“Soraya ... nanti Papah beliin apa yang kamu mau, deh, kalau ikut konser! Ikut, ya?” pinta sang ayah dengan mata puppy-nya.
Sang adik ikut-ikutan. “Aku janji jadi adek yang baik, deh! Nurut sama Kakak! Kalau Kakak suruh, aku langsung capcus!”
“Soraya ... nanti Papah ajak jalan-jalan juga, ke tempat yang kamu suka. Taman bermain. Papah traktir makan juga, deh!” Ayahnya meninggikan penawaran.
Tawaran yang menggiurkan itu, tentu membuat otak polos Soraya langsung merubah pikirannya. “Ya udah, deh, iya, iya.”
Kedua ayah dan anak itu memekik bahagia, sementara sang istri sekaligus ibu di antara mereka itu hanya menghela napas gusar.
“Tapi janji, ya! Harus ditepatin! Kalau, gak, ditepatin ... ogah!” Soraya memalingkan wajah.
“Janji!” Keduanya berkata bersamaan.
“Dan Mamah harap kalian jangan lupa belajar, ya. Kalian, kan, gak lama lagi juga ujian. Hadeh ... kenapa, sih, mereka ngekonser pas ujian ....” Ia mengeluh sendiri. “Kenapa juga aku ngasih izin ....” Ia mulai memikirkan keputusannya sekali lagi.
“Sudah, dong, Mamah Cantik!” Sang suami mulai menenangkan, takutnya berubah pikiran. Begitupun anaknya.
Dan sesuai janji mereka, mereka sangat baik sebelum konser tiba pada Soraya hingga waktu itu pun tiba ....
***
Soraya menutup mulutnya. “Apa gara-gara itu?” Sebuah ingatan kini hadir di kepalanya.
***
Tempat yang mereka tempati berada di paling depan, dan tak sesuai dugaan ... kata tak seramai lokasi biasa nyatanya tetaplah terkesan sama ramainya meski banyak penjaga dan jauh lebih sedikit orang. Namun tetap tak ada kata tenang. Sayang juga, tetap saja, banyak sentuhan yang terjadi pada kulit Soraya yang terbalut jaket hoodie dan dandanan tertutup.
Sengaja, dipilihkan ibunya guna melindungi diri.
Ia juga bahkan dibekali alat penyetrum.
“Eh, Dek, kamu jangan jauh-jauh!” Soraya menegur adiknya yang menuju lebih depan menembus lautan manusia, mau tak mau Soraya merelakan ia disentuh lagi hingga matanya bisa menangkap adiknya yang sangat hiper pada idolanya. “Aduh ... susahnya jagain kamu, ih!”
“Are ya ready, Folks?!” Teriakan itu membuat Soraya menutup telinga. Acaranya sudah mulai. Pria tampan, bertatto, dengan dandanan serba gelap ala rockstar berdiri di sana. Semua heboh karenanya.
Musik mengamuk pun dimulai.
Soraya tak mempedulikan itu, hingga yang ia dengar hanya kebisingan di mana-mana yang campur aduk, bukan nyanyian ataupun lagunya. Ia fokus menjaga sang adik saja sepanjang konser. Toh ia tak menyukai lagu itu.
“Mamah Papah mana, sih?” Ia menoleh kiri dan kanan, keduanya tak jauh. Ibunya berdiri di belakang sang ayah, bak majikan dan anjingnya.
Ayahnya jadi tak banyak bergerak, berbeda dengan adik Soraya yang bisa menjingkrak-jingkrak kegirangan.
“Yang nyanyi beda-beda?” Soraya menatap ke panggung lagi, menemukan pria yang tadi berbeda sekarang. Lalu, menggeleng pelan, ia tak peduli. Ia hanya berharap semuanya cepat selesai.
Dan akhirnya ... tibalah meet n greet.
***
Suara nyaring itu terdengar di luar toilet, Soraya mengenali pemiliknya. Matanya membulat sempurna secara spontan kemudian memegangi perutnya.
Langsung, ia berlari keluar toilet menuju ruang keluarga, di mana bersamaan ibunya datang. Keduanya bersamaan menutup telinga.
“Papah! Aduh, kecilin suaranya! Kedengeran tetangga!” teriak sang istri, si pria hanya menyengir lebar kemudian mengecilkan suara dari televisi ber-speaker itu.
Soraya menjauhkan tangannya dari telinga, kemudian menatap kedua orang tuanya bergantian lalu ke arah televisi. Ia ingat acara itu ... siaran ulang konser yang ia tonton secara live, sekilas muncul di acara berita tentang konser yang meraup keuntungan terbanyak abad ini.
Melihat gelagat aneh dari anaknya, ibu Soraya mengerutkan kening. “Soraya,” panggilnya. Soraya mendongak.
“Mamah, itu!” Soraya menunjuk ke arah televisi. Tepat ke wajah si penyanyi. “Dia hamilin aku!”
“Hah?!” Kedua orang tuanya yang mendengar itu seketika terperanjat.
“Maksud kamu apa, Soraya?” tanya ibunya.
“Aku tadi ngetes pake test pack dari kamar Mamah, dan hasilnya positif dua, itu tandanya aku hamil, kan? Aku liat di keterangannya gitu.” Mata kedua orang tuanya membulat sempurna dengan ungkapan begitu polos sang putri. “Dan aku inget-inget, itu gegara om itu, om rockstar itu!”
“Vokalis XXXX?” Ayahnya menggumam. “Kamu yang bener?”
Soraya mengangguk. “Iya, dia.”
***
Tak banyak orang di sini, mereka pun hanya meminta foto serta berinteraksi dengan idola mereka, sedang Soraya dan ibunya menatap dari kejauhan.
“Eh, Bryan mana?” tanya salah seorang fans di sana.
“Dia mabuk berat, kebiasaan habis konser,” sahut salah satu anggota band yang entah siapa. “Atas nama Bryan, kami minta maaf karena kalian gak bisa ketemu dia, dia buruk banget soalnya.”
“Kami wajarin, sih. Kami denger-denger dia putus sama pacarnya, ya?”
“Yah, entah apa yang terjadi sama bujangan tua itu.” Mereka hanya tertawa, ayah dan adiknya ikut-ikutan di sana meski ada roman-roman sedih dan kecewa.
Seorang kru datang, entah apa yang dibicarakan mereka pun pindah. Ibunya melangkah lebih cepat demi melindungi si pria dewasa yang tak sengaja berdempet badan dengan seorang fangirl, sementara Soraya hanya menghela napas panjang, tetap mengekor di belakang.
“Eh, ruangan Bryan,” kata salah seorang fans, mereka berusaha mengangkat badan untuk mengintip di jendela tinggi yang ada di sana. “Astaga, dia molor! Ih, lucu banget!”
“Ehem, kode etik atau saya usir.” Salah seorang petugas bersuara. Mereka pun langsung berjalan lagi, tak mau diusir dari MNG.
“Eh, Dek, jangan ngintip!” Soraya melihat adiknya yang menatap ke bawah pintu karena ada celah kecil di sana. “Entar kamu diusir, lho!” katanya dengan agak kesal.
Adik Soraya berdiri, merengut ke arah kakaknya. “Tapi aku mau liat Bryan, dia yang paling aku suka ....”
“Kan ada yang lain, tuh. Kamu gak mau ikutan dinner emang?” Soraya terlihat sedih melihat wajah sendu adiknya.
“Uh ... Kakak gak paham!” Adiknya langsung berlari meninggalkan Soraya menuju kerumunan yang nyatanya sudah berjalan jauh.
“Eh, Dek!” panggil Soraya, mengangkat tangannya ke arah adiknya. “Aduh, ni anak astaga ....” Ia geleng-geleng kepala, kemudian menghela napas panjang, kembali ia tatap pintu ruangan itu.
Ia merasa iba dengan adiknya yang tak bertemu idolanya, padahal adiknya sudah menjadi adik yang baik akhir-akhir ini sesuai janji mereka. Menatap sekitaran yang sepi, Soraya pun berdiri di hadapan pintu itu.
Diketuknya pintu itu.
“Permisi, Om Bryan,” panggilnya dengan suara yang agak ditahan, tak ingin berisik. “Om Bryan!”
Di dalam sana, pria dengan tatto di tangan kanan yang penuh itu dan keadaan agak berantakan, melenguh mendengar suara itu. Efek minuman keras yang ia minum agak reda, hingga indera miliknya cukup baik berfungsi.
“Apa, sih, berisik amat! Ganggu orang tidur aja!” teriaknya. Spontan Soraya terkejut akan sahutan dengan nada kesal itu.
Bentakan ....
Hal yang tak pernah ia terima oleh siapa pun.