Ben yang saat itu benar-benar merasa lega karena dirinya yang sekarang tak kembali berada dikelas yang sama dengan Seena tentu saja merasa sangat bersyukur karena selain dirinya yang tak akan kembali melihat sikap tak senonoh Seena dan Sin yang sepertinya ada sebuah kesengajaan untuk membuat Ben merasa panas, dan iri pada Seena. Lalu rasa bersyukur Ben saat itu benar-benar dirinya rasakan karena dengan tidak melihat kembali Seena dan Sin di kelas yang sama Ben yang saat ini sudah luluh tentu saja menjadi sangat merasa bersyukur dengan tidak kembali melihat Seena perasaan luluhnya tentu saja akan bertahan hingga Ben sepertinya akan mampu untuk melakukan hal yang mungkin saja dirinya lakukan beberapa saat yang lalu, yaitu meminta maaf kepada Seena karena dirinya yang saat itu merasakan sebuah kesalahan yang mungkin saja membuat Seena jadi kecewa atau bisa saja marah kepada Ben.
Hingga dengan penuh semangat dan tentu saja fokus kepada materi yang dosen sedang terangkan saat ini Ben pun begitu sangat menikmati materi yang disampaikan dosen saat ini, hingga karena saking semangatnya saat itu Ben sampai tak menyangka jika waktu mata kuliahnya tersebut sudah sebentar lagi usai, dan waktunya untuk Ben pulang sepertinya tiba. Tak lama ketika Ben kembali memperhatikan materi yang dosen sedang lakukan saat itu, Ben pun akhirnya dipersilahkan untuk pergi karena jam pelajaran saat ini sudah usai, dengan dosen yang saat itu mengajar mata kuliah Ben pertama meninggalkan ruang kelas.
"Ya baiklah sekarang karena sepertinya mata kuliah yang wajib aku ikuti sudah selesai, yang harus aku lakukan mungkin hanya harus pergi saja dari sini untuk ( Ben berhenti bicara sejenak ), untuk bicara dan meminta maaf kepada Seena? apakah ini waktu yang tepat? tapi dimana aku bisa menemuinya sekarang?" ujar Ben, tapi bertanya sendiri bingung.
Dan ketika Ben saat itu sedang melamun mengenai apa yang seharusnya dia lakukan sekarang, Ben langsung saja mendengarkan seseorang wanita yang saat itu dengan jelas memanggilnya.
"Ben, kau sudah selesaikan?" ujar seorang wanita yang saat itu ada di depan pintu ruangan tersebut. "aku melihat dosen keluar dari kelas ini barusan yang tentu saja menunjukan jika mata kuliah yang diajar oleh dosen tersebut sudah usai Ben? jadi tentu saja sekarang kau sudah bebas kan? apa kau masih memiliki kegiatan yang ingin kau lakukan Ben?" tanya Shen.
"Oh Shen kukira siapa yang memanggilku tadi. Ya seperti yang kau lihat barusan yang keluar memang dosen yang mengajar di kelas ku ini, dan ketika dia pergi keluar dengan membawa tasnya tentu saja itu berarti jika mata kuliah yang diajarnya memang sudah selesai Shen, dan karena sudah selesai tentu saja sekarang yang aku akan lakukan sepertinya pulang saja, karena tak ada kegiatan atau mata kuliah lain yang harus aku lakukan Shen. Bagaimana denganmu, kau masih memiliki mata kuliah yang harus kau kerjakan?" jawab Ben, lalu balik bertanya.
"Oh baguslah jika seperti itu Ben," ujar Shen. "dan aku pun sama denganmu Ben, aku yang sekarang ini sudah keluar dari kelas juga tak memiliki mata kuliah lain yang harus aku hadiri Ben, jadi tentu saja karena sekarang kau dan aku pun memiliki waktu yang sudah bebas untuk pergi karena mata kuliah kita sudah sama-sama selesai, dan kau pun memutuskan untuk pulang tentu saja aku akan melakukan sesuatu yang seharusnya aku lakukan Ben!" seru Shen.
"Sesuatu yang harus kau lakukan? apa itu Shen" tanya Ben sedikit bingung.
"Seperti yang kau katakan tadi Ben, kau sudah bicara mengenai aku yang ingin ikut berlatih di perguruanmu dan kau langsung mengatakan itu kepada gurumu, dan gurumu bicara jika sebaiknya aku melihat langsung dulu perguruanmu Ben? tak mungkin jika kau tak ingat mengenai apa yang baru kau katakan tadi Ben. Ya kan?" jawab Shen.
"Oh mengenai itu? maaf Shen, aku benar-benar tak ingat mengenai hal itu karena aku baru selesai mendengarkan materi dari dosen barusan, jadi otakku masih dipenuhi dengan materi yang dosen barusan sampaikan padaku. Maaf Shen, aku tak sengaja lupa tapi sekarang aku langsung ingat Shen dan tentu saja ayo kita pergi Shen. Mumpung hari belum sore, jadi jika ada sesuatu yang harus kita lakukan yang akan cukup menyita waktu kita tak akan sampai terburu-buru untuk melakukannya," ujar Ben, mengajak Shen untuk langsung pergi ke perguruannya saat itu.
"Ya baiklah Be, ayo. Aku kira kau tak berniat dan bahkan keberatan memperkenalkanku ke guru dan perguruan yang menjadi tempatmu berlatih selama ini Ben, jadi kau pura-pura lupa," ujar Shen.
"Oh ayolah Shen, jangan bicara seperti itu. Jangan berburuk sangka karena aku benar-benar hanya lupa dengan perkataanku, tapi tidak ada maksud lain apa lagi sampai merasa keberatan membawamu ke perguruan tempatku berlatih Shen. Yasudah, ayo Shen kita berangkat sekarang jangan sampai kita menghabiskan waktu dengan hal yang tak penting seperti ini agar jika ada sesuatu yang harus kita lakukan seperti berkeliling dulu di sekitar perguruan tentu saja kita akan memiliki waktu yang banyak, dan tak terburu-buru tentu saja," ujar Ben, mengajak lagi Shen untuk langsung saja pergi sekarang.
"Oh ya baiklah Ben jika seperti itu. Ayo kita pergi sekarang," ujar Shen.
Dan saat itu merekapun langsung saja keluar kelas yang Shen jadikan tempatnya untuk menghadiri mata kuliahnya barusan untuk langsung saja berangkat ke perguruan tempat Ben berlatih karena Shen yang menginginkan untuk ikut berolahraga disana, seperti yang disarankan oleh Ster kepada Ben ketika dirinya mengatakan Shen ingin ikut berolahraga disana. Tanpa berbicara apa-apa lagi tentu saja saat itu Shen langsung membawa Ben ke mobilnya karena mereka yang ingin langsung berangkat saat itu.
"Tak apa-apa Ben, masih ada waktu lain yang akan bisa kau gunakan untuk menemui dan berbicara dengan Seena, karena ini hanya soal meminta maaf tak akan membutuhkan waktu yang lama, dan tentu saja sepertinya tak akan sulit untuk kau lakukan Ben. Jadi esok atau lusa sepertinya tak akan jadi masalah, dan kau bisa melakukan itu," ujar Ben dalam hatinya ketika berada di perjalanan menuju ke perguruannya saat itu.
"Ben, Ben, Ben," panggil Shen beberapa kali. "Ben!" hingga karena kesal tak kunjung mendapatkan jawaban dari Ben yang malah melamun, Shen pun langsung saja memanggil Ben sambil menepuk bahunya hingga tentu saja membuat Ben sadar dari lamunannya.
"Oh maaf Shen, aku benar-benar tak sengaja melamun barusan. Maaf, kau sudah memanggilku dari tadi? ada apa Shen?" tanya Ben.
"Kenapa kau sampai bisa melamun seperti itu Ben? kau seperti orang yang sedang memikirkan beban, apa mungkin kau memang sedang memiliki beban pikiran Ben? mungkin kau memiliki masalah?" tanya Shen.
"Maaf Shen, aku benar-benar juga tak sadar jika aku bisa sampai melamun seperti itu maaf, aku tak sengaja. Tapi tenang saja kau tak usah khawatir aku tak memiliki beban pikiran apa lagi semua masalah yang membuat ku jadi melamun Shen. Aku baik-baik saja," jawab Ben.
"Benarkah itu Ben?" tanya Shen. "tapi lamunan yang kau perlihatkan barusan tak menunjukan jika kau baik-baik saja Ben. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? dengan alasan karena aku hanya seorang temanmu yang tentu saja tak penting atau tak wajib untuk mengetahui mengenai masalah yang sedang kau hadapi sekarang Ben?" tanya Shen.
"Bukan Shen, bukan seperti itu yang aku maksudkan, tenanglah! jangan berpikir yang tidak-tidak," ujar Ben. "dan aku memang sudah jujur kepadamu jika aku tidak memiliki masalah apapun, aku memang melamun barusan, tapi yang membuatku melamun bukan sebuah masalah yang sedang aku hadapi Shen. Aku benar-benar tak sengaja melamun dan yang membuatku melamun barusan, benar-benar bukan masalah tapi lebih mengarah ke pekerjaanku Shen. Pekerjaan yang tentu saja bukan sebuah masalah, tapi lebih tepatnya aku melamun barusan karena memikirkan mengenai sebuah ide, ide untuk melanjutkan karyaku tentu saja," jawab Ben, tentu saja tak jujur.
"Karya? karya seperti apa yang kau maksudkan?" tanya Ben.
"Karya yang tentu saja mengenai pekerjaanku Shen. Kau ingat kan aku pernah berkata mengenai sebuah artikel yang biasa aku buat? dan yang membuatku melamun sampai seperti barusan adalah tentu saja membuat artikel yang bagus, aku berpikir mencoba mencari ide artikel mengenai apa yang bisa mengundang banyak pembaca sehingga aku bisa menarik mereka membaca artikelku, dengan begitu tentu saja aku akan bisa menghasilkan uang yang banyak dari artikelku tersebut. Itu yang membuatku jadi begitu sangat berpikir dan melamun barusan Shen maaf," jawab kembali Ben, dengan berbohong tentu saja karena saat itu Ben berpikir jika sepertinya mengenai Seena, Shen tak perlu tahu.
"Oh Ben, kau begitu sangat sulit ditebak. Meskipun kau terlihat begitu kacau barusan karena lamunan panjangmu, sehingga aku menyangkan jika kau memiliki sebuah masalah yang begitu membebani pikiranmu, kau malah menjawab mengenai pekerjaanmu. Tapi harus aku akui jika apa yang kau katakan itu masuk akal Ben kau sampai melamun seperti itu karena kau memikirkan mengenai sebuah artikel yang biasa kau agar kau mendapatkan uang yang banyak. Aku tak aneh dengan hal tersebut karena memang apa yang kau katakan masuk akal dan benar Ben, mengenai pekerjaan memang begitu sangat membuat seseorang terkadang melakukan hal yang kau alami barusan, meskipun aku tak pernah mengalaminya karena aku belum pernah bekerja. Tapi apa yang kau katakan dan rasakan memang benar adanya Ben, tapi tak apa-apa ben maintenance saja karena jika kau ijinkan aku akan membantumu dan mungkin saja bisa membuatmu mendapatkan ide, kita bertukar pikiran nanti Ben," ujar Shen.
"Wow apa itu tak merepotkanmu Shen? maksudku, kau jadi harus ikut berpikir seperti yang aku lakukan untuk membantuku?" tanya Ben. "Sepertinya tak apa-apa Shen, kau tak perlu melakukan itu karena aku mungkin hanya butuh sebuah inspirasi yang akan membuatku bisa menulis artikel yang tentu saja akan membuatku bisa menghasilkan uang. Tak apa-apa Shen, tak usah repot-repot," jawab Ben.
"Ya baiklah jika itu yang kau katakan Ben, aku hanya menawarkan jasamu saja meskipun sebenarnya aku belum pernah berpikir mengenai sebuah artikel yang akan menarik banyak pembaca sehingga kau bisa mendapatkan uang banyak dari artikel tersebut, tapi apa salahnya jika kita mencobanya kan Ben. Tapi baiklah aku tak memaksa Ben, yang akan aku katakan sekarang hanya, bicara saja apapun yang ada dalam pikiran dan hatimu agar kau bisa merasa lebih baik, aku akan membantumu Ben meskipun hanya sebatas menjadi pendengar setiaku," ujar Shen.
"Itu manis sekali Shen, terima kasih banyak. Aku tak akan segan mengatakan sesuatu jika membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita ataupun keluhanku Shen. Terima kasih," jawab Ben.
Setelah mendapatkan jawaban tersebut tentu saja saat itu Shen langsung kembali fokus saja ke jalan yang sedang dilaluinya, dan kebetulan saat itu perguruan sudah dekat jadi Shen tak membicarakan hal apapun lagi kepada Ben.