“Kalau begitu, kamu maunya jadi single parent aja?” tanya ibundanya memastikan. “Kalau mau begitu ... kamu siap konsekuensinya, kan, Soraya? Tapi tenang aja, Mamah dan Papah bakal bantuin kamu.” Wanita itu tersenyum hangat, mengusap punggung Soraya.
“Kalau begini gak punya menantu idola, dong ....” Sang ayah menggumam pelan, meski demikian ia lumayan terdengar oleh sang istri hingga ia mendapatkan jentikan di tangan. “Aw, ma-maaf!”
Soraya berpikir sejenak, kemudian mengangguk. “Iya, Mah, begitu aja. Aku gak percaya orang lain selain kalian, atau Pak Guru, lagi juga aku gak mau ... dia galak.” Wajah Soraya terlihat sendu.
Keduanya menghela napas, jika begini ... akan banyak perubahan yang terjadi, walau sebenarnya Soraya mau atau tidaknya menikah hasilnya hampir sama saja. Namun keputusan ini menurut ibu Soraya lebih tepat, ia juga ogah menantu begitu.
“Ya udah, kalau pilihan kamu begitu ... omong-omong, kita nanti bakalan pindah rumah, kamu enggak keberatan, kan?” Soraya menggeleng, ia tak pernah keberatan soal itu. Karena mereka sendiri sering berpindah rumah karena pekerjaan ayahnya.
“Tapi Adek, gimana?” tanya Soraya, ia teringat soal adiknya yang selalu sedih akan kepindahan mereka meski mau tak mau tetap pindah juga.
“Dia pasti mau, dia bakalan paham kondisi kamu, kamu tenang aja, Sayang.” Soraya mengangguk, lalu menguap. “Kamu ngantuk? Ayo, Mamah anter ke kamar, istirahat ....” Lagi, Soraya mengangguk, keduanya pun berdiri menuju kamar Soraya.
Setelah mengantar Soraya ke kamar, ibundanya kembali lagi ke ruang keluarga.
“Sesuai yang aku bilang, kita pindah dari sini, ke tempat tersepi tanpa tetangga biar gak jadi omongan. Kedua, karena ini kesalahan kita berdua ... kita ngerawat Soraya dan cucu kita nanti sebaik mungkin ...,” kata ibu Soraya dengan penuh keyakinan.
“Soraya ... tanpa suami?” Ayahnya terlihat tak enak hati.
“Kenapa? Ini keputusan bersama.” Ibundanya mengangkat dagu. “Kamu beneran kepengen punya menantu rockstar? Aku, sih, ogah! Udah tua, aneh sama kayak kamu, satu aja kek kamu cukup!” Ia mendengkus sebal.
“Bu-bukan begitu ... enggak kasian sama Soraya? Seenggaknya cari suami lain.” Ia masih memikirkan nasib putri mereka yang tanpa suami.
Ibu Soraya menghela napas. “Siapa? Dah enggak usah, kita bahkan gak punya calon buat dia! Kita terlalu mengekang dia sedari dulu, sampai dia setertutup ini. Sayangnya, edukasi kita salah, kita gagal! Sekarang, kita terima ini semua ....” Wajah sang istri terlihat menyedih. Suaminya menatap iba.
Ditariknya wanita itu ke dalam pelukannya.
“Soraya ... maaf ....” Ibunda Soraya terisak pelan.
“Maaf ....” Suaminya mengulang ungkapannya. Keduanya menangis dalam diam.
Sementara di tempat berlainan, di sebuah apartemen mewah di sebuah kota, terlihat Bryan yang baru bangun dengan memegang kepalanya demi menahan pening membuka tas. Ia mengambil salah satu botol obat, kemudian mengeluarkan isinya.
Tinggal satu?
Bryan mengerutkan kening, dimasukkannya obat itu ke mulutnya kemudian ia telan tanpa air, setelahnya ia melihat ke dalam botol obatnya, lalu mengobok-obok tasnya sejenak, mengecek obatnya yang lain ....
Langsung, ia mengambil ponselnya, menghubungi sang manajer.
“Eh, Z, gue perlu obat gue!” katanya tanpa sapa apa pun, langsung to the point.
“Maksud lo obat lo yang pereda rasa sakit itu?” tanya suara di seberang sana.
“Yeah ....” Bryan mendengkus.
“Bro, lo jangan overdosis, tiga hari sekali!” Terdengar bentakan di sana. “Itu obat buat satu bulan, kan? Kok lo perlu lagi? Harusnya belum abis, kan?” Z tampak mengomel di seberang sana.
“Apaan, gue lakuin sesuai permintaan elo! Lagian, cuman tiga hari lagi harusnya gue beli. Gue kehilangan satu pil doang, gak tau di mana, mungkin gue lupa jadi keminum dua kali atau apalah.” Ia menggaruk belakang kepalanya. “Lo beliin, oke? Gue gak sanggup kalau gak ada itu.” Bryan tampak melesu.
“Lo gak seharusnya kecanduan tu obat, Men! Ya Tuhan ....” Z menghela napas gusar.
“Plis, daripada gue bunuh diri kek yang lain ... just please ....” Bryan memohon, dan terdengar helaan napas lagi di seberang sana.
“Oke, oke.” Z terdengar pasrah.
Bryan tersenyum lebar. “Thanks, Buddy.”
“Tapi kali ini ... gue aja yang megang obatnya. Gue yang bakal ngingetin kalau lo perlu minum.” Baru ingin protes, telepon langsung dimatikan Z secara sepihak.
“s**t!” umpat Bryan.
Bryan mengacak-acak rambutnya yang memang sudah acak-acakan, ia terdiam dengan wajah kesal selama beberapa saat sampai sadar satu hal ....
Kembali, ia mengecek isi tasnya. Dan entah kenapa yang ia ambil membuatnya terhenti sejenak untuk menelitinya. Adalah obat yang menghindarkan dari hamil. Obat itu ia beli sejujurnya untuk kepuasan pribadi, yah hal itu yang dibilang akan mengurangi stresnya, berisi sekitar dua puluh pil di dalamnya, namun ia hanya memakainya satu karena tak berselera pada siapa pun, terlalu galau ditinggal kekasihnya yang lama membina hubungan, satu untuk seorang cewek saat meet n greet tanpa dirinya.
Ya, dengan gadis cebol aneh yang kelewat polos tetapi ternyata sangat kuat dan seakan sama sekali tak merasakan kesakitan saat ....
“Wait a minute!” Bryan berpikir keras.
Mengeluarkan seluruh obat dalam botol itu, ia menghitungnya. Dua puluh ....
MASIH DUA PULUH!
Langsung, kembali ia hubungi manajernya. Namun sayangnya, pria itu malah tak bisa dihubungi.
“s**t! WTF, Z!” Bryan mendengkus keras. Ia menggeram kemudian membaringkan badannya lagi ke kasur. Diacak-acaknya lagi rambutnya. “It is okay, Bryan. Her first time, kemungkinan kecil.” Ia sadari, tampaknya ia memberikan obat yang salah.
Obat perangsang, yang harusnya bersama obat penghindar agar hamil, tetapi malah obat penahan rasa sakit.
Tentu saja, jelas gadis itu tak akan merasakan sakit, padahal Bryan ingat jelas ada sedikit darah di sana. Sekalipun ia mabuk, inderanya cukup baik. Tambahan yang ia ingat, adegan itu sangatlah amatir, tak terlalu hebat, dan ia tak sengaja memasukkannya di dalam. Harusnya ia memakai k****m saja!
Dengan obat yang salah ....
“Gak bakal hamil, ayolah!” teriaknya pada diri sendiri, frustrasi. Dan ia rasakan, pengaruh obat hanya menghentikan rasa sakit kepalanya, tidak dengan rasa sesak di dadanya. Mereka meredakan secara fisik, bukan mentalnya.
Lalu bayang-bayang kehancuran terlihat di depan matanya ....
“AAAAAAARGH!” Ia benar-benar di mental breakdown kala isi otaknya mempermainkan ingatan-ingatan menyakitkan itu. Di titik frustrasinya yang tertinggi, Bryan yang tak tahan menuju lemarinya, siapa sangka pria itu menyimpan sebuah tali tambang di sana.
Ia memandangi tali tambang itu sejenak, matanya berkaca-kaca. Kemudian, ia tersenyum.
“Gue bakal nyusul idola gue di sana, Om Mercury ....” Ia menatap langit-langit, ada tiang yang tergantung dan tampak cukup kuat di antara ambang pintu. Dikaitkannya tali ke sana, ia ikat sedemikian rupa, dengan di ujung tali lain membentuk simpul yang cukup masuk di kepalanya.
Ia ambil kursi, berdiri di atasnya, mengalungkan simpul ke lehernya, kemudian menendang kursi tempatnya berpijak menyamakan tinggi.
Tercekat.
Lehernya tertarik beban, napasnya dihalau, dan tinggi kakinya tak mencapai tanah. Bisa Bryan rasakan aliran oksigen yang terputus, paru-parunya mulai mengering, pandangannya buram ... mulai menggelap. Tubuhnya pun mengejang dan perlahan-lahan agak membiru.
Pintu apartemen terbuka.
“Bryan, gue—ya Tuhan, Bryan!” Melihat kondisi sang penyanyi yang tergantung membuat Z berlari menghampiri pria itu. Hal yang pertama ia lakukan yaitu menahan bebannya. “Bryan!” Bryan yang sebenarnya antara hidup dan mati, kembali bisa bernapas. Ia menatap manajernya lemah. “Bryan! Lo apa-apaan?! Cuman gegara obat lo gue yang pegang lo ampe bundir gini?! YA TUHAN! Bryan, lo emang kepala batu!” Pria itu menatap sekitaran, dan menemukan kursi langsung ia ambil meski dengan susah payah karena harus memegang beban itu.