“Biar sekalian bajunya bau Bryan, Papah gak bakal cuci seumur hidup!” kata ayah Soraya berbisik pada putranya, keduanya terkikik menyetujui hal tersebut, sementara Bryan mau tak mau mulai memakai baju itu. Kemudian, Bryan bisa merasakan perutnya yang keroncongan. “Mm ... sarapannya masih ada, kan?” tanya Bryan agak malu-malu karena suara perutnya dan permintaannya. Namun, Ayah dan anak itu spontan mengangguk. “Saya boleh sarapan, kan?” tanyanya lagi memastikan. “Silakan, Bryan! Silakan!” Ayah dan anak itu dengan kompak melayani Bryan, berbeda dengan istri sekaligus ibu mereka. Rasanya Bryan mati ketakutan menghadapi wanita yang bagaikan juri sebagai kandidat calon suami Soraya. Setidaknya di sin

