawatir dirinya hampir menangis.
"Ya dijaga aja sampai lidya balik," Timpal Rendi menyautinya.
"Lagian duit lidya berapa banyak sih? Kabur sana sini, pergi rumah orang tuanya beli apartment sekarang dia pergi gak ada kasih kabar apapun apalagi Desi sahabatnya yang biasa menjadi teman tidur setiap malam," Ujar leo penuh kekesalan pada lidya.
Desi langsung memeluk leo dari samping. Beberapa saat kemudian ada kurir datang mengantarkan surat ke apartment lidya.
"Dari siapa pak?" Tanya Desi pada pak kurirnya.
Pak kurir langsung melihat nama yang tertera di amplopnya, "Dari lidya."
Desi sontak lompat kegirangan, "Makasih pak." Setelah menerima amplop yang dikirim kurir. Dia langsung masuk dan memberitahukan pada Rendi juga leo, "Ini lidya ngirimin surat buat gua!"
Rendi terperangah menghampiri Desi, "Coba dibuka apa isinya."
"Bentar-bentar!" Desi menyobek amplopnya dan membuka surat yang ada di dalamnya.
Des, ini gua lidya.
Gua ngirim surat ini karena gak mau bikin lu khawatir dan panik saat gua pergi. Karena gua gak akan balik lagi ke sana. Lu bisa tinggal di apartment gua. Jaga apartment gua ya, lu bisa buat pesta atau tinggal sama leo. Gua gak bakalan marah lagi karena gua udah gak tinggal disana lagi. Untuk bayar listrik dan air lu bisa sendirikan? tangani semuanya?
Maaf gua gak sempat pamit sama lu, dan gua pergi gitu aja tanpa aba-aba. Jangan pernah nyariin gua ya, karena lu gak bakalan bisa nyari keberadaan gua. Nomor telepon akun sosmed udah semuanya gua ganti yang sebelumnya udah gua hapus. Sorry gak bisa contact contactan lagi sama lu.
Sesekali gua mungkin akan kirimin paket buat lu sebagai hadiah dari gua. Supaya lu gak sedih dan lupain gua hahaha. Bahagia selalu ya sahabat gua tercinta dan semoga lu bisa cepat nikah sama leo.
Salam sayang
Lidya.
Desi menitikan air matanya membaca pesan singkat yang dikirim lidya. Hatinya hancur berkeping-keping, "Kenapa sih lidya pergi? Dia ada masalah? Kenapa dia gak mau cerita ke gua? Kalau emang dia butuh teman curhat dia bisa cerita ke gua. Dia anggap gua sahabat kan? Tapi kenapa dia selalu mendam penderitaan seorang diri?"
Leo memeluk desi untuk menenangkannya, "Disuratnya ada alamat pengirimkan? Bisa dicari ke lokasinya kan?"
Rendi menepuk pundak leo, "Percuma, dia gak ada disana karena alamat yang dia kirim adalah alamat orang lain bukan alamat miliknya. Dia pernah kirim paket kerumah gua, tapi gak ada contact nya dia sama sekali."
"Terus lu gimana caranya tau kalau yang kirim itu lidya?" Tanya leo penasaran.
Rendi tersenyum, "Dari barang yang dia kirim."
Leo dan desi bersitatap bingung dengan apa yang dikatakan Rendi.
"Dah ya gua pamit, mau pulang." Rendi melambaikan tangannya pada leo dan desi.
Dalam hati Rendi bertanya, Lid lu kemana? Kenapa lu pergi? Gimana keadaan lu disana? Apa lu hamil? Kenapa bikin gua kepikiran tentang lu, gua takut lu nanggung penderitaan seorang diri padahal gua juga ikut adil untuk bertanggung jawab. Lid please, jangan bikin gua merasa bersalah kayak gini.
Rendi melajukan motornya sangat kencang dengan kecepatan 120km/jam.