Boram terdiam. Entah kenapa sangat sulit baginya untuk mengatakan kalimat ya untuk menjawab lamaran Arbian padahal seharusnya tidak ada alasan baginya untuk menolak. Kalau mereka menikah tidak ada lagi yang perlu dia khawatirkan juga tidak akan ada lagi gunjingan, cibiran dan tatapan mata merendahkan dari sekelilingnya. Setiap malam dia tidak akan sendirian lagi dan akan ada yang dia perhatikan setiap hari. Tapi, ini terlalu rumit baginya karena tidak bisa semudah itu memutuskan hal yang berhubungan dengan perasaan. Boram tidak mau keburu nafsu mengatakan ya di saat hatinya masih bimbang. Dia tidak mau di selimuti penyesalan kalau suatu hari nanti perasaan terpaksa ini malah akan menyakiti mereka berdua. "Apa yang Neng pikirkan? Maaf kalau aku terlalu memaksa hanya saja—" "Nggak kok

