Chapter 3

1068 Words
                Soraya jadi membeku karena hal tersebut, bahkan kala Bryan kini membukakan pintu untuknya. Pria yang tingginya menjulang tersebut menunduk menatapnya, lalu Bryan memicingkan mata.                   Mata biru, rambut bergelombang, badan mungil, proporsi tubuh sempurna dengan wajah manis di mata Bryan, seketika membuat senyumnya merekah kemudian.                   “Wah, ada cewek cebol.”                   Soraya tak sempat berteriak ketika Bryan menarik tangannya, lalu menutup pintu di belakang pria itu. “Hust ... santai ... gue gak bakal nyakitin elo. Lo mau apa, huh?” tanyanya, tersenyum hangat meski wajahnya jelas ala orang mabuk.                   Soraya menenggak saliva. Ia takut, meski demikian ia terlalu polos guna memahami situasinya. “Adik, adik aku pengen ketemu Om.”                   “Om? Muka gue setua itu, ya?” tanyanya, mengerutkan kening. “Ah, mungkin elo yang terlalu muda. Badan lo kecil banget!”                   “Ih, ini kategori tinggi!” Soraya tak terima. “Umurku sembilan belas tahun, ya! Om aja yang ketinggian!”                   “Hust ... jangan berisik, entar yang lain denger!” Ungkapan itu malah dianggap Soraya ia akan tertangkap keamanan dan mereka diusir dari mng, padahal ... artinya lebih daripada itu. Memang lebih baik mereka ketahuan. “Ya udah, gue bakal temuin adik lo, tapi lo minum obat dulu!”                   “Minum obat?” Soraya mengerutkan kening. “Na-n*****a?”                   “Bukanlah, ini cuman formalitas ... katanya lo mau gue ketemu adik lo, kan?” Soraya mengangguk. “Udah, ikut aja, elah! Gak masalah!”                   Bryan menatap gadis itu, polos, terlalu polos dan lebih ke arah bodoh. Kini ia menuju tasnya, ada beberapa obat di sana, dan nyatanya alkohol masih menganggu fungsi penglihatannya.                   “Ah, apa ajalah!” Pria itu mendengkus.                   Bryan mengambil dua buah obat dari botol berdasar ingatannya saja. Kemudian, ia menghampiri Soraya bersama sebotol air.                   “Nih, minum!”                   “Terus, aku ngerasa aneh, Mah. Aku, kek, pusing, tapi gak kerasa apa-apa. Setelahnya ada yang aneh gitu, Mah. Aku gak tahu apa-apa lagi.” Kedua orang tuanya merasa tak tahan dengan apa yang diceritakan Soraya.                   Mereka tak sadar, Soraya sempat hilang selama sejam lebih, dan mereka fokus ke dinner mereka. Mereka temukan juga, Soraya dalam keadaan tidur di sebuah sofa yang tak jauh dari sana.                   “Cu-cuman khayalan kamu kali, Sayang. Sini, coba Mamah liat test pack-nya.” Mengetahui, bagaimana mungkin tak terasa sakit dan hanya enaknya saja.                   Kemungkinan besar pun, Soraya pasti bermimpi basah karena melihat wajah tampan idola-idola ayah dan adiknya. Soraya juga terkenal selalu molor kalau terlalu malam.                   “Bentar aku ambil, Mah, Pah!” Soraya menuju toilet, mengambil test pack yang sempat ia buang, lalu ia serahkan ke ibunya. “Jangan dicium, Mah. Bau pesing.”                   “Garis dua, Pah ....” Istrinya memperlihatkan ke pria itu. “Ini bener dari kamu, Sayang?” Soraya mengangguk. “Dan kamu yakin itu kejadian?” Lagi, si gadis mengangguk.                   Edukasi seks memang sangatlah penting ... dan kedua orang tuanya sadar kesalahan edukasi yang mereka berikan ke Soraya. Dan mereka, tak bisa marah soal itu, tidak kepada anak sulung kesayangan mereka yang tak pernah sekalipun mereka bentak, marahi, atau apa pun.                   Dan mereka ... benar-benar menyadari kesalahan mereka hingga Soraya terkena hal ini, sekalipun ia tak sengaja.                   “Ini salah Papah!” Sang istri menunjuk suaminya.                   “Salah Mamah, kenapa pake bawa Soraya segala? Kan, dia mau tinggal! Kenapa gak ganti orang lain aja?!” Suaminya tak terima disalahkan.                   “Kalau Papah gak ngotot soal itu, itu gak bakal terjadi! Lagian sewa siapa, huh? Mamah gak percaya yang lain!” Ia tak mau kalah.                   Orang tuanya pun berdebat, Soraya menatap mereka yang terlihat dengan emosi yang meletup-letup. Spontan, mata Soraya berkaca-kaca melihatnya.                   “Mamah! Papah! Kok marahan gitu?!” pekik Soraya kesal. Spontan kedua orang tuanya terdiam. “Kenapa? Aku salah, ya? Kan aku gak sengaja ....” Soraya menangis seketika.                   Ibunya sadar, kata ‘jangan bersentuhan dengan lelaki, nanti kamu hamil’ harusnya disertai banyak alasan. Tak hanya ungkapan selayaknya Soraya anak-anak.                   Sementara sang ayah, sadar harusnya ia lebih melindungi anaknya. Memberikan keterangan-keterangan dewasa padanya agar Soraya tak terjebak layaknya anak-anak.                   Di usia yang menginjak 19 tahun.                   Mereka memanjakan gadis itu, begitu melindunginya sampai-sampai sekolah pun homeschooling. Tetapi mereka sadari, bukan itu yang Soraya perlukan ... pembelajaran mereka salah besar. Buktinya, saat ini, mereka gagal ....                   Keduanya menghela napas panjang bersamaan.                   “Sayang, sini!” Soraya yang masih menangis mendongak akan panggilan ayahnya, melihat wajah keduanya tak lagi marah ia pun mau mendekatinya. “Duduk sini!”                   Soraya duduk di samping kedua orang tuanya, tepat di tengah-tengah mereka yang langsung memeluk dan menenangkan gadis itu.                   “Mamah ... Papah ... marah sama aku, ya?” tanya Soraya yang sudah berhenti menangis, meski masih sesenggukan.                   Mereka marah, namun pada diri mereka sendiri. Dan sekarang ... mereka hanya berpikir mencari jalan keluar untuk semua ini. Namun pertama-tama, mereka menjelaskan segala hal tentang ilmu salah yang mereka berikan ke Soraya.                   Spontan setelah selesai menjelaskan, Soraya menangis seketika.                   “HUAAAAAAAAAAAAAA Maafin Soraya, Mah! Pah!” Ia berteriak.                   Kedua orang tuanya memeluknya, langsung berusaha menenangkan gadis tersebut.                   “Sayang, ini bukan salah kamu, udah jangan dipikirin entar dedek bayinya ikutan sedih ....” Ayahnya mengusap puncak kepala Soraya.                   Sementara sang ibu mengusap bahu gadis itu. “Kita jalani ini sama-sama, ya, Soraya. Ya, Sayang?”                   Soraya menatap keduanya, kemudian mengangguk. Kenyataan pahit kini ia telan, namun melihat mereka tak memarahinya ... ia kelihatan lebih lega.                   “Nanti Papah cari Bryan, dia harus tanggung jawab, jadi suami kamu.” Ayahnya memutuskan.                   Soraya mengerutkan kening. “Suami? Kayak Papah Mamah?” Mereka mengangguk. “Enggak mau!”                   Kedua orang tuanya terkejut.                   “Lho, kenapa?” tanya ibunya bingung.                   “Harusnya kamu seneng suami kamu nanti idol, lho! Ganteng juga! Apa karena dia berisik, ya?” tanya sang ayah, istrinya langsung memukul tangannya gemas. Masih saja memikirkan idola-idola padahal idolanya telah menghancurkan anak mereka. Ayah Soraya menyengir mendapatkan tatapan menusuk sang istri.                   Memang cinta kadang susah.                   “Itu salah satu alasannya, berisik! Dia juga galak!” Soraya menggelengkan kepala. “Nanti aku sama dedek bayi dibentak terus ....” Ia mengusap perutnya sedih.                   “Gak bakal gitu, kok, Sayang! Bakalan Mamah jewer dia kalau berani marahin anak kesayangan Mamah!” Ibunya membela, meminta kepastian putrinya.                   Terlebih ... akan sulit mencari pasangan lain dengan gadisnya berperut terisi anak orang lain, sekalipun dia secantik Soraya, dan jika tidak segera menikah ... ah, Soraya akan tetap menjadi buah omongan tetangga. Pasti. Namun yang jelas, mereka jauh lebih memilih persoalan ini dituntaskan ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD