Bab 4

1515 Words
Sebuah perjalanan panjang harus ku lalui demi bisa sampai di tujuan. Hari ini adalah awal pertama aku bekerja. Ditempat yang mau menerimaku dengan gaji yang cukup untuk sehari-hari. "Lid, " Panggil seseorang dari belakang sambil menepuk pundakku. "Ya mbak? " Aku berbalik badan berhadapan dengannya. "Ini tolong kerjain ya, lalu siapkan file dokumen yang kemarin aku minta masukin ke flashdisk ini, " Titahnya memberiku setumpuk map berkas dan satu flashdisk dengan gantungan kunci. "Siap mbak nanti aku kerjain. " "Oke semoga hari mu menyenangkan, semangat kerjainnya. " Dia mbak Dian. Atasanku di divisi administrasi. Usia sekitar kepala 3 mendekati 40an. Seorang wanita single parents yang bisa dibilang senasib walau beda kisah. Setidaknya aku memiliki teman yang sejalur denganku walau aku harus menerima beberapa kritikan teman-teman sekantor hanya gara-gara aku anak baru tapi sudah lebih dekat dengan atasan. Ya beginilah dunia kerja tak pernah seindah waktu dulu membayangkan. Saat kecil ingin cepat-cepat kerja ekspetasinya dapat banyak duit biar bisa beli ini itu tapi kenyatannya semakin dewasa semakin banyak kebutuhan dan harus bisa manage keuangan seminimal mungkin. Aku terduduk dengan menengadah perut yang kian membesar. Usia kandungan ku kini sudah 7 bulan dan menurut prediksi dokter bayiku mungkin akan lahir 2 minggu lebih cepat dari bulan kelahiran yang seharusnya. Aku hanya bisa berdoa dan meminta agar anakku baik-baik saja selama aku bekerja keras mencari nafkah seorang diri. Aku mulai menyiapkan salinan berkas seperti yang diperintahkan oleh mbak Dian. Satu per satu map merah itu aku buka untuk melihat semua kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan termasuk ngeprint mengeprint dan fotocopy. Aku harus mencetak beberapa berkas untuk dimasukan dalam map dan juga memfotocopy yang diperlukan. Sayangnya mesin printer tidak ada dimeja layaknya teller bank. Aku harus berjalan ke ruangan lain untuk mengerjakan semuanya sendirian. Ya setidaknya mesin sudah tersedia hanya tinggal digunakan saja, jadi aku melakukan fotocopy sendiri. "Aku dengar hari ini bos akan datang kekantor, " Ucap seseorang melintasi diriku di tempat percetakan. "Ya katanya sih gitu, kenapa ya dia kekantor bukannya biasanya pak heri yang selalu nanganin masalah disini? " Dua orang wanita sedang bergosip dibelakang ku. Mereka juga sedang melakukan fotocopy berkas. "Gak tau ya, keknya lagi genting banget sampai-sampai dia datang kekantor. " "Iya ihh, seram tau dan kita juga selama kerja disini gak pernah lihat wajahnya. " "Iya betul banget takutnya aku nanti dia udah ada disini nyamar jadi orang kantor tapi ternyata dia bos kita, kan seram. " "Ya sama gua takut dipecat kalau kek gitu ceritanya. " "Ya Allah ya Robbi moga aja enggak ya. " "Aamiin" Disaat yang bersamaan jam sudah menunjukkan pukul 12.30 yang menandakan waktunya istirahat kantor. "Eh udah jam istirahat yuk istirahat dulu entar kita lanjutin lagi. Kan masih banyak nih bisa ditunda dulu. " "Ya udah ayo. " Aku menundukkan kepala berusaha menghindari mereka. Namun tetap saja istilah Indonesia begitu melekat pada budaya dan tradisi. "Mbak ayo istirahat dulu, " Ajaknya menyapa diriku sambil memegangi pundak. Aku mengangguk kikuk bingung mau menjawab apa, "Ya duluan, nanti saya susul. " "Ya udah aku duluan dulu ya daa. " "Daa.. " Budaya ramah tamah memang tak semuanya bisa melakukan tapi aku selalu beruntung berada pada orang-orang yang selalu menghargai dan menghormati satu sama lainnya. Tinggal satu berkas lagi yang harus aku fotocopy dan semuanya selesai. "Lho mbak lidya gk istirahat? Nanti telat lho istirahat nya ini udah lewat 10 menit dari jam istirahat, " Sapa seorang pria cleaning service yang usianya seumuran dengan ayahku bisa dibilang dia sangat tua namun begitu ramah dan perhatian dengan orang lain bahkan dengan orang baru pun dia sangat hangat dan juga ramah. "Iya pak nanti nanggung ini lagi satu abis itu udah selesai. " "Ya mbak jangan telat-telat istirahatnya kasihan naka mbak didalam kandungan nanti nangis minta nasi. " Sontak aku tertawa terbahak-bahak mendengar gurauannya, "Ya ampun pak-pak bisa aja. " Tanpa aku pedulikan ada seseorang berjas hitam melalui kami. Dia memakai setelan jas rapi dengan secup kopi ditangannya. Selesai dengan semua urusan percetakan dan perfotocopyan aku menatanya sesuai satu file yang aku jepit dengan triangle lalu aku berjalan menuju meja dan menaruhnya disana. Sisa 15 menit lagi untuk jam istirahat. Aku berjalan kekantin dan mencari makanan cepat saji yang bisa aku makan tanpa butuh waktu lama. Pilihanku jatuh pada roti lapis dan s**u. Hanya itu makanan yang bisa mengganjal perut tahan lama tapi tidak memerlukan waktu banyak untuk makan. Sayangnya semua meja penuh dan hanya ada kursi kosong didepan pria berjas rapi itu. Aku permisi didepannya meminta ijin untuk duduk, "Permisi, boleh ikut satu? " Tanyaku sopan padanya sambil membawa beberapa makanan yang aku bawa. Dia meiliriku sejenak, "Silahkan." Nadanya begitu dingin dan membekukan suasana. Sebenarnya aku tidak begitu nyaman berada disini tapi tidak ada tempat yang bisa aku tempati. Aku terus melihat-lihat sekeliling berharap ada tempat lain tapi nihil tidak ada kurai kosong. "Kamu hanya makan itu saja? " Telingaku mendengar jelas perkataannya tapi aku tak ingin salah tangkap sehingga aku meminta dia untuk mengulangi lagi pertanyannya, "Ah? Ya apa?" Tanya ku seperti orang kebingungan. "Kamu hanya makan itu? Bukankah ini jam makan siang? Kenapa tidak makan sesuai porsi mu? " Selain kurangnya waktu buat makan, aku juga butuh berhemat untuk mempersiapkan uang saat persalinan nanti. Tapi aku tak bisa mengatakan itu padanya. Dia orang baru yang tak ku Kenal, "Hum ya gapapa, jam istirahat bentar lagi selesai aku tidak ingin dipecat hanya gara-gara mengkorupsikan jam istirahat. " Dia menggeleng pelan mendengar jawabanku. Tepat saat dia bangun jam istirahat sudah selesai. Dia melambaikan tangan pada pedagang nasi campur yang ada dibelakangku. Ku kira dia akan membayar pesanannya, tapi dipikir-pikir tidak ada piring kotor bekas makanan disini. "Berikan dia satu porsi lengkap dan minuman ini uangnya. " "Eh?! " Pekik ku kaget mendengarnya. Sebenarnya dia siapa? Kenapa membelikan aku makanan padahal kita tak berkenalan sama sekali. "Istirahat saja dulu kamu punya waktu tambahan 15 menit sesuai dengan jam istirahat yang kamu pakai kerja tadi, " Ujarnya meninggalkan aku pergi begitu saja. Aku masih terheran-heran dengan pria misterius itu. Pria berjas hitam dengan kacamata hitam yang tak pernah aku temui sebelumnya. Aku mengacuhkan bahu berusaha untuk tak terlalu memperdulikan dirinya. "Ini mbak makanannya, dimakan supaya bayinya sehat, " Ujar pedagang nasi campur padaku. " "Makasih bu, " Jawabku tersenyum manis menerima sepiring nasi lengkap dengan lauk 4 sehat 5 sempurna. Banyak orang-orang mempertanyakan pria berjas hitam tadi, sebagian besarnya mereka membicarakan parasnya yang tampan dan kemungkinannya dia adalah bos dikantor ini. Aku hanya menghela nafas mengacuhkan bahu setiap gosipan yang terdengar ditelingaku. "Gimana lid? Berkasnya udah siap?" Tanya mbak dian setiba ku dimeja kantor. "Oh sudah mbak ini udah selesai semuanya, tinggal aku minta cap di sekretariat kantor, " Jawabku seraya memberikan bukti-bukti bahwa semua berkasnya memang sudah selesai. "Aku percaya kok lid, keren kamu bisa nyelesaiin semuanya setengah hari love deh pokoknya buat kamu. Sini biar aku aja yang minta capnya sekalian minta tanda tangan bos. " "Ouh... " Aku beroh ria mendengarnya. "Ahahaha iya kenapa lid? Kok kamu kek gitu?" "Ah enggak mbak, sekarang aku paham kenapa bos datang kesini jadi untuk tanda tangan ini emang sih ini berkasnya penting banget aku juga dari tadi mikirin ini kira-kira benar pak Heri aja yang tanda tangan atau nanti pak Heri yang bawain berkasnya ke sana ternyata.. Hum.. Sudah aku duga.. Ahahahha. " "Hahahah ya lid gitulah ternyata kamu pintar juga, ya udah aku ke sekretariat dulu minta cap. " "Ya mbak hati-hati. " Aku menyerahkan semua berkas-berkasnya ke mbak Dian. Setelah mbak dian pergi seorang wanita yang sering disebut sebagai sekretaris kantor, "Lidya ya? " Tanyanya padaku. "Eh? Ya mbak? Ada apa?" Tanyaku kaget dan bangun dari tempat duduk. "Hahaha gak usah kaget gitu santai aja, kamu dipanggil bos untuk keruangannya. " Untuk sesaat aku berusaha untuk loading pending. Gapapa santai aja kamu dipanggil bos untuk keruangannya. Kata-kata yang berusaha aku cerna dengan baik. TIDAK APA-APA SANTAI AJA. Disuruh santai tapi selanjutnya kembali bikin tegang astaga salahku apa yak sampai dipanggil bos di hari pertamanya kekantor. Tanyaku dalam hati. "Lid? Lidya? " Tanya sekretaris padaku. "Eh ya mbak sekarang aku kesana. " "Jangan tegang gitu donk santai aja, enggak ada apa-apa kok. " Ya gak ada apa-apa kok santai aja, ledekku dalam hati mengulangi perkataannya gimana mau santai panggilannya aja horor gitu. Aku berjalan menuju ruangan bos yang terletak dilantai 3. Aku tidak pernah naik kesini dan setelah aku kemarin ruangannya sangat tenang hening tidak berisik seperti dilantai bawah. Dan disini jauh lebih rapi dan tertata, bahkan ada mbak dian saat aku berjalan melewatinya. "Lho lid? Kenapa naik? Kan dah aku yang ngurusin semuanya, " Tanyanya padaku. Saat aku hendak menjawab, sekretaris kantor lebih dulu menjawabnya, "Ada urusan, dia dipanggil bos, " Bisiknya pada mbak dian. Mbak dian terkejut mendengarnya dia lalu melihat, "Astaga, semangat lid! " Ujarnya berbisik menyemangati ku. Aku menghela nafas panjang mengikuti kembali tuntunan sekretaris. "Ini ruangannya kamu langsung masuk aja, dah ya aku anterin sampai sini. Semangat Lidya! " Aku tersenyum tipis padanya yang pergi meninggalkan ku. Secara perlahan aku membuka pintu kantor masuk kedalam ruangan yang dingin dan membeku. Semua terlihat sangat rapi dan tertata begitu indahnya. Seseorang yang tadinya menghadap kearah jendela kini membalikan badannya menghadap kearahku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD