Z akhirnya berhasil naik ke kursi, kini melepaskan ujung tali di atas yang terikat, hingga Bryan yang lemas akhirnya jatuh ke lantai.
Z langsung melepaskan simpul mematikan itu dari leher Bryan, kemudian membawa si pria menuju kasur, membaringkannya kemudian. “Gue udah bilang kalau bakal beliin elo, kan?! Lo gak suka gue yang megang, huh?! Ini juga buat kebaikan elo! Lo itu gegara cinta begini amat, sih?! Lo gak mikirin penggemar elo, huh?! Masih banyak cewek lain yang lebih baik—“
“Lo bisa diem, gak, sih?” kata Bryan dengan suara parau. “Gue bener-bener kacau!” Ia berusaha menetralkan napasnya yang sempat tercekat, dipegangnya lehernya yang sakit.
“Gue tau lo kacau, Bryan. Tapi gak seharusnya—“ Ungkapan Z diputus Bryan.
“Gue kacau karena gue sadar, ke mana gue kasih tu obat. Pas mabuk, di tour bulan lalu, gue having s*x sama cewek. Bukannya ngasih obat biar dia gak bakalan hamil, gue malah ngasih dia obat pereda rasa sakit. Dude, reputasi gue udah ancur! Ancur banget kalau dia hamil!” Bryan menjelaskan kronologi sesuai ingatannya.
Z memekik tak percaya akan apa yang ia dengar. “What?!”
“Gue berusaha berpikir positif kalau first time kecil kemungkinannya hamil, oke? Tapi gue bener-bener gak sanggup! Gue ... ARGH! Kenapa gak biarin gue mati aja, sih?!” Bryan frustrasi lagi.
“Eh! Lo apa-apaan?! Kan belum tentu hamil, Coeg! Tiga minggu setelahnya, emang ada berita? Ada yang labrak? Hamil ketahuan pas tiga minggu setelah itu, Cuwk!” Bryan mengerutkan kening. “Dan ini udah sebulan lebih beberapa hari.” Ia berusaha menenangkan Bryan agar berpikir positif.
“Berarti enggak hamil, nih?” tanya Bryan, ragu-ragu.
“Kemungkinan besar.” Z mengangguk dan malah membuat gestur Bryan antara percaya tak percaya.
Bryan berdecak. “Ya udah, seenggaknya nenangin gue dikit. BTW, gak ada yang tau gue tadi mau gantung diri, kan?” tanya Bryan, bisa saja paparazi tersembunyi akan memberitakan hal ini, bisa gawat.
“Yah, gue sengaja gak manggil keamanan, lo pikir biar apa?” Bryan menghela napas, sedikit lega. “Syukur gue cepet, kalau enggak? Duh ... sialan, emang gue harus setiap hari keknya liatin elo!” Z geleng miris.
“Lo beli obat gue, gak?” Bryan menyodorkan tangan.
“Hm ....” Z hanya mengangguk, memperlihatkan obat di tangannya. “Sesuai janji, gue yang pegang ni obat.” Namun ia tak menyerahkannya pada pria itu.
“Iya, iya.” Bryan memutar bola mata.
Kemudian, keduanya terdiam selama beberapa saat, Bryan masih berusaha menetralkan rasa sakitnya sehabis gantung diri tadi. Sampai Bryan memulai pembicaraan lagi. “BTW, kalau dia beneran hamil ... gue siap, gak, jadi ayah sekaligus suami?” Z mengerutkan kening, kenapa Bryan bertanya begitu? Ada yang aneh. Dan padahal itu pertanyaan yang harus ia jawab sendiri seharusnya.
“Lah? Otak lo beneran sedeng keknya abis tadi, ya? Otak lo kekurangan oksigen, nih!” Z bingung karena topik tiba-tiba ke sana.
“Gue serius!” Bryan mendengkus sebal, kadang Z cukup baik, kadang menyebalkan karena tak mengerti dirinya. “Lo gak ada niatan ngedukung gue move on gitu, huh?! Gue juga bosen, berbulan-bulan galau terus!” Bryan mengutaran maksudnya.
“Oh, ternyata lo bisa bosen juga ngegalau.” Z cengengesan, membuat Bryan sebal.
Bryan lalu memukulnya. “Gini, pas gue mati tadi, gue merasa ... ada sesuatu yang cerahin gue gitu ... suara para Freddie Mercury dan David Bowie. Lagu mereka yang Under Pressure, ‘cause love’s such an old fashioned word and love dares you to care for the people on the edge of the night and love dares us to change our way of caring about ourselves. Dan yah, we can give ourselves one more chance!”
“Jadi?” Z mengangkat sebelah alis, masih belum terlalu paham.
“Lo tau gue pencinta cewek mungil, kan? Dia cewek badan mungil unyu, lumayan cantik, polos, dan keknya bukan fanatik gue. Dia rela ngelanggar kode etik demi adiknya bisa ketemu sama gue.” Bryan menatap Z, matanya memicing. “Lo pikir itu start yang bagus?”
“Tunggu? Kecil mungil? Anak kecil? Lo—” Bryan langsung memutus kesal.
“Anjir, bukanlah! Gue rasa dia nyebut umurnya, sembilan belas kalau gak salah, mungkin lebih, entahlah gue lupa, bukan itu ya gue! Bukan anjir!” Bryan membela diri. “Atau mungkin aja lebih tua lagi, kek loli sesuai perkataan gue, kan?”
Z geleng-geleng kepala, menghela napas pasrah. “Let’s see ... but, how high are you?” Z bertanya kata ‘high’ karena berpikir Bryan mabuk.
“6’2”, why?” Namun si pria malah menjawab tinggi badannya.
“Nevermind.” Jelas tampaknya Bryan sedang mabuk. Ia sadari, obat itu tak hanya berefek sekadar pereda rasa sakit, namun moodswing yang aneh, atau karena tercekik tadi otaknya menjadi rada? Akan tetapi, menyadari sang idol berusaha move on, Z memutuskan akan membantunya dan semoga negatif thinking-nya tak benar.
Itu demi menghindari ia melakukan hal ekstrem seperti tadi, dan berusaha membuat masa depan Bryan lebih tenang.
“Karena finish tour, gue bakal minta tim buat break satu tahun ke depan,” kata Z kemudian. Bryan hanya mengangguk seraya menghela napas. “Lo serius, kan, lo mau gue cari tu cewek?” Ia memastikan Bryan tak tengah mengigau.
“Yah ... tolongin gue, lah.”
Z mulai mencari daftar meet n greet kemarin di file ponselnya, semua identitas harus jelas di sana dan itu memudahkan Z mendapatkan apa yang ia perlukan. Ia memperlihatkan setiap perempuan yang ada di sana.
“Bukan.” Bryan yang menjadi penilainya.
“Nggh ... bukan ini.”
“Bukan, bukan.”
“Yang mana, sih?” Z kembali menggeser. “Lo mabuk matanya burem, kan?” Z ragu, apa jangan-jangan bukan perempuan yang Bryan kenai demikian?!
“Gak terlalu, lah! Kalau tulisan kecil ya burem, muka enggak terlalu! Gue bisa ngenalin dia. Mungil, unyu, enak digencet.” Z menghela napas gusar akan kemesuman Bryan.
“Yang ini?” tanya lagi Z, memperlihatkan file identitas di sana.
“Bukan, keknya ....” Z siap menarik tangannya dengan malas, namun Bryan menghentikannya. “Eh, tunggu-tunggu!” Ia menatap jeli wajah itu, memicingkan matanya seraya mengingat-ngingat gadis yang ia tarik ke ruangan istirahatnya. “Nah, iya ini dia! Soraya ....”
“Ini?” Z menarik tangannya, melihat file yang tertera di sana. “Mereka berempat, sekeluarga ke MNG, gue gak merhatiin dia, sih. Tapi keknya ... dia yang ditemuin di sofa, ketiduran.” Z terkejut akan kesinambungan itu. “Heh, ini ya?”
“Nah, bener! Gue yang letakin dia sehabis lakuin itu! Dan sembilan belas, mayan legal, lah!” Bryan tertawa seakan baru mendapatkan jackpot.
“Lo kepala tiga, Dodol!” Bryan hanya tertawa tanpa peduli, toh baginya masih legal. “Ada alamatnya, kita langsung ke sana?”
“Langsung, dong!” Bryan penuh keyakinan.
Dan mereka pun langsung menuju ke alamat yang tertera di sana, menggunakan mobil keluar kota menuju kota tour mereka terdahulu ... lokasi yang dekat dengan rumah Soraya. Sesampainya di lokasi yang tertera, mereka pun berhenti, Z menuju ke rumah kediaman keluarga Soraya memanggil-manggil tetapi seakan tak ada siapa pun di dalam. Bryan memperhatikannya dari dalam mobil, ia tak bisa keluar karena bisa saja ada fans yang mengenalinya.
Z mendekatinya. “Orangnya keknya gak ada deh.”
“Salah alamat?” tanya Bryan bingung. “Keknya udah bener, kan?”
“Entar gue tanyain ke tetangganya itu!” Hingga Z memutuskan untuk menanyakan salah seorang warga yang kebetulan ada di sana. “Mas, permisi! Boleh numpang tanya?” tanya Z, pada pria yang dihampirinya itu.
“Ah, iya, Mas, mau nanya apa?” tanya pria itu ramah.
“Apa di seberang rumah Mas ini bener kediaman keluarga ... Pak Faris Ananda?” Z mengingat-ngingat nama pria yang merupakan ayah dari gadis yang mereka cari itu.
“Bener, Mas. Bener. Cuman ... baru aja mereka pindah subuh-subuh tadi.” Pindah? Kenapa?
“Pindah?” Z mengerutkan kening, sementara si pria itu mengangguk. “Pindah ke mana, Mas?”
“Nah, saya sendiri kurang tahu ... walau keknya mereka emang suka pindah gitu setiap anak mereka lulus. Udah selesai ujian mereka ini.” Z masih mengerutkan kening.
“Oh, kalau gitu makasih, ya, Mas!”
“Iya, Mas. Sama-sama! Maaf gak bisa banyak bantu.”
“Gak papa, Mas.” Z kembali masuk ke mobil. Terlihat wajah Bryan yang murung selepas menguping pembicaraan mereka tadi. “So, kita harus ngapain?”
Bryan mengacak-acak rambutnya. “Gue bingung, gue gak bisa mikir! Keknya gue udah ditakdirin bujang ampe lapuk! Lo bantuin gue mikir dong, jangan nanya balik!” Ia begitu frustrasi.
“Whoa, santai, Bro! Santai! Sebentar gue tanya satu hal lagi, kali aja bermanfaat.” Keluar dari mobil, Z kembali bertanya pada pria itu, Bryan planga-plongo menatapnya.
Apa yang akan pria itu lakukan?